
Beberapa hari telah berlalu semenjak Lucy hidup bersama dalam komunitas manusia ini. Sebuah komunitas kecil dengan anggota sekitar 30 orang saja.
Kehidupan mereka sederhana.
Bangun di pagi hari, berburu, dan menikmati hasil buruan mereka. Jika berlebih, maka mereka akan menyimpan sisanya. Tapi jika kurang, maka mereka akan memakan apa yang tersisa di hari sebelumnya.
Sistem kerja mereka juga fleksibel. Mereka yang diberkati kemampuan bertarung akan menjadi pemburu dan penjaga.
Sedangkan mereka yang tidak akan menjalankan pekerjaan rumahan seperti memasak, membersihkan pemukiman, dan mencari air.
Sebuah kehidupan yang sederhana.
Pagi hari ini pun juga sama.
Seharusnya....
"Lucy, kau mau ikut kakak mencari air?" Tanya seorang wanita yang berumur 20an tahun itu dengan senyuman yang ramah.
Di kedua tangannya, wanita itu nampak membawa jerigen yang cukup kotor.
Lucy pada awalnya sedikit ragu untuk meminum air kotor yang mereka ambil. Tapi setelah mencicipinya, Ia sama sekali tak memiliki masalah dengan air itu.
Bahkan bisa dibilang menyukainya.
Semua orang sedikit bertanya-tanya mengenai sosok Lucy itu.
Pertanyaan seperti bagaimana dia bisa bertahan hidup di dunia ini selama ini? Atau, dimana orangtuanya? Atau pertanyaan kecil lainnya.
Tapi tak ada satu orang pun yang berani mengutarakan pertanyaan itu.
Sudah menjadi hal yang tabu bagi manusia di jaman ini untuk menanyakan masa lalu mereka.
Semua orang pasti sudah tahu, bahwa setiap manusia yang masih hidup memiliki masa lalu yang kelam. Dan itu pasti terjadi pada semua orang.
Orang-orang di komunitas ini?
Hanya segelintir orang yang terikat hubungan darah. Tapi mereka bekerjasama bagaikan sebuah keluarga.
Di samping wanita yang mengajak Lucy itu pergi, sosok seorang bocah laki-laki yang terlihat berada pada umur 16 atau 17 tahun itu juga turut mengangkut beberapa jerigen.
Dengan tatapan yang sedikit sinis, Ia pun bertanya.
"Kita akan membawa bocah itu?"
"Kenapa? Kita hanya akan turun ke saluran air di bawah kan? Takkan ada masalah mengajak gadis itu." Balas wanita itu singkat.
"Cih, terserah padamu. Jangan salahkan aku jika sesuatu terjadi." Balas bocah laki-laki itu.
"Ayo, Lucy." Ucap wanita itu dengan ramah sambil melambai ke arah gadis itu.
Dengan senyuman yang lebar, Lucy pun berlari ringan mengejar sosok wanita itu.
"Kakak! Tunggu! Kakak, siapa nama kakak?" Tanya Lucy.
__ADS_1
"Mary. Dan kakak laki-laki itu bernama Liam. Dia memang terlihat sedikit galak, tapi tenang saja. Karena dia sebenarnya adalah anak yang baik." Jawab wanita itu dengan senyuman yang ramah.
"Hah?! Siapa yang kau bilang anak?! Aku sudah dewasa!" Balas Liam dengan sedikit amarah.
Kedua gadis itu pun tertawa ringan melihat tingkah dari Liam.
Setelah tiba di salah satu pintu masuk saluran bawah tanah itu, Liam membuka pintu besi di tanah itu secara perlahan.
'Krekk! Kreek! Kreekk!'
Ia memutar kunci pintu berbentuk lingkaran itu. Sedikit demi sedikit, pintu itu pun terbuka.
Dibantu oleh Mary, keduanya mengangkat pintu itu ke samping. Dan di baliknya, terlihat sebuah tangga besi vertikal yang menghubungkan antara permukaan tanah dengan saluran air bawah tanah.
"Lucy, di dalam cukup gelap. Tapi kau tak takut kan?" Tanya Mary singkat sambil memberikan sebuah senter kecil pada gadis itu.
"Tentu saja tidak! Lucy akan menjadi anak yang baik dan pemberani!" Balas gadis itu dengan antusias.
"Bagus. Gadis yang pintar. Tolong bantu kami berdua untuk menerangi jalanan di bawah sana ya?" Balas Mary sambil membelai lembut rambut pirang gadis itu.
Tanpa berbicara sepatah kata pun, Liam telah menuruni tangga besi itu dengan senter di mulutnya.
"Liam! Tunggu! Dasar...." Teriak Mary yang segera menyusul bocah laki-laki itu.
