
"Jadi, apakah kakak akan mengatakan semuanya padaku?" Tanya Chloe sambil duduk di depan meja makan itu.
Di samping kanannya, nampak segelas teh hangat dan beberapa kue kering.
Chloe nampak tak berani menatap ke arah wajah kakaknya itu. Ia hanya terus memandangi asap putih dari panasnya teh di gelas itu.
"Kau yakin ingin mengetahuinya?" Tanya Axel.
Chloe tak menjawab. Ia hanya menganggukkan kepalanya secara ringan untuk membalas pertanyaan Axel itu.
"Baiklah, darimana kita memulainya?"
"Dari kenapa kau bergabung pasukan militer itu." Balas Chloe yang masih tak berani mengangkat wajahnya untuk menatap ke arah mata Axel.
Pertanyaan itu sedikit membuat Axel kebingungan atas bagaimana cara menjawabnya. Apakah Ia harus mengatakan yang sejujurnya dimana Ia telah sedikit ditipu oleh para anggota divisi khusus lainnya?
Atau....
"Mereka bilang, mereka membutuhkan diriku. Hanya ada 14 Liberator di benteng ini. Dan mereka...."
"Aku tak peduli soal itu! Tapi kenapa?! Bukankah mereka sudah punya cukup Libera apalah itu?! Kenapa kakak harus ikut bergabung? Kenapa?"
Kali ini, Chloe mengangkat wajahnya. Kedua matanya berkaca-kaca dan mulai sedikit meneteskan air mata.
Chloe hanya ingin keduanya dapat hidup bersama, bertahan dalam dunia yang telah mati ini.
Sekalipun tak ada fasilitas yang nyaman atau sebagainya, Chloe takkan mempermasalahkan hal itu selama Ia bisa bersama dengan kakaknya.
Tapi ini?
"Kau tahu betapa khawatirnya aku padamu Kak? Beberapa prajurit bilang kalian para Liberator bertarung di garis terdepan dalam situasi yang berbahaya! Bahkan kemarin.... Saat aku melihat kakak kembali...."
Axel pun teringat. Ia tak sadarkan diri dalam waktu yang cukup lama.
Ia tak memiliki sedikit pun kenangan atas bagaimana dirinya bisa tiba di benteng ini kembali.
"Wanita berambut perak itu yang membawamu kembali! Ia bilang keadaanmu benar-benar buruk! Tapi wanita itu sendiri memiliki tubuh yang dipenuhi dengan darah! Ku pikir kakak akan meninggalkan ku!" Teriak Chloe sambil menangis tersedu-sedu.
"Maaf...."
Axel tak lagi mampu untuk membantah perkataan dari adiknya itu. Ia memang sedikit menyesal karena harus melihat adiknya seperti ini.
Tapi bagaimana jika Ia tak bergabung?
Eva tetap akan bekerja sendirian, sama seperti ketika Eva menyelamatkan Axel. Dan jika itu terjadi, lalu Eva menerima misi yang sama seperti sebelumnya....
Tak diragukan lagi Eva akan mati pada misi itu. Termasuk juga seluruh pengungsi itu.
'Tap!'
Axel mengangkat wajah Chloe dengan kedua tangannya. Mengusap air mata yang membasahi wajahnya itu dengan ibu jarinya.
__ADS_1
Secara perlahan, Axel menatap kedua mata adiknya yang mulai memerah itu.
"Chloe, aku minta maaf telah membuatmu khawatir. Tapi kau harus tahu, tugas ku.... Adalah menyelamatkan banyak orang." Ucap Axel.
"Apakah tak bisa memberikan tugas itu kepada orang lain saja? Kenapa harus kakak? Kenapa?" Tanya Chloe yang masih terus menangis.
Axel menarik nafasnya dalam-dalam sebelum menjawab pertanyaan itu.
"Itu karena aku diberkati dengan kekuatan yang sedikit di atas yang lainnya. Dan sudah kewajiban ku untuk memanfaatkannya agar bisa menyelamatkan orang lain. Setidaknya, bisa melindungi mu."
Chloe hanya terdiam.
Ia juga melihat dengan mata kepalanya sendiri para pengungsi yang diselamatkan oleh Axel.
Termasuk seroang gadis kecil yang menyeret boneka beruangnya di tanah. Ia nampak begitu khawatir mengenai kondisi Axel.
Setelah terdiam selama beberapa saat, Chloe pun kembali berbicara.
"Baiklah, aku paham." Ucap Chloe.Ia mulai tenang setelah mengusap seluruh air mata di wajahnya itu.
"Aaah, benar juga. Ini untukmu." Ucap Axel sambil memberikan sebuah box ponsel kepada Chloe.
