
'KLAAAANGG!'
Suara pintu baja yang terkunci itu terdengar begitu keras. Mengunci Axel di dalam ruangan kecil ini sendirian.
Gelap dan hening, tanpa adanya tempat tidur dan juga toilet. Axel hanya bisa berdiam diri di sana.
"Aku akan mengeluarkanmu setelah 3 hari." Ucap Oracle dari luar penjara isolasi ini.
Tak ada balasan dari Axel. Ia hanya berdiam diri di tengah kesunyian ini. Entah kenapa....
Axel merasa bahwa ini adalah saat-saat terakhir bagi dirinya untuk bisa hidup dengan tenang.
......***......
Keesokan harinya....
"Uuughh...."
Secara perlahan, kedua mata gadis kecil itu mulai terbuka. Cahaya lampu yang begitu terang mulai membutakan pandangannya kembali.
Setelah beberapa saat, gadis itu pun mulai tersadar. Ia bangkit dari tidurnya. Akan tetapi, ruangan tempatnya berada sedikit aneh.
Hanya berisikan satu ranjang medis serta beberapa monitor kesehatan dan juga rak berbagai peralatan kedokteran.
Selain itu....
Hanya lantai dan dinding yang terbuat dari baja. Tak ada satu pun jendela dalam ruangan itu. Yang ada hanyalah pintu baja setebal 25cm lebih. Pada bagian atas pintu itu, terdapat sebuah area kecil yang nampaknya bisa dibuka.
"Kau sudah bangun?"
Suara itu terdengar menggema dalam ruangan ini. Setelah menolehkan pandangannya selama beberapa saat, gadis itu pun menemukan dua buah speaker dan juga 3 buah kamera di pojok atas ruangan ini.
"Dimana aku? Siapa kalian?" Tanya gadis itu kebingungan. Akan tetapi, ada yang membuatnya jauh lebih kebingungan lagi.
Yaitu suatu kenyataan bahwa lengan kirinya telah tumbuh kembali seperti sedia kala. Seakan lengannya tak pernah terputus.
"Tenang saja. Kau aman di dalam benteng ini. Dan kami adalah para pembebas, yang bertugas untuk menjaga keselamatan umat manusia." Jelas suara wanita dari speaker itu.
Gadis itu terus menerus memandangi lengan kirinya. Ia membolak-balikkannya beberapa kali serta menggigitnya secara perlahan untuk memastikan bahwa Ia tak bermimpi.
Tapi semua ini nyata. Ia merasakan rasa sakit ketika menggigit tangan kirinya. Dan akhirnya, gadis itu pun kembali bertanya.
"Pembebas?"
"Cukup dari kami. Aku yakin kau memiliki banyak pertanyaan terhadap dirimu sendiri kan? Seperti lengan kiri mu yang tumbuh kembali." Balas wanita itu.
Ekspresi terkejut tergambar dengan jelas di wajah gadis itu. Sesaat Ia berpikir bahwa lengannya mungkin memang tak pernah terputus.
"Sebelum itu, aku ingin kau bersikap tenang. Kami takkan menyakitimu. Kami justru ingin menyembuhkan dirimu. Oleh karena itu, bisakah kau memperkenalkan dirimu?" Tanya wanita itu melalui speaker.
__ADS_1
Gadis itu hanya mampu menundukkan kepalanya. Merasa lega bahwa mungkin saja mereka memang tak berniat jahat padanya.
Jika memang memiliki niatan yang jahat, kenapa mereka tak segera membunuhnya saat Ia tak sadar? Itu lah yang ada di dalam pikiran gadis itu.
Setelah berhasil menenangkan dirinya, gadis itu pun menjawab.
"Lucy...."
"Lucy ya? Baik. Sekarang katakan, dimana kau lahir? Siapa orangtuamu?" Tanya wanita itu.
Seketika, kedua mata Lucy terbuka lebar. Ia merasakan rasa sakit yang luarbiasa di kepalanya. Dengan cepat, kedua tangannya mulai bereaksi dengan menutupi kepalanya.
Sementara itu, mata merahnya mulai menyala. Lucy tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Yaitu dirinya akan berubah menjadi sosok monster yang menyebabkannya diburu oleh orang lain.
"Tidak.... Jangan lagi.... Jangan.... Ku mohon.... Aku tak bermaksud buruk...." Ucap Lucy pada dirinya sendiri sambil menangis.
Ia berusaha sekuat tenaga untuk menahan insting dari tubuhnya itu. Sebuah insting hewan buas yang menyebabkannya menjadi sosok monster.
Akan tetapi....
Semua itu sia-sia. Lucy tak mampu menahannya lebih lama dari 2 menit. Dan pada akhirnya....
"Aaaarrgghh!!!" Teriak Lucy. Kedua matanya terus menerus meneteskan air mata. Tentunya, dengan pancaran warna merah menyala.
Sementara itu, kedua tangannya mulai berubah menjadi sedikit lebih besar dengan cakar yang tajam di seluruh jarinya.
