Liberator

Liberator
Bab 81 - Hybrid


__ADS_3

'BLAAAARRRR!!!'


Ledakan dari granat itu mengenai tepat di tubuh Axel. Dengan tangan kirinya yang secara refleks bergerak untuk melindungi wajahnya.


Darah terlihat mengalir dengan begitu derasnya di sekujur tubuh Axel setelah ratusan serpihan peluru itu mengenai badannya.


Sedangkan tangan kirinya sendiri?


Saat ini telah hancur, tapi belum cukup sampai membuatnya terpisah dari lengan Axel. Hanya menggantung sebagian dengan luka yang begitu parah.


Akan tetapi, Axel mulai merasakan sesuatu yang aneh terjadi pada dirinya.


'Deg! Deg!'


Pandangannya seketika berubah menjadi merah terang. Begitu pula dengan kedua bola matanya yang mulai berubah warna menjadi kemerahan.


Segera setelah itu, tangan kirinya mulai pulih dengan begitu cepat.


'Srruuussshhh!'


Axel dapat melihatnya dengan matanya sendiri. Dimana otot dan tulang pada lengan kirinya itu mulai kembali tumbuh. Mengembalikannya kepada wujud seperti sebelumnya.


Hanya dalam hitungan detik, tak hanya tangan kirinya. Tapi seluruh tubuhnya telah pulih sepenuhnya.


"Apa-apaan ini?" Tanya Axel kebingungan.


Sebagai ganti dari kekuatannya yang menghilang, Axel telah memperoleh kemampuan regenerasi yang luarbiasa cepat. Sebuah karakteristik yang diambil dari kode genetik Lucy.


Axel masih memperhatikan lengan kirinya dengan seksama. Masih tak mampu mempercayai apa yang baru saja dilihatnya.


Seketika, Ia teringat akan regenerasi abnormal yang dimiliki oleh Akane. Dimana Axel melihat dengan sangat jelas, sebuah peluru kaliber besar dari sniper melubangi leher wanita itu. Tapi Ia dapat pulih dengan cepat seakan tak merasakan luka apapun.


'Apakah ini kemampuan yang sama? Atau hanya serupa?' Tanya Axel dalam hatinya sendiri.


Tapi Axel yang membuang cukup banyak waktu di medan perang ini melupakan keberadaan musuh. Tanpa di sadari nya, salah seorang Liberator dari Asia Timur telah melompat ke arahnya sambil bersiap mengayunkan pedangnya.


'Zraaaassshhh!'


Axel hampir saja terlambat menghindar. Sebagai hasilnya, lengan kanannya terluka cukup dalam dari tebasan pedang itu.


Dengan cepat, Axel melompat mundur dan kembali mengangkat senapan mesinnya.


"Eh?" Ucap Liberator itu kebingungan setelah melihat lengan kanan Axel telah pulih. Dan kini justru telah mengangkat senapannya ke arah Liberator itu.


Tanpa peringatan, Axel segera menembakkan beberapa rentetan peluru ke arah lawannya.


'Daarr! Daarr! Daarr!'


'Klaangg! Klaangg! Jleebb!'


Sebagian besar dari tembakan Axel itu dapat ditangkis dengan kemampuan pedang dan juga refleks Liberator yang jauh melampaui manusia biasa. Tapi beberapa peluru berhasil menembus tubuh Liberator itu. Tepatnya di bagian lengan dan pundaknya.


'Tap!'

__ADS_1


Dengan cepat, Liberator Asia Timur itu berlari ke arah Axel dalam posisi siap membunuh.


Gerakannya begitu cepat sehingga tak mampu untuk diikuti oleh kondisi Axel yang saat ini. Dan dalam sekejap....


'Zraasshh! Sraasshhh!'


Dua buah tebasan pedang membelah bagian perut Axel dengan cepat. Darah pun mulai mengucur dengan sangat deras.


Tapi satu detik berikutnya, luka yang tersisa hanyalah robekan di kain pakaian Axel. Dimana bagian perutnya telah pulih dengan sempurna.


Dengan hal itu, Axel mengabaikan rasa sakit yang dirasakannya dan fokus mengarahkan senapannya.


'Daaarrr! Daaarr!'


Rentetan beberapa peluru kembali melesat ke arah Liberator itu. Sama seperti sebelumnya, Ia dapat menangkis dan menghindarinya dengan mudah.


Bahkan, kini telah berdiri tepat di belakang Axel untuk memberikan serangan balasan tepat di punggungnya.


'Zraaaassshhh!'


Axel terpukul mundur cukup jauh dengan punggungnya yang terluka parah.


Akan tetapi, beda dengan sebelumnya. Kali ini, regenerasinya membutuhkan sekitar 2 detik sebelum pulih sepenuhnya.


'Jangan katakan....'


