
Segera setelah mengunci kembali tombaknya, Axel mulai berjalan secara perlahan.
Kedua matanya terkunci pada sosok monster hewan buas itu. Sementara itu, tangan kirinya mulai menekan earphone komunikasi di telinga kirinya.
'Tap!'
"Axel di sini. Sektor Utara melihat kemunculan monster yang tak diketahui. Apakah kalian bisa mengidentifikasi nya?" Tanya Axel melalui saluran komunikasi itu.
"Oracle di sini. Berikan koordinat tepatnya."
Axel pun segera menyebutkan angka koordinat di posisinya dengan rinci.
Dan setelah beberapa puluh detik menanti, Oracle pun kembali berbicara.
"Axel.... Ku pikir sebaiknya kau kabur. Tidak. Pancing monster itu menjauh dari area konstruksi sekarang juga." Balas Oracle dengan suara yang sedikit berat.
Ia seakan-akan terdengar tak mampu mempercayai apa yang baru saja ditemukannya.
"Ada apa?" Tanya Axel singkat.
Di sebelah Axel berdiri, Eva yang telah selesai mengurus evakuasi turut bergabung. Kedua tangannya nampak membawa pedang besar itu dengan erat.
Dan tentunya, komunikasi itu juga didengar oleh Eva karena berada dalam tim dan frekuensi yang sama dengan Axel.
"Tak bisa diidentifikasi. Pengamatan kasar energi Flux di tubuhnya menunjukkan setidaknya monster itu berada di tingkat B.... Tidak. Setidaknya Ia berada di tingkat A." Jelas Oracle dengan suara yang lemas.
"Tingkat A? Kau bilang sama seperti Phantom itu?" Balas Axel.
Suara keributan dari markas pusat itu terdengar oleh Axel melalui saluran komunikasi tersebut. Menunjukkan bahwa di sana situasi juga sama buruknya.
Akan tetapi, Axel sama sekali tak bisa membuang lebih banyak waktu lagi.
Setiap kalimat yang mereka utarakan, monster itu semakin mendekat. Dan kini jaraknya mungkin hanya sekitar 1 menit lagi. Sebelum akhirnya akan berhadapan dengan tim Axel dan Eva.
"*Axel. Aku tak peduli apa yang akan kau lakukan tapi.... Pancing monster itu menjauh. Aku telah mengirimkan permintaan bantuan pada beberapa Liberator yang lainnya untuk menuju ke tempatmu.
Intinya, monster itu benar-benar berbahaya. Pengukuran energi Flux di tubuhnya terus menerus meningkat dengan drastis. A+.... Saat ini Ia berada di tingkat A*+." Jelas Oracle.
Suaranya terdengar begitu lemas.
Di satu sisi, Axel pernah melawan monster tingkat A satu kali. Yaitu Phantom.
Meski begitu, Ia melawannya dari jarak yang sangat jauh dan juga dengan bantuan Akane di sana.
Saat melihat berkasnya, Phantom masuk ke peringkat A karena serangannya yang mematikan dan kecepatan geraknya yang begitu lincah.
Tapi ini....
Monster yang ada di hadapan Axel....
"Yang benar saja." Ucap Axel sambil segera meraih Flux Booster di pinggang kanannya. Ia menyerahkannya kepada Eva.
"Axel? Kau yakin?" Tanya Eva ragu.
"Tentu saja. Tolong." Balas Axel singkat.
__ADS_1
Dengan segera, Eva menerima tabung Flux Booster itu. Mengarahkannya tepat di punggung Axel dan menyuntikkan cairan itu ke dalamnya.
Rasa sakit yang menyerupai perasaan terbakar mulai dirasakan oleh Axel di sekujur tubuhnya. Tapi Ia telah cukup terbiasa dengan perasaan sakit itu.
Apa yang terpenting baginya saat ini, adalah sebuah kekuatan.
Kekuatan yang cukup untuk menandingi apa yang tak diketahui olehnya.
'Tap! Blaaaarrr!'
Axel dengan cepat menghentakkan kakinya lalu mulai berlari ke arah monster itu.
Eva berusaha untuk menyusulnya. Tapi itu mustahil karena kecepatan Axel dalam kondisi ini terlalu tinggi.
Hanya dalam sekejap, Axel pun telah tiba tepat di hadapan monster itu.
Ukuran tubuhnya benar-benar membuat monster-monster lain yang dijumpainya selama ini seperti sebuah mainan anak-anak.
Tinggi tubuh monster itu setidaknya 4 meter dengan panjang tubuh mencapai 6 meter, belum termasuk dua ekor panjangnya.
