
"Apa yang terjadi?" Tanya Axel kepada salah seorang prajurit di sekitar rumah sakit ini.
"Asia Timur sialan itu! Kami tak tahu mereka masih memiliki kekuatan sebesar ini!" Balas Prajurit itu yang segera berlari menuju ke garis depan. Meninggalkan Axel sendirian.
Kepanikan massal terjadi.
Semua penduduk sipil terlihat sedang dievakuasi. Sementara itu, ribuan prajurit dengan senjata berupa senapan mesin terus menerus berlarian ke satu arah yang sama.
Bahkan, Axel dapat melihat beberapa tank dan juga peralatan berat lainnya mulai bergerak ke arah yang sama.
Di kejauhan, Axel dapat melihat bagian gerbang utama di kota bawah tanah ini yang telah menjadi lautan api.
Suara tembakan dari senapan mesin dan mortar, begitu pula ledakan dari tembakan tank terdengar begitu keras.
Di sisi yang lain, teriakan para penduduk sipil terdengar begitu menyedihkan.
Melihat kedua tangannya sendiri, Axel sangat ingin membantu semuanya.
Terlebih lagi, mengingat sebagian besar orang-orang di sini adalah penduduk sipil yang tak memiliki salah apapun.
Akan tetapi....
'Bbzzztt! Bzztt! Ctaakk!'
Saat melihat kembali kemampuan petirnya di tangan kanannya, Axel menyadarinya.
Bahwa tanpa peralatan Flux yang ditanamkan di punggungnya itu, Axel bukanlah siapa-siapa.
Listrik yang muncul di ujung jari jemarinya hanya seperti sebuah kabel kecil yang mengalami korsleting.
Jangankan untuk menyelimuti seluruh tubuhnya dengan kekuatan petir itu. Mengaktifkannya saja saat ini sangat lah sulit.
'Aku lupa bahwa diriku memang selemah ini dulu.' Pikir Axel dalam hatinya.
Ia teringat atas bagaimana dirinya dulu sebelum bergabung dengan Liberator Amerika Utara.
Hanya saja....
"Semuanya! Maju! Jangan biarkan mereka melewati gerbang!" Teriak rombongan prajurit yang baru saja tiba itu.
Dalam sekejap, Axel berpikir untuk ikut maju. Menuju ke gerbang utama kota bawah tanah ini.
Ia pun berlari mengikuti rombongan prajurit itu.
"Kau! Jangan ikuti kami! Warga sipil sebaiknya...."
"Aku bukan warga sipil. Aku akan ikut mempertahankan kota ini." Balas Axel singkat.
Axel hanya berharap bahwa adiknya telah ikut mengungsi dan selamat dibelakang sana. Dan sudah menjadi tugasnya bagi seorang kakak untuk menjaganya.
Sekalipun....
Tubuhnya yang saat ini sama sekali tak berdaya. Tapi setidaknya, Axel akan berusaha.
"Oi! Seseorang berikan dia senjata!" Teriak kapten dari rombongan pasukan itu.
'Braakk!'
Dari kejauhan, seorang prajurit nampak melemparkan sebuah senapan mesin dengan gagang berwarna kecoklatan. Sebuah senapan yang cukup terkenal karena begitu murah tapi cukup kuat dalam pertempuran.
__ADS_1
"Itu AK47, kau tahu cara menggunakannya?" Tanya Prajurit itu setelah menangkap dan menyerahkan senapan itu kepada Axel.
Setelah melihat-lihat sejenak, Axel mulai paham cara kerjanya dan menembakkan sebuah peluru ke tanah.
'Duaarr!'
"Ku rasa aku bisa." Balas Axel singkat.
"Bagus. Ini peluru tambahan untukmu. Cepat ikuti kami." Balas Prajurit itu sambil memberikan dua buah magazen yang berisi penuh dengan peluru itu.
Axel bermaksud untuk mengantungi nya. Tapi pakaian rumah sakitnya itu tak memiliki satu pun kantung untuk di gunakan.
Melihat pakaian Axel, salah seorang prajurit nampak melemparkan sebuah rompi anti peluru dari kejauhan.
"Pakai itu!" Teriak prajurit itu.
"Terimakasih."
'Cklek!'
Setelah memasangnya, Axel meletakkan dua buah magazen itu pada saku di rompi anti peluru yang hanya menutupi sebagian besar dada dan perutnya itu.
Mereka pun melanjutkan perjalanan mereka menuju gerbang utama.
Dimana di sana....
Mereka akhirnya melihat sebagian kecil dari neraka.
Lautan api yang begitu besar dan panas itu membakar apapun yang ada di dekatnya.
Tapi bukan hanya itu saja.
Setelah selesai membunuh ratusan prajurit, lautan api itu seakan-akan terhisap kembali ke arah ujung dari lorong di gerbang ini. Menghilang begitu saja.
