
‘Zraaassshh!!! Swuuuoooshhh!’
Di kejauhan, Eva nampak mengayunkan pedang besarnya secepat mungkin secara horizontal. Memotong perut dari 3 ekor Orc sekaligus dengan mudahnya.
Begitu pula James yang terus menerus menyemburkan api panasnya ke berbagai arah. Membunuh banyak Lizardmen dengan begitu mudahnya.
Tapi posisi mereka terlalu jauh.
Dan saat ini....
“Grroooaaaarr!!”
Dua ekor Orc mulai menerjang ke arah barisan prajurit seragam hitam yang sedari tadi terus menerus menembakkan peluru mereka itu.
“Ti-tidak! Menjauhkan!”
“Cepat mati!”
Teriakan para prajurit itu mulai terdengar begitu keras. Rasa takut mulai memenuhi pikiran mereka mengetahui diri mereka akan segera mati pada saat itu.
Tak lagi mampu menahannya, mereka pun membuang senapan mereka dan menutup kedua matanya rapat-rapat.
Sebelum akhirnya....
‘Klaaaaangggg!!!’
Suara benturan antar besi yang tebal itu terdengar memekikkan telinga banyak orang di sekitarnya.
Saat membuka kembali mata mereka, para prajurit berseragam hitam itu melihat sosok Pria dengan badan yang cukup besar berdiri di hadapan mereka.
Pria itu mengenakan seragam abu-abu dengan perisai besar di tangan kirinya.
Dengan tatapan yang tajam, Pria itu terus melihat ke arah para prajurit yang ketakutan tersebut.
“Oi, apa yang kau lakukan? Antara kau lari, atau bantu aku. Pilih salah satu.” Ucap Pria itu dengan suara yang begitu dalam dan terkesan sangat mengintimidasi itu.
“Ba-baik!” Balas para prajurit itu yang segera mengambil kembali senapan mesin mereka.
Semuanya segera mengisi ulang peluru senjata mereka dan bergerak ke arah samping Orc tersebut.
‘Daarrr! Daaarrr! Daaarrr!’
Puluhan tembakan mereka lancarkan. Tapi tak ada satu pun yang bisa menembus zirah tebal para Orc itu.
“Oi! Kalian tahu bisa mengincar bagian yang tak berzirah kan?” Tanya Pria yang tak lain adalah Johann itu sendiri.
“Ma-maafkan kami!”
Dengan cepat, beberapa prajurit itu mulai mengarahkan senjata mereka tepat di sela-sela zirah yang dikenakan Orc tersebut. Yaitu pada bagian lehernya.
Sebuah celah kecil yang tak terlindungi oleh zirah itu pun terlihat.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, mereka menembakkan puluhan peluru yang lainnya ke arah kulit Orc yang tak terlindungi itu.
Dan benar saja.
Dengan begitu mudahnya, peluru senapan mesin itu mampu menembus kulit Orc tersebut.
__ADS_1
Darah pun mulai bercucuran dari leher mereka, dan secara perlahan kedua Orc tersebut akhirnya mulai kehilangan kekuatan mereka lalu terjatuh.
‘Braaakk!’
Johann yang sedari tadi menahan kedua Orc itu sendirian kini kembali berdiri tegap. Ia menatap ke arah mata beberapa prajurit itu sambil berkata.
“Kerja bagus. Lanjutkan seperti itu, dan kita akan menang.” Ucap Johann dengan suaranya yang cukup dalam itu.
Hanya dengan kalimat sederhana seperti itu....
Para prajurit yang baru saja diselamatkan oleh Johann mulai memperoleh kembali semangat mereka.
Wajah mereka kini memiliki ekspresi yang penuh akan harapan.
“Kita bisa....”
“Kau benar.... Ku rasa kita mampu untuk memenangkan pertempuran ini!” Balas prajurit lainnya dengan penuh semangat.
Mereka pun kembali bertempur mempertahankan keamanan dari bandara ini.
Di kejauhan, Johann nampak sedikit tersenyum melihat sikap para prajurit itu. Tapi tak berselang lama, wajahnya kembali mengeras.
Sedari tadi, ada satu hal yang sangat mengganjalnya.
“Kenapa para monster ini tahu kami akan membutuhkan bandara ini?”
Itulah pertanyaan yang ada di dalam kepala Johann yang sedari tadi tak pernah bisa terjawab olehnya.
Ia merasa situasi ini benar-benar begitu aneh.
Sebelumnya, para Liberator ditugaskan untuk melakukan operasi pembersihan monster agar hari-H pendaratan pasukan bantuan dari Asia Timur dapat tiba dengan selamat.
Dan kenapa?
Lalu bagaimana para monster itu bisa tahu?
......***......
