Liberator

Liberator
Bab 49 - Kecurigaan


__ADS_3

Axel terus mengikuti langkah kaki dari Oracle. Tapi wanita itu terus menerus terdiam.


Ia sama sekali tak mengeluarkan sepatah kata pun.


Bahkan setelah keduanya berada di dalam lift yang tak ada satu orang pun yang bisa melihat atau mendengar mereka. Oracle tetap diam.


Hingga akhirnya, keduanya tiba di lantai terbawah. Lantai dimana operasi khusus untuk mengubah seseorang menjadi Liberator dilaksanakan.


Dalam ruangan ini, tak ada satu orang pun yang berjaga.


Bahkan lampu dan listrik di ruangan ini masih mati. Membuat seluruh ruangan ini dipenuhi dengan kegelapan.


Wajar saja, itu karena ruangan ini hanya akan digunakan ketika seseorang berniat untuk menjadi Liberator.


Jika tak ada? Maka pihak administrator benteng akan menghemat energi dengan mematikan seluruh fasilitas dan mesin yang ada di lantai ini.


"Jadi, ada apa?" Tanya Axel kepada Oracle yang masih menarik tuas untuk menyalakan kembali listrik di ruangan ini.


Tapi Oracle masih tetap saja diam.


Hingga akhirnya, setelah Oracle mengutak-atik beberapa tombol di samping elevator itu, Ia mulai berbicara.


"Aku telah mengunci lantai ini sehingga takkan ada orang yang bisa masuk kemari melalui elevator. Tak ada jalan lain lagi selain itu. Jadi kita benar-benar hanya berdua." Ucap Oracle dengan nada datar.


Ia terlihat menarik sebuah kursi roda dan duduk di atasnya. Sebelum akhirnya menarik satu kursi lagi dan mendorongnya ke arah Axel berada.


"Apakah ada sesuatu yang buruk?" Tanya Axel.


"Singkatnya, cabang Asia Timur telah berkhianat. Aku telah mengumpulkan cukup banyak bukti. Termasuk rekaman panggilan mereka dengan Jendral Matsumoto." Jelas Oracle.


"Jadi memang benar seperti itu ya?" Balas Axel singkat.


Sebelumnya, saat Axel dipanggil oleh Oracle untuk berbicara empat mata, Axel memang sudah diperingatkan untuk mewaspadai para Liberator dan prajurit yang berasal dari Asia Timur.


Terutama pada dua orang. Yaitu Akane dan juga Hao Yu.


Kedua orang itu dinilai paling berbahaya oleh Oracle. Dimana Akane berbahaya karena kekuatannya, sedangkan Hao Yu berbahaya karena minimnya informasi atas dirinya.


Bahkan dengan kecerdasan dan data yang dimiliki oleh Oracle beserta bawahannya, Ia sama sekali tak bisa mengorek informasi mengenai Hao Yu.


Seakan-akan, orang itu tak pernah ada di dunia ini.


Setelah memikirkannya sejenak, Axel pun kembali bertanya kepada Oracle.


"Lalu, apa yang sebaiknya kita lakukan? Dan apakah mereka akan berkhianat saat operasi penaklukan ulang Kota ini?" Tanya Axel.


Oracle terlihat menggelengkan kepalanya. Menandakan bahwa pendapat Axel itu salah.


"Mereka takkan melakukannya saat ini. Tapi segera setelah kita memenuhi permintaan mereka membantu penaklukan ulang Kota Shanghai. Lebih dari itu, aku mengetahui sedikit tujuan mereka." Jelas Oracle tegas.


Axel kini mempersiapkan dirinya terhadap kebenaran yang akan diketahuinya.


Akan tetapi, Ia sama sekali tak mampu untuk siap atas jawaban yang diutarakan oleh Oracle. Tanpa sepatah kata pun, Oracle hanya mengangkat tangan kanannya. Mengarahkan jari telunjuknya tepat ke dada Axel dengan tatapan lelahnya.


"Tunggu, apa maksudnya itu?" Tanya Axel kebingungan.

