Liberator

Liberator
Bab 79 - Operasi


__ADS_3

Rumah Sakit Markas Rahasia Rusia.


Di dalam sebuah ruang operasi dengan cahaya lampu putih yang terang ini, beberapa dokter terlihat berdiri menghadap ke arah sebuah ranjang pasien.


Sosok seorang pemuda dengan rambut kecoklatan terlihat berbaring di atasnya.


"Kau yakin akan menerima operasi ini, Axel?" Tanya Dmitri, sang kepala dokter di rumah sakit ini.


Di samping Dmitri, terlihat wajah yang tak lagi asing bagi Axel. Mereka tak lain adalah Frans dan Leona yang kini berpindah untuk bekerja pada pihak Rusia setelah cabang Amerika Utara dihancurkan.


"Jujur saja aku sendiri sangat tidak menyarankannya." Ucap Frans dengan nada yang datar. Meski begitu, kedua tangannya terlihat telah siap untuk menjalankan operasi ini.


"Kalau aku sendiri berharap kau mau mengorbankan nyawamu atas nama sains. Tenang saja, jika kau mati, kematianmu takkan sia-sia." Tambah Leona yang sedang menyuntikkan obat penenang pada lengan kiri Axel.


Melihat tingkat Leona, Axel sendiri merasa keheranan apakah wanita itu memang memberikannya kesempatan untuk memikirkan kembali pilihannya atau tidak.


Pasalnya, Leona telah menjalankan prosedur medis yang diperlukan untuk operasi ini.


Sedangkan balasan dari Axel sendiri cukup sederhana.


"Aku akan mati sebentar lagi bukan? Tidak ada salahnya untuk berjudi pada nasib keberuntunganku."


Senyuman yang lega terlihat di wajah Dmitri segera setelah mendengar pernyataan itu.


"Bagus lah. Aku akan menjelaskan lagi prosedurnya padamu." Ucap Dmitri sambil mulai menjalankan perawatan awal pada Axel.


Pada prinsipnya, teori dari Dmitri adalah untuk menciptakan manusia hibrid atau gabungan dari dua ras yang berbeda.


Memang jauh lebih aman jika menggunakan sel telur dari Lucy dan membuahinya di dalam sebuah tabung khusus.


Tapi prosedur itu terlalu lama.


Dan membutuhkan setidaknya 1 tahun untuk melihat bagaimana hasil dari pembuahan buatan yang dilakukan.


Karena itu lah, Dmitri membuat prosedur baru dengan menggabungkan informasi genetik milik Lucy dan Axel.


Berkat penelitian yang telah dilakukan oleh Asia Timur kepada mereka berdua, pihak Rusia telah memperoleh informasi lengkap mengenai genetik keduanya.


Menggabungkannya hanyalah masalah apakah subjek penelitian mau melakukannya atau tidak.


Akan tetapi, resiko yang bisa timbul cukup besar.


Singkatnya, penelitian manusia hibrid belum pernah dilakukan sebelumnya. Dan peluang kematian pada subjek penelitian sangat tinggi karena genetik antara manusia dan Chimera Lucy tidak cocok atau bertentangan.


Tapi jika berhasil....


Menurut teori dari Dmitri sendiri....


Ia bisa menciptakan sesuatu yang jauh lebih kuat daripada projek Liberator itu sendiri.


Hanya saja, prosedur untuk melakukannya cukup rumit dan minimal harus memiliki informasi genetik keduanya secara lengkap.


Jadi saat ini, yang bisa menerima operasi percobaan ini hanyalah Axel seorang.


"Mengerti? Setelah kami memasukkanmu dalam keadaan koma, kami akan membedah tubuhmu dan melakukan terapi genetik untuk mengubah DNA dalam tubuhmu.


Tenang saja, Lucy bahkan tidak perlu ikut serta dalam hal ini. Kami hanya membutuhkan informasi genetiknya saja. Sedangkan dirimu sendiri, kau takkan merasakan apapun selama proses ini dilakukan.


Tapi sebagai gantinya, jika operasi ini berhasil kau akan merasakan sedikit tidak nyaman pada tubuhmu. Seluruh proses ini mungkin membutuhkan waktu satu bulan. Mengerti?" Jelas Dmitri panjang lebar.

__ADS_1


Axel yang sama sekali tak memahami apa yang baru saja di dengarnya, hanya mengambil informasi terpenting baginya.


Yaitu sebuah kenyataan bahwa Lucy dan juga dirinya sendiri takkan merasa kesakitan dalam operasi ini.


"Aku sama sekali tak paham. Tapi tolong, lakukan saja. Aku mempercayakan diriku pada kalian semua." Balas Axel.


"Bagus. Kami akan segera memulainya." Balas Dmitri yang mulai menekan beberapa tombol di komputer itu.


Beberapa selang nampak mulai ditancapkan ke tubuh Axel melalui lubang hidung dan mulutnya.


Secara perlahan, Axel mulai kehilangan kesadarannya. Ia bisa melihat apa yang terjadi, tapi Ia tak bisa merasakan apapun yang sedang terjadi di sekitarnya.


Sekujur tubuhnya mati rasa.


Bahkan sesaat sebelum Axel sepenuhnya menutup kedua matanya, Ia melihat Leona mulai membedah kembali tubuh Axel. Entah untuk ke berapa kalinya.


Tapi kali ini....


Ia hanya merasakan ketenangan.


Dan tak berselang lama....


Ia pun tertidur.


Entah untuk seberapa lama, Axel sama sekali tak menyadarinya. Ia hanya melihat cahaya putih yang terang dalam mimpinya.


Duduk di tengah ruangan serba putih itu, juga dengan pakaian yang serba putih.


