Liberator

Liberator
Bab 37 - Setelah Pendaratan


__ADS_3

Dengan terbunuhnya Phantom dan mundurnya semua monster yang menyerbu bandara ini, akhirnya pasukan dari Asia Timur dapat mendarat dengan selamat.


Akan tetapi, pertempuran ini memakan cukup banyak korban.


Dari pihak Amerika Utara, sebanyak 18 prajurit reguler terbunuh dan puluhan lainnya yang luka-luka saat menahan penyerbuan monster di tempat ini. Termasuk 2 anggota Liberator yang terluka parah.


Di sisi lain, pihak Asia Timur menderita sangat banyak korban.


Dari 4 pesawat yang seharusnya mendarat, hanya 3 pesawat saja yang selamat. Dimana satu yang lainnya jatuh setelah menerima serangan misterius dari Phantom yang tiba-tiba muncul.


Dalam jatuhnya pesawat itu, sekitar 63 prajurit reguler dan 3 anggota Liberator tewas. Dimana 2 Liberator lainnya yang berada dalam pesawat itu selamat dengan luka parah.


Kini, para prajurit dari Amerika Utara mulai mengantarkan prajurit dari Asia Timur untuk kembali ke benteng Liberator di Los Angeles ini.


......***......


'Bzzzttt!'


Sebuah pintu besi otomatis itu terbuka ketika Axel berjalan mendekatinya.


Di baliknya, adalah sebuah ruang pemulihan dengan banyak tabung di dalamnya. Dimana 4 orang Liberator sedang dirawat secara intensif.


"Apakah mereka akan baik-baik saja?" Tanya Axel kepada Leona dan Frans yang sedang mengamati perawatan keempat Liberator dalam tabung itu.


Secara perlahan, Leona membalikkan badannya dan membenahi kacamatanya.


"Hmm? Aah, Axel ya? Ini pertama kalinya menemui mu di ruangan ini bukan sebagai pasien, jadi aku sedikit terkejut." Balas Leona singkat.


Di sebelahnya, Frans membalas pertanyaan Axel yang sebenarnya.


"Tenang saja. Mereka akan pulih dengan segera. Tapi.... Kenapa kau khawatir?" Tanya Frans kebingungan.


Leona yang mendengar hal itu pun sedikit memukul tubuh Frans dengan sikunya sambil melirik ke salah satu tabung berisi cairan hijau itu.


Melihat apa yang dimaksud oleh Leona, Frans akhirnya pun paham.


"Aah.... Eva ya? Aku tak mempermasalahkan perasaan pribadi mu, tapi ku harap hal itu...."


Sebelum Frans sempat melanjutkan kesalahpahaman nya, Axel segera memotong perkataannya itu.


"Tolong jangan salah paham. Eva adalah senior sekaligus partner ku di lapangan. Jika Ia terluka, itu juga akan mempengaruhi pekerjaanku. Jadi, kapan Ia akan pulih?" Tanya Axel sambil memperhatikan sosok Eva yang tertidur di dalam tabung berisi cairan hijau itu.


Sosok Eva yang tak mengenakan sehelai kain pun di tubuhnya, saat ini dipenuhi dengan banyak bekas luka.


Bahkan Axel dapat melihat bekas luka akibat kontaminasi Flux di tubuh wanita itu, yang ditunjukkan dengan perubahan warna kulit menjadi ungu kehitaman di pundak kirinya.

__ADS_1


Selain itu, Eva juga menerima banyak luka tusukan lainnya di tubuhnya. Yang membuatnya hampir kehabisan darah.


"Menurut perhitunganku, mungkin satu Minggu." Ucap Frans.


"Terimakasih." Balas Axel yang segera membalikkan badannya untuk meninggalkan ruang perawatan ini.


Segera setelah Axel pergi, Leona pun mulai membicarakan kehadirannya barusan.


"Hmm? Jadi aku salah sangka?" Tanya Leona pada dirinya sendiri.


"Kau tak lihat wajahnya? Ia bahkan tak tertarik pada apapun selain bekas luka di tubuhnya." Balas Frans yang segera kembali bekerja.


"Apakah itu normal untuk seorang pria? Bagaimana denganmu?" Tanya Leona sekali lagi, kini kepada Frans.


Mendengar pertanyaan itu, ekspresi wajah Frans seketika berubah. Dari wajah datar, kini menjadi wajah yang seakan dipenuhi dengan perasaan kesal.


"Kau pikir setelah bekerja melihat tubuh orang hidup dan mati, utuh dan berceceran setiap hari, aku masih tertarik atas sesuatu seperti itu? Tidak. Mungkin hal yang sama juga terjadi padanya."


......***......


Lantai B19.


Ruangan Rapat Utama.


Axel kini kembali menuju ke lantai ini. Tujuannya hanya satu, yaitu untuk menanyakan mengenai misi berikutnya kepada Oracle.


