
"Oracle, apa yang sebenarnya terjadi di sini?" Tanya Axel yang menutupi hidung dan mulutnya dari banyaknya debu di dalam bangunan ini.
Dari ledakan besar barusan, Axel mampu bereaksi cukup cepat untuk menghindari luka fatal.
Tapi sebagai akibatnya, Axel sendiri tak mampu melihat apa yang sebelumnya terjadi. Ia tak tahu apakah Pria barusan yang menyebabkan mesin itu meledak sebagai sebuah bentuk pertahanan diri atau semacamnya.
Apa yang diketahuinya, kini hanyalah sebuah mesin yang telah hancur dan badan pria sebelumnya yang telah hancur menjadi bubur.
"Data yang kau kirimkan mengenai mesin itu sudah masuk. Berikan kami waktu untuk mencari tahu kebenarannya. Saat itu berlangsung, bantu regu yang lainnya untuk mengawal pendaratan pesawat dari Asia Timur." Balas Oracle dalam panggilan itu sebelum mematikan pembicaraan itu.
Axel, kini yang berdiri di balik reruntuhan bangunan pusat kendali bandara, mulai memperhatikan kondisi sekelilingnya.
Dimana para pasukan monster itu mulai mundur semenjak mesin itu hancur.
'Apakah benar-benar ada pihak yang mengkhianati umat manusia? Sampai-sampai memanggil monster itu kemari agar kami binasa?' Tanya Axel dalam dirinya sendiri.
Ia tak tahu apakah jawaban itu benar atau salah. Yang Ia ketahui, adalah sebuah kenyataan bahwa mesin untuk memanggil para monster mendekat itu benar-benar ada.
Akan tetapi, di saat Axel sedang sedikit bersantai atas kemenangan besar umat manusia di Los Angeles ini....
"BZZZTT! Cabang Asia Timur kepada Amerika Utara! Kalian mendengar kami?!" Teriak seorang wanita dalam saluran komunikasi itu.
Bahasa Inggrisnya tak begitu sempurna. Tapi semua orang yang mendengarnya bisa memahaminya.
Dengan segera, Axel pun menjawab pertanyaan itu.
"Kami mendengar mu. Ada apa?" Tanya Axel.
"Kumpulkan semua Liberator di sana dan bersiap untuk mundur! Monster kelas A, Phantom tiba-tiba muncul di saat semua monster lainnya mundur!" Teriak Wanita itu.
"Phantom?"
Axel kebingungan.
Ia belum pernah mendengar kode nama itu sebelumnya.
Tapi mendengar peringkatnya, Axel tahu. Bahwa ini bukan lah hal yang bagus.
Axel segera melihat ke arah langit. 4 pesawat itu masih terbang secara melingkar di udara dengan Dread Rider yang hampir sepenuhnya dihabisi. Hanya tersisa tiga Dread Rider saja.
Akan tetapi....
Ada sesuatu yang belum pernah Axel lihat sebelumnya.
Tepat di langit, sebuah retakan besar dapat terlihat. Di balik retakan itu, yang terlihat hanyalah warna hitam gelap dengan sedikit corak keunguan.
Dari celah itu, sosok monster yang belum pernah dilihat olehnya muncul.
Monster itu memiliki wujud seperti seorang manusia yang mengenakan jubah hitam yang tebal dan panjang. Akan tetapi, tak ada wujud nyata di balik jubah itu. Hanyalah sebuah kegelapan yang tak berujung yang bisa dilihat.
Ukuran dari monster itu pun sama. Hanya sebesar pria dewasa saja.
__ADS_1
"Kepada semua prajurit reguler! Perintah langsung! Mundur dari sana dengan segera! Liberator di bawah peringkat B segera mundur. Sedangkan sisanya dukung Cabang Asia Timur untuk menghadapi Phantom!" Perintah Oracle dari markas utama.
Axel tak mampu mendengar keseluruhan dari perintah itu.
Saat ini, entah kenapa....
Dirinya seakan membeku.
Tak mampu untuk bergerak. Tak mampu untuk berpikir. Yang tersisa, hanya lah rasa takut yang tak mampu untuk dijelaskan.
Semakin Axel memperhatikannya, monster berjubah hitam yang muncul dari retakan dimensi itu terlihat sedikit tembus pandang.
Seakan-akan, makhluk itu memang tak seharusnya berada di dunia ini.
"Axel! Apa yang kau lakukan! Menjauh dari sana!" Teriak Emma yang memperhatikan semua situasi lokasi pertempuran dari kejauhan itu.
Seketika, Axel memperoleh kembali kesadarannya. Dengan refleks yang cepat, Ia segera melompat mundur dan menjauh dari tempat itu.
Saat Axel melihat kembali ke arah monster yang disebut sebagai [Phantom] itu, Ia melihat monster itu terbang menembus ke arah salah satu pesawat.
'Swuuushhh!'