Di belakangnya, Lucy pun juga turut menuruni tangga besi itu secara perlahan. Ia meniru apa yang dilakukan oleh Liam yaitu dengan menggigit senter itu di mulutnya.
Setibanya di bawah, pemandangan berubah sepenuhnya.
Di atas kepala mereka hanyalah struktur beton dengan beberapa lapisan baja untuk menyokong beban tanah di permukaan.
Sedangkan di samping kaki mereka, adalah sebuah saluran air yang cukup deras. Meskipun. pada kenyataannya air itu adalah bekas air pembuangan dari seluruh penjuru kota.
Tentu saja sangat tak layak jika dikonsumsi. Tapi mau bagaimana lagi? Mereka tak bisa memilih.
Sambil tiarap di tanah, Liam dan juga Mary mulai mengambil air yang mengalir di saluran tersebut. Memasukkannya dalam jerigen yang mereka bawa.
Setelah penuh, mereka akan meletakkannya kembali di samping tubuh mereka. Dan mulai mengisi jerigen lain yang kosong.
"Lucy, tolong terangi di sekitar saluran air ini ya?" Ucap Mary ramah.
"Bwhaik!" Balas Lucy dengan mulut yang masih menggigit senter itu.
Saat Lucy mengambil senternya kembali, Ia melihat adanya bekas gigitan di sekitar senter itu. Dalam hatinya, Ia berpikir apakah senter ini memang telah rusak sebelumnya.
"Lucy?" Tanya Mary sekali lagi karena Lucy belum juga melaksanakan perintahnya.
"Baik!"
Dengan segera, gadis kecil itu pun menyalakan senternya dan mengarahkannya tepat ke saluran air tersebut.
Tujuannya hanya satu, yaitu menghindari agar tak ada sampah atau kotoran yang besar masuk ke dalam jerigen air.
Setelah semua jerigen terisi penuh, mereka bertiga pun bersiap untuk kembali ke permukaan.
__ADS_1
Mengangkut jerigen itu satu persatu.
"Mudah kan? Bagaimana? Apakah kau mau menemani kakak untuk mengambil air lagi besok hari?" Tanya Mary setelah memastikan semua jerigen terisi penuh.
"Mau! Lucy cukup bosan di atas. Di sini menyenangkan!" Balas Lucy dengan semangat.
"Menyenangkan dari mana? Tempat berbau busuk seperti ini...." Keluh Liam menanggapi perkataan gadis kecil itu.
Mendengar keluhan itu, Mary segera menendang kaki kiri Liam secara perlahan. Memintanya agar berhenti bersikap seperti itu.
Setelah beberapa saat, Lucy pun kembali bertanya.
"Kak, apakah di sini aman?"
"Hmm? Tentu saja aman. Tak ada monster di bawah tanah seperti ini." Balas Mary dengan keheranan.
Itu benar.
Selama ini, komunitas manusia ini selalu berburu monster di permukaan. Termasuk Lizardmen yang mereka temukan di tempat yang telah dibanjiri air limbah industri.
Tapi tak pernah sekalipun mereka menemukan keberadaan monster di bawah tanah.
Karena memang sebatas itu lah pengetahuan mereka. Sangat jauh jika dibandingkan dengan markas Liberator yang memiliki banyak personil dan juga peralatan yang canggih.
"Kau takut? Jika kau takut sebaiknya segera kembali dan...."
"Kssskkk! Kssskkk!"
Seketika, suara misterius mulai terdengar menggema di terowongan ini.
'Cpyok! Cpyok!'
Begitu pula dengan suara air dari saluran tersebut.
Sangat jelas bahwa sesuatu bergerak di dalam saluran ini. Tapi tak ada satu pun dari mereka yang mengetahui apa itu.
"Liam, ku rasa kita sebaiknya segera...."
'Zraaasshhh!!!'
Tanpa sedikit pun jeda atau kesempatan, salah seekor Lizardmen itu telah melompat dan mengayunkan lengannya tepat di punggung Liam.
Cakaran yang besar itu membuat darah mengucur dengan deras dari punggungnya.
Melihat kejadian itu, Mary tak kuasa menahan teriakannya. Terlebih lagi, ketika cahaya senter yang dipegang oleh Lucy itu mengarah tepat ke sosok monster itu.
Menunjukkan wujud Lizardmen dengan tinggi sekitar dua meter.
Lidahnya yang panjang nampak menjulur keluar dengan kedua mata kuning yang menatap tepat ke arahnya.
"TIDAAAAAAAAKKK!!!"
Secara refleks, teriakan Mary pun terdengar begitu keras. Hingga mencapai permukaan tanah dimana para penjaga mendengarnya.
__ADS_1