
Axel tak sanggup mempercayai apa yang baru saja di lihat olehnya.
Sebuah rudal nuklir baru saja meledak, dan para prajurit yang ada di dalam kapal selam ini hanya tertawa seperti itu adalah sebuah tontonan yang menarik.
Tak ada satu pun dari para prajurit itu yang merasa sedih.
Bahkan tak ada satu pun dari mereka yang berkabung untuk para prajurit yang baru saja mati dalam operasi ini.
Kenapa?
Kenapa mereka bersikap seperti ini?
Itu adalah pertanyaan yang sangat jelas tergambar di wajah Axel.
Kapten Asimov yang menyadarinya segera menjawab pertanyaan itu.
"Bocah, akan ku beri satu hal. Kami Rusia bukan lah pihak yang paling baik dan suci di dunia ini. Tidak.... Tapi setidaknya, kalian takkan mau jika Asia Timur itu yang berkuasa." Jelas Asimov.
Axel hanya bisa terdiam. Tak mampu berkata-kata sekalipun sangat ingin melakukannya.
"Amerika Utara, Asia Timur, Asia Tenggara, Timur Tengah, bahkan Uni Eropa, semuanya adalah sekumpulan orang gila. Termasuk kami, Rusia." Ucap Asimov sambil mendekatkan wajahnya ke arah Axel.
Kedua mata Asimov terlihat begitu penuh akan keyakinan. Seakan-akan seluruh perkataannya memang benar apa adanya.
Tapi sebelum menjelaskan semuanya, Asimov terlihat mengusap kepala Axel sambil berbicara.
"Beristirahat lah terlebih dahulu. Setelah kondisimu pulih, aku akan menjelaskan segalanya."
Beberapa prajurit kini terlihat mulai kembali menggotong tubuh Axel. Membawanya secara paksa ke bagian terdalam dari kapal selam ini.
Tanpa satu pun kesempatan untuk berbicara, Axel hanya bisa meronta-ronta. Berusaha untuk melepaskan diri dari semua ini.
Firasatnya begitu buruk atas pihak Rusia ini.
Tapi apa daya, penyiksaan yang selama ini dialaminya membuat tubuhnya menjadi sangat melemah.
Dan bagi pihak Rusia, membiarkan salah seorang Liberator tingkat S ini bebas, adalah hal yang juga cukup berbahaya.
Oleh karena itu....
'Jleb!'
Salah seorang prajurit nampak menusukkan sebuah jarum suntik tepat di leher belakang Axel. Jarum suntik yang berisi obat penenang dosis tinggi itu membuatnya tertidur seketika.
Secara perlahan....
Semua yang ada di hadapannya menjadi gelap. Dan kesadarannya pun kembali menghilang. Entah untuk seberapa lama.
......***......
"Uuh...."
Axel secara perlahan mulai memperoleh kembali kesadarannya. Pemandangannya sedikit mengingatkan dirinya atas benteng di Amerika Utara.
Yaitu sebuah langit-langit besi dengan lampu putih yang terang.
Di sampingnya, beberapa monitor yang menampilkan berbagai kondisi vitalnya dapat terlihat.
__ADS_1
"Sudah bangun? Maaf jika bahasa inggrisku buruk, tapi aku adalah doktermu." Ucap seorang Pria dengan rambut kecoklatan yang pendek itu.
Ia terlihat duduk di sebuah kursi besi di samping ranjang Axel sambil mencatat berbagai informasi di hadapannya.
Axel terdiam. Bukan karena Ia tak ingin membalas, tapi karena Axel tahu bahwa pita suaranya telah rusak. Mencegahnya mampu berbicara.
"Aah, soal itu. Seharusnya kau sudah bisa kembali berbicara. Aku memasang pita suara mekanik di dalam tenggorokanmu. Mungkin terasa sedikit mengganjal saat ini, tapi lama-lama kau akan terbiasa. Coba lah." Ucap Dokter itu sekali lagi.
"Aaa. Aaa. Hah? Aku bisa bicara?" Tanya Axel pada dirinya sendiri.
Suaranya memang sedikit lebih aneh daripada yang sebelumnya. Tapi jauh lebih baik karena saat ini Ia bisa kembali berbicara.
"Bagus. Mungkin butuh sedikit penyesuaian lagi agar suaramu kembali seperti semula. Sekarang kondisi vital lainnya...." Ucap Dokter itu sambil kembali bekerja.
Axel di sisi lain, merasakan ada sesuatu yang sedikit aneh pada tubuhnya.
Seakan-akan....
Ada sesuatu yang hilang.
Dan benar saja. Saat Axel berusaha untuk menggaruk punggungnya yang gatal, Ia tak bisa merasakan keberadaan perangkat mesin Flux di punggungnya.
"Eh? Dimana perangkat Flux di punggungku?" Tanya Axel panik.
Perangkat itu lah yang memberikannya kekuatan yang luarbiasa dalam pertempuran. Tanpa perangkat itu, mungkin Axel akan kembali pada dirinya yang pengecut seperti sebelumnya.
Tapi perangkat yang sama itu juga merupakan perangkat yang merebut umurnya.
Membuatnya hidup jauh lebih pendek dari yang seharusnya.
"Aku mencabutnya."
"Eh? Mencabut? Kenapa?"
