Liberator

Liberator
Bab 59 - Tragedi


__ADS_3

"TIDAAAAAAAAKKK!!!"


Seketika, beberapa penjaga yang berada di permukaan itu mendengar teriakan Mary.


"Dimana itu berasal?" Tanya salah seorang penjaga.


"Bawah tanah?"


Mereka berdua pun dengan segera mengangkat senjata. Satu dari mereka membawa sebuah tombak besi.


Sedangkan satu lagi nampak membawa sebuah senapan shotgun dengan peluru yang sangat minim itu. Di atas senapan itu terpasang sebuah senter kecil untuk menerangi sasarannya.


Dengan cepat, mereka menemukan bahwa pintu saluran air bawah tanah terbuka. Menandakan bahwa memang teriakan itu berasal dari sana.


Di sisi lain....


"Kak Liam...." Ucap Lucy ketakutan.


Secara perlahan, Ia melangkah mundur dalam rasa takutnya sendiri. Kedua tangannya pun gemetar atas rasa takut itu.


Menjatuhkan senter itu di tanah.


"Kraaaaakkkk!!!" Teriak Lizardmen itu yang dengan segera mengarahkan mulutnya tepat ke wajah Liam.


'Zraaasshhh! Kraaauuukkk!'


Dengan begitu mudahnya, Lizardmen itu berhasil menerkam kepala Liam. Menyisakan hanya badan tanpa kepala yang terjatuh secara perlahan di tanah.


Tak berhenti di sana, Lizardmen itu kini mulai menunduk dan bersiap untuk menyantap hidangannya. Tapi tidak lagi, setelah Ia melihat sosok Mary yang berlari menjauh dan berusaha menaiki tangga itu.


'Tap! Zraaassshhh!'


Seakan tak membiarkan siapapun pergi, Lizardmen itu dengan cepat kembali mengayunkan lengannya tepat ke arah dada Mary.


Berbeda dari sebelumnya, serangannya kali ini cukup dalam. Sehingga membelah tubuh Mary menjadi dua dalam sekejap mata.


Lucy yang masih terus berjalan mundur, hanya bisa menutupi mulutnya. Air mata mulai mengalir dengan deras dari kedua matanya. Membasahi wajahnya yang begitu lembut itu.


"Tidak.... Kakak...." Ucap Lucy dalam rasa takut.


Ia hanya bisa terdiam, melihat Lizardmen itu memakan apa yang menjadi sisa dari mereka berdua.


Dalam hatinya, Lucy merasa menyesal karena mungkin....


Semua ini adalah kesalahannya.


Sedikit demi sedikit, rasa takutnya mulai tergantikan oleh rasa amarah. Kesal terhadap dirinya sendiri yang hanya menjadi beban bagi orang lain.


Ingatannya masih begitu kabur.


Ia bahkan tak pernah mengingat bagaimana Ia bisa tiba di dunia ini.


Siapa ibunya?


Siapa ayahnya?


Sedikit demi sedikit, gambaran kasar di kepalanya mulai terlihat dengan jelas.


Dan tepat setelah melihat darah berceceran di hadapannya....

__ADS_1


Lucy akhirnya teringat dengan sangat jelas. Atas jati dirinya yang sebenarnya.


Mata merahnya mulai menyala dengan terang. Tak hanya itu, seluruh giginya mulai tumbuh dengan tajam.


Termasuk juga, kedua lengannya yang mulai membesar. Cakar yang panjang dan tajam mulai tumbuh di seluruh jarinya.


Dan dengan target yang telah ditentukan, Lucy pun melompat. Menerjang ke arah Lizardmen itu.


'Taapp! Zraaassshhh!!'


Dengan mudahnya, cakar Lucy berhasil melukai menembus sisik Lizardmen itu. Memberikannya luka yang cukup dalam.


Darah mulai mengalir dari bahu kanan Lizardmen itu.


"Jauhi.... Kakakku...." Ucap Lucy kini dengan ekspresi wajah yang hampir menyerupai hewan buas itu sendiri.


Lizardmen itu pun membalas serangan Lucy dengan mengayunkan kedua lengannya ke arah yang berlawanan. Dengan maksud untuk memenggal kepala gadis kecil itu.


Tapi sayangnya, reflek Lucy yang saat ini terlalu cepat hingga membuatnya tak hanya mampu menghindari serangan Lizardmen tersebut. Tapi juga memberikan serangan balasan.


'Sraaashhh!!'


Dengan serangan yang serupa, kedua lengan Lucy pun dengan mudahnya menyayat tepat di dada Lizardmen itu.


"Grrooaaarr!!!"


Darah pun mengucur dengan deras. Membasahi tubuh Lucy dengan darah merah yang kental itu.


Merasa kesakitan dan menyadari perbedaan kekuatan antara mereka berdua, Lizardmen itu pun segera berbalik arah dan mundur.


Meninggalkan gadis monster itu sendirian bersama dengan sisa jasad Liam dan juga Mary yang tak lagi berbentuk.