__ADS_1


"Kau adalah target mereka. Tak seperti yang kau bayangkan, peringkat S di dunia ini seperti kita berdua sangat lah langka. Itu juga alasan kenapa aku harus membohongimu dulu setelah melihat potensi mu." Jelas Oracle.


Axel hanya terdiam dengan mulut yang menganga. Pada awalnya, Axel berpikir bahwa pihak Asia Timur hanya ingin menjatuhkan Amerika Utara atau apa.


Tapi tak di sangka, tujuan mereka ternyata adalah dirinya sendiri.


Mendengar hal itu, Axel pun teringat atas semua sikap Akane kepada dirinya. Sebuah sikap yang berusaha sekuat tenaga untuk akrab dengannya.


"Tapi tenang saja. Tak seperti mereka, aku masih menghargai mu sebagai manusia." Lanjut Oracle singkat.


"Memangnya apa yang akan mereka lakukan padaku? Kau mengetahui nya?" Tanya Axel yang mulai panik.


Keringat dingin mulai mengalir di keningnya. Begitu pula dengan detak jantungnya yang setiap detiknya semakin cepat.


Pikirannya telah membayangkan berbagai hal mengerikan yang mungkin akan di hadapi olehnya. Dan benar saja....


"Menurut pengamatan dari Leona dan juga Frans, kekuatan Akane itu sendiri tak masuk akal. Dan setelah mengamati faktor Flux di tubuhnya secara diam-diam, mereka berdua menyimpulkan konsentrasi Flux di tubuh Akane setidaknya 5 kali lipat lebih tinggi daripada semua Liberator di Amerika Utara.


Jika kau paham, wajar saja. Tapi pada intinya, operasi yang mereka jalani jauh berbeda dengan apa yang kita terima di sini. Dan konsentrasi sebesar itu, aku yakin akan berakibat sangat buruk pada tubuh mereka." Jelas Oracle panjang lebar.


Mendengar penjelasan itu, akhirnya Axel teringat atas satu kejadian yang benar-benar membekas di ingatannya.


Yaitu pemandangan dimana Akane benar-benar telah menerima tembakan peluru sniper tepat di lehernya. Sebuah serangan yang seharusnya dapat membunuh siapapun, termasuk Liberator.


Akan tetapi....


Akane bangkit begitu saja seakan serangan itu bukan lah masalah yang besar.


Bahkan bagi Liberator tipe fisik seperti Eva sekalipun, regenerasi Akane terlalu tinggi. Terlebih lagi....


Seketika, ekspresi wajah Axel pun mulai mengeras setelah Ia menyatukan seluruh pecahan kecurigaannya selama ini. Dimana Ia berakhir pada satu keyakinan, yaitu cabang Asia Timur memiliki banyak hal yang disembunyikan.


Mungkin terlalu banyak.


Saat Axel mulai merasa terancam atas hal tersebut, Oracle nampak menyerahkan sesuatu padanya.


Genggaman tangan Oracle itu memukul dada Axel secara perlahan. Dan apa yang digenggam olehnya adalah sebuah kapsul kecil dengan bentuk segienam.


Sebuah kapsul yang sama seperti sebuah Flux Booster. Akan tetapi, ukurannya hanya setengahnya saja.


"Axel. Kau adalah satu-satunya yang bisa ku percaya untuk melakukan sesuatu jika pihak Asia Timur mulai berkhianat. Aku percaya pada kemampuanmu.


Dan ini, adalah sebuah obat eksperimental buatan Frans dan Leona. Kau tak perlu tahu campuran apa saja yang ada di dalamnya.


Tapi jika kau menyuntikkannya di bagian tubuh mana pun, kau akan memperoleh kekuatan yang sangat besar dalam waktu singkat. Tentu saja, dengan kesehatan tubuhmu sebagai bayarannya." Jelas Oracle dengan wajah seriusnya.


Tak ada sedikit pun ruang untuk bermain-main saat ini. Mungkin, nasib umat manusia di benua Amerika Utara ini bergantung padanya.


Axel pun meraih kapsul kecil itu dengan ragu-ragu. Padahal, umurnya saja sudah terpotong begitu banyak akibat pertolongan Eva di masa lalu.