"Akane?"
...'SWUUUOOOSSSHHHH!!!'...
Sesaat kemudian, sebuah semburan api merah kekuningan kembali muncul. Menembus hingga ke barikade di dekat gerbang ini.
"Berlindung!" Teriak para prajurit di kejauhan.
Axel secara refleks segera menunduk dan bersembunyi di balik barikade besi itu. Tapi sedikit demi sedikit, barikade itu mulai berubah warna. Kini menjadi sedikit kemerahan.
Menyadari itu, Axel sedikit berjalan mundur untuk menjauhinya.
'Yang benar saja? Hanya dalam sekejap bisa melelehkan besi?' Tanya Axel kebingungan.
Bahkan jika Axel masih memiliki kekuatannya yang dulu, Ia tak tahu apakah dirinya bisa menandingi Akane yang telah dalam kondisi serius seperti ini.
Tapi sayangnya, lawannya bukanlah Akane seorang.
'Swwuuuooossshh!'
Beberapa saat kemudian, semburan api itu mulai terserap kembali ke belakang. Sama seperti sebelumnya.
Dan Axel menyadari, bahwa ini adalah kesempatan emas untuk memberikan serangan balasan.
Ia mulai berdiri dan mengarahkan senapannya ke ujung lorong ini. Di kejauhan, Axel dapat melihat beberapa Liberator dan ratusan prajurit dari Asia Timur yang mulai menyerbu.
__ADS_1
Setelah mengunci targetnya, Axel pun menarik pelatuk dengan jari telunjuknya.
'Klak! Duaaarr! Duaaarr! Duaarrr!'
Rentetan tembakan peluru dari senapan mesin itu mulai melesat. Dan dengan seketika tiba di tempat dimana Axel mengarahkan tembakannya.
'Jleebb! Bruukk!'
"Aaaarrgghh!"
Beberapa dari peluru yang ditembakkan oleh Axel berhasil mengenai targetnya. Membuat mereka terluka parah.
"Seraaaaangg!" Teriak para prajurit Rusia yang lainnya. Semuanya pun mulai mengikuti jejak Axel dan memberondongi musuh dengan peluru.
'Daarrr! Daaarr! Daaarr!'
Dari bagian belakang, 3 buah tank yang telah dalam keadaan siap mulai menembakkan meriam utamanya.
'Blaaaaaaaarrr!!!'
Tembakan meriam dari ketiga tank itu meledakkan tempat tujuannya. Membuat beberapa prajurit dan Liberator yang berada di area ledakannya terlempar begitu saja.
Tak hanya itu, senjata sampingan dari tank itu juga mulai diaktifkan. Yang tak lain adalah senapan mesin otomatis yang menembakkan lebih dari 600 peluru tiap menitnya.
Menyadari serangan balik dari Rusia, para penyerbu dari Asia Timur mulai berlindung. Sebagian besar dari mereka mulai tiarap di tanah untuk menghindari sebagian besar dari tembakan itu.
Beberapa dari mereka nampak memberikan tembakan balasan.
'Daaarrr! Daaarrr! Daarrr!'
Di saat Axel sedang sibuk mengisi ulang peluru di senapannya....
'Jleebb! Braaak!'
Seorang prajurit yang berdiri di sampingnya terkena tembakan peluru tepat di kepalanya. Membunuhnya seketika.
'Srruuugg!'
Dengan cepat, Axel pun kembali berlindung di balik barikade besi itu.
'Sialan, aku hampir lupa untuk berlindung.'
Pertempuran antara prajurit modern seperti ini adalah hal yang belum pernah dialami oleh Axel. Ia terlalu terbiasa melawan monster yang tak berakal.
Tapi saat ini, lawannya adalah manusia yang dapat memikirkan serta menerapkan berbagai trik kotor.
'Tunggu dulu. Kenapa serangan api itu tak kembali datang? Apakah karena mereka telah mengirimkan pasukan mereka?' Tanya Axel penasaran.
Saat Axel masih memikirkan hal itu, Ia mendengar suara suatu benda logam yang jatuh ke tanah.
'Kliingg! Ttraang!'
Melihat ke arah sumber suara, Axel dapat melihat bahwa suara itu berasal dari sebuah granat.
Tak ada waktu yang cukup untuk bereaksi. Dan sekalipun ada waktu, Axel tak lagi memiliki kecepatan dan kelincahan nya yang dulu.
Dan akhirnya, kurang dari setengah detik setelah Axel menyadari keberadaan granat itu....
'Blaaaarrrrr!'
__ADS_1
Ledakan yang cukup besar, diikuti dengan ratusan pecahan peluru yang menyebar ke segala arah.
Tentu saja, termasuk mengenai Axel yang bersembunyi tepat di samping granat itu berada.