Liberator

Liberator
Bab 44 - Jalan Raya


__ADS_3

Malam hari telah tiba. Tak banyak penerangan di jalan raya ini selain dari cahaya bulan sabit di langit.


Cahaya redup yang menerangi Axel dan Akane di tengah jalan raya yang sangat sepi ini.


"Jadi, apa yang akan terjadi sekarang?" Tanya Axel sambil memandangi motor HD itu di tengah jalan.


Di sisi lain, sosok Akane nampak berjalan memutar. Wajahnya menggambarkan kebingungan dengan sangat jelas.


Setelah beberapa menit berputar-putar di tempat yang sama, Akane akhirnya berbicara.


"Lari mu cepat bukan? Bagaimana kalau kau mencari kendaraan lain dan mengambil bahan bakarnya?" Tanya Akane.


"Aku? Kenapa? Bukan kah ini salahmu karena kah tak mengecek bensin di motor itu sebelum berjalan?" Balas Axel dengan tatapan mata yang sipit.


"Eh? Salah ku? Kenapa?"


Axel tak lagi mampu menghadapi maupun menangani sosok wanita ini.


Pada akhirnya, Ia pun mengalah dan memutuskan untuk mulai mencari kendaraan lainnya.


Meninggalkan Akane duduk sendirian di tengah jalan raya ini bersama dengan motor HD itu. Akane juga nampak membuat api unggun dengan kemampuannya untuk menerangi tempat Ia beristirahat.


Sementara itu....


Axel terus berjalan kembali ke arah kota San Fransisco.


'Kalau tak salah, kami menemui beberapa mobil di belakang tadi. Sekitar 10 atau 20 kilometer mungkin?' Pikir Axel dalam hatinya.


Setelah memutuskannya, Axel pun mulai berlari sambil membawa sebuah jerigen bahan bakar kecil di tangan kanannya.


Ia sama sekali tak berniat untuk berlari secepat mungkin. Justru Axel memilih untuk berlari secara perlahan, menikmati kedamaian di malam hari ini.


......***......


Setelah beberapa puluh menit berlalu, Axel akhirnya menemui mobil yang sebelumnya dilihatnya. Yaitu sebuah mobil sedan berwarna merah.


Tanpa menunggu lebih lama lagi, Axel segera menguras habis bahan bakar yang ada dalam mobil itu.


"Tapi.... Bagaimana caranya?" Tanya Axel kebingungan.


Ia terus menerus berpikir bagaimana caranya mengosongkan bahan bakar dari mobil sedan ini.


Beberapa menit berlalu, tapi Axel sama sekali tak memperoleh ide. Ia kemudian bertanya-tanya bagaimana Akane sebelumnya mengosongkan bahan bakar banyak kendaraan.


"Sialan, mau bagaimana lagi." Keluh Axel.


Pada akhirnya, Axel memilih jalan kasar. Yaitu dengan mengangkat lalu memiringkan mobil itu menggunakan kedua tangannya, lalu memotong bagian tangki bensinnya dengan menggunakan senjatanya.


Bensin pun mengucur masuk ke dalam jerigen yang dibawanya hingga penuh bahkan sampai tumpah.


Setelah merasa misinya selesai, Axel pun mulai bersiap untuk berlari kembali ke arah dimana Akane menunggu.


......***......


"Akane?" Tanya Axel setelah kembali.

__ADS_1


"Mmhh...." Balas Akane sambil membalikkan badannya.


Wanita yang menurut Axel itu begitu merepotkan, kini terlihat begitu tak berdaya. Tertidur di bawah langit dengan jalanan aspal sebagai alasnya.


Tanpa mengenakan satu lembar pun selimut untuk menjaga tubuhnya tetap hangat, wanita itu terlihat telah tertidur pulas bersama dengan api unggun yang dibuat olehnya sebelumnya.


Setelah yakin bahwa Akane memang benar-benar tertidur, Axel pun meninggalkannya dan berjalan ke arah kendaraan motor HD itu.


Ia mengisi ulang tangki bensin motornya secara perlahan.


Dalam kesunyian dan gelapnya malam ini, Axel mulai teringat kembali atas kedamaian yang seharusnya umat manusia rasakan.


Sebuah kedamaian, dimana manusia tak perlu bersembunyi di balik dinding baja yang tebal agar bisa bertahan hidup.


Setelah selesai mengisi ulang bahan bakarnya, Axel kini ikut berbaring di tanah. Memandangi langit malam yang dipenuhi dengan bintang-bintang yang begitu indah.


"Chloe.... Ku harap kau bisa menikmati keindahan langit ini suatu hari nanti." Ucap Axel yang teringat atas adiknya.


Adiknya memang hidup dengan nyaman di balik benteng Liberator dalam sebuah apartemen VVIP yang cukup mewah.