Sesekali, Axel melihat beberapa pegawai yang nampak melakukan panggilan secara langsung kepada Liberator yang berada di lapangan. Memandu mereka dalam misinya.


Di saat yang lainnya, Axel juga melihat diskusi kelompok Liberator dalam perencanaan mereka untuk menyelesaikan misinya.


Baru kali ini, Axel merasa tempat ini benar-benar terkesan seperti ruang rapat.


"Axel, kau tiba di saat yang tepat." Ucap Oracle yang menyapa Axel di kejauhan itu. Ia nampak melambaikan tangannya seakan memanggil Axel untuk mendekat.


"Ada apa?" Tanya Axel singkat.


Oracle kemudian melangkah ke samping sedikit, memperlihatkan sosok di belakangnya.


Yaitu seorang wanita dengan tubuh yang tak terlalu tinggi dengan badan yang ideal. Rambutnya berwarna kemerahan yang diikat ekor kuda dengan penjepit berwarna biru yang indah.


Seragam dari wanita itu sama seperti seragam para Liberator di cabang Amerika Utara. Perbedaannya, hanyalah terdapat lambang huruf S di dada sebelah kirinya.


"Perkenalkan, Akane. Dia adalah seorang Liberator peringkat S dengan tipe sihi elemen api. Kau ingat? Wanita yang menyemburkan api seperti dari mesin roket itu di atas pesawat." Jelas Oracle memperkenalkan sosok wanita itu.


Wanita itu pun sedikit membungkukkan badannya untuk menyapa Axel.

__ADS_1


"Salam kenal." Ucap Wanita bernama Akane itu.


"Aah, ya. Salam kenal." Balas Axel yang secara refleks ikut menundukkan badannya.


Kemudian, Oracle memperkenalkan sosok Axel itu kepada Akane.


"Perkenalkan, pria ini adalah Axel. Sama seperti dirimu, Liberator peringkat S dengan tipe sihir elemen petir. Dia lah yang menembakkan sihir petir itu sesaat sebelum kau membakar habis Phantom itu." Jelas Oracle.


"Aah, jadi itu kau?" Tanya Akane dengan wajah yang cukup datar.


"Begitu lah." Balas Axel singkat.


Dan entah karena firasat atau yang lainnya, kedua orang itu tahu. Bahwa pertemuan serta perkenalan ini takkan berakhir dengan begitu baik.


Benar saja....


"Karena sudah mengenal satu sama lain, aku akan meminta kalian berdua untuk bekerja."


Axel dengan cepat membalas perintah dari Oracle itu sendiri.


"Tunggu dulu, Eva masih dirawat. Lagipula, bukan kah ini bukan cakupan misi ku?"


"Axel benar. Partner ku juga baru saja mati. Meskipun Ia hanya peringkat B, tapi tanpa kehadirannya aku tak mampu mengendalikan sihir api ku dengan baik. Aku mungkin bisa saja membakar habis Pria malang ini." Balas Akane.


"Membakar habis? Apa-apaan itu? Bukan kah kita rekan?" Balas Axel yang merasa tersinggung dengan hal itu.


"Rekan? Bukan kah kau sendiri telah memiliki partner? Lagipula, kau barusan menolak misi ini bukan?" Balas Akane yang kini mulai semakin memanas.


"Bukan atas keinginanku. Tapi atas perintah dari...."


Oracle yang tak begitu suka membuang-buang banyak waktu segera menghentikan omong kosong mereka berdua.


Ia hanya mengangkat tangan kanannya lalu menegaskannya ke arah mereka berdua.


Seketika, sebuah bilah angin tiba-tiba muncul dan membelah apapun yang ada di jalurnya. Termasuk jalanan besi dan juga pintu otomatis itu di kejauhan.


Meninggalkan Axel dan Akane yang hampir saja terbelah atas serangan itu terdiam.


"Ini adalah misi khusus. Hacker yang sebelumnya memang tak tertangkap, tapi hasil analisa mesin yang dihancurkan olehnya sebelumnya mengungkap satu hal.


Yaitu monster bisa dikendalikan dengan sebuah alat yang masih bel diketahui cara kerjanya. Dan berkat bantuan dari Asia Timur, kami menemukan fenomena yang serupa terjadi di area Pembangkit Listrik energi Flux di sektor D.


Aku ingin kalian berdua menyelidiki apakah kumpulan ribuan monster di sana di akibatkan oleh alat yang sama, atau karena fenomena lain. Jika kita bisa menguasai teknologi ini, mungkin manusia memiliki masa depan yang sedikit lebih cerah. Mengerti?"


Tanpa sanggup untuk berkata-kata, keduanya pun hany bisa menganggukkan kepala mereka.

__ADS_1


Dengan terpaksa, menerima misi yang sedikit rumit ini.


__ADS_2