
Axel dan juga Chloe melanjutkan kembali perjalanan mereka. Mengikuti arah jalan yang telah ditunjukkan oleh prajurit sebelumnya.
Melalui jalanan tersebut, keduanya selalu menemui pos penjagaan setiap 8 jam perjalanan sekali. Cukup untuk memberikan mereka tempat beristirahat yang aman dan sedikit lebih nyaman.
Termasuk juga memberikan keduanya masing-masing satu porsi makanan dan minuman.
"Aaah, dari Abraham ya? Silakan. Kalian bisa beristirahat sebentar jika mau." ucap salah seorang prajurit di pos jaga ini.
"Apakah memang benar bahwa kursi untuk menaiki roket itu masih tersisa?" Tanya Axel penasaran.
Ia masih perlu untuk memastikan kebenarannya.
"Tenang saja, masih tersisa cukup banyak. Kalian bisa ikut dalam gelombang pertama." Balas prajurit itu.
"Syukurlah...."
Setelah menikmati makan malam yang hangat, keduanya memutuskan untuk tidur di dalam salah satu bunker di pos jaga ini.
Mengistirahatkan badan mereka dengan layak sesekali.
Pagi harinya, merereka pun melanjutkan perjalanan mereka menuju Berlin.
Sama sekali tak ada masalah dalam perjalanan mereka sampai di titik ini. Tak ada monster, juga tak ada penjahat.
Tapi entah kenapa, Axel merasa tak nyaman. Bagaimana pun Ia masih memikirkan mengenai sosok Akane yang sebelumnya benar-benar menghancurkan wilayah Rusia hanya untuk menangkapnya.
'Apakah dia benar-benar berhenti mengejar? Atau benar-benar kehilangan jejak kami?'
Pertanyaan itu terus menerus menghantui pikiran Axel. Ia takut jika suatu hari nanti, sosok tersebut muncul di hadapannya.
Dan dengan perlengkapan seperti ini, Axel tahu dengan pasti bahwa diriny tak bisa melawannya.
Waktu pun berlalu dengan begitu cepat di tengah-tengah perjalanan mereka berdua. Dengan rutinitas yang hampir serupa setiap harinya.
Hingga akhirnya, keduanya tiba di Berlin, Jerman. Dimana salah seorang prajurit memeriksa kondisi mereka berdua secara merinci. Memastikan bahwa keduanya tak memiliki potensi untuk membahayakan.
Dan dengan surat dari Abraham, keduanya dapat berjalan memasuki fasilitas rahasia mereka dengan mudah.
"Kalian beruntung. Sisa kursi di peluncuran pertama ini hanyalah 60 kursi saja saat ini. Tenang saja, kalian sudah pasti bisa menaikinya." Jelas prajurit yang mengantarkan keduanya itu ke ruang tunggu.
Setibanya di dalam, Axel kembali teringat atas markasnya yang dulu berada di Amerika Utara. Sebuah markas bawah tanah yang menyimpan kota raksasa.
Tapi perbedaannya, kota bawah tanah yang ada di Berlin ini dibangun secara vertikal. Bukan pada tanah yang luas, melainkan pada tanah dengan kedalaman yang luarbiasa.
Bangunan rumah susun yang setinggi ratusan lantai itu dibangun di bawah tanah. Semuanya menaungi para pengungsi dan juga mereka yang menunggu keberangkatan roket di samping kompleks tersebut dengan jarak sekitar 2 kilometer lebih.
Semuanya dipisahkan oleh jembatan dan dinding baja setiap 5 lantai.
Tak hanya itu, fasilitas pertanian yang membudidayakan gandum juga terdapat di bagian belakang rumah susun raksasa tersebut.
Menyediakan suplai makanan bagi seluruh prajurit dan penduduk di wilayah Uni Eropa di tengah musim salju akibat ledakan nuklir ini.
"Ruangan kalian.... B87, Nomor 9." Ucap prajurit yang mengantarkan mereka berdua. Ia terlihat memberikan sebuah kartu untuk membuka ruangan tersebut kepada Axel.
Setelah menekan tombol Lift untuk menuju ke lantai 87 di bawah tanah, keduanya akhirnya bisa bernafas lega.
