
Di sisi lain....
Tepatnya di bandara Osaka, dimana rudal nuklir itu meledak....
'Krruuukkk! Krettakk! Brruuukk!'
Tumpukan reruntuhan bebatuan itu terlihat bergerak. Seakan ada sesuatu di baliknya.
Setelah beberapa saat, reruntuhan itu pun mulai bergeser dan jatuh ke samping. Memperlihatkan sosok di baliknya.
Tubuhnya terlihat penuh dengan luka bakar di sekujur tubuhnya, hingga seluruh kulitnya telah mengelupas. Memperlihatkan otot dan daging di baliknya.
'Tap!'
Sosok misterius itu terlihat melangkahkan kakinya. Hanya satu langkah saja, tapi Ia telah mulai kehilangan keseimbangan badannya dan terjatuh ke tanah.
Sama seperti bagian tubuhnya yang lain, kepalanya juga menderita luka yang begitu ekstrim.
Dimana hampir seluruh kulit dan otot di wajahnya terbakar habis. Memperlihatkan sedikit tulang di baliknya. Kedua matanya pun telah hancur sedari tadi. Menyisakan hanya rongga matanya saja.
Di tengah lautan api bekas ledakan nuklir ini, sosok misterius itu terus menerus merangkak. Secara perlahan mengarah ke bibir pantai.
Jaraknya begitu jauh. Dan dapat dipastikan, peluang sosok itu berhasil mencapai bibir pantai mendekati 0%. Itu pun, jika sosok itu bisa bertahan di tengah lautan api dan juga radiasi nuklir ini.
Yang mana seharusnya....
Tak ada satu pun manusia yang bisa bertahan di dalamnya.
Tapi sosok itu terus merangkak.
Secara perlahan, pergerakannya semakin cepat. Beberapa saat kemudian, sosok misterius itu berhenti merangkak dan mulai berdiri.
Berjalan secara perlahan sekalipun sekujur tubuhnya penuh dengan luka bakar itu.
"Aaaaaa...." Ucap sosok misterius itu.
Ia tak bisa berbicara sama sekali. Hampir seluruh organnya mengalami kerusakan yang begitu fatal.
Melihat sosoknya saat ini saja, Ia seharusnya dapat terjatuh dan mati kapan saja. Akan tetapi, langkah kakinya semakin mantap.
Tubuhnya pun semakin tegap.
Dan sedikit demi sedikit, api berwarna kuning mulai membalut badannya secara perlahan. Sebuah api yang tipis dan juga lembut itu, mulai menyembuhkan tubuhnya.
Lengannya yang terputus, secara perlahan mulai kembali tumbuh.
Begitu pula dengan bagian ototnya yang telah terkelupas itu juga mulai beregenerasi.
Sekujur tubuhnya terus beregenerasi seiring dengan langkah kakinya di lautan api ini.
Hingga akhirnya, sosok misterius itu mulai berlari. Kecepatannya terus meningkat seiring waktu. Sedangkan tujuannya tetap mengarah ke bibir pantai di kejauhan.
'Swuuusshhh!'
Selimut api yang ada di tubuhnya mulai membesar. Mempercepat regenerasi di seluruh badannya itu.
__ADS_1
Dari kepalanya, rambutnya mulai tumbuh kembali secara perlahan. Rambut berwarna merah yang panjang itu tumbuh dengan cepat hingga mencapai sepanjang punggungnya.
Wajahnya juga demikian, kedua matanya yang telah hilang itu mulai tumbuh kembali. Tergantikan mata yang baru.
Kulit di sekujur tubuhnya mulai tumbuh dan menutupi bagian dalam tubuhnya itu sekali lagi.
Hanya dalam waktu kurang dari satu jam saja, sosok misterius itu telah memulihkan seluruh tubuhnya dengan sempurna. Memperlihatkan sosoknya yang sebenarnya, yang tak lain adalah Akane itu.
Ia berjalan ke arah bibir pantai tanpa memiliki sehelai kain pun untuk menutupi tubuhnya.
Bukan berarti ada orang lain yang masih bisa selamat setelah terkena ledakan nuklir itu. Membuat Akane sama sekali tak mengkhawatirkan terhadap apapun kondisi badannya saat ini.
"Hah.... Yang benar saja. Nuklir? Kalian masih memiliki senjata seperti itu?" Keluh Akane yang kini berdiri tepat di hadapan bibir pantai itu.
Ombak laut yang lembut nampak membilas kedua kakinya secara perlahan.
Menikmati suasana yang tenang dengan lautan api di kejauhan itu, Akane kembali memperhatikan wilayah Osaka ini sekali lagi.
"Ku rasa takkan ada apapun yang selamat ya? Baiklah. Tak masalah. Aku akan kembali ke markas sekunder di Hyogo." Ucap Akane pada dirinya sendiri sambil berjalan menyusuri bibir pantai itu.
Sesekali, Ia nampak memainkan langkah kakinya sambil menendang beberapa barang yang ada di hadapannya.
Sedangkan tangan kanannya terus bermain api di jari-jarinya dengan perasaan yang terlihat begitu bahagia.
Membuat siapapun yang melihat sosok Akane saat ini bertanya-tanya.
Apakah Ia memang masih dalam ras yang sama dengan manusia?
Lalu, apakah ledakan nuklir barusan bukan lah masalah yang besar baginya?
......***......
Markas Sekunder Liberator Asia Timur.
Hyogo, Jepang.
'Bzzzttt!'
