Liberator

Liberator
Bab 41 - Insiden Pembangkit Listrik 4


__ADS_3

"Akane! Akane! Kau tak apa?!" Tanya Axel sambil berteriak. Ia berusaha untuk memastikan bahwa Akane masih mampu bernafas.


Tapi saat Axel mendekatkan telinganya untuk mendengar nafas Akane....


"Sialan! Bertahan lah!" Ucap Axel yang menyadari bahwa Akane tak lagi bernafas.


Axel berpikir untuk menyuntikkan Flux Booster demi menyelamatkan Akane di situasi ini. Hanya saja, pemikiran itu segera Ia buang ketika mengingat kondisi dirinya setelah memperoleh 2x suntikan Flux Booster itu.


Kini, Axel berusaha untuk memastikan bahwa jantung Akane masih berdetak.


Saat Axel mendekatkan telinganya di dada kiri Akane....


"Orang Amerika benar-benar tak tahu diri ya? Uhuk! Kuggh!" Ucap Akane secara tiba-tiba.


Darah terus keluar dari mulutnya ketika Akane berbicara. Akan tetapi, luka di lehernya secara perlahan mulai menutup. Menghentikan potensi pendarahan hebat di tubuhnya.


"Hah.... Syukur lah kau masih hidup." Ucap Axel merasa lega setelah melihat Akane bangkit kembali.


Di sisi lain, Akane memberikan tatapan yang sedikit tajam ke arah Axel sambil berkata.


"Regenerasi tubuhku cukup baik. Tapi selain itu, kau tak melakukan apapun saat aku pingsan kan?"


"Hah? Melakukan apa? Aku berusaha untuk menyelamatkanmu!" Balas Axel kesal.


"Jangan berpura-pura bodoh. Aku tahu orang Amerika seperti kalian menganggap kegiatan seperti itu layaknya makanan sehari-hari."


Kini, luka di leher Akane benar-benar telah sembuh sepenuhnya. Hanya menyisakan bekas darah di leher dan pakaiannya saja.


Kecepatan regenerasi tubuhnya itu, bahkan jauh melampaui rata-rata kemampuan regenerasi Liberator tipe fisik. Yang membuat Axel sedikit terheran-heran.


"Sudah ku bilang, aku tak tahu kegiatan apa yang kau maksud!"


Akane, tak lagi menjawab perkataan dari Axel. Ia hanya membersihkan darah dari leher dan pakaiannya dengan selembar kain lap yang berada di dekatnya itu.


Setelah membersihkan semua darah di tubuhnya, Akane pun berdiri. Dan mulai bersiap untuk melanjutkan misi ini.


Sedangkan Axel?


"Tunggu, sekarang kau mengabaikan ku?"


......***......


...Pusat Kompleks Pembangkit Listrik...


Setelah mengambil alih senjatanya dari reruntuhan menara pengawas itu, Axel dan juga Akane kembali menjelajahi kompleks pembangkit listrik ini.


Dan tak perlu waktu lama bagi mereka untuk mnemukan pusat dari kompleks ini.


Kini, Axel dan juga Akane berdiri tepat di hadapan sebuah reaktor energi Flux. Reaktor itu memiliki bentuk segienam dengan ukuran yang sebesar sebuah gedung 6 lantai.


Di sekeliling reaktor tersebut, ribuan mayat monster dan juga monster lain yang masih hidup nampak berusaha berjalan mendekati reaktor itu. Menginjak-injak tubuh monster lain yang telah tergeletak.


Tumpukan mayat itu cukup tinggi hingga beberapa meter di sekitar reaktor tersebut.


Seakan-akan....


Mereka berusaha sekuat tenaga untuk meraih pusat dari reaktor pembangkit listrik tenaga Flux itu sendiri.

__ADS_1


"Apa-apaan ini?" Ucap Axel kebingungan ketika melihat pemandangan tersebut.


Akane hanya diam. Ia tak mengatakan sepatah kata pun.


Menyadari hal itu, Axel mulai kembali memperoleh prasangka buruk terhadap Akane. Seakan-akan, wanita itu memang menyembunyikan sesuatu.


Tapi sebelum Axel bertanya, Akane telah menjawabnya.


"Aku tahu apa yang kau pikirkan. Kenapa aku seakan tak terkejut bukan?" Tanya Akane.


Kini giliran Axel yang tak mampu berkata-kata.


"Sebelumnya aku bekerja di pabrik mesin, sudah umum melihat reaktor Flux di tempat kerja ku. Walaupun ukurannya jauh lebih kecil dari ini." Lanjut Akane.


"Lalu bagaimana dengan tingkah para monster itu?" Tanya Axel.


Para monster itu benar-benar mengabaikan keberadaan dari Axel dan juga Akane sepenuhnya. Dan hanya terus berlari, serta berusaha untuk memanjat reaktor tersebut.


"Monster itu?" Tanya Akane.


Senyuman tipis mulai terlukis di wajahnya. Membuat kecurigaan Axel mulai menjadi kenyataan.


"Apakah kau lupa atas apa yang ku tanyakan padamu sebelum memasuki kompleks pembangkit listrik ini?" Tanya Akane sekali lagi.


"Maksudmu, tentang Flux itu?" Tanya Axel.


"Flux adalah darah dari retakan dimensi. Yang membutakan bahkan makhluk cerdas seperti manusia untuk berusaha menguasainya. Bagaimana dengan makhluk rendahan seperti para monster itu? Tentu saja hal yang sama akan terjadi pada mereka." Jelas Akane dengan wajah yang penuh atas rasa percaya diri.