Bahwa semua ini akan segera berakhir.
__ADS_1
"Uuh, jadi.... Bagaimana sebenarnya peluncuran roket ini? Kemana tujuannya?" tanya Axel penasaran.
"Soal itu, kalian bisa melihatnya nanti di ruangan kalian. Kami menyediakan dokumenter mengenai projek ini kepada para peserta." Jelas prajurit itu.
"Baiklah."
Keheningan pun menyelimuti elevator yang membawa mereka menuju semakin dalam di bawah tanah ini.
Hingga akhirnya....
'Ding!'
Pintu elevator pun terbuka. Memperlihatkan lorong panjang yang terlihat seperti lorong pada sebuah hotel. Beberapa pintu ruangan dapat terlihat di sepanjang lorong tersebut.
"Kalau begitu, silakan nikmati waktu istirahat kalian. Peluncuran akan dilakukan 9 hari lagi." ucap prajurit itu sebelum akhirnya pergi. Bersama dengan elevator tersebut.
Axel dan juga Chloe terlihat mencari nomor ruangan mereka. Yaitu ruangan nomor 9 di lantai B87.
Setibanya di depan pintu ruangan tersebut, keduanya segera membukanya.
Dan apa yang mereka lihat di dalam ruangan tersebut, adalah sebuah pemandangan yang telah lama mereka rindukan.
Yaitu sebuah pemandangan atas ruangan yang layak huni dan memiliki fasilitas yang sangat lengkap.
Ranjang, sofa, kursi, meja, televisi, bahkan lemari pendingin dan juga kamar mandi yang luas. Fasilitas ruangan ini setara dengan hotel berbintang.
Tapi ada satu hal yang membuat Axel sedikit kebingungan.
'Melihat ukuran dari struktur bangunan ini.... Tak mungkin mereka baru saja mendirikannya bukan?'
Kecurigaan itu adalah hal yang wajar mengingat skala bangunan yang luarbiasa besar ini.
"Kau benar. Coba nyalakan." balas Axel singkat.
Chloe pun segera menancapkan USB tersebut ke dalam televisi tersebut. Setelah menyalakannya, video dokumenter mengenai proyek ini pun dimulai.
...[Project : Liberator]...
"Bukankah itu nama dari program yang kakak ikuti di Amerika Utara dulu?" tanya Chloe.
"Kau benar.... Kita sudah mengetahui ini dan...."
Saat Axel berniat untuk mempercepat video tersebut, Ia menyadari sesuatu yang berbeda. Yang mengungkap kenyataan dari proyek Liberator ini.
Dalam video tersebut, diperlihatkan beberapa peneliti yang sedang sibuk membahas suatu hal di tengah ruangan rapat.
Suara dari narator dokumenter itu pun mulai terdengar.
"Project Liberator. Sebuah proyek untuk mengembangkan dan memajukan ras umat manusia melampaui batasan wajar mereka. Semua itu dilakukan dengan energi dari dimensi lain yang dikenal sebagai Flux."
Kini, video tersebut mulai menampilkan wujud dari energi Flux tersebut.
"Satu mili liter saja, sudah cukup untuk menghidupi sebuah kota selama satu tahun. Kepadatan energi yang luarbiasa ini tak pernah dijumpai oleh umat manusia selama ini. Tapi tak hanya itu, jumlah Flux yang ada dapat dikatakan hampir tak terbatas."
Setelah itu video tersebut memperlihatkan gambar mengenai gerbang yang dibangun oleh umat manusia. Beserta sebuah perangkat berukuran raksasa untuk mengebor dan mengekstraksi Flux dalam jumlah yang sangat besar.
"Kakak! Bukankah itu gerbang yang sama seperti sebelumnya?!"
__ADS_1
"Kau benar, Chloe."
Perbedaannya, kali ini keduanya dapat melihat bagaimana proses pengeboran itu terjadi.
Dalam gerbang raksasa itu, terlihat sebagian kecil dari dimensi lain dengan warna keunguan yang pekat.