Gerbang baja yang berada di bawah tanah itu terbuka dengan sendirinya setelah Akane meletakkan tangan kanannya di bagian pemindai pada pintu itu.
Berbeda dengan benteng bawah tanah di Amerika Utara, apa yang ada di balik gerbang itu hanyalah lorong baja yang cukup kecil namun begitu panjang. Hingga siapapun yang masuk ke dalamnya sama sekali tak bisa melihat ujungnya.
Akane terus berjalan dengan santai tanpa mengenakan sehelai pakaian pun di dalam benteng bawah tanah ini.
Setelah beberapa saat, tiga prajurit berseragam hitam nampak berjalan menghampiri Akane. Satu dari mereka terlihat membawakan seragam berwarna abu-abu di kedua tangannya.
Sambil membungkukkan badan mereka, ketiganya pun menyapa Akane sambil menyerahkan seragam itu.
"Pe-perintah dari Jendral Matsumoto untuk me-menjemput Anda dan me-membawakan pakaian ganti!" Ucap salah satu prajurit itu dengan gugup ketika mengetahui bahwa Akane sama sekali tak mengenakan apapun.
Mereka berpikir bahwa pakaian ganti ini dimaksudkan untuk mengganti pakaian Akane yang kotor atau rusak sebagian. Tapi tak pernah mereka menyangka bahwa ini adalah kenyataannya.
"Terimakasih." Balas Akane singkat sambil meraih pakaian itu. Ia dengan segera mengenakannya di tempat. Dan setelah semuanya dikenakan dengan rapi, Akane segera berjalan kembali tanpa memberikan komentar apapun pada mereka bertiga.
Yang mana membuat ketiganya semakin gugup atas sikap wanita berambut kemerahan itu.
__ADS_1
Akane tentunya sama sekali tak memperdulikan hal sepele semacam itu.
Lagipula....
'Bzzztt!'
Pintu di bagian paling ujung lorong ini pun terbuka. Tepat di hadapannya, jendral Matsumoto nampak sedang duduk di hadapan komputernya, sibuk mengerjakan sesuatu.
"Lapor, Jendral Matsumoto! Aku telah tiba untuk menyampaikan masalah besar!" Ucap Akane sambil memberikan hormat.
Jendral Matsumoto nampak berdiri dari kursinya sambil membalas hormat dari Akane.
"Aku sudah tahu apa yang terjadi di sana. Tak ku sangka, Rusia masih menyimpan senjata seperti itu. Duduk lah." Ucap Jendral Matsumoto. Tangan kanannya nampak mempersilakan wanita itu duduk di sebuah sofa dalam ruangan yang tak begitu besar ini.
Segera setelah duduk, Akane segera bermaksud untuk menyampaikan apa yang ada di pikirannya.
"Jendral, apa yang sebaiknya kita lakukan sekarang?" Tanya Akane.
"Bagaimana dengan data mengenai individu Axel dan juga Lucy?" Tanya Jendral itu dengan tatapan yang begitu tajam.
"Sangat disayangkan, tapi data itu telah dimusnahkan. Bagaimana dengan penyimpanan cloud?" Tanya Akane sekali lagi.
Di sampingnya, Jendral Matsumoto nampak menggelengkan kepalanya dengan wajah yang terlihat begitu kesal.
"Jika ada satu hal yang dikuasai Rusia dengan begitu baik, adalah kemampuan mereka melakukan hacking. Seluruh data di penyimpanan Cloud dan juga komputer server sebagai cadangan data telah dimusnahkan sesaat sebelum ledakan itu muncul." Jelas Jendral itu.
Kedua mata Akane pun terbuka lebar, merasa tak bisa mempercayai hal ini.
Padahal, mereka telah berjuang keras untuk mengumpulkan data dan informasi terhadap dua subjek penelitian itu.
Tapi kini, seluruh data mereka telah sepenuhnya menghilang.
"Ini bukan salahmu. Lagipula, tak ada satu pun dari dewan yang menyangka Rusia masih memiliki kekuatan sebesar itu."
Akane hanya terdiam mendengarkan perkataan dari Jendral Matsumoto itu. Tak mampu untuk menjawabnya sedikit pun.
'Sialan! Padahal sudah sedikit lagi.... Sedikit lagi kami bisa mencapai impian kami....' Pikir Akane dalam hatinya.
"Oleh karena itu, aku akan memberikan misi baru untukmu. Persiapkan dirimu untuk memburu pihak Rusia itu. Dimanapun mereka berada.
Tak ada batasan waktu, yang terpenting, musnahkan mereka dari muka bumi sebelum kembali mengganggu rencana agung kita. Dan jika ada, pulihkan data penelitian dari subjek Axel dan Lucy dari mereka.
Sebagai bantuan, aku akan memerintahkan salah satu dari Liberator peringkat S yang lain untuk membantu perjalananmu, yaitu A-02." Jelas Jendral Matsumoto.
Mendengar nama itu, Akane nampak begitu terkejut. Ia tak percaya bahwa A-02 akan benar-benar dikirimkan untuk membantunya dalam misi ini.
Dan hal itu saja sudah memastikan bahwa keberhasilan misi ini sangat lah penting bagi kejayaan dan impian Asia Timur.
Dengan segera, Akane mulai mengangguk setelah memahami perintah dari Jendral Matsumoto itu.
"Apakah kau paham atas tugasmu, A-01?" Tanya Jendral Matsumoto.
"Siap! Perintah telah dipahami!" Balas Akane tegas sambil memberikan hormat.
"Bagus, jangan kecewakan diriku."
__ADS_1