
Axel berjalan secara perlahan dalam dunia yang melambat ini.
Apapun yang dilihatnya bergerak ratusan kali jauh lebih lambat. Termasuk ujung jari telunjuk Akane yang berusaha untuk menarik pelatuk itu.
'Apa yang terjadi?' Tanya Axel dalam hatinya.
Tapi Axel sendiri tahu, bahwa saat ini, bukan lah saat yang tepat untuk menanyakan hal tersebut.
Melainkan untuk menyelamatkan semua rekannya dari sergapan ini.
Ia mulai berlari. Sambil memutar tubuhnya, Axel menendang sosok Akane di hadapannya itu. Melepaskan Eva darinya.
Tapi bukannya terlempar jauh saat itu juga.
Tubuh Akane saat ini terlihat seakan-akan sedang melayang-layang di udara. Secara perlahan terdorong menjauh searah dengan tendangan Axel.
Tak berhenti di sana, Axel juga segera menyerang beberapa Liberator lain yang ada di sekitarnya. Merebut senjata apapun yang mereka bawa pada saat itu.
Setelah selesai mengamankan Eva, Axel segera berlari kembali ke arah bagian dalam pesawat itu untuk menyelamatkan Emma dan juga Sophie. Tentunya, dengan melempar keluar seluruh Liberator dan prajurit yang tersisa di dalamnya.
Sebuah rangkaian tindakan yang setidaknya memakan satu menit lebih bagi Axel itu....
Bagi Akane dan juga Liberator lain di Asia Timur ini, bahkan kurang dari setengah detik.
Dan ketika Axel menghentikan kekuatannya....
'BRAAAKKKK! SWUUUSHHH! BRAAKKKK!!'
Tubuh semua Liberator dan juga para Prajurit di Asia Timur itu terlempar sejauh puluhan meter ke belakang. Semuanya terlempar secara bersamaan.
Sementara itu, Emma, Sophie dan juga Eva telah berada tepat di samping tubuh Axel. Tentunya dalam keadaan selamat.
Akane yang menyadari dirinya terlempar begitu jauh bahkan tanpa sedikit pun menyadari apapun yang baru saja terjadi, hanya bisa bertanya-tanya dalam hatinya.
'Apa yang baru saja terjadi? Yang lain juga? Apakah kemampuan Axel?' Tanya Akane dalam hatinya.
Ia berpikir bahwa Axel memiliki kemampuan tertentu untuk melemparkan lawan yang ada di sekitar mereka.
Tapi asumsinya itu segera runtuh sesaat setelah melihat seluruh sandera dalam keadaan selamat dan berdiri di sekitar Axel.
"Bbzztt! Akane! Apa yang terjadi?" Tanya Jendral Matsumoto panik setelah melihat semua anggota elitnya itu terlempar begitu saja.
Balasan dari Akane, hanyalah sebuah pertanyaan sederhana.
"Mana yang lebih penting? Bandara, atau mendapatkan tubuh Axel?"
Setelah memikirkannya sejenak, Jendral Matsumoto pun membuat pilihan yang begitu berat.
"Bandara bisa dibangun ulang.... Apapun yang terjadi, tangkap dia. Jika dia memang memiliki kemampuan sekuat itu, takkan sia-sia mengorbankan transportasi udara untuk memperoleh kekuatannya."
"Dimengerti." Balas Akane singkat yang segera bangkit kembali. Tapi kini, dengan api merah yang menyelimuti lengan kanannya.
Sementara itu....
Axel yang baru saja menggunakan kemampuan barunya itu, kini mulai merasakan efek sampingnya.
"Kugghh!!!"
__ADS_1
Rasa nyeri yang begitu luarbiasa terasa di sekujur tubuhnya. Begitu pula dengan rasa sakit yang menusuk di kepalanya.
Bahkan cukup kuat untuk membuat darah langsung mengalir melalui kedua hidungnya.
"Axel?! Apa yang terjadi?! Kau baik-baik saja?!" Tanya Eva panik.
Axel tahu bahwa itu adalah sebuah obat eksperimental. Efek sampingnya tentu saja berbahaya. Tapi hanya ini lah kesempatannya.
Seperti biasa....
"Pergi lah. Aku akan menahan mereka semua di sini." Balas Axel singkat sambil menunjuk ke arah laut di Barat.
Jarak bandara ini dengan laut mungkin hanya sekitar 5 kilometer.
Dan jika Eva berlari bersama dengan Emma dan juga Sophie, mungkin saja mereka bisa selamat. Asalkan Axel bisa menghentikan para Liberator yang lainnya di sini.
"Jangan bercanda! Aku takkan pergi tanpamu dan...."
Perkataan Eva seketika berhenti setelah melihat Axel memuntahkan darah dari mulutnya. Sekalipun Axel sama sekali tak menerima serangan dari lawannya.
"Pergi." Balas Axel singkat.
Axel telah meneguhkan hatinya. Mungkin memang telah menjadi takdirnya untuk mati saat ini.
Dan sekalipun itu memang terjadi, Axel takkan menyesal sedikit pun. Selama Ia bisa menyelamatkan para anggota kelompoknya, dan juga sedikit memperlambat apapun yang direncanakan oleh Asia Timur, Axel telah puas.
Ia takkan meminta apapun lagi.