Di satu sisi, Liam benar-benar telah kehilangan kepalanya. Darah juga terus mengucur dengan deras dari perut dan lehernya yang telah dimakan sebagian itu.


"Kakak...." Ucap Lucy melihat tubuh mereka berdua.


Akan tetapi....


"Kau.... Apa yang kau lakukan?" Tanya seorang penjaga yang mengarahkan senapan shotgun nya ke tubuh Lucy di kejauhan.


Apa yang mereka berdua lihat saat ini, adalah sosok seorang gadis kecil yang selama ini mereka curigai sedikit abnormal.


Tapi sekarang, mereka berdua sangat yakin.


Tubuhnya benar-benar menyerupai seekor monster. Dengan taring yang tajam di mulutnya serta lengan yang sedikit lebih besar dan cakar yang tajam di seluruh jarinya.


Begitu pula dengan darah merah di seluruh tubuhnya.


Tanpa ragu, salah seorang penjaga itu segera bersiap untuk menembakkan shotgun miliknya tepat ke arah Lucy.


Sedangkan yang satunya lagi telah memasang kuda-kuda untuk mempersiapkan dirinya menghadapi Lucy.


"Kau.... Selama ini mengincar kami ya? Dasar monster bertubuh manusia?!" Teriak penjaga itu dengan penuh kebencian.


Memahami situasi seperti apa dirinya berada, Lucy pun segera berbicara.


"Tidak. Bukan begitu.... Barusan ada...."


'DUAAAAARRR!!!'

__ADS_1


Tembakan dari senapan Shotgun itu segera melesat. Puluhan fragmen peluru kecil mulai menyebar tepat di hadapannya.


Melukai tubuh kecil Lucy dengan cukup parah.


Puluhan lubang mulai timbul di tubuhnya. Dengan darah yang mulai mengalir dengan deras.


Tapi Lucy hanya terdiam.


Ia merasa kesakitan. Tentu saja.


Tapi apa yang lebih menyakitkan lagi, adalah sebuah kenyataan dimana kedua penjaga di hadapannya sama sekali tak mempercayainya.


'Apakah ini salah tubuhku?' Tanya Lucy sambil melihat ke arah kedua lengannya itu.


Sepasang lengan yang menyerupai monster itu lah yang mungkin membuat manusia membencinya. Mungkin karena itu....


Secara perlahan, pandangannya mulai dipenuhi dengan warna merah. Seiring dengan mengalirnya darah dari ujung kepalanya yang membanjiri kedua matanya.


Bahkan tanpa memberi kesempatan bagi Lucy untuk bereaksi lebih lanjut, penjaga itu segera mengisi ulang peluru shotgun itu


'Cklaakk!'


Dengan segera, Ia mengarahkannya kembali kepada Lucy.


'DUAAARRR!!!'


Berbeda dengan sebelumnya, Kali ini Lucy menghindari tembakan itu.


Ia berlari dengan menggunakan kedua tangan dan kakinya. Melewati dua sosok penjaga itu dan segera meraih ke arah tangga besi itu.


'Zraaasshh!'


Penjaga yang menggunakan tombak itu segera menusukkan tombaknya tepat ke tangan kiri Lucy. Menancapkan nya di antara tangga besi itu.


"Cepat bunuh dia!" Teriak penjaga dengan tombak itu kepada pengguna senapan.


"Sebentar!" Balas penjaga yang satunya. Ia berusaha secepat mungkin mengisi kembali peluru di shotgun itu.


Menyadari bahwa kehidupannya dalam bahaya yang besar, Lucy segera menyeret lengannya. Membuat lengan kirinya benar-benar terputus.


Darah pun mengalir dengan deras membasahi wajah kedua penjaga itu dari atas. Potongan lengan kiri Lucy yang jatuh mengenai wajah salah satu penjaga itu pun segera dilempar jauh ke saluran air itu.


"Berhenti!" Teriak penjaga itu sambil terus berusaha mengisi ulang pelurunya.


Tapi entah kenapa, senapannya sedikit macet karena longsongan sebelumnya tak bisa dibuang keluar. Membuatnya sulit mengisi ulang peluru itu.


Sementara itu, Lucy terus berlari. Dengan hanya tangan kanannya yang tersisa, gadis kecil itu pun menaiki tangga besi itu dan segera berlari secepat mungkin.


Meninggalkan pemukiman ini dalam tangisan.


Beberapa orang lain yang melihat sosoknya yang dipenuhi dengan luka dan darah itu kebingungan. Tak tahu harus bertindak apa.


Sebelum akhirnya teriakan dari para penjaga di bawah tanah itu sampai di telinga mereka.


"Gadis sialan itu memangsa Mary dan Liam! Bunuh dia!!!"


Mendengar teriakan itu, para penjaga lain yang masih berada di area pemukiman ini pun mulai mengangkat senjata mereka.


Bersiap untuk mengejar sosok gadis kecil yang berwujud setengah monster itu.

__ADS_1


__ADS_2