
"Yang benar saja? Bukankah Lizardmen monster tingkat D? Oi, James! Bukankah sihirmu bisa membunuh monster tingkat C atas seperti Dread Rider?! Apa yang terjadi?" Teriak Axel tanpa sedikit pun mengalihkan pandangannya dari sosok Lizardmen di kejauhan itu.
Secara perlahan, uap yang ditimbulkan dari serangan James mulai memudar. Memperlihatkan dengan jelas sosok Lizardmen di kejauhan itu.
Monster itu memiliki tubuh setidaknya satu setengah kali lebih besar daripada para Lizardmen yang sebelumnya ditemui oleh Axel.
Dan berkat serangan api milik James, sisiknya nampak menyala dengan warna kuning kemerahan seakan-akan hampir meleleh. Tapi tidak, sisiknya sama sekali tak meleleh.
Bahkan Axel masih bisa melihat dengan jelas pola sisik di tubuh Lizardmen itu.
'Tap!'
Hanya satu langkah.
Satu langkah sederhana dari Lizardmen yang dinilai abnormal itu, dapat membuat Axel secara refleks melangkah mundur.
Dalam sekejap, Axel segera mengetahui apa yang harus dilakukannya.
"Maaf James, tapi aku akan meninggalkanmu. Eva, cepatlah sadarkan dirimu. Aku tak yakin bisa melawan sisik keras itu sendirian." Ucap Axel yang segera meletakkan kembali tubuh James yang tak berdaya itu ke tanah.
Tangan kanannya segera menarik tombak di punggungnya.
'Klakk!'
Suara yang cukup keras itu ditimbulkan ketika Axel membuka kunci pada tombak itu, membuka beberapa bagian dari tombak itu. Mengubahnya menjadi sebuah busur.
'Sreettt!'
Axel mengambil sebuah anak panah dari tas kecil yang ada di punggungnya lalu menarik anak panah itu pada busurnya.
Energi petir mulai menyelimuti ujung dari anak panah itu. Dan segera setelah Axel melepaskannya....
'Zraaattttt!!!'
Sebaran petir terjadi di sekitar tempat Axel berdiri. Sedangkan panahnya sendiri melesat bak kilat yang hendak menyambar targetnya.
'Jleebb!! Jdaaarrr!!'
Anak panah itu mengenai tepat di dada Lizardmen abnormal itu sambil menimbulkan ledakan energi petir yang kuat ke berbagai arah di sekitarnya.
Tapi sekalipun dengan kecepatan dan kekuatan yang telah ditingkatkan, anak panah itu tak mampu menembusnya.
Sebuah serangan yang sebelumnya bisa menembus puluhan tubuh Lizardmen itu, kini terhenti setelah menancap sedalam 4cm pada sisik Lizardmen itu.
Memberikannya hanya luka tusuk yang ringan.
Dengan santainya, Lizardmen itu menarik anak panah Axel dari dadanya dengan tangan kirinya. Sebelum akhirnya meremukkan anak panah itu dengan mudah.
"Gggrrrr!!!"
Secara perlahan, Lizardmen itu mulai memamerkan taring giginya yang tajam. Ia nampak mengangkat kedua tangannya, memperlihatkan cakar hitam yang tak hanya panjang, tapi juga tebal.
Tanpa aba-aba....
__ADS_1
'Bllaaaarr!!!'
Lizardmen itu menghentakkan kakinya. Melesat ke arah tempat Axel berdiri dengan sangat cepat.
Setiap hentakan kaki dari Lizardmen itu, lantai beton di tempat ini langsung remuk.
Hanya dalam sekejap, Lizardmen abnormal itu telah berdiri tepat di hadapan Axel. Mengayunkan tangan kanannya dengan cakar tajam yang mengarah tepat pada leher Axel itu.
'Zraaasshhhh!!!'
Tapi sayangnya, serangan itu hanya mengenai udara. Axel dengan mudah menghindari serangan itu dengan melompat mundur.
Tak berhenti dalam satu serangan itu, Lizardmen abnormal itu kembali menyerang. Kini dengan mengayunkan lengan kirinya.
'Zraasshh! Zraasshh! Zraaassshh!'
Puluhan ayunan cakar tajam dari kedua lengannya terus menerus diarahkan kepada Axel. Langkah demi langkah, Lizardmen itu terus menerus menekan mundur Axel murni hanya dengan kekuatan fisiknya saja.
Menyadari situasi ini cukup buruk, terlebih lagi mengingat James yang tak lagi berdaya....
"Eva! Bawa James pergi dari sini dan cepat kembali untuk membantu ku!" Teriak Axel sambil terus menerus menghindari serangan cakar beruntun dari Lizardmen itu.
Axel belum sempat mengunci kembali busurnya menjadi tombak. Jadi pertarungan jarak dekat sangat mustahil untuk dilakukan saat ini.
Lagipula, bagaimana caranya manusia dengan tubuh lemah ini menghadapi monster yang bahkan tebasan nya mampu membelah beberapa pilar baja di pusat pembuangan ini?
'Zraaaassshhh! Klaaangg! Klaaangg!'