Dan perangkat tersebut menusuk celah dimensi tersebut untuk menyedot sebanyak mungkin dengan cepat. Memprosesnya untuk dimanfaatkan umat manusia kedepannya.
"Tapi para peneliti tahu sejak lama, bahwa dibalik dimensi tersebut terdapat bahaya yang besar. Oleh karena itu lah, para peneliti menyiapkan sebuah rencana alternatif.
Rencana tersebut dikenal sebagai Project : Liberator. Sesuai dengan namanya, proyek ini memiliki tujuan utama untuk membebaskan umat manusia dari ancaman di masa depan.
Baik itu ancaman dari balik gerbang dimensi tersebut, atau ancaman dari umat manusia itu sendiri."
Axel akhirnya dapat melihat kebenaran mengenai Liberator itu dari sisi yang lain. Sisi yang merupakan pencetus dari Proyek itu sendiri.
"Pada tahap awal, Liberator berencana untuk memodifikasi umat manusia agar sesuai dengan energi baru ini. Manusia yang termodifikasi ini akan memiliki kemampuan yang jauh melampaui manusia biasa.
Tapi semua peneliti tahu. Tak ada kata sempurna dalam sebuah rencana. Dan dengan itu lah, terdapat tahap kedua dalam proyek Liberator.
Yaitu dengan membebaskan umat manusia secara langsung dari dunia yang telah hancur ini. Dengan dibangunnya 10 situs peluncuran pesawat ruang angkasa.
Pesawat itu akan membawa umat manusia meninggalkan bumi ini. Mengulangi peradaban sekali lagi dari awal di planet yang lain. Tapi perbedaannya, kali ini umat manusia memiliki sumber energi terkuat.
Yaitu Flux itu sendiri. Yang akan membawa umat manusia, melampaui batasan mereka sendiri. Bergabung lah, dengan proyek ini. Dan dukung kesuksesannya!"
Video tersebut berakhir dengan berbagai gambar kerja keras para peneliti, tentara militer, pembangunan dan lain sebagainya. Serta sebuah logo Liberator berwarna perak.
"Jadi.... Begitu ya?" ucap Axel setelah melihat semua ini.
"Kak...."
Chloe terlihat memegang tangan Axel dengan erat. Keduanya merasa begitu terpukul menyadari bahwa sebagian besar peneliti telah mengetahui bahaya yang ada di hadapan mereka.
Tapi mereka tetap memaksakannya demi memperoleh energi tersebut. Bahkan jika itu berarti mengorbankan dunia ini dan mengulangi peradaban dari awal di tempat yang lain.
Axel melihat ke arah wajah adiknya yang saat ini mulai menangis. Ia membelai lembut rambut adiknya sambil berusaha untuk menenangkannya.
"Tak masalah.... Sebentar lagi kita akan selamat. Bersabar lah sedikit lagi, ya?"
"Ya...." balas Adiknya dengan lemas.
Keduanya pun terlelap di atas sofa tersebut. Sambil terus melanjutkan untuk menonton video yang lainnya mengenai rencana penerbangan pesawat luar angkasa tersebut.
Tanpa menyadari....
Pada saat ini, garis pertahanan di Warsaw baru saja dihancurkan. Tak lain oleh sisa pasukan dari Asia Timur yang masih terus berusaha memperoleh kembali sosok Axel.
Termasuk A-01 hingga A-03. Yang pada saat ini, sama sekali tak berniat untuk melepaskan Axel sekali lagi.
"Katakan, apakah kau melihat pasangan kakak adik dengan wajah seperti ini?!" tanya Akane kepada kapten pasukan di Warsaw.
Abraham yang mengenali wajah keduanya secara refleks membuat reaksi di kedua matanya. Tapi mulutnya berkata yang lain.
"Ti-tidak.... Aku tak pernah melihatnya...."
"Begitu kah? Jadi dia telah lewat di sini ya? Terimakasih." Balas A-01 yang melihat dengan jelas reaksi dari wajah Abraham.
__ADS_1
Tanpa ragu, A-01 pun segera membakar tubuh Abraham dengan api yang muncul dari telapak tangan kanannya.
Dalam sekejap, merubahnya menjadi abu.