
Pemandangan yang ada di tempat ini begitu mengerikan. Reruntuhan kota yang telah hancur lebur itu, kini dibanjiri oleh banyaknya pengungsi yang saling berdesak-desakan satu sama lain.
Saling berusaha untuk meninggalkan tempat ini jauh-jauh. Semua dilakukan mereka hanya untuk bertahan hidup.
Di tengah kerumunan para pengungsi dari markas rahasia Rusia itu, Axel terus berjalan. Berdesak-desakan dengan lautan manusia yang begitu padatnya.
Seberapa keras pun Ia berteriak, suaranya takkan bisa terdengar karena suara teriakan orang lain di sekitarnya.
Mereka semua berusaha untuk mencari kerabat terdekat mereka dalam situasi seperti ini. Sama seperti Axel yang sedang mencari adiknya.
"Chloe! Chloe! Dimana kau! Chloe!" Teriak Axel dengan begitu keras.
Tak ada balasan. Yang ada hanyalah teriakan orang lain di sekitarnya.
Pada akhirnya, setelah lebih dari dua jam berusaha untuk mencari keberadaan adiknya, Axel menyerah.
Bukan menyerah untuk mencari adiknya, melainkan menyerah untuk mencarinya dengan cara yang biasa.
Axel memutuskan untuk menerobos barisan para pengungsi ini hingga ke bagian terdepan. Dan setelah tiba di sana, Axel mengarahkan tangan kanannya ke udara. Menembakkan sebuah Sambaran petir ke langit.
'Duaaaarrr!!!'
Satu kali mungkin hanya akan dianggap sebagai petir biasa. Oleh karena itu, Axel menembakkannya lagi ke langit sebanyak dua kali.
Dan dengan itu, Ia berhasil menyita perhatian banyak orang.
Sebagian besar orang hanya kebingungan. Sementara sebagian yang lainnya lagi nampak tak begitu peduli dan hanya memanfaatkan kebingungan itu untuk menerobos barisan.
"Minggir!"
"Cepat lah berjalan!"
"Pasukan bilang di sana ada pesawat untuk membawa kita pergi!"
Berbagai teriakan mulai kembali terdengar. Memekikkan telinga semua orang yang berada di sekitarnya.
Akan tetapi, rencana Axel membuahkan hasil yang positif.
Chloe yang melihat Sambaran petir sebanyak tiga kali itu merasa sangat yakin. Bahwa penyebabnya tak lain adalah kakaknya.
Ia akhirnya memaksakan arah pergerakannya menuju ke sumber sambaran petir itu.
Sedikit demi sedikit, Chloe semakin mendekat ke arah salah satu bangunan minimarket itu. Dimana Axel berdiri di atap datar bangunan tersebut sambil terus meneriakkan nama adiknya.
"Chloe! Dimana kau! Chloe!!!"
"Kakak!!!"
Sekilas, Axel merasa mendengar suara Chloe yang memanggilnya. Ia dengan cepat mencari asal dari suara itu.
Setelah beberapa saat, Axel akhirnya melihat sosok adiknya yang berdesak-desakan dengan banyak orang untuk menuju ke tempat ini.
"Kemari!" Teriak Axel setelah keduanya saling menatap satu sama lain.
"Tunggu!"
Akhirnya, Chloe berhasil terlepas dari lautan manusia itu dan berlari mendekat ke arah dinding minimarket ini. Dimana Axel menarik lengan kanan Chloe dan mengangkatnya hingga ke atap bangunan ini.
"Kakak! Apa yang terjadi di sana? Kenapa bisa seperti ini?" Tanya Chloe panik.
__ADS_1
Tapi Axel tahu satu hal yang paling penting. Yaitu sebuah kenyataan dimana dirinya benar-benar diburu oleh ketiga salinan Akane itu.
"Tak aman berada di sini. Kita akan bersembunyi. Sebelum itu.... Tunggu sebentar."
