
'Tap! Tap! Tap!'
Axel berlari sekuat tenaga sambil membawa Eva dengan kedua tangannya. Ia sama sekali tak melihat ke arah belakang sedikitpun.
Tujuannya? Hanyalah untuk mencari tempat bersembunyi demi memulihkan tenaga mereka sesaat sebelum kembali bertarung.
Setelah berlari selama beberapa menit, Axel menemukan sebuah celah di sisi kiri lorong tersebut. Celah itu cukup kecil dengan tangga yang menuntun mereka untuk kembali ke permukaan kota.
'Srruugg!'
Axel menurunkan tubuh Eva secara perlahan.
"Terimakasih. Tapi, kau benar-benar sangat cepat ya?" Ucap Eva yang mulai menaiki tangga itu setelah Axel.
"Aku hanya cepat. Tak memiliki kekuatan fisik tinggi sepertimu." Balas Axel.
Di ujung dari tangga itu, keduanya tiba di tengah jalanan kota. Cahaya matahari yang terik menyinari kota yang telah mati ini. Dengan banyaknya gedung yang runtuh, serta kendaraan yang telah ditinggalkan.
'Kreeekk!'
Axel menutup kembali lubang yang mengarah pada saluran pembuangan air itu. Kini, mereka berdua berjalan ke arah salah satu reruntuhan gedung.
"Hah.... Banyak sekali. Mereka sama sekali tak ada habisnya." Keluh Eva sambil menarik tas pinggangnya ke depan.
"Kau benar. Tapi.... Kenapa aku tak pernah melihat mereka sebelumnya? Aku hidup di jalanan selama beberapa bulan kau tahu?" Tanya Axel.
"Kau serius? Aku beberapa kali menjumpai mereka di tempat yang banyak air. Tapi tak pernah melihat sebanyak itu di satu tempat."
Balasan dari Eva itu membuat Axel berpikir. Apakah mereka berada di dekat sarang dari para Lizardmen itu atau semacamnya?
Saat Axel sibuk berpikir, Eva melemparkan sesuatu padanya.
'Prukk!'
Secara refleks, Axel menangkap benda yang dilemparkan oleh Eva.
"Hmm?"
Apa yang ditangkap olehnya adalah sebuah Snack biskuit berlapis coklat. Bungkusnya cukup tebal dengan warna merah serta gambar 2 batang biskuit coklat itu.
"Makan lah, itu cukup enak. Aku sangat menyukai produk itu." Ucap Eva sambil membuka Snack yang sama.
'Kress! Kraukk! Kraaukk!'
Suara saat Eva menggigit dan menikmati bayangan biskuit berlapis coklat itu membuat Axel cukup tergiur. Ia dengan segera membuka bungkus itu dan memakannya.
'Kreess! Kraauukk!'
"Hmm?! Ini benar-benar enak?" Ucap Axel setelah merasakan coklat lembut yang melumer di mulutnya serta biskuit yang renyah di saat yang bersamaan.
"Benar kan? Itu cukup langka, jadi berbahagia lah!" Balas Eva sambil tersenyum lebar.
__ADS_1
"Langka? Ku pikir benteng yang membuatnya?" Balas Axel.
"Tidak, aku memungutnya dari banyak toko di sepanjang jalanan. Lalu menyimpan semua yang bisa ku dapatkan dalam kulkas di tempat tinggalku."
Tak di sangka, hal yang sama seperti yang biasanya dilakukan oleh Axel, juga dilakukan oleh prajurit divisi khusus Liberator. Atau Eva untuk lebih tepatnya.
Keduanya beristirahat di bawah reruntuhan bangunan itu sambil menikmati makanan ringan mereka.
Setelah meneguk seperempat dari botol minuman mereka, keduanya bersiap untuk kembali turun ke bawah. Menjelajahi kembali saluran pembuangan air itu untuk kedua kalinya.
......***......
Saluran Pembuangan Air
Bawah tanah
"Kau siap?" Tanya Eva kepada Axel.
"Ya, aku telah siap." Balas Axel sambil mengunci busurnya agar menjadi sebuah tombak.
Keduanya berjalan secara perlahan di samping saluran pembuangan air ini. Di samping jalan setapak kecil itu, sebuah saluran dengan aliran air kotor yang cukup deras dapat terlihat.
Beberapa kali, keduanya menjumpai pemilah sampah untuk menahan sampah plastik dan sampah lain dengan ukuran besar. Dimana sampah-sampah itu akan dialirkan ke tempat yang berbeda.
Selama 5 menit lebih perjalanan dengan cahaya penerangan dari lampu flash di ponsel mereka, keduanya sama sekali tak menjumpai para Lizardmen itu kembali.
Mereka bahkan telah berjalan melewati ratusan mayat para Lizardmen yang tergeletak di tanah.
"Kau benar. Sebelumnya mereka begitu banyak, tapi saat ini tak ada satu pun dari mereka."