Menyadari kesungguhan dari sikap Axel, Emma segera meraih lengan Eva. Menariknya pergi sejauh mungkin meninggalkan bandara ini.
Sementara itu, Sophie nampak membuat hujan es di sekitar tempat mereka bertiga. Membukakan jalan bagi mereka untuk kabur.
Eva meninggalkan sosok Axel berdiri sendirian di hadapan musuh yang terlampau kuat.
Hanya saja, kali ini musuhnya bukan lah seekor monster. Melainkan para manusia itu sendiri.
"Ku pikir kau akan mengejar mereka?" Tanya Axel kepada sosok Akane yang berdiri dengan tenang di hadapannya.
Api merahnya itu secara perlahan mulai berubah menjadi kebiruan.
Dengan tatapan yang sinis, Akane pun menjawab.
"Kami tak peduli dengan mereka. Selama bisa mendapatkan tubuhmu, itu bukan lah sebuah masalah. Sekarang, jadi lah anak yang baik dan serahkan dirimu pada kami." Balas Akane sambil terus memperkuat api di tangan kanannya.
Axel sendiri terlihat tersenyum tipis sambil tertawa.
"Hahaha.... Bagaimana jika aku menolak?"
"Tenang saja. Kali ini, aku telah siap untuk menghancurkan bandara ini demi mendapatkan tubuhmu."
Segera setelah mengatakan hal itu, Akane, beserta puluhan Liberator yang lainnya mulai menyerang tepat ke arah Axel.
Semburan api biru milik Akane itu begitu cepat dan kuat layaknya api pada mesin jet sebuah roket. Bersentuhan dengan api itu saja sudah cukup untuk mengubah tubuh seseorang menjadi abu.
Tapi sayangnya, Axel jauh lebih cepat dari itu.
Ia mengaktifkan kembali kekuatan barunya itu. Membuat dunia, sekali lagi berada dalam kondisi yang begitu lambat.
__ADS_1
Axel dengan mudah melompat ke samping untuk menghindari semburan api itu.
Tanpa lagi ada keraguan dalam hatinya, Axel mengayunkan sebuah pedang yang diambilnya sebelumnya tepat ke arah perut Akane.
Berniat untuk memotongnya menjadi dua dan mengakhiri semua masalah ini.
Hanya saja....
'Bruuuukkkk! Swuuuusshhh!!'
Pedang itu sama sekali tak bisa menembus tubuh Akane. Hanya mendorongnya sejauh puluhan meter ke belakang. Sedangkan apinya sendiri tertinggal di tempat dimana tangannya sebelumnya berada.
Mungkin karena merupakan sebuah senjata rendahan milik Liberator peringkat bawah. Sehingga ketajamannya sama sekali tak terjamin.
Terlebih lagi, Akane entah bagaimana bisa memiliki kemampuan fisik yang begitu tinggi sekaligus kemampuan sihir yang juga sangat mengerikan.
'Tak bisa menembusnya? Kalau begitu....'
Setelah memikirkan hal itu dalam hatinya, Axel segera mengejar tubuh Akane yang terlempar itu dan memberikan puluhan tebasan yang lainnya.
Tapi sebelum berhasil memotong tubuh Akane, pedang itu telah patah terlebih dahulu.
Axel segera berniat untuk mencari senjata lain.
Hanya saja....
'Bzzzzzttt!!!'
Pandangan Axel seketika menjadi buram. Ia tak lagi mampu melihat apapun selama beberapa detik.
Dan pada saat yang sama, tubuhnya terjatuh dengan sendirinya ke tanah.
Nampaknya, tubuh Axel sama sekali tak mampu untuk menahan beban dari kekuatan barunya ini. Dan juga, efek penguat tubuh dari booster eksperimental itu telah memudar dengan cepat.
Mengembalikan kondisi tubuh Axel sama seperti sebelumnya.
Dunia yang melambat ini pun juga berhenti seketika setelah Axel terjatuh. Membuat seluruh luka yang dialami oleh Akane segera terealisasikan.
'Zraashhh! Sraasshhh! Zraasshh!'
Puluhan tebasan mengenai tubuhnya secara bersamaan. Memberikan banyak sekali luka goresan di tubuhnya.
Darah pun mulai mengalir dengan begitu deras di sekujur tubuhnya.
Tapi, Akane masih tetap berdiri. Ia seakan sama sekali tak terpengaruh oleh serangan itu.
Dan benar saja.
Api kuning yang tipis mulai menyelimuti tubuhnya. Menyembuhkan seluruh luka tebasan di badannya itu seketika.
"Hahaha.... Yang benar saja.... Axel. Apakah barusan, kau bergerak ratusan kali lebih cepat dari biasanya? Benar-benar sebuah pilihan yang tepat untuk memanfaatkan tubuhmu itu.
Dan sekarang.... Kau kehabisan tenaga ya? Sangat di sayangkan. Sebagai mantan rekan yang baik, aku akan menghargai harapanmu dengan membiarkan mereka bertiga kabur. Kau lihat? Aku orang yang cukup baik bukan?"
Kalimat itu terdengar samar-samar di telinga Axel yang kini mulai meneteskan darah.
Dan setelah beberapa saat....
__ADS_1
Kesadarannya pun menghilang.