
Beberapa hari telah berlalu....
Kini, setelah semua persiapan matang, umat manusia pun memutuskan untuk mengambil gerakan pertama mereka. Sebuah gerakan untuk mengambil alih tanah mereka kembali.
Sekaligus mengembalikan kejayaan dan harga diri mereka di muka bumi ini.
Di hadapan gerbang utama benteng ini, ratusan prajurit dan puluhan Liberator nampak berbaris dengan rapi.
Semuanya telah bersiap untuk menjalankan misi besar penaklukan ulang Kota Los Angeles ini. Dan semua itu, berkat teknologi baru yang mereka temukan.
"Ingat! Sebarkan cairan ini di titik yang telah ditentukan lalu bantai semua monster yang ada! Setelah itu, prajurit reguler akan menjaga para pekerja untuk membangun kerangka awal dinding!" Teriak Oracle dengan keras di hadapan semua orang.
Tangan kanannya mengangkat sebuah tabung berisi cairan Flux dengan campuran khusus yang membuat para monster tingkat C dan dibawahnya itu menjadi gila. Tak memperdulikan siapapun dan hanya fokus terhadap cairan tersebut.
Tak hanya para prajurit.
Ribuan pekerja sipil juga turut serta dalam operasi ini. Mereka akan mengerahkan mesin dan material apapun yang ada untuk membangun kerangka awal dinding pertahanan ini.
Memberikan kesempatan baru bagi umat manusia untuk dapat hidup di atas tanah sekali lagi.
"Misi ini memang sangat berbahaya! Tapi ingat! Dengan keberhasilan misi ini, kita takkan lagi kesulitan dalam hal makanan dan tempat tinggal! Sekali lagi, kita dapat membangun ulang peradaban umat manusia!"
Pidato singkat dari Oracle itu benar-benar memacu semangat semua orang yang ikut serta dalam operasi ini.
Semuanya merasa bahwa mereka berada dalam bagian besar untuk masa depan umat manusia itu sendiri.
Dan memastikan bahwa operasi ini berhasil, adalah sebuah kewajiban bagi mereka. Demi keberlangsungan umat manusia.
"Semuanya, semoga beruntung." Ucap Oracle sebagai penutup dari pidato itu. Dan dengan ini, semua prajurit, Liberator dan juga pekerja sipil pun mulai berjalan.
Pintu gerbang yang berbentuk lingkaran itu pun secara perlahan terbuka. Memperlihatkan cahaya matahari di dunia luar. Sebuah pemandangan yang telah sangat lama tak mereka lihat semenjak hidup di bawah tanah.
Satu demi satu, para prajurit itu pun meninggalkan benteng bawah tanah ini menuju ke dunia luar. Sebuah dunia yang sangat berbahaya bagi manusia biasa.
Di bagian depan, Axel memperhatikan gerak gerik dari para Liberator dan prajurit yang berasal dari Asia Timur. Mengingat perkataan dari Oracle, Axel memang menyimpan banyak kecurigaan pada mereka.
Sekalipun....
Oracle bilang mereka takkan melakukannya sekarang. Tapi Axel tak bisa berhenti untuk memikirkannya.
"Axel, ada apa?" Tanya Eva penasaran.
"Tidak. Tidak ada apa-apa." Balas Axel singkat.
Axel kemudian mengangkat ponselnya untuk membuka koordinat yang dibagikan padanya. Koordinat tersebut merupakan lokasi dimana Axel. dan juga Eva bekerja.
"Distrik bagian Utara sektor C, ya? Cukup jauh." Ucap Axel setelah melihat titik koordinat tersebut di peta.
"Hei, sudah lama kita tak bertarung dengan para monster ini. Bagaimana menurutmu? Apakah akan ada sesuatu yang kuat?" Tanya Eva sambil mengangkat pedang besarnya.
"Jujur saja, aku berharap tak menemukan satu pun monster yang kuat." Balas Axel.
Keduanya pun mulai berjalan ke arah koordinat mereka. Dibelakang mereka berdua terdapat 10 prajurit reguler dan juga 40 pekerja sipil.
Semua itu adalah kelompok yang akan dijaga oleh Axel dan juga Eva. Beberapa kelompok lainnya juga terlihat mulai bergerak dengan rapi.
Saat Axel melihat ke arah belakang, wajah para prajurit dan juga pekerja sipil itu sangat jelas menggambarkan rasa takut yang kuat.
"Tenang saja. Aku akan menjaga kalian dengan baik." Ucap Axel dengan senyuman yang ramah.
