
Lantai B19.
Ruang Rapat Utama.
'Bssttt!' Pintu besar dalam ruangan ini terbuka. Di baliknya, sosok Axel yang telah kembali mengenakan seragam abu-abunya berjalan secara perlahan.
'Tap! Tap!'
Langkah kakinya yang mengenakan sepatu berlapis beberapa logam itu terdengar menggema ketika mengenai lantai baja ruangan ini.
Di dalam ruang rapat ini, hanya ada satu orang saja selain Axel. Yaitu Oracle yang tengah berdiri di ujung ruangan, memandangi beberapa data yang ditampilkan pada layar proyektor itu.
Mendengar kedatangan Axel, Oracle segera membalikkan badannya.
"Kau telah tiba, Axel. Jadi bagaimana?" Tanya Oracle singkat dengan tatapannya yang nampak begitu kelelahan itu.
"Aku akan menjalankan 2 misi terakhir itu lalu menjalani operasi." Balas Axel yang berhenti berjalan, tepat di hadapan Oracle.
Mendengar jawaban itu, Oracle nampak sedikit menghela nafasnya. Wajahnya terlihat begitu menyayangkan pilihan dari Axel dan berusaha untuk membujuknya sekali lagi. Mungkin untuk yang terakhir kalinya.
"Kau yakin? Sekalipun peluang besarnya kau akan lumpuh?" Tanya Oracle.
"Ya, aku yakin." Balas Axel singkat tanpa ada sedikit pun keraguan dalam tatapan matanya.
Melihat tatapan mata dari Axel itu, Oracle tahu dengan sangat baik. Bahwa membujuknya sudah tak mungkin berhasil.
"Sangat disayangkan, tapi mau bagaimana lagi. Aku menghargai pilihanmu. Sekarang, duduk lah." Ucap Oracle yang mulai berjalan kembali ke meja kerjanya.
Ia nampak menekan beberapa tombol pada keyboardnya untuk mengubah apa yang diproyeksikan pada layar besar itu.
Sementara itu, Axel yang telah duduk di kursi besi itu kembali berbicara.
"Siapa saja yang tahu tentang kondisi ku?" Tanya Axel.
"Hanya diriku, Leona dan Frans. Kenapa?" Tanya Oracle kembali sambil terus mengutak-atik komputernya.
"Bisa kah kalian merahasiakannya? Terutama pada Eva. Aku tak ingin membuatnya khawatir." Balas Axel.
Seketika, Oracle menghentikan semua pekerjaannya dan fokus untuk melihat ke arah wajah Axel.
Kini, ekspresi dari wajah Axel hanya menunjukkan satu emosi. Yaitu kesedihan.
"Kau mengasihani sosok yang hampir membuat dirimu dan James mati?" Tanya Oracle.
"Begitu lah. Setidaknya, aku tak ingin membuat perasaannya terluka sekali lagi." Balas Axel.
Oracle terdiam untuk sesaat, mencoba mencerna apa yang dimaksud oleh Axel. Tapi pada akhirnya, Oracle sadar bahwa permintaan dari Axel itu bukan lah hal yang seberapa.
Dan dengan cepat, Oracle pun menyetujui permintaan itu.
"Baik lah, aku akan merahasiakannya. Termasuk untuk meminta Leona dan Frans tutup mulut."
__ADS_1
"Terimakasih." Balas Axel singkat dengan senyuman.
Segera setelah itu, layar proyektor kini mulai menampilkan hal yang berbeda. Tepatnya yaitu menampilkan dua buah peta. Yaitu peta Amerika Serikat di daerah California, tempat dimana benteng ini berada, serta satu peta lagi yang menampilkan wilayah Asia Timur.
"Sekarang, kita akan membahas tugas terakhirmu." Tegas Oracle sambil segera berjalan menjauhi meja kerjanya.
Ia nampak membawa sebuah pointer laser berwarna merah di tangan kanannya untuk menunjukkan beberapa bagian penting dalam misi Axel kali ini.
Sementara itu, Axel mulai mengeluarkan buku saku kecil untuk mulai mencatat detail dari misi ini.
"Pertama, penjemputan pasukan bantuan dari Cabang Asia Timur. Mereka akan tiba di bandara ini sekitar 4 hari lagi. Tugas mu adalah memastikan pesawat dapat mendarat dengan selamat." Tegas Oracle sambil menekankan sebuah bandara pada peta itu.
Oracle juga segera menjelaskan mengenai detail dari waktu kedatangan pesawat itu, serta persebaran monster yang ada di wilayah itu.
Tapi ada satu hal yang berbeda dalam misi kali ini.
"Kau akan bekerja sendirian. Posisimu yaitu di puncak gedung ini, menggunakan panah untuk menembak jatuh Wyvern yang mungkin akan menyerbu pesawat itu." Tegas Oracle.
Secara refleks, Axel pun terkejut mendengar mengenai tugas ini. Akhirnya Axel mengangkat tangan kanannya, bermaksud untuk mengajukan sebuah pertanyaan.
Oracle meresponnya dengan sedikit menganggukkan kepalanya.
"Sendirian? Bagaimana dengan Eva? Lalu, senjata ku telah rusak dan...."
"Tenang saja soal itu. Eva akan ditempatkan di garis depan bersama dengan Liberator lainnya, sedangkan kemampuan evolusi mu sangat cocok untuk menembak jatuh Wyvern dengan panah.