Tapi mendengar pertanyaan Axel itu, sang dokter nampak menghela nafasnya begitu panjang. Ia tahu bahwa penjelasan yang diberikan akan begitu panjang.
"Axel.... Aku takut mengatakan hal ini tapi.... Liberator adalah produk gagal dari umat manusia. Mencoba melampaui batasan fisik manusia memang terdengar hebat.
Dan memang benar, satu Liberator saja bisa mengalahkan ribuan monster sendirian. Tak ada yang bisa menyangkal hal itu. Tapi sebagai gantinya?" Ucap Dokter itu sambil menunjuk ke arah monitor di sampingnya.
Axel dengan segera melihat monitor itu. Dimana tak salah lagi, monitor itu menunjukkan kondisi tubuh Axel saat ini.
"Perangkat cacat ini merebut apa yang menjadi hal paling berharga bagi umat manusia. Yaitu nyawa mereka sendiri. Melihat kondisi tubuhmu yang telah mengalami kerusakan sel separah ini akibat Flux, kau akan mati 2 bulan lagi. Sebulan lebih lama dibandingkan jika perangkat itu masih terpasang."
Mendengar itu, Axel tak lagi terkejut.
Ia sudah merasa bahwa nyawanya akan berakhir tak lama lagi.
Mungkin....
Meninggalkan dunia ini adalah hadiah terbaik baginya setelah melalui neraka gila itu.
Tapi nampaknya, dunia masih menginginkannya menderita sedikit lebih lama lagi.
"Itu, jika kau memilih untuk menerima kematianmu. Tapi jika kau ingin mempertaruhkan nyawamu yang memang tak lama lagi akan tiada itu, ada peluang sekitar 32% bahwa kau bisa hidup jauh lebih lama lagi."
Kedua mata Axel mulai terbuka lebar mendengar pernyataan itu.
__ADS_1
Tapi rasa senangnya segera menghilang setelah teringat atas bagaimana nasib benteng di Amerika Utara.
Jika Lucy bisa sampai berada di Asia Timur....
Kemungkinan besar....
"Sebelum itu, aku ingin tahu beberapa hal." Balas Axel yang merubah topik pembicaraan itu.
"Tentu saja. Katakan lah padaku." Balas Dokter itu dengan senyuman yang ramah.
"Bagaimana nasib dari Amerika Utara? Jika Lucy bisa berada di Osaka, apakah...."
Dokter itu nampak memberikan ekspresi yang kebingungan. Bukan karena tak tahu jawabannya, tapi tak tahu bagaimana cara menyampaikannya.
Ia menutup penanya dan meletakkannya di saku dadanya sebelum kembali terdiam selama beberapa puluh detik.
Hingga akhirnya, Ia memutuskan untuk menjawabnya.
"Ku harap kau tetap tenang. Tapi sesaat setelah Asia Timur membawa kalian ke Osaka, benteng Amerika Utara di Los Angeles telah dihancurkan oleh dua Liberator tingkat S dari Asia Timur."
Jawaban itu dengan cepat menghancurkan seluruh harapan Axel yang tersisa.
Adiknya....
Jika Amerika Utara telah dihancurkan....
Mungkin adiknya kini telah tiada.
'Setelah aku berjanji untuk menjaganya. Sialan! Apa yang ku lakukan?!'
Axel merasa kesal pada dirinya sendiri. Secara tak sadar, air mata mulai mengalir dengan deras membasahi pipinya itu.
"Hmm? Aaah, soal itu. Tenang saja. Kami telah memprediksi pergerakan Asia Timur dan menyelamatkan beberapa tokoh penting dari Los Angeles. Meskipun hampir saja terlambat." Jelas Dokter itu.
"Eh? Apa maksudmu?!"
"Kami berhasil mengamankan beberapa petinggi di Amerika Utara seperti Oracle, Leona dan juga Frans. Termasuk adikmu. Sedangkan tim mu yang kabur dari Osaka juga berhasil kami selamatkan di bibir pantai.
Sayangnya kami gagal mengamankan Lucy saat itu karena tak tahu dimana Ia berada. Tapi tetap saja, menghadapi A-04 dan A-06 di Amerika Utara adalah hal yang sangat gila. Kami harus mengorbankan ratusan prajurit untuk operasi itu."
Axel merasa sangat lega bahwa sebagian besar orang telah berhasil diselamatkan.
Tidak....
Yang diselamatkan hanyalah segelintir manusia. Bagaimana dengan penduduk sipil yang lain?
Kini, perasaan Axel dipenuhi dengan rasa bersalah karena merasa begitu senang setelah mengetahui adiknya selamat. Meskipun mengetahui, bahwa ribuan, mungkin puluhan ribu orang lain mati dalam operasi itu.
Tapi, ada satu hal yang membuatnya bertanya-tanya.
"A-04, A-06, dan beberapa waktu lalu, A-01. Apa maksud kalian dengan kode itu?" Tanya Axel penasaran.
Jawaban dari dokter itu jauh diluar dugaan Axel.
"Aaah, soal itu? Mereka adalah Liberator peringkat S dari Asia Timur. Mulai dari A-01 sampai A-06, semuanya adalah salinan dari sosok Akane yang sebenarnya. Mungkin kau mengenalinya?"
"Eh? Salinan?"
__ADS_1