Liberator

Liberator
Bab 88 - Last Hope


__ADS_3

...[Pemberitahuan kepada seluruh peserta! Harap berkumpul di lobi utama untuk pengarahan mengenai peluncuran roket antar planet!]...


Pesan suara tersebut terdengar dengan jelas di seluruh tempat. Termasuk ruangan dimana Chloe dan juga Axel beristirahat.


Mendengarnya, Axel segera menoleh ke arah Chloe. Wajahnya seakan menanyakan pendapat adiknya itu.


"Ayo kak." ucap singkat adiknya.


"Baiklah." balas Axel sambil berdiri dari kursinya. Keduanya pun bersiap untuk menghadiri pengarahan tersebut.


Misi peluncuran roket itu masih 6 hari lagi. Masih banyak waktu tersisa untuk menikmati hidup di dunia yang sudah hancur ini. Sebelum akhirnya menyerahkan nasib mereka sepenuhnya kepada kapal besi yang akan menembus langit.


Setibanya di lobi utama, ribuan orang telah berkumpul. Di hadapan semuanya terdapat sosok seorang pria dengan seragam Liberator berwarna abu-abu dengan lambang bintang di bahu kirinya.


"Selamat pagi, semuanya. Tanpa perlu berbasa-basi lagi, kita akan langsung mulai pengarahan mengenai misi ini."


'Misi?'


Kata tersebut menjadi sebuah tanda tanya dalam kepala banyak orang. Mereka pikir bahwa dengan menaiki roket tersebut, mereka akan memperoleh kebebasan yang sebenarnya. Selamat dari kehancuran dunia ini.


"Teknologi yang dimiliki oleh umat manusia masih terlalu rendah." lanjut pria itu dengan tegas.


Axel yang memang tak memiliki latar belakang dalam bidang teknologi, tak paham dengan apa yang dimaksudkan olehnya.


Pasalnya, teknologi umat manusia sesaat sebelum kehancurannya sangatlah maju. Bahkan sulit untuk membedakan antara teknologi dengan 'sihir' pada masa itu.


Namun menyebut teknologi itu masih terlalu rendah?


"Belum lagi planet yang bisa dihuni sangatlah jauh dari tata Surya kita."


Dalam hal itu, Axel dan juga Chloe bisa memahaminya. Tata Surya yang dikenal sebagai 'Sol' dengan matahari sebagai pusatnya ini tak memiliki planet lain seperti bumi.


Memaksakan untuk tinggal di mars akan membutuhkan terlalu banyak teknologi dukungan, yang mungkin belum dimiliki di tengah hancurnya dunia ini.


"Dengan teknologi yang saat ini, umat manusia hanya memiliki satu cara untuk bertahan. Yaitu menaiki pesawat ruang angkasa dan menunggu selama 8.392 tahun, menuju ke sebuah tata Surya dengan kode nama [Proxima Aulus]."


Semua orang terkejut dengan pernyataan itu.


Apa yang dimaksud dengan menunggu selama lebih dari 8.000 tahun? Dan bagaimana manusia bisa bertahan selama itu?


Pria tersebut segera melanjutkan pengarahan ini. Kini mulai memasuki ke ranah teknis mengenai pesawat ruang angkasa itu.


Menyebutnya sebagai pesawat justru terkesan kurang tepat setelah semua penjelasan itu.


Benda yang disebut sebagai pesawat itu lebih tepat jika disebut sebagai 'benih' yang tertidur. Menanti hingga terjatuh ke tanah yang subuh untuk tumbuh menjadi pohon baru.


Tapi dalam hal ini, yang ada di dalam benih itu adalah umat manusia itu sendiri.


"Peluncuran fase pertama akan memuat 1.000 orang, dimana kalian akan diletakkan dalam sebuah Stasis Chamber untuk tertidur.


Dalam keadaan itu, kalian takkan menua, dan takkan mati. Tapi juga tak bisa berinteraksi dengan dunia. Oleh karena itu seluruh sistem kendali pesawat akan diserahkan pada AI." jelas pria itu panjang lebar.


Nampaknya Faksi Liberator Eropa berniat untuk terus meluncurkan roket yang membawa pesawat ruang angkasa ini hingga seluruh penduduk bumi yang tersisa bisa pergi dari tempat ini.


Tanpa terkecuali, dengan diri mereka sendiri yang berangkat paling akhir.


"Setiap pesawat akan menuju ke lokasi yang berbeda untuk menjamin keselamatan umat manusia itu sendiri.


Dalam pesawat itu akan tersimpan arsip komputer yang memuat seluruh teknologi, pengetahuan, dan budaya umat manusia selama ini. Sehingga saat kalian tiba di tujuan, kalian bisa memulai peradaban baru dengan arsip itu.


