Liberator

Liberator
Bab 40 - Insiden Pembangkit Listrik 3


__ADS_3

"Kau tahu siapa mereka?" Tanya Axel singkat kepada Akane.


Meski begitu, pandangan Axel terus menerus bergerak kesana kemari. Mencari dimana prajurit khusus itu berada.


Itu karena seragam dan perlengkapan khusus mereka yang membuat tubuh mereka tembus pandang dan sulit untuk diketahui keberadaannya. Layaknya seekor bunglon yang berkamuflase dengan lingkungan sekitarnya.


"Pasukan khusus dari Rusia. Mereka terus menerus menyerang organisasi Liberator sejak dulu." Balas Akane singkat.


Wanita itu mulai membuat lingkaran sihir kedua yang melindungi tempat Axel dan dirinya berdiri.


'Syuutt!'


Sebuah tembakan senapan dengan laras yang dimodifikasi itu hampir saja mengenai leher Axel. Dan kini mendarat ke tanah.


Tak ada suara yang ditimbulkan dari tembakan senapan senyap itu.


Terlebih lagi, keberadaan mereka juga sama sekali tak diketahui.


"Kau tahu kenapa?" Tanya Axel.


Sedikit demi sedikit, Axel mulai bisa melihat keberadaan mereka.


Prajurit itu tak sepenuhnya tembus pandang. Melainkan hanya tersamarkan dengan begitu baik.


Jika diperhatikan dengan seksama, distorsi cahaya di sekitar mereka dapat terlihat. Dan lebih dari itu, tiap langkah kaki mereka juga membuat debu dan kerikil dari reruntuhan bangunan ini bergerak.


Hal itu saja sudah cukup bagi Axel untuk memperkirakan dimana mereka berada.


Dengan cepat, Axel membuka tas berisi anak panahnya. Mengambil satu anak panah itu dan melemparkannya ke suatu arah.


'Zraaassshh!'


Petir nampak menyambar kesana kemari dari anak panah itu.


'Jleebbb! Zraasshh!'


Tak berselang lama, lemparan anak panah itu mengenai bahu salah seorang prajurit khusus itu. Membuat fungsi penyamaran seragamnya memudar dan menghilang.


Akane yang melihat kesempatan itu segera menembakkan sihir apinya. Membakar tubuh prajurit itu hingga menjadi abu dalam sekejap.


Tapi setelah serangan Axel yang berhasil barusan, suasana menjadi senyap.


Tak ada lagi pergerakan yang dapat dilihat maupun di dengar. Meninggalkan Axel dan juga Akane dalam situasi yang sangat rumit.


Di satu sisi, mereka tak bisa bergerak dan menurunkan kewaspadaan mereka karena resiko akan disergap secara mendadak.


Tapi di sisi lain, jika mereka tetap diam di sini sambil terus menjaga kewaspadaan mereka....


Sampai kapan?


Berapa lama mereka berdua akan terdiam di tempat ini?


"Axel, aku akan...."


"Jangan. Jika kau membakar habis tempat ini, kita tak tahu teknologi atau penyebab yang membuat para monster ini kehilangan akal mereka. Itu terlalu beresiko untuk misi kali ini." Jelas Axel.


"Lalu bagaimana? Diam di sini selamanya?" Balas Akane kesal.


Axel sendiri juga kesal. Ia tak mampu untuk menentukan pilihan di situasi ini.


Tapi pada akhirnya, Axel memutuskan bahwa hal itu perlu di lakukan.

__ADS_1


"Baiklah, satu gelombang panas yang ringan saja. Jangan sampai menghancurkan tempat ini." Balas Axel.


Senyuman yang lebar pun mulai menghiasi wajah Akane mengetahui bahwa Ia bisa membantai lawannya sesuka hati.


"Dengan segera!" Balas Akane dengan penuh semangat.


Sesaat setelah itu, Akane menembakkan sebuah gelombang api yang menyebar ke seluruh ruangan ini.


Api itu tak terlalu panas. Juga tak terlalu banyak. Hanya satu gelombang api tipis yang menyebar ke segala arah.


Dan benar saja....


Api itu sangat efektif terhadap seragam tembus pandang prajurit khusus itu. Membuat penyamaran mereka berhenti bekerja selama setengah detik atau kurang.


Hal itu sudah cukup bagi Axel yang memperhatikan segala sudut ruangan ini.


Tanpa ragu, Axel segera membuka kunci pada tombaknya dan mengubahnya menjadi busur. Ia langsung menembakkan anak panah itu ke beberapa tempat dimana pasukan khusus itu berdiri.


'Jleebb! Jleeebb!! Jleebbb!!!'


Total sebanyak tiga buah tembakan telah dilancarkan oleh Axel. Membunuh mereka semua dengan sekali serang.


Tapi ada satu yang terlewat. Dan prajurit itu sama sekali tak membuang kesempatan untuk membalaskan dendam rekan seperjuangannya.


'Syyuutt! Jleebb!!'


Sebuah tembakan pistol senyap mengenai tepat di punggung Axel. Hanya saja, tembakan itu sedikit meleset dan gagal untuk menembus jantung Axel sepenuhnya.


Tapi tetap saja....


"Kuugghh!!"


Axel mulai berdarah di bagian dada kirinya. Dan saat tembakan kedua dilancarkan, Axel telah memperkirakan keberadaan mereka. Membuatnya mampu menghindari tembakan berikutnya.