Tapi sekarang Oracle justru memberikannya obat eksperimental yang belum teruji?


"Aku tahu apa yang kau pikirkan. Menggunakannya atau tidak itu keputusanmu. Tapi setidaknya, aku memberikan peluang bagi mu untuk menghadapi kesulitan suatu saat nanti." Ucap Oracle yang kini berjalan melewati Axel.


Secara perlahan, Oracle kembali membuka kunci pada lantai ini dan memanggil elevator itu kembali ke bawah.

__ADS_1


Bersiap untuk meninggalkan ruangan ini.


"Apakah.... Akane sekuat itu?" Tanya Axel.


Oracle hanya terdiam sambil menanti tibanya elevator.


'Ding!'


Setelah pintu elevator itu terbuka, Oracle pun berjalan memasukinya. Menunggu agar Axel juga segera masuk ke dalam elevator itu.


Dan sesaat setelah Axel melangkah masuk ke dalam elevator itu, Oracle pun menjawab pertanyaan dari Axel.


"Cukup kuat untuk membunuh kita berdua tanpa terluka. Setidaknya, itu adalah hasil pengamatan Leona dan Frans pada dirinya."


Mampu melawan dua peringkat S sekaligus. Sekuat itu lah penilaian Leona dan Frans hanya berdasarkan dari konsentrasi Flux di tubuh Akane.


Sekalipun Axel belum pernah mengetahui seberapa kuat Oracle itu sendiri, Axel bisa merasakannya. Bahwa Oracle mungkin cukup kuat untuk membunuhnya dalam satu tebasan bilah anginnya.


......***......


'Ding!'


Elevator itu kembali terbuka. Dan kini, Axel serta Oracle telah kembali di lantai kedua dari kantin markas militer ini.


Di kejauhan, Axel dapat melihat sosok Eva yang masih duduk dengan santai sambil melihat ke arah luar dari jendela itu.


Makanannya bahkan masih utuh. Begitu pula dengan nampan makanan milik Axel.


"Maaf mengganggu kencan mu. Tapi anggap saja kapsul itu sebagai bantuan dari ku untuk menjaganya.


Ingat, rahasiakan semua pembicaraan kita dengan baik. Jika sampai bocor, akan ku anggap kau juga bagian dari pengkhianat." Ucap Oracle dengan suara yang lirih sambilsegera meninggalkan Axel sendirian di depan elevator itu.


Beberapa prajurit seragam hitam nampak berjalan melewati dirinya. Bermaksud untuk menggunakan elevator itu.


Sedangkan Axel sendiri, masih memegang kapsul yang diberikan oleh Oracle sebelumnya. Kini, Ia telah menyimpannya di balik seragamnya.


Dan setelah membulatkan tekadnya, Axel menerima saran dari Oracle.


Jika memang pihak Asia Timur merencanakan sesuatu yang berbahaya, terutama sesuatu yang membahayakan Eva....


Axel takkan ragu untuk menggunakan kapsul itu.


"Maaf membuatmu menunggu." Ucap Axel yang berjalan kembali ke arah meja mereka berdua.


"Tak masalah. Jadi apa yang dibicarakan oleh Oracle padamu?" Tanya Eva sambil meneguk minumannya yang tak lagi dingin itu.


"Hanya soal misi penaklukan ulang Kota ini beberapa hari kedepan." Balas Axel singkat sambil berusaha memikirkan alasan yang tepat.


"Begitu kah? Memangnya ada apa dengan misi itu?" Tanya Eva penasaran.


"Aaah.... Tidak ada. Ia hanya bilang untuk bekerja dengan baik dan menjaga prajurit yang lainnya. itu saja."


Percaya dengan apa yang dikatakan oleh Axel, Eva hanya mengangguk mengiyakan perkataannya. Setelah merasa pembicaraan pada topik itu terhenti, Eva pun segera mengangkat sendok dan garpunya.


"Kalau begitu, mau makan sekarang?" Tanya Eva dengan senyuman yang ramah di wajahnya.

__ADS_1


"Tentu saja. Aku sudah lapar sejak pagi tadi."


__ADS_2