Liberator

Liberator
Bab 48 - Hari Baru


__ADS_3

"Uughh.... Dimana aku?" Ucap Axel yang secara perlahan memperoleh kembali kesadarannya. Sedikit demi sedikit, pandangannya yang buram menjadi semakin jelas.


Axel pun berusaha untuk bangun dan memperhatikan kondisi di sekitarnya. Akan tetapi, Ia sama sekali tak mengetahui dimana dirinya berada.


Di samping tempat Ia duduk, terdapat sebuah meja dengan banyak kaleng berwarna biru dan putih yang tergeletak. Beberapa diantaranya bahkan masih memiliki cairan sehingga mengotori meja dan lantai di sekitarnya.


Tak hanya itu, beberapa piring kaca yang masih memiliki sisa makanan pun terlihat di sekitar meja itu.


"Sialan.... Apa yang terjadi?" Tanya Axel kebingungan.


Kesadarannya masih belum kembali sepenuhnya. Akan tetapi, Axel mulai menyadari tempat dimana Ia duduk.


"Hmm? Kasur?"


Tubuhnya saat ini tertutupi oleh sebuah selimut yang cukup tebal. Di saat Axel mencoba untuk mengangkat selimut itu....


"Sialan! Apa yang terjadi?!"


Axel terkejut bukan main karena Ia sama sekali tak mengenakan satu helai pun kain di tubuhnya.


Akan tetapi, rasa terkejut itu sama sekali tak ada bandingannya dengan apa yang akan dirasakan oleh Axel berikutnya. Ketika Ia menyadari, bahwa di sebelahnya....


"Uughh.... Kau sudah bangun?" Tanya seorang wanita berambut perak yang masih tergeletak di samping Axel.


Sama seperti kondisinya, wanita yang tak lain adalah Eva itu tertidur pulas. Belum mampu untuk memperoleh kembali kesadarannya saat ini.


Begitu pula dengan pakaiannya.


Seketika, Axel kembali teringat atas apa yang terjadi pada dirinya semalam.


"Itu benar.... Eva mengajakku ke rumahnya dan meminta ku meminum bir lalu...."


Sedikit demi sedikit, ingatannya mulai semakin jelas. Dan kini, tak dapat lagi di ragukan bahwa Axel baru saja lulus dari status lajangnya.


"Tidak, ini tidak benar. Tidak mungkin ini terjadi kan?"


"Berisik sekali.... Bisa kah kau diam?" Sahut Eva yang kini mulai terbangun setelah terus menerus mendengar ocehan Axel.


Masih ingin meyakinkan dirinya bahwa Axel sama sekali tak melakukan hal yang ada di dalam pikirannya, Axel pun bertanya.


"E-Eva, apa yang terjadi di sini? Kenapa aku di sini?"


"Masih berpura-pura bodoh?" Balas Eva sambil segera bangkit dari tidurnya. Memperlihatkan seluruh tubuhnya yang hanya tertutupi sebagian selimut itu.


Axel hanya bisa menganga.


Bukan masalah karena Ia tak ingin melakukannya. Bukan juga karena Axel merasa dirinya sok suci atau semacamnya.


Tidak.


Bukan itu.


Akan tetapi....


'Sialan.... Kenapa aku tak mengingat apapun yang telah ku lakukan? Seperti apa rasanya? Tidak. Aku tak bisa meminta lagi bukan?'

__ADS_1


Itu karena Axel melupakan hampir sebagian besar kejadian setelah dirinya di mabukkan oleh bir itu.


Saat dirinya masih terbengong, Eva kembali memanggilnya dari kejauhan.


"Aku ingin mandi. Kau ikut?"


Menelan seluruh rasa malunya, Axel pun memberikan sebuah jawaban yang tegas.


......***......


Kantin Markas Militer


Lantai 2


"Bukan kah kalian semakin akrab?" Tanya sang penjaga kantin itu.


"Tentu saja karena kami selalu bekerja bersama bukan?" Balas Eva sambil tersenyum. Sementara itu, tangan kanannya mengambil nampan yang berisi jatah makanannya pagi ini.


Di sebelahnya, Axel masih terus berjalan dengan menatap lantai.


Ia masih tak bisa mempercayai bahwa semua ini baru saja terjadi padanya. Dan kini, pikirannya mulai dipenuhi dengan berbagai hal.


'Apakah aku memang harus pensiun dari pekerjaan ini? Hanya untuk hidup sedikit lebih lama? Tidak.... Tapi, bagaimana dengan Chloe? Bukankah Ia akan kesepian? Tidak. Banyak warga yang baik padanya di sana dan mungkin saja....'


"Axel, makanan mu." Tegur penjaga kantin itu sambil menepuk pundak Axel.