Suara runtuhnya beberapa pilar baja yang setebal tubuh Axel itu sendiri menggema di tempat ini. Sedikit memekikkan telinga semua orang yang ada di dalamnya.
Sambil terus berusaha agar Axel sendiri tak membuat sedikit pun kesalahan. Karena Axel sangat paham kali ini, jika Ia membuat sedikit saja kesalahan....
Maka nyawanya akan segera melayang saat itu juga.
Di sisi lain, Eva yang telah mendengar teriakan dari Axel segera mengenyahkan rasa takut pada dirinya dan segera berlari.
'Srruugg!'
Eva mengangkat tubuh James dengan mudah dan membawanya di pundak kanannya. Berniat untuk meninggalkan tempat pembuangan ini agar memperoleh tempat yang aman bagi James.
Tak ada sepatah kata pun dari Eva untuk Axel.
Itu karena Eva sama sekali tak ingin merusak momentum yang telah dibuat oleh Axel, dimana seluruh fokus Lizardmen abnormal itu berada pada Axel seorang. Tanpa memperdulikan dirinya ataupun James yang telah terkapar tak berdaya ini.
Itu benar, Eva hanya tak ingin memancing perhatian dari Lizardmen itu.
"Gggrrr!!!"
Lizardmen itu terus mengarahkan perhatiannya kepada Axel yang tak mampu untuk memberikan serangan balasan.
Tapi saat Lizardmen itu membuat kesalahan dengan cakarnya....
'Swuuushhh!'
__ADS_1
Kali ini, Axel tak menghindar dengan melompat mundur. Melainkan menundukkan tubuhnya untuk memberikan serangan balasan berupa pukulan.
Kilatan petir nampak terkumpul pada tangan kiri Axel itu. Dan ketika pukulannya mengenai sisik tebal dari Lizardmen itu....
'Jdaaaarrr!!! Craaaatttt!!!'
Sambaran petir dari tangan kiri Axel itu meledak tepat di tubuh Lizardmen itu. Menyambar ke berbagai arah di sekitarnya.
Akan tetapi, serangan itu nampaknya sama sekali tak memberikan luka kepada Lizardmen itu.
'Swuusshh! Zraaassshh!!!'
Kali ini, Axel sedikit terlambat dalam menghindar. Tebasan dari cakar di lengan kiri Lizardmen itu mengenai sebagian dari leher hingga ke dadanya. Memberikan luka cakar yang tak begitu dalam.
Secara perlahan, darah mulai mengalir dari bekas luka itu. Tapi karena tubuh Axel yang telah dipenuhi darah dari para Lizardmen sebelumnya, membuat darahnya sendiri tak begitu terlihat.
'Tap! Tap!'
Axel dengan cepat melompat mundur dua kali. Berusaha untuk menjaga jarak sejauh mungkin dari Lizardmen itu setelah mengetahui Eva dan James telah pergi dari tempat ini.
'Cklaaakk!'
Dengan kesempatan itu, Axel segera mengunci kembali busurnya. Mengembalikannya menjadi sebuah tombak yang tajam.
"Sialan, sakit sekali." Keluh Axel sambil menyentuh bekas luka di leher sebelah kanannya itu.
Darah terus menerus mengalir dari leher dan juga dada Axel. Tapi bukan berarti lawannya kali ini akan duduk manis dan menunggu Axel untuk merawat lukanya.
'Blaaaarr! Zraasshh!'
Sekali lagi, Lizardmen itu melesat dengan sangat cepat ke arah Axel berdiri sambil mengayunkan kedua lengannya untuk menebas Axel dengan cakarnya.
Akan tetapi....
Kali ini Axel mulai kesulitan untuk menghindar.
Rasa sakit di badannya mulai merusak konsentrasinya. Dan untuk itu, Axel menggunakan sebuah cara yang cukup gila.
Setelah Ia melompat mundur, Axel mengambil salah satu obat-obatan yang dibawa olehnya sebagai alat pertolongan pertama dalam pertarungan ini.
Apa yang diambilnya, adalah sebuah jarum suntikan dengan cairan berwarna biru muda. Tanpa ragu, Axel segera menusukkannya ke leher kanannya dan menyuntikkan cairan itu.
Semua dilakukannya sambil terus menghindari serangan dari Lizardmen itu.
Segera setelah Axel menyuntikkannya, Ia melempar jarum suntik itu ke arah Lizardmen itu. Yang tentu saja, tak memberikan efek apapun.
Akan tetapi, obatnya mulai bekerja.
Tubuh Axel mulai lemas. Secara perlahan, Ia mulai mengantuk. Termasuk kehilangan rasa sakit dari luka yang ada.
Semua itu karena Axel menyuntikkan sebuah obat bius untuk meredam rasa sakit. Dengan harga yaitu kesadarannya juga turut memudar.
Tapi Alex dapat dengan mudah melawan rasa kantuk yang sangat kuat itu dengan menyetrum dirinya sendiri menggunakan sihirnya.
__ADS_1
Dan kali ini, Axel sekali lagi bangkit. Sebagai seorang Liberator yang siap bertarung kembali, tanpa merasakan sedikitpun rasa sakit di tubuhnya.