Tapi tak pernah memiliki kesempatan untuk melihat langit sekali lagi.


Tak lagi pernah melihat terbit atau tenggelamnya matahari, begitu juga dengan kerlap kerlipnya bintang di malam hari.


Secara perlahan....


Mata Axel mulai terasa begitu berat.


Ia mulai mengantuk.


Axel sangat ingin tidur terlelap dalam kenyamanan ini. Tapi Ia juga teringat. Saat ini Ia masih berada di luar. Dengan banyak bahaya monster yang mungkin bersembunyi dalam kegelapan.


Akan tetapi, Akane sedang tertidur.


Ia juga tak nyaman untuk membangunkan wanita itu. Pada akhirnya, Axel memilih untuk tetap terjaga semalaman.


Tapi di saat Axel hendak berjalan meninggalkan Akane beristirahat, wanita itu tiba-tiba terbangun.


"Uuh, aku tertidur?" Tanya Akane.


"Beristirahat lah. Aku yang akan berjaga untuk kali ini." Balas Axel yang duduk dengan santai di atas jok motor HD itu.


"Kau serius?" Tanya Akane sekali lagi.


"Serius. Sekarang kembali lah tidur." Balas Axel.


"Terimakasih. Aku akan membalas kebaikanmu lain kali. Hoaahhm! Aku benar-benar mengantuk."


Setelah mengatakan hal itu, Akane segera kembali terlelap. Meninggalkan Axel sendirian.


Di tengah kesepiannya itu, Axel melihat sebuah bungkus rokok yang tergeletak di jalanan. Mengingatkannya pada sosok James yang suka merokok itu.


Axel pun memungut bungkus rokok itu dan mengambil satu batang. Menyalakannya dengan menggunakan kemampuan listriknya.


'Bzztt! Bzztt!'

__ADS_1


Aliran listrik yang kecil nampak muncul di antara ibu jari dan jari telunjuknya. Membakar ujung dari batang rokok itu.


Saat Axel mencoba untuk menghisapnya....


"Uhuk! Kuuggh! Kuugghh! Sialan, apa-apaan ini? Kau bilang ini enak?" Ucap Axel sambil terbatuk-batuk. Ia tak pernah mencoba untuk merokok sebelumnya.


Hanya karena tak ada lagi kegiatan ini lah Ia memutuskan untuk mencobanya.


Dimana Axel sama sekali tak bisa menghisap batang rokok itu dan terus menerus batuk.


Tak berselang lama, Axel melemparkan batang rokok itu sejauh mungkin. Tapi tetap menyimpan bungkus rokoknya.


'Ku rasa aku akan membawakan sisa rokok ini untuk James.' Pikir Axel.


Mengingat kembali sosok James, Axel juga teringat atas Eva.


Seniornya yang pertama kali mengajaknya bergabung ke dalam kegilaan ini. Membuat dirinya secara terpaksa bergabung ke dalam Liberator.


Senyuman tipis terlihat di wajah Axel ketika mengingat wanita berambut perak itu.


"Eva.... Ku harap kau baik-baik saja di sana." Ucap Axel yang kini mulai berbaring di atas jok motor itu. Menikmati kesendirian di malam hari ini.


......***......


Pagi harinya....


Akane terbangun sesaat setelah matahari mulai terbit dengan selimut yang membalut tubuhnya.


Ia sedikit terkejut karena seharusnya tak ada selimut ketika Ia tidur.


Saat melihat ke sekeliling, Akane melihat sosok Axel yang masih memasak dengan memanfaatkan beberapa panci dan juga api unggun.


"Axel?" Tanya Akane.


Axel yang segera memahami apa maksudnya langsung menjawab.


"Tenang saja. Aku menemukan truk kecil yang membawa muatan bahan makanan beberapa kilometer di depan. Ku pikir tak ada salahnya memanfaatkannya. Lagipula, aku bosan setengah mati berjaga semalaman." Balas Axel.


Akane kini memperhatikan tumpukan kaleng makanan dan minuman di samping Axel.


"Termasuk selimut ini?" Tanya Akane.


"Ya, aku menemukannya di kursi pengemudi." Balas Axel singkat.


"Terimakasih...."


Akane kini mulai sedikit ragu. Mengenai niatannya untuk membawa Axel secara paksa. Mengingat betapa baik sikap Axel padanya.


Mungkin....


Jika dirinya bisa membujuk Axel untuk memahami maksud dari pihaknya....


Ia tak harus mengambil langkah yang kasar di masa depan.


"Kemari lah dan makan. Aku menemukan sup daging dan kacang polong. Salah satu kesukaanku." Ucap Axel sambil melambaikan tangan kanannya ke arah Akane.

__ADS_1


Secara perlahan, Akane pun mulai bergerak. Dan akhirnya, duduk di samping pemuda itu. Menikmati sarapan di pagi hari.


__ADS_2