Axel mulai meningkatkan kewaspadaannya dalam situasi ini. Entah kenapa, Ia merasa ada sesuatu yang salah di tempat ini.
"Masih punya granat atau semacamnya?" Tanya Axel kembali.
"Satu granat peledak. Hah.... Seharusnya aku membawa peralatan yang lebih bagus. Termasuk helm dengan senter di atasnya." Balas Eva.
"Eva. Aku akan jujur padamu." Ucap Axel secara tiba-tiba segera setelah mendengar jawaban dari Eva.
Perkataan itu tentunya sedikit mengejutkan Eva. Wanita berambut perak itu nampak membuka mulutnya cukup lebar. Kedua matanya juga nampak melebar sesaat sebelum kembali seperti semula.
"Eh?! Axel?! Apa maksudmu dengan itu? Ka-kau tahu kalau kita...."
"Tempat ini terasa begitu mengerikan. Peluang besarnya, para Lizardmen itu menyiapkan jebakan dan.... hah? Apa yang kau katakan?"
Kedua orang itu berbicara saling tumpuk satu sama lain. Axel yang mendengar perkataan dari Eva yang terkesan malu-malu itu sedikit kebingungan.
"Aah, maaf. Tolong lanjutkan." Balas Eva sambil memalingkan wajah dan pandangannya. Menghindari kontak tatapan mata secara langsung dengan pria berambut kecoklatan itu.
"Menurutku, kita harus kembali ke benteng terlebih dahulu untuk mempersiapkan diri dengan lebih baik. Setelah itu, kita akan memburu para kadal sialan ini kembali. Oracle memberikan kita waktu 3 hari bukan?" Jelas Axel.
Eva mencerna penjelasan dari Axel itu, kini dengan kepala yang sedikit lebih dingin.
__ADS_1
Setelah memikirkannya sejenak, Eva akhirnya sepakat dengan saran dari Axel. Tapi dengan satu pengecualian.
"Sebelum kembali, bagaimana jika sedikit menjelajahi tempat ini lebih lanjut? Kita akan segera kabur setelah menjumpai Lizardmen dalam jumlah yang banyak." Balas Eva.
"Sepakat."
Setelah memberikan balasan singkat itu, keduanya mulai menjelajah.
Tiga jam berlalu.
Keduanya terus menerus menjelajahi tempat ini sambil memetakan lokasi pada ponselnya.
Akan tetapi, sama sekali tak ada pertanda atas keberadaan para Lizardmen itu. Membuat serangan yang sebelumnya seperti sebuah mimpi belaka.
Akan tetapi, saat keduanya memutuskan untuk segera kembali sebelum hari mulai gelap....
'Sreett!'
Eva segera menghadangi langkah Axel dengan lengan kirinya dan mengisyaratkannya untuk diam. Axel mengangguk perlahan setelah memahami apa maksud dari wanita itu.
Di samping tempat mereka berdiri, Eva menemukan sebuah lorong pembuangan air baru yang belum mereka petakan sebelumnya.
Dan pada lorong itu, cahaya berwarna kuning kemerahan terlihat menerangi tempat yang seharusnya sama sekali tak memiliki sumber cahaya itu.
Dengan kata lain, hanya ada satu penjelasan dari semua ini.
Eva melirik ke arah Axel sesaat dan membisikkan sesuatu padanya.
"Aku akan melihat apa yang ada di dalam. Bersiaplah untuk membawa ku kabur setelah itu." Bisik Eva.
"Dimengerti." Balas Axel singkat juga dengan berbisik.
Secara perlahan, Eva melangkah maju. Mendekat ke arah lorong yang dipenuhi cahaya kuning kemerahan itu.
Setibanya tepat di samping lorong itu, Eva pun menggunakan ponselnya untuk menangkap apa yang ada di dalamnya.
Ia tak cukup bodoh untuk memasukkan kepalanya sendiri ke dalam tempat yang terkesan begitu berbahaya itu.
Setelah merekam video selama beberapa detik, Eva menarik kembali lengannya dan melihat video hasil rekamannya itu sesaat.
Apa yang ada di layar ponselnya, adalah sesuatu yang sama sekali tak pernah terpikirkan di dalam kepalanya.
Yaitu sebuah pemandangan, dimana dalam lorong besar yang menampung banyak sampah dan air kotor itu, ribuan Lizardmen nampak sibuk bekerja pada tugas mereka masing-masing.
Dengan peralatan dan perlengkapan seadanya, para Lizardmen itu nampak membangun sebuah pemukiman bawah tanah.
Axel yang juga melirik sedikit pada hasil rekaman itu tak mampu mempercayai apa yang di lihatnya. Dan dengan cepat, keduanya memutuskan untuk mundur dari tempat ini.
Kembali ke benteng untuk mempersiapkan ulang rencana mereka.
Dalam sebuah misi, untuk membersihkan sisa-sisa monster di kota ini.
__ADS_1