"Maaf.... Tolong jangan bunuh aku.... Tolong.... Aku hanya ingin hidup...."
Seakan memahami pertanyaan dari yang lainnya, Frans pun menjawab.
"Hampir bisa dipastikan gadis itu adalah Chimera, bukan manusia. Tapi melihat sikap dan tingkat kecerdasannya.... Aku sedikit ragu."
"Ragu?" Tanya Leona kebingungan.
Menjauhi dari mic di meja kendali itu, Oracle pun berjalan ke arah pintu besi di samping ruangan kecil ini.
"Maksudmu, kau ingin seseorang memastikan bahwa dia memang tak bermaksud buruk kan? Aku tahu." Balas Oracle sambil membuka pintu baja itu.
Beberapa langkah kaki saja, Oracle telah sampai di depan pintu baja yang mengunci sosok Lucy di dalamnya.
Melihat konsentrasi Flux di tubuh Lucy itu, Oracle yakin bahwa dirinya bisa menangani Lucy sendirian. Sekalipun terluka, tapi Ia bisa bertahan.
Oleh karena itu lah, Oracle membuka pintu baja itu dan masuk ke dalam ruangan Lucy. Sebelum melakukan apapun, Oracle segera menutup dan mengunci pintu itu kembali dengan meletakkan sidik jarinya di sebelah gagang pintu.
"Tidak.... Menjauh.... Aku tak ingin menyakitimu.... Ku mohon...." Ucap Lucy sambil terus menangis.
Tapi Oracle tetap berjalan maju. Sedikit demi sedikit mendekat ke arah gadis kecil itu.
Setelah cukup dekat, Oracle segera mengarahkan kedua tangannya ke tubuh gadis itu.
__ADS_1
Lucy yang melihatnya merasa sangat ketakutan. Bayangan bahwa sosok wanita dewasa di hadapannya mungkin akan membunuhnya terus menerus terbayang-bayang dalam kepalanya.
Akan tetapi....
'Sruuugg!'
Oracle hanya memeluk gadis itu. Tanpa memperdulikan kondisi fisiknya yang menyerupai setengah monster itu.
"Aku sudah katakan padamu, bahwa kami tak memiliki niat untuk melukai mu sedikit pun. Yang ada, kami ingin menyembuhkan mu." Ucap Oracle.
Kalimat itu seketika membuat air mata Lucy mengalir semakin deras. Secara refleks, Lucy pun memeluk kembali tubuh Oracle.
Hanya saja, cakar tajam Lucy sedikit menggores tubuh Oracle dari belakang. Darah secara perlahan mulai mengalir dari punggungnya.
Menyadari hal itu, Lucy pun melepaskan pelukan dari Oracle dan melompat mundur. Menjauhinya sejauh mungkin.
"Ma-maaf.... Aku tak sengaja...."
Berbeda dari perkiraannya, Oracle hanya tersenyum dengan begitu ramahnya. Tangan kanannya nampak membelai rambut pirang gadis itu.
"Tenang saja. Aku takkan mati semudah itu." Ucap Oracle sambil kembali memeluk tubuh Lucy.
Sedikit demi sedikit....
Lucy mulai membuka hatinya kembali. Ia yakin jika wanita yang ada di hadapannya mungkin memang takkan pernah menyakitinya.
"Katakan, Lucy. Apakah kau ingin kutukan di tubuhmu ini disembuhkan?" Tanya Oracle singkat.
"Kutukan? Jadi benar, tubuhku ini terkutuk?" Tanya Lucy kembali.
"Itu benar. Tapi untuk melakukannya, aku membutuhkan kerjasama darimu. Seperti mengambil sedikit darah atau sel tubuhmu. Aku berjanji itu takkan sakit. Tapi tak bisa menjanjikan bahwa kau akan sembuh. Bagaimana?" Tanya Oracle.
"Benar-benar tidak sakit?" Tanya Lucy dengan tatapan yang penuh atas harapan.
Tanpa menjawab, Oracle hanya mencubit lengan kanan bagian atas Lucy.
"Aww!"
"Rasa sakitnya hanya seperti itu. Dan sekalipun tak bisa menyembuhkan mu secara menyeluruh, aku sangat yakin bisa menahan gejala perubahan tubuhmu yang muncul tiba-tiba itu. Bagaimana?" Tanya Oracle sekali lagi.
"Ummm...."
Lucy nampak sedikit ragu-ragu atas tawaran dari Oracle.
"Aku ingin menemui kakak yang kemarin menyelamatkanku. Aku ingin meminta pendapatnya." Lanjut Lucy.
"Aah, jadi begitu? Baiklah. Aku akan memintanya kemari segera. Kau bisa beristirahat terlebih dahulu. Dan juga, aku akan menyiapkan makanan untukmu. Setuju?" Tanya Oracle dengan ramah.
"Setuju...."
__ADS_1
Segera setelah membalikkan tubuhnya, ekspresi ramah dari Oracle itu segera menghilang. Tergantikan dengan ekspresi wajah datarnya yang seperti biasa.