...Markas Pusat...
"Ini memang aneh." Ucap Oracle sambil melihat peta 2 dimensi yang saat ini benar-benar dipenuhi oleh lingkaran merah itu.
Semuanya nampak mengelilingi bandara tersebut. Dengan jumlah yang mencapai puluhan ribu lebih.
Tapi bagaimana?
"Leona, bisa kah kau menjelaskan fenomena ini?" Tanya Oracle sambil membalikkan badannya.
Di hadapannya, Leona nampak sedang sibuk mengetikkan berbagai hal di komputernya. Berusaha untuk membuat fenomena ini menjadi masuk akal.
Setelah beberapa saat, Leona pun memperoleh suatu teori.
"Penjelasan paling logis adalah mereka secara alami tertarik pada energi Flux yang besar, yang terkumpul di bandara itu. Mengingat di sana ada 10 Liberator yang berkumpul." Jelas Leona tapi dengan wajah yang seakan masih ragu dengan jawabannya sendiri.
Oracle yang mendengar penjelasan itu juga memberikan sikap yang serupa. Teori yang diajukan oleh Leona itu memiliki banyak celah.
Sebagai contoh, benteng Liberator ini sendiri menyimpan puluhan ton lebih energi dalam bentuk Flux. Tapi pada kenyataannya, para monster tak pernah terkumpul di sekitar benteng bawah tanah ini.
__ADS_1
Jika memang mereka tertarik pada energi itu, mereka seharusnya telah berkumpul di sekitar benteng Liberator sejak lama.
Selain itu, banyak kasus dimana tim Liberator yang dikirim untuk menyelesaikan berbagai misi dapat berjalan secara sembunyi-sembunyi. Bahkan tanpa menemui atau kontak dengan seekor monster sekalipun.
Tapi kini....
Bandara yang bahkan sebelumnya tak pernah dikunjungi oleh monster....
'Beeeeep!'
Suara sebuah mesin yang cukup keras itu menyita perhatian semua orang yang berada di dalam markas ini.
Oracle yang pertama kali menyadarinya segera mencari tahu sumber dari suara tersebut.
Tapi sebelum Oracle sempat bergerak, sumber suara itu sendiri telah menampakkan wujudnya.
Layar proyektor besar yang ada di hadapan semua orang, menampilkan peta pertempuran itu seketika berubah menjadi hitam total.
Pada layar yang kini mulai menghitam itu, muncul sebuah tulisan dengan huruf yang yang bukan merupakan alfabet. Tapi sedikit menyerupai nya.
Tulisan itu seakan sedang diketikkan secepat mungkin. Berusaha untuk menyelesaikan kalimatnya.
Melihat hal itu, Oracle segera memerintahkan siapapun untuk menangkap gambar dari tulisan itu sebelum menghilang.
Dan benar saja.
Setelah sekitar 3 detik, program yang mencegah Hacking itu mulai aktif dan menendang keluar hacker tersebut dari terminal komputer secara otomatis.
Mengembalikan tampilan layar proyektor itu seperti semula.
"Apakah ada yang bisa membaca tulisan itu?!" Teriak Oracle dengan keras.
Pesan yang tertuliskan dalam huruf yang sedikit asing itu sangat jelas belum selesai. Tapi sistem komputer mereka secara otomatis memutuskan sambungan dari hacker tersebut.
Tak ada yang menjawab pertanyaan Oracle. Nampaknya memang tak ada satu orang pun yang mengetahui jenis huruf itu. Apalagi mengartikannya.
Akan tetapi....
Seorang prajurit berseragam hitam mengangkat tangannya.
Ia merupakan seorang gadis muda dengan rambut pirang yang cerah. Hanya saja, entah karena alasan apapun, wajahnya sedikit memucat.
"Ada apa? Apakah kau mengetahui sesuatu tentang kejadian barusan?" Tanya Oracle singkat.
Dengan gugup, gadis itu pun mulai menatap ke arah mata Oracle sambil menjelaskan semua yang diketahuinya.
"Rusia.... Itu nampak seperti tulisan Rusia...." Ucap gadis itu.
Mendengar jawaban itu, mata semua orang segera terbuka lebar. Bagaimana tidak?
"Rusia? Bukankah Rusia telah lama jatuh semenjak invasi gelombang kedua dari para monster?" Tanya Oracle untuk memastikan kebenarannya.
Tapi gadis itu menggelengkan kepalanya sambil membalas.
"Aku juga tak tahu...."
Kini, pikiran semua orang mulai teralihkan. Dan melihat fenomena yang baru saja terjadi....
__ADS_1
Oracle berasumsi bahwa Rusia, mungkin memiliki sangkut pautnya terhadap perilaku aneh para monster tersebut.