Hanya saja, kesadarannya mulai kembali utuh. Ia bisa merasakan detak jantungnya sekali lagi. Bahkan melakukan pemikiran yang rumit sekalipun.


Di kejauhan, Axel bisa melihat sosok yang sangat familiar. Apa yang dilihatnya adalah seorang bocah laki-laki yang sedang bermain bola sendirian.


Bagaimanapun, apa yang dilihatnya adalah sosoknya ketika masih kecil. Tepatnya ketika masih duduk di bangku sekolah dasar.


'Sreeett!'


Secara perlahan, Axel mulai berdiri dan berjalan mendekat ke arah bocah itu.


Akan tetapi saat sudah cukup dekat, bocah itu secara tiba-tiba berbalik arah dan menunjuk ke arah wajah Axel.


Tidak....


Lebih tepatnya, menunjuk ke arah di belakang Axel saat ini.


Secara refleks, Ia segera berbalik arah untuk melihatnya.


Tiba-tiba, pemandangan ruangan serba putih ini berubah menjadi sebuah neraka. Yaitu pemandangan ketika rumahnya dihancurkan oleh para monster.


"Axel! Bawa Chloe dan lari dari sini!" Teriak seorang pria dengan jenggot yang cukup tebal itu.


"Ta-tapi...."


"Tidak ada tapi-tapian! Kau bisa berlari dengan cepat kan?! Jadi tolong bantu ibu dan bawa Chloe pergi dari sini!" Teriak seorang wanita dengan rambut hitam itu.


Keduanya terlihat sedang sibuk menahan dua ekor Goblin yang menyerang kediaman mereka.


Di sudut rumah ini, sosok seorang gadis dengan rambut hitam terlihat bersembunyi di bawah meja sambil menangis.


"Axel! Cepat pergi!"

__ADS_1


Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, sosok Axel di dalam rumah itu segera berlari. Menarik lengan kanan gadis berambut hitam itu dan pergi jauh. Meninggalkan kediaman mereka.


Axel yang melihat kejadian itu hanya bisa terdiam. Secara perlahan, air mata mulai mengalir di wajahnya.


Sama seperti dirinya yang dulu, Axel sama sekali tak bisa berkata-kata. Ia masih terus menyalahkan kejadian itu pada para monster.


Tapi kini, Ia mulai menyadarinya.


Bahwa hasil dari kejadian itu, tak lain juga karena kelemahannya sendiri.


Pemandangan yang tak lain merupakan masa lalunya itu segera memudar dan menghilang. Seiring dengan menjauhnya sosok dirinya dan juga Chloe di jalan raya itu.


Kini, pemandangan tergantikan oleh langit malam yang gelap. Lautan perkotaan yang telah runtuh terlihat di sepanjang mata memandang.


Pemandangan yang seharusnya selalu dilihat olehnya itu, entah kenapa terasa begitu asing.


Pertanyaan seperti dimana ini dan kapan pemandangan ini dilihat olehnya sama sekali tak bisa terjawab.


Mengingat apa yang sebelumnya terjadi, Axel merasa bahwa mungkin....


Semua ini adalah pecahan ingatannya selama hidup. Dan sebuah efek samping dari proses operasi ini.


Akan tetapi....


Di kejauhan, Axel bisa melihat sosok seorang Pria yang berjalan sendirian. Tangan kanannya menyeret sebuah pedang satu tangan dengan bilah hitam kemerahan.


Jalanan di sekitar tempatnya dipenuhi dengan tumpukan mayat yang tak bisa diidentifikasi karena gelapnya cahaya dalam pecahan ingatan ini.


Mungkin monster? Apakah ini ingatan ketika dirinya menjalankan misi pembersihan monster? Axel tak bisa mengingat kapan hal ini terjadi.


Pria itu terus berjalan menjauh ke satu arah, tanpa berhenti. Juga tanpa membalikkan badannya.


Saat Axel baru saja berniat untuk mengejar dan mencari tahu kapan ingatan ini terjadi....


...'DUAAAAARRR!!!'...


Axel dapat mendengar sebuah suara ledakan yang begitu besar.


Suara itu seketika menarik kembali kesadarannya ke dunia nyata. Dan dunia yang merupakan pecahan ingatannya ini segera runtuh, pecah berkeping-keping.


"Hah?!"


Kini, Axel tersadar di dalam sebuah tabung logam yang tertutup rapat. Cahaya merah nampak menerangi melalui jendela kecil di dalam tabung tempat Axel berada.


"Dimana ini? Kenapa?"


Suara sirine terdengar begitu keras memekikkan telinganya. Axel pun segera melepas berbagai kabel dan selang yang terhubung di tubuhnya, lalu merangkak keluar dari tabung itu.


'Blaaarr!'


Ia menendang pintu tabung itu. Kini, Axel berada di dalam sebuah fasilitas rumah sakit. Setelah melihat sekelilingnya, Axel dapat menyadari bahwa dirinya baru saja berada dalam sebuah mesin besar.


Dimana tubuhnya diletakkan dalam sebuah tabung dengan posisi tidur di dalam mesin besar itu.


Tapi Axel tahu, tak ada waktu lagi untuk memahami mengenai dirinya.


Hanya dengan pakaian pasien berwarna biru muda polos, Axel segera meraih beberapa pisau bedah di sekitar ruangan ini sebagai senjatanya dan berlari keluar.


Mencari tahu, apa yang sebenarnya terjadi hingga sirine yang begitu keras dan lampu merah terang ini menyala di seluruh fasilitas rumah sakit ini.

__ADS_1


Tanpa mengetahui, seberapa lama dirinya telah berada dalam perawatan tersebut.


__ADS_2