Liberator

Liberator
Bab 83 - Pertikaian


__ADS_3

Axel telah mempersiapkan dirinya atas pertarungan ini semenjak melihat lautan api di kejauhan. Ia yakin, bahwa Akane akan datang.


Hanya saja, Ia sama sekali tak menyangka bahwa dirinya harus melawan 3 Akane sekaligus.


Dengan fokus yang tinggi, Axel mulai mengalirkan elemen listrik ke sekujur tubuhnya. Memperkuat seluruh bagian tubuhnya dengan elemen petir.


A-01 yang melihat hal itu sedikit terkejut.


"Hmm? Bagaimana kau bisa melakukannya tanpa perangkat Flux?" Tanya A-01 kebingungan setelah sebelumnya melihat tak ada mesin di punggung Axel.


Seharusnya itu adalah hal yang mustahil. Tapi bagaimana Axel bisa melakukannya?


"Kemungkinan hasil penelitian yang kita lakukan berhasil. Sehingga pembuatan organisme hibrid antara manusia dan Chimera bisa dilakukan." Balas A-02 yang telah bersiap untuk menembakkan panah api biru itu.


"Kalau begitu.... Kita harus segera mengamankannya untuk mempelajari tubuhnya...." Ucap A-03 dengan nada yang sedikit lemas.


Di sisi lain, Axel masih terdiam di tempat dalam posisi yang siap untuk bertarung. Ia masih terus mengalirkan kekuatan tambahan pada sekujur tubuhnya.


Hingga akhirnya, setelah semuanya siap....


'Deg! Deg!'


Axel mendengar detak jantung terakhirnya sebelum dunia ini kembali melambat.


Sebuah fenomena yang dialaminya ketika menggunakan obat eksperimental dari Oracle itu. Kini bisa diulangnya kembali dengan bermodalkan energi Flux yang besar.


Semuanya terlihat bergerak dalam kondisi yang begitu lambat. Termasuk kobaran api dari busur api biru milik A-02.


Begitu pula dengan gerakan tangan dari A-01 yang terlihat siap untuk menembakkan serangan api.


Dalam dunia yang melambat ini, hanya Axel seorang yang bisa bergerak dalam kecepatan normal.


'Tap!'


Axel mulai melangkahkan kakinya. Berlari tepat ke arah Akane berada. Dengan kedua tangan yang telah siap untuk mengayunkan pedangnya.


Tanpa keraguan, Axel dengan cepat mengayunkan pedangnya tepat ke arah leher Akane.


'Zraaaaaaatttt!!!'


Akan tetapi....


'Swuuooossshhh!! Klaaangg!!'


Pedang Axel sama sekali tak bisa menembus leher A-01. Dimana sesaat setelah pedang itu menyentuh lehernya, kobaran api biru yang kuat segera menelan pedang Axel. Melelehkannya menjadi dua bagian.


Melihat kejadian itu, Axel segera bergerak mundur. Menjauhi sosok A-01 yang masih dalam keadaan gerakan melambat itu.


Setelah cukup jauh, Axel pun menghentikan kemampuannya. Membuat dunia kembali bergerak dalam kecepatan normal.


"Hmm?" Ucap Akane kebingungan melihat lehernya diselimuti oleh api.

__ADS_1


Ia kemudian melihat ke arah Axel di kejauhan, ya v memegang pedang yang telah patah itu.


"Apa yang terjadi barusan?"


"Entah lah...."


A-02 dan A-03 terlihat menghentikan gerakan mereka sambil berusaha untuk memahami apa yang sebenarnya baru saja terjadi di sini. Dimana untuk sesaat, mereka merasa ada banyak hal yang terjadi.


Sementara itu di sisi lain, Axel hanya bisa menatap Akane, atau A-01 itu dengan rasa takut.


'Yang benar saja? Apakah dia benar-benar masih manusia? Reaksi dari kemampuannya bahkan melebihi reaksi dari dirinya sendiri.' Keluh Axel dalam hatinya.


Ia merasa bahwa kemampuan Akane sama sekali tak wajar. Dan dalam kondisinya saat ini, Axel hanya punya satu jawaban.


'Zraaaatt!'


Axel kembali berlari dengan secepat mungkin. Tapi sebelum itu, Ia melemparkan pedangnya jauh-jauh karena tak lagi bisa digunakan.


Sebagai gantinya, Axel mengarahkan ujung jarinya tepat ke kepala Akane. Menembakkan sambaran petir tepat ke wajahnya.


'Duaaaarrrr!!!'


Sambaran petir itu seharusnya dapat menembus kepala Akane dengan mudah. Tapi pada kenyataannya, Akane hanya mengalami luka bakar tingkat 3 di wajahnya dan bekas aliran listrik di sekujur tubuhnya.


Bahkan, Akane sama sekali tak terlempar setelah menerima serangan itu. Ia hanya terlihat seperti seseorang yang terkena tamparan biasa.


