
14 September, 2025.
Hari ini adalah hari yang dinanti-nanti oleh pada Liberator dari Cabang Amerika Utara.
Sebanyak 10 Liberator telah bersiaga di sekitar Bandara Internasional Los Angeles. Atau setidaknya, apa yang tersisa dari bandara itu.
Ratusan prajurit berseragam hitam telah bersiaga di seluruh reruntuhan bandara itu.
Proses pembersihan lapangan lepas landas telah dilakukan semenjak satu Minggu yang lalu. Sementara itu, para prajurit berseragam hitam yang lengkap dengan senapan mesin mereka, mulai bersiaga.
Menjaga wilayah ini dari serbuan monster yang mungkin akan datang untuk menyerbu.
Ini adalah sebuah misi yang sangat berbahaya bagi Cabang Amerika Utara. Sekaligus sebuah operasi yang paling besar yang pernah mereka lakukan.
Total sebanyak 4 buah pesawat besar yang membawa 20 Liberator dan 400 prajurit reguler akan tiba di wilayah California ini.
Tujuan mereka hanya satu. Yaitu untuk membantu Liberator yang berada di cabang Amerika Utara untuk segera pulih.
Melalui penaklukan ulang tanah yang telah direbut oleh para monster dan juga penyelamatan warga yang masih bertahan hidup di sekitar wilayah Amerika Utara ini.
Sementara itu, 7 orang Liberator bersiaga di sekitar lapangan lepas landas bandara tersebut. Mereka merupakan Liberator dengan kemampuan jarak dekat. Yang akan menghadapi monster secara langsung.
Sedangkan 3 orang Liberator yang lainnya bersiaga di puncak salah satu gedung yang belum sepenuhnya runtuh itu.
Bersama dengan mereka, adalah 20 prajurit seragam hitam yang merupakan penembak jitu atau sniper. Bertugas untuk mendukung pasukan di garis depan dari kejauhan.
Dari 3 Liberator itu, Axel nampak berdiri di puncak gedung yang setinggi 62 lantai itu.
Di punggungnya, terdapat sebuah senjata baru yang diperolehnya dari Departemen Persenjataan. Sebuah senjata yang ditempa dari sisik Lizardmen Abnormal yang hampir membunuhnya itu.
Senjata Axel memiliki tipe Hybrid yang sama seperti sebelumnya, yaitu tipe Tombak dan Panah yang bisa berubah-ubah sesuai dengan kebutuhan Axel.
Tapi perbedaannya, senjata generasi pertama memiliki alur warna biru yang indah di sekitar senjata itu.
Sedangkan senjata generasi kedua, adalah senjata prototipe yang masih dalam tahap ujicoba. Dan Axel, adalah Liberator pertama yang menggunakannya.
Senjata itu memiliki alur berwarna kehijauan yang menyala membentuk alur rumit di sepanjang senjata itu. Tentu saja, senjata generasi kedua ini menyerap lebih banyak energi Flux dibandingkan dengan generasi pertama.
Dan kekuatannya, setidaknya sekitar 3x lipat daripada senjata generasi pertama.
Meski begitu, Oracle memperingatkan satu hal kepada Axel saat akan menggunakan senjata itu.
"*Perlu kau ketahui, senjata itu masih berupa prototipe. Mungkin akan memberikan beban yang besar bagi tubuhmu.
Selagi kau menggunakannya, kami akan selalu memantau data yang diperoleh dari senjata itu untuk mengembangkan generasi kedua yang lebih stabil*." Jelas Oracle melalui earphone yang menempel di telinga kiri Axel itu.
"Ya, aku mengerti." Balas Axel singkat.
__ADS_1
"Axel. Jangan mati." Ucap Oracle sebelum menutup saluran komunikasi itu untuk sementara.
Senyuman yang tipis nampak terlukis di wajah Axel.
Tentu saja, dirinya tak ingin mati.
Lagipula, adiknya juga meminta hal yang sama.
Akan tetapi....
Bukan kah kematian telah berada tepat di depan matanya? Setiap detik berlalu, Axel tahu bahwa dirinya semakin dekat dengan kematian yang pasti.
Bukan karena musibah atau kematian dalam pertarungan.
Melainkan, karena tubuhnya takkan mampu menahan efek samping dadi energi Flux itu sendiri.
Saat Axel masih terdiam di puncak gedung ini, memandangi keseluruhan wilayah Los Angeles dari ketinggian, seseorang nampak memanggilnya.
"Axel, kau sudah siap?" Tanya seorang wanita dengan rambut hitam panjang dengan poni yang menutupi mata kirinya itu.
Di punggungnya, wanita itu nampak membawa sebuah senapan mesin dengan ukuran yang begitu besar. Senapan mesin itu bahkan lebih tinggi daripada tubuh wanita itu sendiri.