Saat Axel mengayunkan tombaknya itu tepat ke arah kaki depan monster itu....
'KLAAAAAAANNGGG!!!'
Suara benturan terdengar begitu nyaring. Tombak Axel itu terpental sesaat setelah kontak dengan kaki depan monster itu.
Tidak....
Lebih tepatnya, mengenai cakar besar dari jari monster itu.
'Bahkan Ia bisa bereaksi dengan kecepatan ini?!' Teriak Axel dalam hatinya.
Dan benar saja.
'Blaaaaaarrrr!!!'
Monster itu mengayunkan lengan kanannya dengan sangat kuat ke arah Axel sebelumnya berdiri. Menghancurkan jalanan beton itu dengan begitu mudahnya.
'Yang benar saja....' Pikir Axel dalam hatinya.
Bahkan dengan kondisi menerima Booster, Axel sama sekali tak bisa menandingi monster itu. Ia memang tahu itu mustahil.
Tapi setidaknya, Axel ingin mencobanya.
Setelah memahami kondisi ini, Axel pun mulai menjalankan apa yang diperintahkan oleh Oracle.
Ia membuka kembali kunci di tombaknya. Mengubahnya menjadi busur dan menembakkan beberapa anak panah ke tubuh monster itu.
'Klaangg! Klaaangg! Jleebb!'
Dua dari tiga anak panah itu berhasil ditangkis dengan mudah menggunakan ekor monster itu. Tapi satu anak panah berhasil menancap di paha monster itu.
Meskipun tak begitu dalam, tapi kini Axel tahu.
Monster itu memiliki bagian tubuh yang lunak. Setidaknya tak dilindungi oleh sisik yang sangat tebal seperti Lizardmen pada saat itu.
__ADS_1
"Kemari lah kau!" Teriak Axel dengan keras sambil menembakkan kembali beberapa anak panah.
Menerima beberapa serangan dari Axel itu, monster itu pun mulai mengalihkan perhatiannya. Dan kini fokus untuk memperhatikan seluruh gerakan dari pemuda itu.
Ia membalikkan badannya dan mulai mengejar Axel.
Kontras dengan badannya yang sangat besar, monster itu benar-benar sangat cepat dan lincah.
Layaknya seekor singa yang mengejar mangsanya.
Di kejauhan....
"Sialan, Axel!" Teriak Eva dari kejauhan.
Saat Eva mulai berhasil menyusulnya, Axel telah memancing monster itu menjauh dengan cepat. Membuat jarak antara mereka berdua semakin menjauh.
Tapi setidaknya, kecepatan dari Axel jauh melampaui monster itu. Membuat Axel tak mungkin terkejar atau pun tertangkap.
Hanya saja....
Sampai seberapa lama hal itu akan bertahan?
......***......
Markas Pusat.
Lantai B19.
Keributan terjadi di ruang rapat utama ini. Puluhan pegawai militer, prajurit, dokter, pengamat, serta operator nampak sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.
"Tuan James! Tolong segera bergerak ke sektor Utara dan berikan bantuan kepada Axel serta Eva. Ya. Ini situasi yang sangat darurat dan...."
"Itu benar Tuan Johann. Monster yang belum teridentifikasi itu terlihat dan...."
"Frans! Bagaimana hasil pengamatannya?"
"Leona! Apakah ada yang melihat Leona?!"
Semua orang berteriak. Berharap untuk dapat menyelesaikan pekerjaan mereka dalam kondisi kritis ini.
Tapi hanya ada satu orang yang diam.
Ia tak lain adalah Oracle.
Wanita itu memandangi banyak layar di hadapannya. Berusaha untuk memproses seluruh informasi yang ada dengan akurat dan rapi.
Dimana kemudian, Ia lah yang akan memberikan keputusan terhadap tindakan selanjutnya.
"Oracle. Ini sangat buruk sekali." Ucap Frans dengan wajah yang begitu tegang.
Di kedua tangannya terlihat sebuah tablet yang menyala. Foto citra satelit nampak terlihat di layar tablet tersebut.
"Ada apa?" Tanya Oracle yang tak mau mengalihkan perhatiannya dari seluruh layar monitor itu.
Frans tak menjawab. Ia hanya menyodorkan tablet itu tepat di hadapan wajah Oracle.
__ADS_1
Dan seketika, ekspresi wajah lelah Oracle seakan menghilang. Tergantikan oleh ekspresi wajah yang penuh rasa terkejut serta rasa takut.
"Yang benar saja?! Ini kan...."