Liberator

Liberator
Bab 72 - Pilihan


__ADS_3

"Hari ke 137 dan kau masih memberikan informasi yang begitu banyak bagi kami." Ucap Profesor Akihiko itu sambil terus tersenyum.


Tapi Axel?


Saat ini, mungkin Axel benar-benar telah kehilangan kewarasannya.


Sistem syaraf dan tulang belakangnya benar-benar mengalami kerusakan yang begitu parah. Sehingga membuat Axel hampir tak bisa memperoleh impuls dari kontak dengan lingkungannya.


'Sreessshh!'


Saat pisau bedah itu membuka lebar dada Axel untuk ke sekian kalinya, Ia tak lagi merasakan apapun.


Termasuk sensasi sentuhan sedikit pun.


Axel tak lagi merasakannya.


Bahkan ketika Profesor Akihiko mengambil beberapa potong daging di tubuhnya untuk diteliti, Axel sama sekali tak memberikan respon apapun.


Tatapannya terlihat begitu kosong.


Dan kedua matanya sama sekali tak bergerak.


'Apakah aku sudah mati?'


Pertanyaan itu berulang kali tersirat di dalam kepalanya. Tapi setiap kali Ia melihat sosok Profesor itu, jawabannya menjadi sangat jelas.


'Tidak.... Aku belum mati. Tapi.... Apakah benar seperti itu?'


Berkat otaknya yang selalu diotak-atik oleh Profesor Akihiko, Axel mungkin memang sudah menjadi sedikit gila.


Ia berpikir bahwa dirinya mungkin memang telah mati. Dan semua yang dialaminya saat ini, mungkin adalah sebuah neraka.


'Apakah ini hukuman bagiku karena membunuh pemburu itu?' Tanya Axel sekali lagi dalam hatinya.


Ia teringat pertama kalinya kedua tangannya ini membunuh musuh yang bukan lah monster. Dan sangat mungkin bahwa tindakannya itu menjadikannya dihukum oleh langit dalam neraka abadi seperti ini.


Akan tetapi....


Sedikit saja pengetahuannya terhadap dunia ini menjelaskan bahwa semuanya nyata.


Seperti berbagai perlengkapan medis yang menunjukkan informasi perkembangan penelitian yang sedang mereka lakukan.


Axel sama sekali tak tahu apa yang sedang mereka teliti.


Tapi setidaknya, Axel tahu bahwa penelitian mereka benar-benar mengalami kemajuan yang nyata setiap harinya.


Apakah neraka membutuhkan hal seperti itu?


Tidak. Tentu saja tidak.


"Baik, cukup untuk hari ini. Terimakasih atas kerjasamanya, Axel." Ucap Profesor Akihiko itu sebelum pergi bersama dengan seluruh asistennya.


Meninggalkan lantai yang dipenuhi darah ini untuk dibersihkan tim yang lainnya.


Sesekali, Axel mencoba untuk mengeluarkan kekuatannya. Bermaksud untuk mengarahkan sihir petirnya itu agar bisa membunuh dirinya sendiri. Mengakhiri kegilaan ini untuk selamanya.

__ADS_1


Akan tetapi, kekuatannya sama sekali tak bisa keluar.


Apakah mereka mengeringkan seluruh Flux yang ada di tubuhnya? Mencegahnya untuk mengeluarkan kekuatan sedikit pun?


Sekali lagi....


Axel pun terlelap dalam kegelapan. Untuk mengulangi lagi rutinitas kehidupan barunya itu.


......***......


"Hari ke 164. Kau tahu apa yang indah dari hari ini, Axel?" Tanya Profesor Akihiko kepada pemuda itu.


Axel, sekuat apapun Ia ingin menjawabnya, sama sekali tak bisa melakukannya. Ia tak lagi bisa berbicara.


"Itu karena hari ini, adalah hari terakhir kami akan meneliti tubuhmu." Lanjut Profesor Akihiko itu.


Mendengar perkataan Profesor itu, Axel menunjukkan respon pertamanya setelah 100 hari lebih ini.


Kedua matanya mulai terbuka lebar dengan tatapan yang seakan penuh oleh harapan.


Tentu saja, Profesor Akihiko menyadari hal itu dan membuat senyuman yang lebar.


"Hoo.... Nampaknya kau tertarik ya, Axel. Tenang saja. Aku berjanji bahwa ini adalah hari terakhir mu. Itu karena aku akan melepaskan mu dari semua ini." Jelas Profesor Akihiko.


Tatapan wajah Axel seakan menunjukkan pertanyaan yang jelas.


'Apakah kau bersungguh-sungguh? Semua ini akan segera berakhir?'


Itu adalah pertanyaan yang ada di dalam hati Axel. Yang mana Ia sama sekali tak bisa mengutarakannya dengan kata-kata.


Akan tetapi....


"Itu karena kami akan mengakhiri nyawamu. Semua data penelitian yang kami butuhkan telah lengkap. Dan kami tak lagi membutuhkan dirimu."


