Liberator

Liberator
Bab 42 - Abomination


__ADS_3

'Tap! Tap! Tap!'


Axel berlari dengan cepat. Menerjang ke arah monster raksasa itu di kejauhan.


Tanpa ragu, Axel segera mengayunkan tombaknya tepat ke arah lengan monster itu.


'Zraaasshhh!'


Tombaknya mampu menebas lengan yang terbentuk dari tubuh puluhan monster lainnya yang seakan menyatu itu.


"GROOOAAAAARRRR!!!" Teriak monster itu kesakitan.


Darah yang begitu deras mulai mengalir dari lengannya. Membanjiri tempat ini dengan darah merah gelapnya yang begitu menjijikkan itu.


"Hah, ku pikir apa. Hanya sekumpulan Orc dan Goblin saja." Ucap Axel sambil mulai bernafas lega.


Pada awalnya, Axel sangat khawatir terhadap monster abnormal ini. Mungkin saja Ia setingkat, atau lebih berbahaya dibandingkan dengan Lizardmen abnormal yang ditemuinya di pusat pembuangan saluran air itu.


Tapi nampaknya, Axel hanya terlalu banyak berpikir.


Musuh di hadapannya ini hanyalah musuh tingkat D hingga C saja. Bukan masalah yang besar.


Atau setidaknya....


Itulah yang ada di dalam pikiran Axel sebelumnya.


'Spraaasshhh!! Srassshh!'


Dengan begitu cepat, lengan yang sebelumnya baru saja terpotong oleh Axel itu tumbuh kembali. Dan kini sedikit lebih besar dan lebih banyak.


Wujudnya sendiri jauh lebih cacat dibandingkan sebelumnya. Banyak wajah dan mulut goblin serta Orc yang berteriak kesakitan di tangan itu. Seakan-akan memang terbuat dari gabungan ratusan monster sekaligus.


"Sa.... Kit.... Ma.... Nu.... Sia...." Ucap Monster itu dengan bahasa yang bisa dimengerti Axel.


Membuat tubuhnya seketika merasakan kengerian yang begitu dalam. Hawa dingin mulai menusuk ke sekujur tubuhnya. Menenggelamkannya dalam perasaan takut.


"Monster sialan ini.... Berbicara?" Tanya Axel.


Tapi tiba-tiba, monster itu mengayunkan lengan kanannya tepat ke arah Axel berdiri.


'Blaaaarrr!!!'


Hantaman lengan kanan yang besar itu begitu kuat hingga meremukkan lantai besi di fasilitas pembangkit listrik ini.


Axel hampir saja gagal menghindarinya dengan melompat ke arah belakang.


'Cepat sekali....' Pikir Axel setelah melihat serangan mengerikan dari monster itu.


Dalam bayangannya, monster dengan tubuh sebesar itu seharusnya lambat. Tapi tidak. Monster ini bahkan jauh lebih cepat dari rata-rata Goblin dan Orc yang pernah di hadapi olehnya.


Dan buruknya lagi....


Potongan lengan monster barusan mulai bergerak. Secara perlahan, satu demi satu, tubuh puluhan monster yang tergabung dalam lengan itu mulai memisahkan diri.


Menjadi puluhan monster yang utuh. Selama tubuh mereka tak terpotong dalam tebasan tombak Axel.


"Yang benar saja.... Akane! Cepat bantu aku di sini!" Teriak Axel panik.

__ADS_1


Axel sendiri tahu, melawan monster itu sangat rumit. Serangannya sendiri mampu memotong tubuhnya dengan mudah. Tapi tubuhnya yang terpotong segera beregenerasi.


Bahkan sisa potongan yang terjatuh juga berubah menjadi musuh baru bagi Axel. Membuat pertarungan ini jauh lebih rumit dari yang sebelumnya.


Dari dalam reaktor itu, Akane pun membalas.


"Tunggu sebentar lagi! Beri aku 5 menit!" Teriak Akane.


"Hah?! Lima menit?! Jadikan 3 menit!" Balas Axel panik.


Kini, puluhan monster yang merupakan bagian dari lengan raksasa itu mulai berlari. Mengejar Axel dengan sikap yang sama sekali berbeda.


Tak seperti ribuan monster lain yang sama sekali tak tertarik kepada Axel dan Akane. Monster yang berasal dari potongan tubuh raksasa itu sama sekali tak tertarik terhadap reaktor ini.


Bahkan, tatapan mereka hanya fokus kepada Axel seorang.


"Grrooaaarr!!" Teriak para Goblin dan Orc yang berlari ke arah Axel itu.


Untungnya, mereka sama sekali tak memiliki senjata. Hanya lah monster buas dengan fisik yang sedikit lebih kuat dari manusia.


Menghadapi mereka seharusnya cukup mudah dan....


'Zraaasshh!'