Dengan alur kebiruan di sebagian senapan itu menandakan bahwa senjatanya masih termasuk dalam generasi pertama.
"Begitu lah. Kita hanya perlu menunggu mereka datang bukan?" Balas Axel.
"Kau benar. Kalau begitu, aku akan bersiaga di 3 lantai di bawahmu. Sophia sudah terhubung dalam saluran komunikasi bukan?" Tanya Wanita itu.
"Terdengar dengan jelas, Axel. Emma, kau mendengarku?" Balas Sophia dalam saluran komunikasi itu.
"Sangat jelas." Balas Emma yang segera turun ke lantai di bawahnya. Senapan besar milik Emma itu sedikit membuat iri Axel ketika melihatnya.
Axel terus memperhatikan senapan milik Emma ketika wanita itu terus berjalan pergi meninggalkan puncak gedung ini.
"Hah.... Kenapa aku tak mendapat senapan seperti itu dan justru busur?" Keluh Axel pada dirinya sendiri.
Akan tetapi, Axel melupakan satu hal.
"Maaf, tapi kemampuanmu nampaknya tak cocok untuk menggunakan senapan ini, Axel." Balas Emma melalui saluran komunikasi itu.
Itu benar, Axel lupa mematikan input suara dari dirinya sendiri. Membuat keluhannya barusan terdengar oleh tim pendukung jarak jauh ini.
"Ma-maaf! Aku tak bermaksud seperti itu!"
......***......
Benteng Liberator.
__ADS_1
Lantai B19.
Oracle, dan 4 orang Liberator lainnya serta sekitar 20 prajurit militer seragam hitam nampak sibuk dalam ruang rapat besar ini.
Semuanya menghadap ke arah layar komputer masing-masing. Memonitor keadaan dan juga memberikan dukungan berupa informasi kepada para Liberator di garis depan.
Oracle sendiri saat ini berdiri menghadap ke sebuah layar proyektor yang sangat besar. Yang menampilkan peta dari Bandara Internasional Los Angeles itu dalam bentuk sederhana.
Yaitu hanya dalam kotak-kotak kecil yang menandakan wujud bangunan, serta simbol segitiga berwarna hijau yang menandakan posisi Liberator.
Sisanya yaitu titik kecil berwarna putih yang menandakan keberadaan prajurit reguler seragam hitam.
Kemampuan pemetaan ini diwujudkan atas pemasangan mesin pemancar sebanyak 6 buah di sekitar bandara itu. Memperlihatkan berbagai pergerakan yang ada di sekitar mesin itu.
Meskipun, radiusnya tak begitu luas dan tak bisa menembus tanah yang tebal. Sehingga pemindaian hanya bisa terjadi di permukaan, dan tak dapat mengetahui apa yang ada di bawah tanah.
Itulah kenapa sebelum misi penjemputan pesawat dari Cabang Asia Timur ini berlangsung, Oracle memerintahkan pemetaan dan pembersihan monster di bawah tanah.
Pada layar monitor itu....
Seluruh Liberator memiliki informasi tambahan pada layar itu. Yaitu nama dengan warna putih di atas simbol segitiga mereka.
Di sisi lain, tepatnya sejauh sekitar 3 kilometer dari Bandara, banyak simbol lingkaran berwarna merah menyala dengan jumlah yang cukup banyak.
Semuanya nampak bergerak secara perlahan mengarah pada Bandara itu.
Simbol lingkaran merah itu tak lain adalah simbol yang menandakan keberadaan monster, yang dideteksi dengan karakteristik utama mereka yaitu energi Flux yang sedikit berbeda di tubuh mereka.
Semakin besar energi Flux yang para monster miliki, ukuran lingkaran merah itu semakin besar. Yang menandakan bahwa mereka adalah monster yang kuat.
"Sensor nomor 3 aman!"
"Sensor nomor 4 aman!"
"Sensor nomor 1, 2 dan 6 aman!"
"Sensor nomor 5 aman!"
Teriakan dari para prajurit berseragam itu memenuhi ruang rapat yang biasanya cukup sepi ini.
Di ujung ruangan ini, Oracle yang terus berdiri memperhatikan semua yang terjadi melalui peta sederhana itu, akhirnya turut berbicara.
"Markas kepada para Liberator di lapangan. Semua sensor telah aman. Masing-masing operator di markas akan membantu kalian dalam memonitor keberadaan musuh. Jadi jangan takut.
Saat ini, tugas kalian hanya satu. Yaitu memastikan bahwa keempat pesawat dan seluruh penumpang dari cabang Asia Timur dapat tiba dengan selamat. Mengerti?!" Ucap Oracle dengan tegas.
Dengan cepat, semua Liberator yang ada di lapangan pun membalas.
__ADS_1
"Dimengerti!"
Dan dengan itu, misi yang disebut sebagai operasi D-Day atau Hari-H itu pun dimulai.