Kecerdasan AI yang dimiliki cukup rendah, sehingga kita hanya bisa berdoa agar tidak menabrak asteroid atau batuan lain di ruang angkasa. Karena jika itu terjadi, mungkin pesawat itu takkan selamat."


Semakin didengar, penjelasan pria itu semakin membuat orang-orang putus asa.


Menyerahkan semuanya pada mesin, dan berharap tak ada satu pun kendala yang terjadi sepanjang perjalanan yang mencapai ribuan tahun lebih.


"Berkat kondisi vakum di ruang angkasa, sedikit dorongan dari mesin sudah cukup untuk membuat pesawat berjalan selama ribuan tahun tanpa tambahan dorongan lain.


Sebagai keamanan sekunder, pesawat juga dilengkapi panel surya untuk mengisi ulang tenaga mesin pendorong dan perangkat lainnya."


Secara perlahan, tangan kanan Chloe mulai menggenggam erat lengan Axel.

__ADS_1


Semua yang diucapkan dalam pengarahan ini hanya membuat semua orang makin putus asa.


Apakah ini benar-benar penyelamatan yang mereka cari?


Atau kah berusaha bertahan di dunia yang sudah hancur ini lebih baik daripada melawan kekosongan ruang angkasa?


Sebuah tempat dimana hampir tak bisa diprediksi, apa yang akan terjadi.


Tapi bagaimana pun....


"Chloe, tenang saja. Mereka tak mungkin mengirim kita dengan semua itu hanya untuk mati." ucap Axel sambil tersenyum ke arah adiknya.


Chloe tak menjawab, tapi hanya mengangguk secara perlahan.


"Dengan begitu, penjelasan ini berakhir. Bersiaplah untuk berangkat pada...."


...[BEEEEEEEEEEEEP!!! BEEEEEEEPPP!!!]...


...[INTRUDERS ALERT!]...


Secara tiba-tiba, cahaya lampu di seluruh fasilitas ini berubah menjadi merah menyala. Dengan suara sirine yang sangat keras di segala penjuru.


"Ada apa?!" tanya Pria itu.


Keributan segera terjadi. Banyak orang mulai panik dan berlarian kesana kemari. Dalam pikiran Axel, hanya ada satu hal.


'Jangan katakan.... Orang itu masih mengikuti kami?!'


Tentu saja orang yang dimaksud tak lain adalah Akane.


Dengan peluncuran nuklir yang dilakukan oleh pihak Rusia secara global, seharusnya membuat bahkan Faksi Asia Timur hancur.


'Tapi kenapa dia masih mengejar?!'


Setelah beberapa saat berdiskusi dengan para teknisi dan prajurit yang lain, Pria berseragam Liberator itu kembali memberikan pengumuman.


"Semuanya yang ada di lobi ini! Ikuti arahan prajurit dan naik ke dalam pesawat. Sekarang! Roket mungkin belum siap sepenuhnya, tapi tak ada waktu lagi!" teriaknya.


'Sialan! Apa yang terjadi?! Apa yang harus ku lakukan?!'


Di satu sisi, Axel sangat ingin kabur. Ia telah muak dengan semua ini. Ia ingin semuanya berakhir dan hidup dengan tenang bersama adiknya.


Tapi di sisi lain, Axel tahu.


Lawan yang dihadapinya kali ini benar-benar gigih. Dan lebih dari itu semua, sangat kuat.


"Ayo cepat kemari! Ikuti kami!" teriak salah seorang prajurit di dekat Axel dan juga Chloe.


"Kak?!" tanya Chloe kebingungan saat melihat sosok Axel terdiam dengan wajah yang tegang.


'*Apa yang harus ku lakukan? Jika aku pergi, bisa kah Faksi Eropa dan fasilitas ini bertahan? Jika tidak, bagaimana dengan nasib umat manusia lain?


Sekalipun aku tak peduli, bagaimana jika pesawat yang kami tumpangi tak selamat dalam perjalanan? Apakah umat manusia akan punah* sepenuhnya?


Terlebih lagi, regenerasi pada tubuh Akane. Apakah orang-orang Eropa ini tahu? Apakah mereka bisa menanganinya? Jika tidak....'


Sebelum menyelesaikan pemikirannya....


"Maaf! Tak ada waktu lagi!" teriak Prajurit itu yang segera menarik Axel dan juga Chloe ke arah tempat peluncuran.


'Maafkan aku....' pikir Axel dalam hatinya.


Sekali lagi, Ia memilih untuk menjadi seorang pengecut. Lagipula, ini bukan lah perangnya. Ini bukan lah pertempurannya.


Bukankah tak ada salahnya? Lagipula.... Prajurit itu telah menariknya secara paksa bukan? Terlebih lagi di kejauhan, Axel bisa melihat puluhan prajurit dengan seragam abu-abu mulai berlari keluar.


Bersama dengan mereka adalah ratusan prajurit berseragam hitam dengan senapan mesin.


Axel yakin....