Mendengar jawaban itu, Axel segera memahami apa yang dimaksud oleh Akane.


"Seperti kawanan ngengat yang tertarik pada cahaya lampu.... Maksudmu seperti itu?" Balas Axel.


Ia dengan santainya melewati barisan para monster itu tanpa ada sedikit pun rasa takut.


Sesekali, tangan kanan Akane nampak diselimuti oleh api merah yang panas. Melelehkan tubuh monster apapun yang tersentuh oleh tangan kanannya.


Axel pun ikut berjalan. Mengikuti langkah kaki dari wanita berambut merah itu.


Sedikit demi sedikit, mereka akhirnya tiba tepat di depan reaktor pembangkit listrik energi Flux itu.


Keduanya mulai memanjat ke atas. Menaiki dinding baja mulus dari reaktor tersebut.


Setibanya di atas....


Mereka berdua melihat wujud yang sebenarnya dari reaktor tersebut.


Yaitu 6 buah pipa kaca tebal melingkar dengan ukuran dari besar hingga kecil dari bawah ke atas. Pipa kaca tersebut nampak memiliki cairan biru gelap di dalamnya. Yang tak salah lagi merupakan cairan Flux dengan kemurnian yang tinggi.


Di tengah dari seluruh pipa tersebut, terdapat 6 buah pilar logam yang besar dan terhubung ke berbagai sambungan di sampingnya.


Pilar logam tersebut merupakan alat untuk menangkap energi Flux yang terlepas dari perputaran pipa tersebut dan mengubahnya menjadi energi listrik.


Akan tetapi....


Ada satu hal yang aneh.


Yaitu salah satu dari keenam pipa itu pecah dan bocor. Menjatuhkan banyak sekali cairan Flux ke tanah.

__ADS_1


Cairan dengan energi yang sangat tinggi itu, secara perlahan mulai menguap dan mencemari udara di sekitar.


"Jadi begitu ya?" Ucap Akane seakan memahami sesuatu.


"Kau tahu sesuatu?"


"Uap dari cairan Flux yang bocor itu lah yang memanggil mereka semua kemari. Bagi kita Liberator yang telah melakukan operasi, udara tercemar Flux ini seperti sebuah taman dengan udara yang segar.


Tapi bagi mereka para monster.... Udara yang tercemar ini seperti sebuah gas yang membuat mereka mabuk dan kehilangan fungsi akal kecil mereka sedikit demi sedikit." Jelas Akane.


Axel pun segera memahami maksud dari wanita itu. Dan di dalam hatinya....


'Apakah aku salah menilai Akane? Ku rasa memang begitu. Jika Ia memiliki maksud buruk, kenapa membantu kami?' Tanya Axel dalam hatinya.


Pada benteng Liberator, umat manusia juga menimbun energi Flux dalam jumlah yang sangat banyak. Tapi Flux itu tak pernah memanggil para monster karena tersegel begitu rapat.


Dan juga, membutuhkan waktu lama agar Flux itu sendiri menguap dan menimbulkan efek seperti ini.


"Axel. Aku akan menyelidiki cairan Flux yang ada di tanah. Mungkin ada suatu campuran lain di dalamnya." Ucap Akane.


"Menyelidiki? Bagaimana caranya?"


Akane tak menjawab. Ia hanya mengeluarkan beberapa botol kaca yang kosong di pinggang kirinya.


"Tentu saja menampungnya dan membawanya kembali ke markas pusat. Aku bukan lah seorang ilmuan." Balas Akane sambil tertawa ringan.


Di saat keduanya berpikir bahwa misi kali ini telah beres....


...'BRAAAAAAKKKKK!!!'...


Sesuatu nampak mendobrak secara paksa dari luar ruangan reaktor utama ini.


Axel yang masih berada di atas reaktor tersebut, segera melihat kengerian yang sama sekali tak pernah terbayangkan olehnya.


"Ma.... Sia.... Bu.... Nuh...." Teriak monster raksasa itu di kejauhan.


Tubuhnya begitu besar, setinggi 9 meter lebih. Tapi permasalahannya, tubuhnya terbentuk dari ratusan monster lain yang seakan menempel di tubuhnya.


Dan semuanya masih hidup dan bergerak. Terus menerus berteriak seakan selalu berada dalam rasa sakit.


"Axel? Ada apa di atas sana?" Tanya Akane yang telah turun ke bawah reaktor tersebut.


"Akane! Cepat selesaikan apapun yang kau lakukan! Sesuatu yang buruk baru saja datang!" Balas Axel.


"Aku mengerti, tapi bersabar lah sedikit." Balas Akane sambil terus berusaha memasukkan cairan kental berwarna biru yang tercecer di tanah itu.


Sedikit demi sedikit, mengeruknya dengan pecahan kaca yang ada di sekitarnya. Memasukkan cairan itu ke dalam botol tabung kacanya.


Tapi monster yang dilihat Axel?


Ia sama sekali tak memiliki niat untuk menunggu.


'Bruk! Bruk! Bruukk!'


Dengan 6 kakinya yang begitu cacat itu, monster itu terus berlari. Mengarah tepat ke reaktor itu berada.


"Sialan! Kenapa sekarang?!" Keluh Axel yang segera mengangkat tombaknya itu.

__ADS_1


Bersiap, untuk menghadapi monster yang belum diklasifikasikan itu sendirian.


__ADS_2