Dengan begitu cepat, cakar dari salah seekor Goblin itu berhasil melukai wajah Axel. Memberikan bekas 4 cakar di wajahnya.


'Yang benar saja.... Goblin adalah monster peringkat E bukan?!' Teriak Axel dalam hatinya.


Ia sama sekali tak menduga bahwa Goblin itu mampu melompat dengan begitu cepat dan akurat ke arahnya. Memberikannya serangan yang tak begitu fatal, tapi juga sangat berbahaya jika dirinya lengah.


Sebelum Axel sempat mempersiapkan dirinya lebih lanjut lagi, seekor Orc berhasil menarik tubuhnya.


"Grroooaaaarrr!!!"


Kini, teriakan dari sang monster bertubuh besar itu kembali terdengar.


Axel yang masih dalam posisi terjatuh, melihat tangan raksasa itu di ayunkan tepat ke arahnya.


'BLAAAARRRR!!!'


Sebuah hantaman yang begitu kuat itu segera meremukkan apapun yang ada di sekitarnya.


Termasuk beberapa ekor Orc yang sebelumnya mengerumuni Axel.


Akan tetapi....


Sisa tubuh Axel sama sekali tak terlihat. Hanya meninggalkan bekas sambaran listrik di sekitar tempat pukulan raksasa itu.


Axel sendiri telah berhasil kabur.


Di kejauhan, sosoknya dapat terlihat bergelantungan pada salah satu rusuk baja yang hampir runtuh itu dengan tangan kirinya. Sementara tangan kanannya sendiri masih memegang tombaknya.


"Grroooaarr!"


Para monster itu kembali mengalihkan pandangannya tepat ke arah Axel di ketinggian itu.


Tapi Axel hanya memandangi mereka dengan tatapan yang tajam.

__ADS_1


Tak ada lagi peluang untuk meremehkan musuhnya.


Saat ini, Axel menganggap semua lawan yang ada di hadapannya, merupakan monster abnormal tingkat tinggi. Sama seperti ketika Ia bertemu dengan Lizardmen abnormal itu.


"Bagaimana? Apakah kalian bisa meraihku di sini?" Tanya Axel yang masih bergelantungan di atas itu.


"Grroooaaaarrr!" Balas para monster abnormal yang lainnya.


"Hahaha.... Tentu saja tak bisa kan? Kalau begitu, sekarang giliran ku."


Axel segera melepaskan pegangannya. Kembali jatuh ke tanah dengan kedua kakinya.


Tapi kali ini, dirinya telah siap sepenuhnya.


"Mari kita lihat seberapa cepat regenerasi tubuh mu." Ucap Axel singkat.


Tubuhnya mulai diselimuti oleh aliran listrik biru yang menyala dengan terang. Begitu pula dengan tombaknya.


Dan dalam sekejap....


'Tap! Swuuushhh!!!'


Axel melesat dengan begitu cepat. Ia mengabaikan semua monster abnormal lainnya dan hanya fokus pada sang monster raksasa.


'Zraaasshhh!'


Axel terus berlari. Mengayunkan tombaknya untuk menebas kaki dari raksasa itu.


Tapi Ia sama sekali tak berhenti. Melainkan terus berlari dari satu sisi ke sisi lainnya. Dengan pusat dari tujuannya yaitu tubuh monster raksasa itu.


'Zraaasshhh!!'


Segera setelah menebas kaki raksasa itu sekali lagi, Axel kembali berlari.


'Swuushh!'


Ayunan lengan raksasa itu sama sekali tak mampu untuk menyentuh Axel. Bahkan pergerakannya sama sekali tak bisa diikuti olehnya.


Di sisi lain, Axel hanya terus bertambah cepat dalam setiap tebasan nya.


Hingga akhirnya, pergerakannya benar-benar menyerupai sambaran petir yang berlangsung secara berturut-turut.


'Zraasshh! Zraaassshhh!! Zraasshh!!!'


Dari depan, kemudian belakang, lalu kiri dan akhirnya dari kanan.


Axel terus menerus mengubah arah dari serangannya sembari terus berlari.


Sedikit demi sedikit, kaki dari monster raksasa itu terpotong dalam potongan yang setebal setengah meter saja.


Axel melakukannya agar ketika potongan itu terlepas, mereka takkan bisa beregenerasi menjadi monster individual yang baru.


"Grroooaaaarrr!!!"


Tanpa mampu untuk membalas, monster raksasa itu hanya bisa berteriak atas kesakitan yang dialaminya.


Sedangkan Axel sendiri, masih terus menyerang tanpa adanya tanda-tanda untuk berhenti.

__ADS_1


Hingga akhirnya, setelah tepat 30 detik, Axel berhasil mencincang habis keenam kaki monster raksasa itu hingga menjadi puluhan potongan kecil.


Membuat monster raksasa itu tak lagi mampu berjalan.


__ADS_2