Axel seketika tersadar. Bahwa kemampuannya pasti memiliki salah satu kelemahan. Yaitu membutuhkan bahan bakar untuk melakukan regenerasi.


Dan satu-satunya bahan dengan energi yang sangat padat yang diketahuinya, hanyalah Flux.


Dengan kata lain....


'Krettakk!'


Axel melempar senapannya ke tanah dan mulai berlari ke arah Liberator itu.


Melihat tindakan bodoh itu, Liberator dari Asia Timur itu kebingungan.


'Kenapa melempar senjatanya? Apa tujuannya? Apakah dia sudah menyerah?'


Akan tetapi, Tujuan dari Axel sangat jelas. Yaitu untuk meraih Flux Booster yang berada di pinggang kanan Liberator itu.


Dengan fokus yang penuh, Axel terus berlari. Mengabaikan serangan dari lawannya.


'Zraasshh! Staabbb! Jleebbb!'


Beberapa tebasan dan tusukan pedang diarahkan padanya. Tapi Axel terus mengabaikannya dan hanya fokus untuk merebut Flux Booster itu


'Braaakkk!!!'


Dengan kekuatan penuh, Liberator itu pun menendang tubuh Axel yang terus berusaha mendekati dirinya.


Axel pun terlempar sejauh puluhan meter ke belakang.

__ADS_1


"Nampaknya kau sudah siap untuk mati? Sialan.... Aku tak tahu Rusia memiliki seseorang dengan mutasi seperti itu." Ucap Liberator itu sambil berjalan secara perlahan ke arah Axel yang masih terpuruk di tanah.


"Kuuggg! Uughh!"


Axel terlihat terbatuk-batuk sambil terus memuntahkan darah.


Luka di sekujur tubuhnya tak kunjung sembuh seperti sebelumnya. Bahkan, pandangannya saat ini telah mulai menjadi buram. Sulit untuk melihat.


Tubuhnya pun mulai lemas. Tak mampu untuk banyak bergerak.


Dengan rasa sakit yang menggerogoti seluruh tubuhnya, Axel masih berusaha untuk berdiri.


'Harus.... Segera....' Ucap Axel dalam hatinya sambil terus menatap ke arah Booster di pinggang kanan Liberator itu.


Ia terlihat terus berjalan mendekati Axel tanpa rasa takut. Mengetahui bahwa lawannya telah tak berdaya, Liberator itu pun akhirnya berdiri tanpa kewaspadaan sedikit pun di hadapan Axel.


"Selamat tinggal, kawan. Kau benar-benar punya kemampuan yang menarik. Tapi tanpa operasi dari Liberator, kau bukan lah tandinga...."


'Sreeettt!'


Axel dengan cepat merebut Flux Booster yang ada di pinggang kanan Liberator itu lalu berlari menjauh.


Melihat lawannya yang berusaha mati-matian demi sebuah obat yang hanya melukai tubuh Liberator itu, Ia hanya tersenyum tipis.


"Hahaha.... Apa yang akan kau lakukan dengan itu? Memangnya kau tahu benda apa itu?" Tanya Liberator itu dengan nada yang begitu merendahkan.


Tapi di sisi lain, Axel telah membuka pengunci pada Flux Booster itu dan mengarahkannya tepat ke arah lehernya.


Nafasnya terlihat begitu berat, kakinya begitu gemetar. Sementara itu, lukanya hanya beregenerasi dengan begitu lambat.


"Oooh, aku tahu. Kau ingin bunuh diri? Silakan saja." Ucap Liberator itu sambil mengayunkan pedangnya ke arah kiri.


'Zraaasshhh!'


Bahkan tanpa melihat, Liberator itu dapat membunuh prajurit Rusia yang berlari ke arahnya dengan pisau.


Tangan kanannya menunjukkan gestur seperti mempersilakan Axel untuk membunuh dirinya sendiri.


Operasi dari Liberator memungkinkan seseorang untuk memanfaatkan energi Flux di tubuh mereka tanpa resiko yang besar.


Tapi cairan Flux harus masuk melalui punggungnya. Dan jika digunakan oleh seseorang yang tak menjalani operasi itu?


Tentu saja, jawabannya mereka akan mati.


'Jleebbb!'


Setelah mempertimbangkannya sesaat, Axel pun menusukkan jarum suntik nya tepat ke lehernya. Dan dengan segera, menyuntikkan Booster itu ke dalamnya.


'Swuusshhh!'


'Deg! Deg!'


Seketika, jantung Axel berdegup dengan sangat kencang. Pandangannya mulai menghitam dan tak mampu melihat, mendengar, atau merasakan apapun.

__ADS_1


Hanya dalam sesaat itu juga, Axel terjatuh ke tanah.


Tak sadarkan diri.


__ADS_2