Tentu saja mereka sebaiknya tetap tenang.
Lagipula, kelompok Axel adalah satu-satunya kelompok dengan pengawal tingkat S dan A sekaligus dalam operasi ini.
Dengan adanya Axel dan Eva di pihak mereka, keselamatan nyawa mereka seharusnya terjamin.
Atau setidaknya....
Itu yang ada di pikiran mereka.
__ADS_1
'Daaarr! Daarr! Daarr!'
Rentetan tembakan peluru terus menerus terdengar dari segala arah.
Para prajurit seragam hitam itu terus menembakkan senapan mereka ke berbagai arah sambil bersembunyi di balik reruntuhan bangunan tersebut.
Sesekali, mereka terlihat mengisi ulang peluru dengan panik. Berusaha agar bergerak secepat mungkin sehingga nyawa mereka selamat.
Sementara itu, para pekerja sipil yang ada terlihat begitu panik dalam bekerja. Mereka kini berada tepat di tengah-tengah zona pertempuran.
Dan Oracle meminta mereka untuk membereskan daerah ini sehingga menjadi pondasi yang kuat untuk pembangunan dinding.
"Yang benar saja?! Bukan kah nyawa kami sangat terancam?!" Teriak salah seorang pekerja sipil di tengah barisan para prajurit itu.
Mereka terus menerus mengangkat dan memindahkan batu dengan bantuan beberapa alat berat ukuran kecil yang telah dipersiapkan sebelumnya.
Dan dengan tekanan mengerikan itu, mereka terus bekerja.
Di sisi lain, Axel nampak sibuk berlari kesana kemari sambil mengayunkan tombaknya. Menebas seluruh monster yang berdatangan di sekitar tempat ini.
"Axel! Apa yang terjadi?! Bukankah para monster ini terlalu ganas?!" Teriak Eva yang terkejut.
"Tenang saja. Mereka takkan berjalan melewati batas cairan khusus itu." Balas Axel dengan tenang.
Sebelum memulai pekerjaan itu, Axel dan Eva menuangkan cairan khusus tersebut dalam 3 garis. Yaitu di Utara, Timur, dan Barat.
Dan 3 garis cairan tersebut memancing ribuan monster yang bersembunyi di sekitar tempat ini ke arahnya. Mereka berlomba-lomba untuk mencapai cairan itu secepat mungkin.
Golongan monster yang terpanggil oleh cairan tersebut yaitu Goblin, Orc dan juga Lizardmen.
Mereka memperebutkannya dengan para monster yang lainnya tanpa memperdulikan apapun. Termasuk serangan dari para prajurit manusia.
"Tuan Axel! Kau yakin ini tak masalah?!" Teriak salah seorang prajurit dengan begitu kencangnya. Sementara itu, kedua tangannya terus menerus menembakkan senapan itu ke arah para Goblin di kejauhan.
"Tenang saja! Mereka hanya tergila-gila pada cairan itu!" Balas Axel sambil terus membantai para monster di sekitar cairan itu.
Meskipun memang terbukti efektif dan aman, tapi tetap saja pemandangan ini memberikan rasa takut dan teror yang besar bagi para prajurit yang jarang menemui monster. Apalagi pada pekerja sipil yang tak memegang senjata apapun itu.
Akan tetapi....
Seiring dengan berjalannya waktu dan juga tumpukan mayat monster yang semakin menggunung, para pekerja dan prajurit yang ada pun mulai terbiasa
Terbiasa dengan suara keras senapan para prajurit. Terbiasa dengan teriakan keras para monster. Juga terbiasa dengan kengerian yang mereka perlihatkan.
Dan dengan itu, mereka terus bekerja sepanjang hari hingga matahari hampir tenggelam.
Saat itu tiba....
"Baiklah semuanya! Sudah cukup untuk hari ini! Kita bisa bersiap-siap untuk kembali ke benteng!" Teriak Eva.
"Hah.... Akhirnya. Aku lelah sekali."
"Aku juga."
Keluhan para pekerja sipil itu nampak terdengar di segala arah. Meski begitu, wajah mereka menunjukkan hal yang serupa.
Sebuah senyuman puas atas pencapaian mereka hari ini.
"Sialan, peluru ku hampir habis."
"Bisa kah kita meminta peluru yang lebih banyak besok?"
"Bagaimana dengan para monster itu? Apakah akan ada yang membereskan mereka?"
Pertanyaan para prajurit yang kini tak lagi mengenal rasa takut itu juga terdengar. Membuat Axel dan juga Eva yang melihatnya merasa sedikit bernafas lega.