Untuk senjatamu sendiri tenang saja. Departemen perlengkapan akan memberikan senjata baru untukmu. Ku harap kau menyukainya, karena itu adalah desain dariku." Balas Oracle dengan jelas.
Setelah beberapa saat tak ada lagi pertanyaan, Oracle pun melanjutkan penjelasannya.
Untuk itu, 10 Liberator termasuk dirimu akan dikirim ke Cabang Asia Timur untuk membantu mereka. Apakah ada pertanyaan?" Tanya Oracle sekali lagi.
"Tidak ada." Balas Axel singkat.
"Bagus, kau boleh beristirahat untuk beberapa hari ke depan. Silakan pergi." Balas Oracle yang kini kembali duduk di tempat kerjanya. Mengerjakan kembali apapun yang ada dalam komputer itu.
Sedangkan Axel sendiri, saat ini tak tahu harus melakukan apa selama beberapa hari kedepan. Menunggu hingga hari-H dimana 4 pesawat besar dari Cabang Asia Timur akan tiba di tempat ini.
......***......
Lantai B6
Departemen Perlengkapan.
Axel keluar dari balik pintu elevator itu. Dalam lantai yang dipenuhi dengan berbagai senjata dan perlengkapan ini, Axel berkeliling secara perlahan. Memperhatikan berbagai persenjataan yang ada di dalamnya.
Ia sesekali mengangkat beberapa senjata dan mencobanya secara perlahan. Termasuk sebuah pedang besar, tombak, dan pedang satu tangan.
Tapi entah kenapa....
Dirinya telah terlalu terbiasa dengan senjata Tombak/Panah yang sebelumnya digunakan olehnya itu.
__ADS_1
Seakan-akan, Ia tak lagi merasa nyaman dengan senjata yang lainnya.
Saat Axel masih sibuk memikirkan dirinya sendiri. Seorang Pria botak tiba-tiba menepuk pundak Axel. Sedikit mengejutkan dirinya.
"Yoo, peringkat S. Bukan kah kau memiliki bakat yang luarbiasa untuk menghancurkan senjata buatan kami?" Ucap Pria botak itu sambil tersenyum lebar.
"Maaf. Tapi musuh sebelumnya...."
"Buahahaha! Hanya bercanda! Seharusnya kau hanya perlu tertawa atau membalas candaanku!" Teriak Pria itu memotong perkataan Axel.
Dalam hatinya, Axel hanya berpikir bahwa candaan dari Pria itu sama sekali tak lucu.
"Jadi bagaimana? Kau suka dengan desain senjata Hybrid itu?" Tanya Pria itu kembali.
"Senjata Hybrid?"
"Aah, kau tak tahu sebutannya ya? Senjata busur yang bisa berubah menjadi tombak itu. Kami menyebutnya sebagai senjata Hybrid. Kau suka?" Tanya Pria itu.
"Aaah, jadi senjata seperti itu disebut sebagai Hybrid. Sejujurnya, awalnya cukup kesulitan dalam menggunakannya, tapi kau benar. Aku benar-benar menyukai senjata Hybrid itu." Balas Axel dengan wajah yang masih tetap datar.
'Braaakk!'
Tiba-tiba, Pria botak itu memukul pundak Axel dengan cukup keras. Membuat pemuda itu sedikit terdorong ke depan karena pukulannya.
"Ikut denganku." Ucap Pria itu.
Ia menuntun Axel ke suatu tempat. Melewati beberapa tangga dan juga pintu keamanan.
Berbeda dari sebelumnya, tempat ini sama sekali belum pernah dilihat oleh Axel. Dan di balik pintu baja yang besar itu....
Adalah sebuah pabrik persenjataan dengan skala yang begitu besar.
Pabrik ini memproduksi berbagai hal seperti seragam, senapan mesin, peluru, serta senjata bagi para Liberator.
Perbedaannya, senjata Liberator memiliki proses pembuatan yang jauh lebih rumit dan memanfaatkan suatu logam dan mineral sintetis untuk menghasilkan bahan terbaik yang saat ini dimiliki oleh umat manusia.
Melihat suasana pabrik senjata yang hampir sebagian besar dikerjakan oleh mesin ini, membuat Axel terpukau.
"Kemari lah." Ucap Pria botak itu sambil menuntun Axel untuk menuruni tangga kecil di samping tempatnya berdiri.
Pria itu menuntun Axel menuju ke sebuah tempat penempaan. Dimana senjata para Liberator sedang dibuat. Termasuk senjata baru milik Axel.
"Logam buatan kami, Plasteel, merupakan logam paling kuat dan paling ringan di bumi. Tapi bahkan logam itu sekalipun kesulitan untuk menembus sisik Lizardmen abnormal yang sebelumnya kau lawan.
Jadi sebagai gantinya, kami mengangkut jasad Lizardmen itu untuk mempelajari karakteristik dari sisiknya dan memanfaatkan sebagian lainnya untuk membuatkan senjata baru bagi kalian para Liberator." Jelas Pria botak itu.
"Senjata baru.... Dari sisik Lizardmen itu?"
"Begitu lah. Dan ini, adalah calon senjata baru mu. Silakan memperkenalkan dirimu pada generasi kedua senjata tipe Hybrid. Jauh lebih kuat, jauh lebih keras, dan jauh lebih tajam."
Melihat senjata barunya, Axel secara tak sadar membuat senyuman yang cukup lebar di wajahnya.
__ADS_1
Sekalipun sebelumnya....
Ia telah bertekad kuat untuk meninggalkan Liberator untuk selamanya setelah 2 misi terakhirnya.