Dan dari kejauhan, Axel melihat tubuh Akane mulai meregenerasi luka yang diterimanya.


Hal itu sama sekali tak bisa dinalar oleh Axel.


Bukankah kekuatan Akane telah cukup tinggi? Lalu kenapa masih mencari kekuatan lain? Terlebih lagi, jenis kekuatan yang serupa?


Tapi bukan lah jawaban yang diperoleh Axel. Melainkan tiga buah anak panah dengan api biru yang hampir saja membunuhnya.


'Swuuusshh! Swuusshh! Jleeebb!'


Dari tiga anak panah yang melesat ke arahnya, salah satu dari anak panah itu berhasil menancap tepat di dadanya. Tak berhenti di sana, api biru itu mulai melahap dan membakar tubuh Axel dengan cepat.


"Takkan ku biarkan." Ucap A-03 yang mengarahkan lengannya ke arah Axel berada. Dimana Ia terlihat dengan jelas mengendalikan pergerakan api biru itu dan memperkuatnya.


"Aaaaaarrrgghh!!!"


Hanya dalam sekejap, api itu pun menyelimuti sekujur tubuh Axel. Membakarnya dengan cepat.


"Apakah sudah cukup?" Tanya A-03 yang masih terus mengendalikan api di tubuh Axel itu kepada A-01.


"Belum. Dia masih bisa bergerak, lihat."


Di kejauhan, sosok Axel yang telah diselimuti api biru itu berada dalam neraka dunia. Pada satu sisi, tubuhnya beregenerasi dengan cepat sehingga luka apapun yang dialaminya segera sembuh.


Tapi di sisi lain, Ia merasakan rasa sakit yang terus menerus berulang kembali setiap saat tubuhnya beregenerasi.

__ADS_1


Tak ada lagi pilihan, Axel kembali menggunakan sebagian besar kekuatannya untuk sekali lagi memasuki mode dunia yang melambat itu.


'Sraaaaattt!'


Sesaat setelah aliran listrik mengalir keluar dari tubuhnya, seluruh dunia terlihat menjadi jauh lebih lambat.


Dan yang dilakukan oleh Axel?


Ia melarikan diri. Meninggalkan ketiga Akane itu di ruangan ini.


Axel menyadari bahwa kemampuannya telah meningkat drastis semenjak memperoleh operasi dari pihak Rusia itu. Meski begitu, masih banyak yang belum dipahaminya.


Dan karena itu lah, Axel memutuskan untuk melarikan diri.


Agar bisa selamat, dan menghadapi Akane di lain waktu.


'Tap!'


Axel terlihat berlari dengan santai di saat seluruh dunia terlihat terdiam. Terpaku di tempat dimana mereka sebelumnya berada.


Hanya dalam sekejap, Ia berlari sejauh mungkin.


Sedikit demi sedikit. Api yang terus membakar tubuhnya itu terlihat tertinggal oleh kecepatan larinya. Membuat Axel tak lagi terselimuti oleh api biru yang mematikan itu.


Hingga akhirnya, hanya dalam sepersekian detik saja....


'Swuuusshhh!'


Tekanan angin yang sangat kuat dapat dirasakan oleh ketiga Akane yang berdiri di tengah bekas markas rahasia milik Rusia ini.


Senyuman yang tipis pun terlihat di wajah A-01.


"Lihat kan? Aku tahu dia akan melakukannya." Ucap A-01 sambil membalikkan badannya secara perlahan ke arah dimana sisa kobaran api biru di tubuh Axel berada.


"Jika targetnya seperti ini, hampir tak mungkin untuk menangkap tanpa membunuhnya kau tahu?" Keluh A-02 yang mulai memadamkan busur apinya itu.


Sedangkan A-03 sendiri terlihat mengumpulkan sisa-sisa api yang ada di sekitar mereka. Menyerapnya ke arah tangan kanannya.


"Menurutku, lebih baik membunuhnya." Ucap A-03.


Sambil memandang ke arah kejauhan, A-01 pun membalas.


"Tidak, itu tidak bisa. Data yang ada di tubuhnya terlalu berharga. Tapi kalian benar.... Mungkin menangkapnya hidup-hidup hampir mustahil. Jadi bagaimana kalau membunuhnya tanpa merusak terlalu banyak tubuhnya? Agar dokter di Asia Timur bisa mempelajari kode genetiknya." Jelas A-01 panjang lebar.


A-03 terlihat menganggukkan kepalanya dengan ringan. Sementara A-02 terlihat memberikan balasan yang singkat.


"Ku rasa aku bisa melakukannya."


Perburuan untuk memperoleh tubuh Axel pun dimulai. Dimana ketiga Liberator tingkat S itu takkan berhenti sebelum memperoleh tujuan mereka.


Sementara itu, Axel masih sibuk berlari kesana kemari. Mencari keberadaan adiknya di tengah-tengah kerumunan para pengungsi.

__ADS_1


__ADS_2