Meski begitu....
Axel dan juga Eva memperhatikan progress atau perkembangan dari pembangunan dinding ini dari kejauhan.
__ADS_1
Apa yang mereka lihat, hanyalah tanah yang saat ini telah berhasil diratakan dan sedikit digali. Belum ada susunan atau fondasi yang nyata. Bahkan material berupa besi dan juga beton juga belum dikerahkan.
Keduanya menyadari, bahwa tugas ini membutuhkan waktu yang jauh lebih lama daripada yang mereka bayangkan.
"Berapa lama menurutmu?" Tanya Eva kepada Axel.
"Aku bukan lah seorang kontraktor. Tapi melihat dari kecepatannya, setidaknya akan memakan waktu 1 atau 2 bulan." Balas Axel.
Jawaban tersebut memang terkesan begitu pesimis. Padahal kenyataannya, jawaban Axel termasuk dalam sisi optimis dengan menganggap takkan ada gangguan yang berbahaya selama pengerjaan ini.
Itu benar.
Mereka sama sekali tak bisa menjamin bahwa monster tingkat tinggi takkan muncul.
Jika terdapat monster tingkat tinggi seperti Phantom muncul di tengah-tengah proyek pembangunan ulang ini, maka semuanya akan berakhir.
"Ku rasa kita hanya bisa berdoa ya?" Balas Eva yang segera berjalan menyusul para pekerja sipil dan juga prajurit yang telah mulai kembali itu.
"Aku tak tahu apakah doa akan bermanfaat di masa seperti ini. Tapi ku rasa tak ada salahnya mencoba."
......***......
Keesokan harinya, hal yang sama pun terulang. Keberangkatan para pekerja dimulai tepat pada pukul 7 pagi. Mereka, bersama dengan peralatan berat mereka, dikawal oleh para prajurit seragam hitam dan juga Liberator.
Semuanya berangkat dengan perasaan tenang mengingat hari sebelumnya mereka dapat mengalahkan para monster dengan begitu mudahnya.
Pembangunan pun dimulai kembali. Tanpa banyak kejadian yang begitu mencolok.
Memang benar ratusan, bahkan ribuan monster kembali menyerbu. Tapi tak ada satu pun dari monster tersebut yang menyerang ke arah manusia.
Mereka hanya terus bertarung satu sama lain memperebutkan cairan baru yang dituangkan ke tanah itu oleh para Liberator.
Dimana setelah itu, mereka hanya dibantai secara sepihak.
Begitu pula dengan hari-hari berikutnya.
Tak seberapa lama, pekerjaan ini pun menjadi rutinitas yang baru bagi seluruh penduduk di benteng bawah tanah itu.
Semuanya menganggap bahwa pekerjaan ini telah menjadi bagian kehidupan baru mereka.
Bahkan senyuman dan tawa mulai terdengar sepanjang perjalanan dan juga waktu mereka bekerja.
Secara perlahan....
Manusia mulai menjadi sama seperti monster yang kegilaan atas cairan khusus itu.
Mereka sama sekali tak memperdulikan mengenai monster yang terus mengamuk di sekitar mereka. Dengan sikap yang acuh, mereka terus melanjutkan pekerjaannya.
Hal yang sama juga dialami oleh para prajurit yang berjaga di sekitar proyek di setiap distrik dan sektor tertentu.
Secara perlahan mereka mulai malas dan menganggap para monster itu bukan lagi sebuah ancaman.
"Untuk apa membunuh mereka? Bukan kah mereka sibuk bertarung dengan rekan mereka sendiri memperebutkan cairan khusus itu?"
Itu adalah kalimat yang paling umum diutarakan oleh para prajurit seragam hitam di lapangan.
Sedangkan para pekerja memiliki kalimat andalan mereka sendiri.
"Selama ada cairan khusus itu, untuk apa memikirkan keberadaan monster? Lagipula, mereka takkan mengganggu kami bukan? Lebih baik fokus bekerja agar cepat selesai."
Menyisakan hanya satu pihak yang masih memiliki akal sehat mereka.
Yaitu para Liberator.
Axel yang melihat fenomena ini mulai bertanya-tanya.
'Apakah cairan itu memiliki efek samping kepada manusia yang belum menjalani operasi khusus?'
Sambil terus memikirkan mengenai pertanyaan itu, Axel dan juga Eva terus menerus bekerja.
__ADS_1
Dimana saat ini....
Hanya para Liberator yang masih sibuk membantai ratusan monster yang terus menerus berdatangan.