Liberator

Liberator
Bab 67 - Hari Libur


__ADS_3

Beberapa Minggu telah berlalu semenjak Axel menemukan gadis bernama Lucy itu di pinggiran kota.


Kini, hari peresmian telah tiba.


Sebagian besar Liberator telah diliburkan karena dinding ini benar-benar menutupi sebagian besar dari wilayah di Los Angeles ini.


Menjaga apapun yang ada di dalamnya dengan begitu baik.


Ratusan senapan mesin semi-otomatis yang berada di atas dan juga di bagian luar dinding itu mampu membantai monster apapun yang mendekat. Selama monster itu berada di tingkat C atau di bawahnya.


Menyadari hal ini, Axel telah menyuntikkan obat terakhirnya semalam.


Membuat seluruh tubuhnya dalam keadaan lemas dan juga lemas.


"Kakak?" Tanya Chloe sambil terus menerus menyentuh wajah Axel yang tertidur di sofa itu.


"Eh? Ada apa? Monster?" Tanya Axel setengah sadar.


"Tidak.... Kakak yakin tak mengikuti upacara peresmian itu? Ku dengar kita bisa mulai tinggal di luar benteng ini." Balas Chloe.


Axel dengan pandangan yang sedikit kabur serta kesadaran yang sedikit memudar itu hanya bisa menatap ke arah sosok adiknya di kejauhan.


Gadis itu terlihat sedang mengeringkan rambutnya yang basah sambil menyalakan layar monitor di ruangan ini.


Memperlihatkan siaran video dari peresmian dinding Los Angeles ini.


"Dan dengan ini, umat manusia akan mulai kembali melangkah untuk membangun kembali peradaban yang telah hilang. Kini, dengan teknologi dan kekuatan yang baru!" Tegas Oracle sambil memotong pita merah di salah satu gerbang dinding itu.


Sorakan dan teriakan mulai terdengar di segala arah. Memperlihatkan antusiasme para penduduk sipil yang ikut serta dalam acara itu.


Meski dinding itu telah selesai, bukan berarti manusia bisa segera keluar dari dinding. Masih banyak pekerjaan lain yang harus diselesaikan.


Salah satunya yaitu membereskan reruntuhan kota yang berada di dalam dinding ini. Mengubahnya menjadi tempat tinggal atau lahan pertanian.


Tapi setidaknya....


Kini mereka bisa mengatakan dengan keyakinan yang tinggi. Bahwa tak ada satu ekor monster pun di dalam dinding ini.


Membuat para pekerja sipil bisa bekerja dengan jauh lebih cepat dan lebih tenang.


"Hmm? Itu hari ini?" Tanya Axel yang masih dalam keadaan setengah sadar.


Efek Samping dari obat perawatan luka di tubuhnya itu benar-benar kuat. Membuat Axel hampir tak bisa melakukan apapun selama satu hari penuh.


Mendengar omong kosong dari kakaknya itu, Chloe pun sadar. Bahwa kakaknya masih berada dalam pengaruh obat itu.


Setelah meletakkan kembali handuknya, Chloe pergi ke arah dapur. Mengambil segelas air putih dan beberapa kue.


"Aaaa...." Ucap Chloe sambil mengarahkan kue itu di mulut Axel.


Secara refleks, Axel pun membuka mulutnya. Memakan kue itu sedikit demi sedikit.

__ADS_1


Setiap kali Axel menghabiskan satu kue, Chloe akan meminumkan air putih itu kepada Axel.


"Kak, segera sadarkan dirimu. Kau belum makan apapun satu hari ini. Berhenti lah membuat ku khawatir." Ucap Chloe sambil mengarahkan kue yang lain pada Axel.


"Maaf...."


Hanya kata itu lah yang keluar dari mulut Axel. Tapi memang mau bagaimana lagi?


"Jangan meminta maaf. Seharusnya aku yang meminta maaf karena tak bisa membantu mu diluar sana."


Perkataan Chloe itu segera mengembalikan sebagian dari kesadaran Axel.


Sejak dulu, Chloe memang tak memperoleh kekuatan yang besar setelah mengalami evolusi. Tidak.... Mungkin Chloe tak memperoleh apapun.


Kasus seperti Chloe juga tak jarang. Bahkan bisa dikatakan setengah lebih umat manusia memperoleh evolusi dengan kemampuan yang bisa diabaikan.


Dan menyadari hal itu, Axel adalah satu-satunya harapan bagi adiknya. Untuk bisa bertahan hidup di dunia seperti ini.


"Jangan berbicara seperti itu.... Sudah tugas ku sebagai kakakmu.... Untuk melindungimmu...." Balas Axel yang segera kembali tertidur.


"Maaf...."


Kali ini, Chloe yang meminta maaf. Ia menyesali ketidakberdayaannya. Yang harus membuat kakaknya menerima luka sebesar ini.


Dengan sekuat tenaga, Chloe pun berusaha untuk mengangkat tubuh kakaknya. Membenahi posisi tidurnya sehingga bisa menjadi sedikit lebih nyaman. Serta menyelimuti tubuhnya agar tak kedinginan.


