
Total dari para warga sipil ini adalah 18 orang. Dimana 10 diantaranya merupakan lanjut usia yang berada di atas 60 tahun, 2 diantaranya merupakan anak kecil, dan sisanya adalah 4 pria dewasa dan 2 wanita dewasa.
"Sudah semuanya?" Tanya Eva yang sekujur tubuhnya dipenuhi dengan darah merah tua itu.
"Ya. Aku sudah meminta mereka untuk mengemasi semua barang mereka." Jelas Axel.
'Tap!'
Secara tiba-tiba, Eva menepuk pundak Axel dengan cukup keras. Menempelkan banyak cairan darah dari tangannya itu ke seragam Axel.
"Kerja bagus." Balas Eva sambil tersenyum lebar dan memejamkan kedua matanya.
Meski begitu, Eva tak berhenti menepuk pundak Axel.
Ia bahkan mulai menepuk dengan tangan kirinya seakan memang sengaja untuk membersihkan tangannya dari darah itu.
"Maaf, Eva. Tapi apa yang sedang kau lakukan?" Tanya Axel dengan wajah yang sedikit kesal.
"Membersihkan tanganku dari darah. Apalagi?" Balas Eva sambil tetap tersenyum.
Dengan balasan itu, Axel tak lagi memiliki kata-kata untuk dilemparkan kembali kepada wanita dengan kemampuan fisik yang gila ini.
"Semuanya! Bersiap untuk berangkat! Perjalanan kita cukup jauh!" Teriak Eva sambil melambai ke arah para pengungsi itu.
"Memangnya mereka bisa tinggal di benteng? Bukankah kau bilang mereka yang tak bergabung dalam militer...."
"Maaf aku setengah bohong. Selama kalian mengambil pekerjaan apapun, kalian bisa tinggal di dalam benteng.
Dengan pengecualian jika kerabat bergabung dalam militer atau divisi khusus, maka kerabat dari anggota militer itu tak perlu bekerja. Jika kerabat berada di divisi khusus, mereka akan memperoleh perlakuan VVIP." Jelas Eva yang masih tersenyum.
Axel merasa sedikit kesal dengan penjelasan itu. Bagaimana tidak? Ia benar-benar telah dijebak untuk memperpendek nyawanya dengan kebohongan.
"Begitu ya? Hah...." Balas Axel lemas.
Semuanya sudah terlambat. Ia hanya memiliki 3 tahun masa hidup lagi setelah menjalani operasi neraka itu.
"Jangan murung seperti itu. Bukankah dengan ini kau bisa menolong banyak orang? Lagipula, itulah tujuan kami. Sangat disayangkan melihat bakat luarbiasa padamu tak digunakan untuk kepentingan orang banyak." Lanjut Eva kini dengan wajah khawatir.
Tapi Axel tetap diam.
Ia masih kesal karena harus masuk ke dalam divisi khusus secara paksaan.
"Eeh? Benar-benar marah?" Tanya Eva.
Bersama dengan rombongan pengungsi itu, mereka berdua terus berjalan tanpa sepatah kata pun dari Axel.
......***......
Malam harinya.
Rombongan pengungsi itu beristirahat di bawah salah satu bangunan yang telah runtuh. Dengan bantuan sihir petir Axel, menyalakan api bukanlah masalah yang besar.
__ADS_1
"Terimakasih kakak besar! Kekuatanmu keren!" Teriak gadis kecil yang melihat Axel menyalakan api unggun dengan sihirnya itu.
"Begitu kah? Syukurlah jika kau suka." Balas Axel tersenyum tipis sambil membelai rambut gadis yang sebelumnya diselamatkannya itu.
Di sisi lain, Eva nampak sedang berdiskusi dengan 4 pria dewasa yang dirasa memiliki kekuatan yang cukup untuk membantu perjalanan rombongan ini.
Setelah menikmati makan malam yang sederhana selama beberapa saat, Eva akhirnya memanggil Axel untuk bergabung.
Bukan dengan kata-kata, melainkan hanya dengan lambaian tangan sederhana.
"Ada apa?" Tanya Axel.
"Kami telah menentukan shift penjagaan. Aku dan 2 dari mereka akan berjaga selama 3 jam, lalu kau dan 2 yang lainnya 3 jam. Masing-masing sebanyak 2 shift dan kita akan berangkat pukul 7 pagi." Jelas Eva.
"Dimengerti." Balas Axel singkat.
"Ingat! Jika melihat pergerakan monster sedikit pun, bangunkan kelompok yang lainnya."
Dalam situasi seperti ini, terlebih lagi dengan menyalakan api unggun di tempat terbuka, itu sama halnya dengan membeberkan lokasi rombongan ini berada kepada para monster.
Mengatur jadwal jaga itu adalah sebuah keharusan untuk keselamatan semuanya.