"Hanya luka gores kecil. Tak masalah." Balas Axel singkat.


Secara perlahan, luka di dada kirinya itu mulai sembuh akibat keberadaan energi Flux yang begitu melimpah di tubuh para Liberator.


Menghindari kematian akibat luka fatal pun cukup dimungkinkan selama luka yang di derita tak begitu parah.


"Cih, dasar monster." Keluh sang penembak itu dari balik salah satu tiang baja yang tebal.


"Alihkan perhatian pria itu, aku akan membunuh target dengan cepat." Balas prajurit lain melalui alat komunikasi mereka. Ia berada di bagian tertinggi dari kompleks pembangkit listrik ini.


Yaitu tepat di puncak menara pengawas.


"Dimengerti." Balas Pria itu.


Dengan segera, Pria itu melemparkan sebuah granat asap tepat ke arah Axel dan juga Akane berdiri.


'Bzzzztttttt!!!'


Asap yang tebal mulai memenuhi bangunan ini. Menghalangi pandangan Axel dan juga Akane sepenuhnya.


Tapi tidak bagi para prajurit khusus itu.


Dengan kacamata inframerah mereka, melihat keberadaan Akane dan juga Axel sangat lah mudah. Hanya cukup melihat gelombang panas yang....


"Sialan! Aku tak bisa melihat mereka!" Balas sang penembak jitu yang bersembunyi di puncak menara pengawas itu.


Akane dengan cepat segera menyebarkan api di sekitarnya. Membuat kacamata inframerah itu sama sekali tak berguna karena tak mampu membedakan panas yang diakibatkan oleh Akane itu.

__ADS_1


Dengan kata lain, pasukan khusus itu membutakan Akane dan Axel dengan asap. Tapi Akane sendiri membutakan para pasukan khusus itu dengan panas dari api.


"Masa bodoh! Hujani mereka dengan peluru!" Perintah sang penembak jitu di kejauhan.


"Dimengerti." Balas para prajurit khusus yang lainnya.


Tak berselang lama, rentetan ratusan peluru pun diarahkan pada tempat dimana Axel dan juga Akane berada.


'Daaarr! Daaarr! Daarr!! Klaaangg!'


Suara ledakan dari setiap tembakan itu terdengar begitu keras. Begitu pula dengan suara longsongan peluru yang jatuh ke lantai besi di pembangkit listrik ini.


Semuanya terdengar begitu nyaring.


Dan suara itu....


Sudah cukup bagi Axel.


Sesaat setelah merubah busurnya menjadi tombak sekali lagi, Axel segera berlari secepat mungkin ke arah asal suara itu.


Kecepatannya begitu mengerikan, seperti layaknya kilat yang menyambar ujung dari bangunan tertinggi. Dan hanya dalam satu kedipan mata....


'Zraaasshh! Zraaashh! Zraasshh!'


Axel menebas tubuh 4 prajurit khusus itu dengan tombaknya. Memotong tubuh mereka menjadi beberapa bagian dengan tombaknya itu.


Di sisi lain, Akane melindungi dirinya sendiri dengan perisai api biru yang begitu tebal dan panas.


Bahkan peluru yang ditembakkan ke arahnya segera meleleh sesaat setelah bersentuhan dengan perisai api milik Akane.


Sesekali, lelehan logam itu menciprati wajahnya. Memberikan bekas luka bakar yang cukup parah di wajahnya meskipun Akane sendiri memiliki ketahanan terhadap panas yang begitu tinggi.


Penembak jitu yang berada di bagian tertinggi bangunan ini, tak lagi memiliki waktu untuk disia-siakan.


Dengan segera, Ia menarik pelatuk dari senapan laras panjangnya.


'Syyuuttt!'


Dengan bantuan peredam pada laras senapan itu, tembakannya hampir tak menimbulkan suara sedikit pun.


Dan peluru itu melesat tepat ke arah leher Akane.


'Jleebb! Braaakk!'


Dari kejauhan, Axel melihat tubuh Akane yang terdorong tembakan itu hingga terjatuh ke tanah. Darah pun mulai mengucur dengan deras dari lehernya.


Tapi langkah pertama Axel bukan lah untuk menolong Akane. Melainkan menyingkirkan penyebab kejadian itua sebelum membuat masalah yang lainnya.


Tanpa ragu, Axel memperkuat genggamannya pada tombaknya. Setelah memastikan arah tembakan itu berasal, Axel mengincar di salah satu bagian tertinggi di kompleks pembangkit listrik ini.


Yaitu menara pengawas. Sebuah posisi paling sempurna sebagai penembak jitu, tapi juga yang paling mudah untuk ditebak.


'Swuuuuussshhh!'


Axel pun melemparkan tombaknya dengan sekuat tenaga ke arah menara itu.


'Blaaaaarrr!! Brruuukkk!'


Menara itu dengan segera mulai runtuh sesaat setelah menerima serangan dari tombak petir Axel. Membunuh prajurit penembak jitu yang bersembunyi di puncak menara itu setelah terjatuh 100 meter lebih ke tanah.


Kini, Axel mulai berbalik arah.

__ADS_1


Melihat sosok Akane yang terkena tembakan fatal tepat di lehernya. Dan tergeletak tak berdaya di hadapannya, dengan darah yang terus mengalir dengan deras dari lehernya.


__ADS_2