Akan tetapi, bukannya menabrak atau hancur, tubuh dari Phantom itu seakan-akan hanya menembus badan dari pesawat itu. Sama sekali tak memberikan kerusakan fisik pada pesawat tersebut.
Tapi segera setelah itu....
Pesawat itu nampak mulai kehilangan kendali. Secara perlahan, mulai menukik secara vertikal dan terjun bebas ke tanah.
'Blaaaarrr!!!'
Axel yang melihat hal itu mulai memiliki sedikit gambaran kasar atas sosok monster berjubah hitam yang disebut sebagai Phantom itu.
"Oracle! Bagaimana cara menghabisinya?!" Tanya Axel dengan segera setelah melihat kengerian dari monster itu.
Tapi balasan yang diperolehnya sama sekali tak memuaskan.
"Kita.... Belum tahu." Balas Oracle.
"Hah?! Apa maksudmu dengan itu?!" Tanya Axel sambil terus berlari.
"Sebelumnya, cabang Amerika Utara pernah menghadapinya, dan memperoleh kekalahan besar. Monster itu, sama sekali tak bisa dilukai. Itulah kenapa Ia berada di tingkat A." Balas Oracle dengan suara yang lemas.
Peringkat untuk monster sendiri sedikit berbeda dengan peringkat untuk manusia. Dimana peringkat tertinggi untuk monster hanya mencapai huruf A.
Skala dari peringkat monster itu sendiri lebih besar dibandingkan dengan peringkat manusia. Sebagai contoh, monster peringkat C dapat mengalahkan Liberator peringkat A dengan mudah.
Dengan pengecualian, yaitu 4 monster yang diklasifikasikan sebagai peringkat S. Dimana kehadirannya saja, mampu menundukkan militer sebuah negara dengan begitu mudahnya.
Dan kini....
"Cih, sialan!" Balas Axel sambil segera membuka kunci dari tombaknya. Mengubahnya kembali menjadi sebuah panah.
__ADS_1
'Sreeettt!'
Setelah membuka tasnya sekali lagi, Axel menarik sebuah anak panah dengan ujung berwarna kehijauan itu.
Menariknya sekuat tenaga dan mengarahkannya tepat kepada monster berjubah hitam di langit itu.
"Sialan!!!" Teriak Axel penuh kekesalan.
Ia memasukkan banyak energi elemen petirnya dalam panah itu. Sangat banyak hingga ketika Axel melepaskannya, puluhan sambaran petir yang kuat menyebar dari sekitar tembakan anak panah itu.
Menghancurkan dinding dan jalanan beton di sekitar tempat Axel berdiri dengan begitu mudahnya.
'Blaaaaarrr!!!'
Panah itu melesat secepat kilat. Dan dalam sekejap, mengenai tepat di tubuh monster berjubah hitam itu.
Akan tetapi....
Sama seperti apa yang dikatakan oleh Oracle sebelumnya.
Monster itu sama sekali tak bisa terluka. Anak panah Axel yang diselimuti oleh banyak petir itu hanya melewatinya saja. Seakan-akan tubuh monster itu tak pernah ada di dunia ini.
'Swuuusshh!!'
Setelah melewati tubuh Phantom itu, panah itu pun masih terus melesat semakin tinggi hingga ke langit. Sambil terus menyambarkan petir ke sekitarnya.
Melihat kejadian itu, kini Axel mulai lemas.
Tak seperti sebelumnya, dimana musuhnya hanya jauh lebih keras dan lebih kuat darinya, Axel masih bisa memaksakan dirinya untuk melawan mereka.
Sekalipun harus mengorbankan nyawanya, Axel akan tetap puas selama bisa memberikan serangan balasan yang melukai musuhnya.
Tapi kali ini....
Axel bahkan tak bisa melukainya.
Di sisi lain, tepatnya di atas salah satu badan pesawat itu, seorang wanita dengan rambut merah nampak berdiri dengan tenang.
Pengait dengan tali baja terikat di pinggangnya. Menjaganya agar tak terjatuh dari pesawat itu.
Sementara itu, tangan kanannya telah diselimuti oleh api dengan warna kuning kemerahan.
'Apakah Phantom benar-benar tak bisa dilukai?' Tanya wanita itu.
Ia mempertanyakan hal itu sesaat setelah melihat panah petir Axel melesat menembus monster berjubah hitam itu dengan cepat.
Walaupun hanya sesaat, wanita itu menyadarinya.
Bahwa terdapat sedikit reaksi dari monster itu setelah terkena serangan Axel.
Dengan asumsi itu, wanita dengan nama Akane itu kembali bertanya.
__ADS_1
'Jika Ia benar-benar bereaksi terhadap serangan barusan.... Bukankah itu berarti Ia bisa dilukai?'
Tanpa mempertanyakan apapun lagi, Akane segera mengarahkan tangan kanannya ke depan. Menyemburkan api dengan skala yang belum pernah dilihat oleh satu orang Liberator pun di Amerika Utara.