Dan dengan ini, malam pertama dilewati dengan perasaan tenang dalam hati para pengungsi. Menyadari bahwa terdapat prajurit yang menjaga mereka.
......***......
Pagi harinya.
Di sisi lain, Axel yang mendapatkan jadwal tidur 3 jam sebelumnya baru saja bangun. Masih berusaha untuk mengumpulkan kesadarannya.
'Brukk!'
"Bangun, jangan manja. Kau adalah prajurit yang bertugas menjaga mereka. Bukan pengungsi." Ucap Eva sambil menampar wajah Axel dua kali.
"Harus kah kau menamparku?" Tanya Axel yang merasa sedikit kesakitan.
"Itu agar kau tak manja." Balas Eva yang segera kembali berdiri untuk mengatur rombongan.
Axel di sisi lain, mulai merapikan perlengkapannya sambil berdiri. Dengan nada yang lirih, Ia membalas perkataan dari Eva sebelumnya.
"Maaf saja. Aku mendaftar divisi ini secara terpaksa untuk adikku. Karena ku pikir adikku takkan selamat jika aku tak bergabung."
Mendengar balasan itu, Eva menghentikan seluruh kegiatannya dan membalikkan badannya ke arah Axel. Ia menatap tajam tepat di mata Axel tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
Hingga akhirnya, Eva hanya menunjuk ke arah gadis kecil yang sibuk menyuapi boneka beruangnya dengan sendok plastik.
"Katakan, jika kau tak ada disini. Apakah kau pikir gadis itu akan selamat? Dan jika tidak, apakah kau akan baik-baik saja dengan kenyataan itu?" Tanya Eva.
"Bukankah kau sendiri bisa menolongnya? Lagipula, kekuatanmu sangat besar bukan?" Balas Axel.
"Kau benar. Jika aku bergerak sendirian seperti biasanya, aku juga pasti bisa menyelamatkan mereka. Dengan pengecualian, karena aku harus membereskan 20 Orc sebelum menolongnya, gadis itu sudah akan dimangsa para Goblin saat aku tiba."
__ADS_1
Dengan balasan itu, Eva segera berbalik badan dan memimpin kembali rombongan pengungsi ini.
Perkataan dari Eva benar-benar menusuk tepat di hati Axel.
Ia lupa bahwa sebelumnya Eva harus berhadapan dengan rombongan Orc yang jauh lebih berbahaya daripada monster berkulit hijau itu.
Dan setibanya di sana....
Gadis kecil yang hanya bersembunyi di balik lemari besi itu....
Pasti telah mati.
Axel terus memandangi sosok gadis kecil itu. Ia nampak begitu ceria sekalipun hidup di jaman yang sangat rusak ini.
Sekalipun boneka beruangnya sobek di beberapa sisi, Ia tetap memperlakukannya dengan baik. Bahkan membelai dan memeluk boneka yang telah begitu kotor itu.
'Sruugg! Srruugg!'
Secara perlahan, Axel mendekat ke arah gadis kecil itu dan mengangkatnya. Membiarkannya duduk di pundaknya.
"Oh ya, kakak belum menanyakan namamu." Ucap Axel dengan senyuman yang begitu ramah. Di kejauhan, Ibu dari gadis itu nampak sedikit menundukkan kepalanya ke arah Axel.
"Nina!" Balas gadis kecil itu dengan ceria.
"Nina ya? Nama yang cantik." Balas Axel.
"Siapa nama kakak?!" Tanya gadis kecil itu kembali. Saat berdekatan dengan ibunya, Nina nampak menyerahkan boneka beruangnya. Menitipkannya pada ibunya.
"Axel."
"Nama yang keren! Kak Axel! Aku ingin bermain dengan kak Axel!" Teriak Nina.
"Setibanya di rumah baru, kakak akan bermain denganmu." Balas Axel.
Tapi kini, tidak dengan senyuman.
Melainkan ekspresi yang nampak sedikit sedih dan penuh rasa bersalah.
"Yey! Nina akan memperkenalkan kak Axel pada Teddy! Teddy sangat baik! Selalu menemani Nina setiap hari!"
Bibirnya mulai gemetar. Matanya mulai berkaca-kaca.
Pada akhirnya, Axel tak lagi mampu menahannya. Air mata pun mengalir membasahi pipinya.
Membayangkan jika gadis yang ceria ini mati dengan cara terburuk? Dicabik-cabik dan dimakan hidup-hidup oleh monster itu?
Tidak. Axel tak mampu membayangkannya. Ia tak ingin membayangkannya.
Tapi itulah kenyataannya.
Kenyataan jika Ia tak pernah bergabung dengan divisi ini dan membantu Eva dalam penyelamatan ini.
__ADS_1