"Selamat beristirahat, kak." Ucap Chloe sambil mengecup kening Axel itu.


Keesokan harinya


"Hmm?"


Axel mulai memperoleh sebagian besar kesadarannya. Ia pun terbangun dengan pemandangan langit-langit yang begitu familiar.


"Aah, benar juga. Aku kehilangan kesadaran lagi? Sialan, apanya yang 92% bekerja. Bukan kah aku selalu memperoleh efek samping?" Keluh Axel yang segera bangkit dari tidurnya itu.


Hal pertama yang dilakukan oleh Axel adalah mencuci wajahnya dan meneguk segelas air putih.


"Kakak sudah bangun sepenuhnya?" Tanya Chloe yang menyadari adanya pergerakan di rumah ini.


"Begitu lah." Balas Axel dari ruang sebelah.


"Tunggu sebentar, aku sedang memasakkan mu sup tomat dan beberapa roti panggang." Balas Chloe.


"Tenang saja. Ngomong-ngomong, bagaimana dengan peresmiannya?" Tanya Axel yang kini sedang sibuk memperhatikan isi di balik kulkas itu.


Setelah memikirkannya sejenak, Axel pun meraih sebuah toples berisi buah stroberi itu. Memakannya satu demi satu sambil berjalan ke arah dapur.


"Cukup meriah. Semua orang antusias terhadap pencapaian ini. Mungkin kita memang bisa mengambil alih dunia ini kembali?" Tanya Chloe sambil terus mengaduk sup tomat itu.


"Mungkin saja. Semakin lama, jumlah monster juga menurun dengan drastis." Balas Axel.

__ADS_1


Ia kini berdiri di samping sosok adiknya yang sedang sibuk memasak itu. Tangan kirinya membawa toples berisi stroberi itu sedangkan tangan kanannya sibuk mengosongkan toples itu.


Melihat apa yang dibawa oleh kakaknya, Chloe pun dengan manja menoleh ke arah Axel dan membuka mulutnya.


"Apa?" Tanya Axel singkat.


"Hah? Apa lagi? Aku minta." Balas Chloe sedikit kesal.


"Minta apa? Ini milikku."


"Oh, begitu kah? Kalau begitu tak ada sarapan untuk mu hari ini."


Dengan segera, Chloe mematikan kompor elektrik itu dan melepas celemeknya. Bahkan tanpa melihat ke arah Axel, Chloe segera pergi meninggalkan dapur.


"Tunggu, hahaha.... Aku bercanda, ini." Ucap Axel yang berusaha meraih lengan adiknya itu.


Kali ini, Chloe memejamkan kedua matanya sambil membuka mulutnya.


"Enak?" Tanya Axel setelah memasukkan satu buah stroberi ke dalamnya.


"Mmm.... Sedikit masam tapi aku menyukainya." Balas Chloe.


"Syukurlah. Ah, benar juga. Chloe, kau tahu aku...."


Sebelum Axel sempat menyelesaikan perkataannya, Chloe segera berlari ke arah Axel dan memeluk tubuhnya dengan erat.


"Bisakah kakak tidak pergi? Ku dengar kakak akan ke Jepang untuk menjalankan misi...."


Tubuh Chloe nampak begitu lemas. Begitu pula dengan suaranya yang lirih.


Axel tahu, bahwa ini adalah misi yang sangat berbahaya mengingat betapa mencurigakannya pergerakan dari Asia Timur.


Tapi mau bagaimana lagi? Ini adalah tugasnya sebagai seorang Liberator. Ia tak bisa menolaknya.


Terlebih lagi....


"Tenang saja. Ini adalah misi terakhir ku. Oracle bilang aku bisa pensiun setelah ini. Dan dengan begitu, kita bisa hidup santai berdua di apartemen ini. Bukankah itu sudah cukup bagus?" Tanya Axel sambil memeluk kembali adiknya.


"Tapi.... Aku takut. Kakak.... Berhati-hatilah di sana. Mengerti? Janji? Janji padaku kalau kakak akan baik-baik saja." Balas Chloe.


"Jika ada satu hal yang dikuasai oleh kakakmu, yaitu adalah kemampuan untuk bersembunyi dan melarikan diri. Tenang saja, jika situasi berbahaya, aku akan kabur."


"Tapi kakak belum berjanji?"


"Aku berjanji pasti akan baik-baik saja. Tenang saja, bukankah selama ini juga tak ada masalah?"


Chloe mulai mengalihkan pandangannya. Ia tak berani untuk melihat wajah kakaknya itu. Dan dengan segera, mulai mengalihkan topik pembicaraan ini.


"Benar juga! Ayo, kita makan. Aku sudah sangat lapar." Ucap Chloe yang segera melepaskan diri dari pelukan Axel itu.


Sementara itu, Axel hanya bisa berdiri di sudut ruangan itu sambil memperhatikan sosok adiknya.

__ADS_1


'Maaf.... Tapi aku memang belum bisa mengatakan soal sisa umurku padamu....'


__ADS_2