Harapan terakhir dari Axel pun runtuh.


Tapi entah kenapa, Axel merasa begitu lega. Ia cukup senang karena akhirnya....


Penderitaannya akan segera berakhir.


"Jujur saja, aku sedikit berharap lebih mengenai reaksimu. Tapi ini juga sudah cukup. Semuanya, bereskan semua kekacauan ini." Ucap Profesor Akihiko itu kepada para asistennya.


Dimana mereka dengan segera melaksanakan perintahnya.


Tapi di saat mereka sedang membereskan seluruh ruangan ini....


'Bruukk! Brruukk! Braaakk!'


Tubuh beberapa asisten nampak terjatuh begitu saja tanpa ada apapun yang menyebabkannya.


Melihat hal itu, Profesor Akihiko pun terkejut bukan main.


"Siapa di sana?!" Teriak Profesor itu panik.


Dari sudut ruangan, secara perlahan distorsi cahaya yang terjadi itu mulai memudar. Menunjukkan sosok seseorang dengan pakaian serba hitam dan berbagai perlengkapan khusus di sekujur badannya.

__ADS_1


Ia terlihat berdiri dengan tenang. Tapi seketika, tubuh Profesor Akihiko itu juga ikut terjatuh ke lantai. Dengan kepalanya yang memiliki lubang dan darah mengalir dengan deras dari sana.


Tiga sosok yang sama mulai muncul dari sudut ruangan itu. Mereka memiliki perlengkapan yang sama dan dengan segera mulai bergerak.


Dua dari mereka nampak mengumpulkan seluruh data yang telah diperoleh di berbagai komputer yang ada di ruangan ini.


Sedangkan satu lagi nampak berjalan ke arah Axel yang terkekang di ruangan ini.


"Rusia. Kami akan menyelamatkanmu." Ucap sosok misterius itu yang segera melepaskan seluruh pengekang pada tubuh Axel.


Tentu saja, dengan segera keberadaan mereka mulai disadari. Dan alarm dengan sirine yang keras dan lampu merah itu mulai menyala.


...'KRRIIIIIIIIINGGG!!!'...


Alarm itu pun memicu seluruh penjaga yang ada dalam fasilitas penelitian ini mulai bersiaga penuh.


Tapi entah kenapa, pasukan khusus dari Rusia itu terlihat begitu tenang.


"Maaf jika terlalu lama. Kami perlu mempersiapkan banyak hal untuk hari ini. Kami juga telah menyelamatkan rekan mu yang bernama Lucy itu." Jelas pasukan khusus itu sambil menopang tubuh Axel untuk berjalan.


Kedua mata Axel segera terbuka lebar setelah mendengar nama itu disebutkannya.


Ia sangat ingin menanyakan berbagai hal kepada sosok misterius itu. Tapi sama sekali tak bisa melakukannya.


Pertanyaan seperti kenapa Lucy yang seharusnya berada di tempat yang aman di Amerika Utara bisa berada di sini. Atau pertanyaan lain yang menyangkut apakah Lucy baik-baik saja.


"Lucy juga menerima nasib yang cukup buruk. Tapi tenang saja, kami telah mengamankannya. Untuk dirimu, kami sudah menyiapkan dokter untuk memulihkan kemampuanmu berbicara." Jelas pasukan khusus itu.


Axel secara perlahan mulai merasa lega.


Tapi entah kenapa, mereka semua berusaha berlari secepat mungkin dari fasilitas ini. Memaksa tubuh Axel yang penuh luka dan melemah ini untuk bergerak secepat mungkin.


"Maaf jika kasar." Ucap salah satu prajurit itu sambil menggotong tubuh Axel di punggungnya lalu berlari.


"Kami tak memiliki banyak waktu. 15 menit setelah kami mulai menyelamatkan dirimu dan juga Lucy, sebuah rudal nuklir akan menghantam kota ini." Jelas Prajurit yang lainnya.


Beberapa prajurit pertahanan di Osaka ini mulai muncul dan menghadangi arah pelarian mereka.


Tapi sayangnya, persiapan dari pihak Rusia benar-benar telah matang.


Mereka telah menanamkan ratusan prajurit khusus yang telah bersiaga di seluruh fasilitas ini. Membantai para penjaga dan juga Liberator yang sama sekali tak siap terhadap keberadaan mereka yang tak terlihat itu.


"Lapor, subjek A-01 terlihat di sisi Timur. 10 pasukan khusus berusaha menghadangnya, harap jauhi sisi timur."


Suara itu terdengar dalam alat komunikasi mereka.


"Dimengerti." Balas Prajurit yang sedang menggotong Axel itu berlari.


Kini, apapun yang terjadi, pihak Rusia harus bisa membawa pergi Axel dan juga Lucy dari fasilitas ini sebelum rudal nuklir itu tiba.


Sedangkan Axel?


Ia hanya bisa berharap, bahwa benteng di Amerika Utara masih selamat.


Begitu juga dengan adiknya, dan rekan-rekannya.

__ADS_1


__ADS_2