Axel memutuskan untuk turun ke lantai bawah minimarket. Mencari apapun yang dapat dimanfaatkan oleh mereka berdua.
Bermodalkan kantung plastik besar dan juga kekuatan fisiknya yang lebih tinggi, Axel pun dapat dengan mudah berdesak-desakan dengan orang lain yang juga menjarah minimarket ini.
Setelah sekitar 10 menit berlalu, Axel akhirnya kembali ke atap minimarket itu sambil membawa dua buah kantung plastik berukuran cukup besar. Semuanya telah diikat dengan rapi dan menggunakan dua lapis kantung plastik.
"Kakak?"
"Sayang sekali, kita akan kembali bersembunyi. Musuh kali ini sangat mengerikan." Balas Axel sambil menyerahkan kedua kantung itu kepada Chloe.
Chloe menerimanya tanpa banyak bertanya. Meski begitu....
"Tenang saja. Apapun yang terjadi, aku akan melindungi mu." Ucap Axel sekali lagi. Kalimat itu pun akhirnya bisa menenangkan pikiran adiknya.
Dimana pada akhirnya, Chloe mau menurut dan naik di punggung kakaknya.
'Tap!'
Dengan hentakan kaki yang kuat dan cepat, Axel pun membawa Chloe meninggalkan tempat terkutuk ini. Ia melakukannya dengan melompat dari satu gedung ke gedung yang lain secepat mungkin.
Semua tindakannya dilakukan tanpa memperdulikan para pengungsi yang ditinggalkannya.
Tidak, Axel tak memperdulikan mereka.
Apa yang dipedulikan olehnya di dunia ini hanyalah adiknya seorang. Tidak kurang dan juga tidak lebih.
......***......
Pergerakannya yang cukup cepat seharusnya tak meninggalkan jejak apapun bagi Akane. Sedangkan arah pergerakannya sendiri yaitu menuju ke arah Barat.
"Kakak, kita akan kemana?" Tanya Chloe sambil membuka bungkus makanan kalengan yang baru saja dipanaskan itu.
"Fuuuh.... Hmm? Kau ingat mengenai bangsa Eropa?" Tanya Axel yang masih meniupi makanan kalengnya yang panas itu.
"Bangsa Eropa? Tunggu.... Apakah maksud kakak...."
"Kau benar, aku berencana untuk kesana. Dan jika dimungkinkan, ikut naik dalam roket sialan itu. Entah bagaimana caranya."
Perkataan Axel itu tentu mengejutkan adiknya. Karena kakaknya yang selama ini dikenalnya tidak akan kabur seperti itu.
Tapi jika diingat lebih baik lagi....
Itu adalah sosok kakaknya yang masih mengenakan seragam abu-abu Liberator. Bukan sosok kakaknya saat ini yang hanya mengenakan pakaian compang-camping yang dipungutnya dari jalanan.
Dimana sosok ini, lebih mengingatkannya terhadap sosok kakaknya yang sebenarnya.
Seorang kakak yang selalu kabur ketika dihadapkan dengan bahaya yang terlalu besar.
"Kenapa?" Tanya Chloe penasaran.
Axel nampak menghela nafasnya cukup panjang sebelum menjawab pertanyaan itu. Tapi pada akhirnya, Axel pun menjelaskannya.
"Chloe. Dunia ini sudah hancur hingga di titik dimana pembangunan ulang mustahil dilakukan. Monster terus menerus berevolusi. Manusia saling menjatuhkan satu sama lain.
Semua faksi dari umat manusia berjuang atas ideologi mereka masing-masing. Memperebutkan kekuasaan atas bumi ini. Dan sekalipun salah satu faksi berhasil menaklukkan seluruh faksi yang lainnya, lalu kenapa?
__ADS_1
Apakah mereka bisa membangun ulang tanah yang telah hancur lebur ini? Berapa lama? Terlebih lagi...."