"Ini?"
"Ponsel, apalagi? Mulai sekarang kita bisa berhubungan sekalipun terpisah jarak. Tak begitu buruk bukan?" Balas Axel sambil tersenyum lebar.
Keduanya mencoba untuk menambahkan kontak satu sama lain dan mengirimkan pesan.
"Masuk." Balas Chloe sambil tersenyum puas.
"Bagus. Kalau begitu, aku ingin tidur. Entah kenapa lelah sekali hari ini. Dimana kamarku?" Tanya Axel.
Chloe hanya terdiam. Wajahnya nampak memerah dan tak berani untuk menatap mata kakaknya itu.
"Chloe, ada apa?" Tanya Axel.
"Kakak.... Bisakah kita.... Tidur bersama? Sama seperti saat kita hidup di bawah reruntuhan itu? Lagipula, kakak akan pergi lagi setelah ini bukan?" Ucap Chloe sambil terus memandangi lantai.
"Hmm.... Kau benar. Mungkin aku akan pergi besok. Baiklah, tak masalah selama ranjangnya cukup luas." Balas Axel sambil membelai rambut adiknya itu.
Chloe pun menarik tangan kanan kakaknya dan membawanya ke dalam kamarnya.
Dan untuk pertama kalinya....
Axel bisa menikmati ranjang yang luas dan empuk di dalam benteng ini. Tanpa harus tidur di dalam tabung penuh dengan cairan hijau itu.
......***......
Keesokan harinya.
Axel telah kembali berkemas. Ia mengenakan seragamnya yang telah dicuci itu dengan rapi. Begitu pula dengan sepatu tebalnya yang sedikit dilapisi baja tipis.
__ADS_1
Di punggungnya, sebuah tongkat baja yang panjang nampak terkunci pada perangkat segienam itu. Sedangkan di sampingnya adalah sebuah tas yang berisi anak panah. Jumlahnya mencapai 50.
"Kakak, hati-hati." Ucap Chloe dengan senyuman yang begitu manis.
"Ya. Aku akan segera kembali lagi." Balas Axel juga dengan senyuman yang ramah.
Dari samping pintu itu, sosok Chloe nampak terus melambaikan tangannya ke arah kakaknya yang berjalan semakin menjauh. Sekali lagi meninggalkannya sendirian di dalam apartemennya ini.
Sementara itu, di saat Axel baru saja keluar dari apartemen ini, ponselnya berbunyi. Saat mengangkatnya, Axel melihat panggilan tanpa nomor, yang hanya memiliki nama singkat yaitu [Liberator].
"Ya, halo?" Ucap Axel setelah mengangkat ponselnya itu.
"Semalam menyenangkan? Kalau iya, cepat kembali ke lantai B19. Eva telah sembuh, dan aku akan memberikan misi baru untukmu." Ucap wanita yang tak lain adalah Oracle itu sendiri.
"Menyenangkan?! Apa maksudmu dengan...."
"Bagus. Aku akan menunggumu." Balas Oracle singkat sambil segera menutup panggilan itu.
Wajah Axel sedikit memerah setelah mendengar perkataan dari Oracle itu.
'Tunggu? Bagaimana Ia tahu jika aku....'
Axel segera mengenyahkan pemikiran itu dan berjalan pergi. Untuk menuju ruang rapat utama di lantai B19.
......***......
Lantai B19.
Ruang Rapat Utama Liberator.
'Bzzztt!'
Pintu otomatis itu terbuka, memperlihatkan pemandangan ruang rapat yang jauh lebih ramai dari biasanya.
Seluruh anggota divisi khusus Liberator hadir di ruangan ini. Dengan jumlah total dari mereka mencapai 15 orang, termasuk Axel itu sendiri.
"Kau sudah tiba, Axel? Cepat duduk." Ucap Oracle di ujung ruangan ini.
"Axel, kemari lah." Ucap Eva sambil menepuk ringan kursi besi di sampingnya.
Dengan segera, Axel berjalan mendekat untuk duduk di samping Eva.
Setelah itu, Oracle segera meredupkan beberapa lampu di ruangan ini dan memulai rapat untuk membahas langkah baru dari Liberator.
"Seperti yang kalian semua ketahui, Cabang Asia Timur akan memberikan bantuan kepada kita untuk mengambil alih kembali sebagian tanah di wilayah kita.
Untuk itu, misi kita saat ini hanya satu. Yaitu melakukan pembersihan di sekitar wilayah ini dari monster, terutama di lokasi bandara agar pesawat mereka bisa mendarat dengan selamat. Mengerti?" Tanya Oracle dengan suara yang keras.
Semua orang pun menjawab dengan serempak.
"Dimengerti!"
__ADS_1