Tidak. Axel hanya ingin yakin, bahwa mereka akan baik-baik saja. Sambil meninggalkan semua ini.

__ADS_1


......***......


Setelah berlari selama beberapa menit, Axel dan Chloe tiba dalam apa yang disebut sebagai Stasis Chamber itu. Yaitu sebuah ruangan dalam kapal ruang angkasa dengan total 1.000 lemari besi dengan kaca transparan di depannya.


Lemari besi itu bertumpukan satu sama lain dan berjejer dengan sangat rapi.


Cahaya kebiruan di ruangan ini mempertegas hawa dingin yang dirasakan oleh semua orang.


"Tolong masuk ke dalam. Kami akan mengurus sisanya." ucap Prajurit itu sambil membukakan pintunya.


Axel masuk ke dalam lemari besi dengan nomor 74 sedangkan Chloe berada di sebelahnya dengan nomor 75.


'Tap! Tap! Tap!'


Sambil menekan berbagai tombol di depan lemari besi itu, prajurit itu seakan sedang mengatakan sesuatu. Tapi sayangnya suaranya tak dapat terdengar dari dalam.


'Bzzzztttt!!!'


Setelah beberapa saat, gas yang dingin muncul dari bagian belakang lemari itu. Memenuhi ruangan kecil tempat dimana Axel dan juga Chloe berada.


...[Tolong letakkan alat bantu pernafasan itu di hidung kalian dan mendekat ke bagian belakang]...


Tulisan itu muncul di layar kecil di depan keduanya. Tanpa menunggu lebih lama, Axel dan Chloe segera melakukannya.


Secara tiba-tiba, pengekang besi mulai muncul dan menahan tubuh keduanya dalam posisi berdiri.


Bersamaan dengan pengekang itu muncul selang dan jarum suntik yang mulai menancap di tubuh keduanya. Memasukkan dan menarik cairan yang tak diketahui.


Tak hanya itu, gas yang sebelumnya muncul secara perlahan mulai menjadi semakin dingin. Termasuk juga cairan berwarna kebiruan yang mulai menenggelamkan keduanya dalam lemari itu.


Hingga akhirnya, setelah beberapa menit....


Tak hanya Axel dan juga Chloe. Tapi 1.000 orang telah tertidur dengan tenang di dalam mesin itu. Tanpa mampu menyadari apapun yang akan terjadi di sekitar mereka.


Setelah menyelesaikan tugas mereka, para prajurit itu pun segera keluar dari dalam ruangan untuk memberikan dukungan kepada prajurit garis depan yang sedang menahan penyusup.


Tak berselang lama, seluruh cahaya di dalam pesawat ini mulai meredup.


...[Komputer AI telah diaktifkan. Mengambil alih kendali. Tujuan telah ditentukan. Bersiap untuk meluncur.]...


Pesan itu muncul dalam ruang kendali utama pada sebuah layar hologram yang besar.


Mesin roket pun mulai menyala, membakar bahan bakar yang ada dan mulai mendorong roket ini ke udara.


...'SWUUUUUUOOOOOOOOSSSHHHH!!!'...


Dari segala penjuru Eropa, semua orang bisa melihat roket itu meluncur ke angkasa. Menjadikan penanda bahwa dalam dunia ini, masih terdapat harapan di tempat dimana roket itu meluncur.


Menarik perhatian siapapun yang masih bertahan hidup untuk datang dan meminta pertolongan.


Sedangkan bagi para Liberator dari Faksi Eropa, mereka melihat peluncuran roket itu dengan senyuman yang lebar.


Termasuk komandan utama mereka yang saat ini telah tergeletak tak berdaya di tanah. Dengan setengah tubuhnya yang telah terbakar oleh api milik A-01.


"Ku mohon, teruskan peradaban umat manusia di luar sana." ucap komandan itu sambil tersenyum dengan bangga.


Secara perlahan....


Kedua matanya pun menutup sambil terus terpaku pada roket yang tengah meluncur itu. Meninggalkan atmosfer bumi, mungkin untuk selamanya.


......***......


...[Pesan Author]...


...Maaf sempat Hiatus secara tiba-tiba beberapa bulan lalu. Karena tuntutan di real life cukup padet sebelumnya jadi terpaksa harus meninggalkan dunia menulis sebentar. ...


...Dan sangat disayangkan, saya harus buru-buru menyelesaikan novel ini karena.... Ya bisa dibilang biar ga ngegantungin pembaca yang mungkin masih nungguin. ...


...Buat yang masih baca sampai disini, saya ucapin terimakasih yang sebesar-besarnya. Termasuk juga saya mohon maaf. ...


...Tapi kedepan, saya berencana untuk menjadi lebih profesional dengan menamatkan Novel terlebih dahulu sebelum saya upload. Jadi cerita tidak akan terpengaruh oleh jadwal update saya. ...

__ADS_1


__ADS_2