Sebelum Axel sempat menyelesaikan kalimat terakhirnya, mereka berdua mendengar suara sirine yang begitu keras dari segala penjuru.
Bersamaan dengan suara sirine itu, terdengar suara penjelasan dengan menggunakan bahasa Rusia. Yang nampaknya merupakan sebuah rekaman.
Axel dan juga Chloe sama sekali tak mengerti apa yang dikatakan oleh rekaman suara bersamaan dengan suara sirine itu.
Akan tetapi, mereka berdua segera memahaminya.
Sebuah bahasa universal, yang diketahui oleh seluruh umat manusia di zaman modern ini.
...'SWUUUOOOOOOSSSSHHHHH!!!'...
Sebuah rudal berukuran begitu besar nampak meluncur dari tanah ke langit. Kecepatannya cukup tinggi dan meninggalkan jejak asap yang tebal.
Tapi tak hanya satu rudal itu saja.
Melainkan puluhan, atau mungkin ratusan rudal dengan bentuk yang hampir serupa mulai diluncurkan dari tanah di kejauhan.
Axel memang tak bisa melihatnya, tapi rudal itu juga diluncurkan dari laut. Sebuah peluncuran rudal yang dilakukan oleh kapal selam yang tersembunyi di balik perlindungan kegelapan air lautan.
Dan salah satu dari rudal itu, meluncur tepat di dekat lokasi Axel berada.
Jaraknya hanya sekitar 100 meter saja. Membuat keduanya secara refleks menutupi kedua telinga mereka karena suara yang begitu keras itu.
Tapi Axel berhasil melihat suatu detail yang mengerikan dari rudal yang baru saja meluncur itu.
Sebuah gambar lingkaran berwarna kuning dengan lingkaran kecil berwarna hitam di tengahnya. Dan juga tiga buah trapesium berwarna hitam yang melingkar di samping lingkaran hitam kecil tersebut.
Seketika, Axel pun memahami logo itu.
"Nuklir.... Gila. Rusia benar-benar gila...."
"Apa? Nuklir? Apa maksud kakak, semua rudal itu adalah nuklir?!"
Hal itu pun menjelaskan mengenai sirine dan juga suara rekaman barusan. Yang mungkin saja merupakan peringatan darurat kepada seluruh warga di sekitar untuk mengungsi.
"Mungkin saja. Tapi.... Kemana mereka mengarahkannya?"
Pada saat itu juga, dunia benar-benar telah berakhir.
Pimpinan utama Rusia menganggap serangan dari Asia Timur kepada rakyat Rusia yang bersembunyi, terutama pembantaian warga sipil yang telah menyerah, adalah sebuah kejahatan besar.
Dan untuk itu lah, Rusia tak lagi segan-segan untuk membalas perbuatan mereka.
Tentunya, dengan menembakkan sebagian besar arsenal nuklir mereka ke wilayah Asia Timur. Termasuk di China, Jepang, Taiwan, dan daerah di sekitar Himalaya.
Tanpa memandang bulu, sekitar 5.000 rudal nuklir telah meluncur dari wilayah Rusia ke arah lawan mereka. Sedangkan sisanya lagi sekitar 300 rudal nuklir diarahkan ke seluruh penjuru dunia.
Termasuk Amerika Utara, Amerika Selatan, Asia Pasifik, Afrika, Timur Tengah, dan juga wilayah Eropa.
Pada kenyataannya, umat manusia telah memegang senjata untuk mengakhiri ras mereka dengan tangannya sendiri. Tanpa perlu menyalahkannya pada monster dari dimensi lain.
Dan hari kehancuran itu pun tiba.
Dimana seluruh dunia, harus menanggung akibat dari perbuatan kedua faksi kekuatan besar yang tersisa ini.
Sementara itu, Axel hanya bisa terdiam menatap ke arah langit. Mengikuti arah pergerakan dari berbagai rudal itu sambil memeluk tubuh Chloe yang ketakutan.
__ADS_1