"Eh? Ah, ya. Benar. Makananku." Balas Axel panik.


"Hahaha, apa yang terjadi padamu? Tak seperti biasanya kau seperti itu. Ini, aku akan tambahkan satu potong lagi daging sapi." Ucap penjaga kantin itu sambil meletakkan sebuah daging dengan bumbu yang begitu kental di nampan Axel.


Ia duduk dengan begitu anggun sambil melihat ke arah keluar jendela. Tangan kanannya nampak menopang dagunya, sedangkan tangan kirinya yang menyilaukan rambutnya itu membuat penampilannya begitu menawan.


'Sialan, apa yang terjadi padaku?' Tanya Axel pada dirinya sendiri.


Axel merasa bahwa ada yang benar-benar salah dalam dirinya.


Sebelumnya, Ia tak pernah memikirkan lebih lanjut ketika melihat ke arah Eva. Bahkan ketika Eva masih di rawat dalam tabung pemulihan itu.


Kondisinya sama seperti apa yang dilihatnya pagi ini.


Akan tetapi....


Entah kenapa Axel merasa ada sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang belum pernah di rasakan olehnya.


Di kejauhan, Eva mulai mengalihkan pandangannya ke arah Axel. Dengan lembut, Ia melambaikan tangan kirinya. Meminta agar Axel segera menyusul dan duduk di sebelahnya.


Langkah kakinya terasa begitu berat.


Tatapannya juga terpaku ke tanah.


Sedangkan kedua tangannya nampak begitu gemetar meskipun hanya membawa satu set makan pagi.


Semuanya terasa begitu berat. Atau mungkin, tubuhnya yang begitu kelelahan?


"Hei, masih ada waktu beberapa hari sebelum misi penaklukan kembali Kota ini. Apa yang akan kita lakukan setelah ini?" Tanya Eva yang masih menopang dagunya dengan tangan kanannya.

__ADS_1


Penampilannya sama seperti biasanya.


Yaitu wajah yang terkesan sedikit tomboy dengan rambut perak panjang yang diikat cepol menggunakan penjepit rambut.


Seragamnya sendiri juga sama. Yaitu sebuah seragam militer berwarna abu-abu dengan beberapa lapisan logam tipis di beberapa tempat.


Yang berbeda, mungkin hanya lah karena Eva tak membawa pedang besar itu di punggungnya.


Meski begitu....


"Cantik sekali...."


"Eh? Apa-apaan itu? Hahaha." Balas Eva setelah mendengar kalimat itu keluar dari mulutnya.


"Aah! Tidak, aku tak bermaksud seperti itu! Aku tak sengaja!"


Axel mulai panik.


Ia tak menyangka bahwa dirinya akan mengigau dan mengatakan hal itu secara tak sadar.


Tapi respon dari Eva sama sekali tak buruk. Tidak, lebih tepatnya Axel memang sebaiknya mengutarakan hal itu padanya.


"Terimakasih. Jarang ada yang mengatakan hal itu padaku." Balas Eva sambil tersenyum dengan begitu manisnya.


"Eh? Benar kah? Bagaimana dengan James? Ku pikir kalian berkencan?" Tanya Axel.


"Hahaha! James? Lebih tepatnya dia hanyalah teman minum di bar dalam benteng ini. Meskipun, aku tak pernah mengajaknya ke tempatku."


Balasan Eva itu membuat jantung Axel berdegup semakin kencang.


Ia ingin mengatakannya.


Ia ingin menanyakannya.


Tapi sebelum sempat membuka mulutnya, seseorang tiba-tiba muncul di hadapan mereka.


"Maaf mengganggu kemesraan kalian berdua. Axel, ikut denganku sebentar." Ucap Oracle yang berdiri tepat di samping meja makan itu.


Hanya dengan mendengar kalimat tegas dan juga wajah Oracle yang semakin hari terlihat semakin dipenuhi oleh rasa lelah itu, detak jantung Axel kembali normal.


Begitu pula dengan pernafasannya.


Seakan-akan, semua yang dirasakannya sebelumnya memudar begitu saja.


Mengembalikan dirinya pada mode pekerja yang tekun.


"Ada apa?" Tanya Axel singkat.


Tapi Oracle sama sekali tak menjawabnya. Ia hanya menatap tajam ke arah kedua mata Axel sambil memiringkan kepalanya sedikit. Mengisyaratkan agar Axel hanya diam dan mengikutinya saja.


Di sisi lain, Eva yang melihat itu cukup terkejut.


Selama bekerja sebagai Liberator....


Eva tak pernah melihat Oracle bersikap begitu serius kepada orang lain.

__ADS_1


__ADS_2