Liberator

Liberator
Bab 57 - Mutasi


__ADS_3

Kegelapan menyelimuti tubuh gadis kecil itu. Begitu pula dengan hawa dingin yang menusuk hingga ke dalam tulangnya.


Tanpa mampu melihat....


Tanpa mampu berteriak....


Gadis itu hanya bisa terdiam.


Apakah dirinya saat ini sedang berdiri? Apakah dirinya sedang tertidur? Tidak.


Memangnya, apakah dirinya masih hidup? Gadis itu sama sekali tak bisa menjawab satu pun dari pertanyaan itu.


Seluruh kesadarannya seakan menghilang tanpa ada sisa.


Akan tetapi, kehangatan secara perlahan mulai dirasakan olehnya. Begitu pula dengan cahaya kuning di kejauhan yang mulai menerangi gelapnya dunia ini.


Dengan segera, Ia melihat ke arah kedua lengannya. Memastikan bahwa dirinya masih hidup.


Tapi apa yang dilihatnya bukan lah tangan manusia.


Melainkan sebuah lengan bersisik dengan cakar yang besar dan juga tajam.


"Tidak! Tidak!! Tolong! Siapapun tolong aku!" Teriak gadis itu dalam kegelapan ini.


Ia terus meronta-ronta ke segala arah. Berusaha untuk meraih sesuatu sebagai pegangannya. Tapi tak ada satu pun yang dapat diraihnya.


Hingga akhirnya, Ia hanya bisa terjatuh dalam jurang kegelapan yang semakin dalam.


Sebelum....


'Plaak!'


"Oi, kau masih hidup?" Tanya seorang pemuda dengan tampang yang cukup mengerikan itu sambil menampar wajahnya.


Seketika, seluruh kegelapan itu pun menghilang. Tergantikan oleh cahaya rembulan yang indah serta hangatnya api unggun di sebelahnya.


"Dimana aku?" Tanya gadis itu ketakutan.


Semua orang yang ada di sekelilingnya hanya bisa terdiam. Memandangi mata merah yang aneh pada gadis itu.


Sepanjang mereka hidup, tak pernah sekali pun mereka melihat mata dengan warna merah menyala seperti itu.


"Pemukiman. Setidaknya kau aman di sini. Katakan, apa yang terjadi?" Balas seorang pria dengan rambut dan jenggot yang panjang itu.


Mendengar pertanyaan itu, gadis kecil itu mulai menangis. Teringat atas apa yang dialaminya sebelum tiba di tempat ini.


"Aku.... Lari dari monster...."


"Monster apa?" Tanya Pria itu sekali lagi.


Gadis itu pun kebingungan dengan sikap orang-orang di sekitarnya yang terkesan begitu kasar. Bahkan tak memperdulikan tangisannya sama sekali.


Tapi pertanyaan itu benar-benar penting bagi kelompok manusia di pemukiman ini.


Kenapa?


Karena monster pada umumnya akan mengejar mangsa mereka sejauh apapun itu. Mereka takkan pernah berhenti sebelum berhasil menghabisi mangsa mereka.

__ADS_1


Dan gadis kecil ini pun tidak termasuk dalam pengecualian.


Jika gadis kecil ini bisa berhasil lari sampai sejauh ini, peluang besarnya monster itu masih mengejarnya. Bersembunyi di balik reruntuhan gedung di sekitarnya.


Dan jika itu termasuk monster yang berbahaya, maka tak ada pilihan lain lagi bagi kelompok manusia di pemukiman ini untuk kabur.


Berpindah ke tempat lain yang lebih aman.


Lagipula, begitu lah cara mereka bertahan hidup selama ini. Dengan terus menerus berpindah dari satu tempat ke tempat yang lainnya.


Setelah beberapa saat, gadis itu pun menjawabnya.


"Serigala, mereka ada beberapa...." Balas Gadis itu.


"Apa warna bulu mereka?" Tanya Pria itu sekali lagi. Tapi kini dengan tatapan mata yang lebih tajam daripada sebelumnya.


Di belakangnya, beberapa penjaga nampak mulai bersiap untuk pergi ke arah garis depan. Tepat dimana gadis itu ditemukan.


"Putih."


Setelah mendengar jawaban itu, Pria berambut panjang sebelumnya nampak bernafas lega.


Begitu pula dengan orang-orang lain di sekitarnya.


"Syukur lah. Hanya serigala putih. Semuanya! Persiapkan diri kalian! Serigala itu mungkin akan datang beberapa saat lagi! Ini kesempatan yang bagus untuk menambah persediaan makanan kita!" Teriak Pria itu.


Dengan antusias, semua pemburu di pemukiman ini mulai mengangkat tombak mereka. Bersiap untuk menyambut datangnya para serigala itu.


Kini, senyuman ramah nampak terlukis di wajah Pria berambut panjang itu.


"Lucy...." Balas Gadis itu yang kini telah berhenti menangis sepenuhnya. Menyadari bahwa semua orang di pemukiman ini akan melindunginya.


"Lucy ya? Nama yang indah. Sekarang, makan dan beristirahat lah. Biarkan paman bekerja melawan serigala jahat yang menyerang mu." Ucap Gerald itu sambil segera berdiri.


Ia terlihat mengangkat tombak besinya dan berlari ringan ke arah sisi Selatan itu. Tempat dimana Lucy berasal.


"Lucy, kemari dan makan sup hangat ini." Ucap seorang wanita yang membawa mangkuk berisi sup daging itu.


Lucy sama sekali tak mengetahui daging apa itu. Tapi mengingat perkataan para pemburu sebelumnya, Ia bisa menebaknya.


"Apakah daging ini.... Enak?" Tanya Lucy ragu.


"Coba lah terlebih dahulu. Pasti enak." Balas wanita itu dengan senyuman yang ramah.


Gadis kecil itu pun segera membuka mulutnya. Menerima suapan dari wanita itu.


Setelah beberapa kali mengunyah daging yang tak lain berasal dari Lizardmen itu, ekspresi Lucy secara perlahan mulai berubah.


Kini, wajahnya dipenuhi oleh ekspresi yang begitu bahagia. Dengan senyuman yang begitu lebar serta kedua mata yang tertutup.


Menandakan bahwa dirinya benar-benar menikmati hidangan tersebut.


"Mmmm! Enak sekali! Aku sangat menyukainya! Bisakah aku meminta lagi?!" Balas Lucy dengan gembira.


Sontak, perkataan gadis kecil itu membuat semua orang di sekitarnya terkejut.


Memang benar bahwa mereka memakan daging Lizardmen yang sama. Tapi bukan berarti mereka melakukannya karena suka rasa dari daging itu.

__ADS_1


Melainkan karena tak ada lagi makanan yang bisa mereka makan. Jadi mereka memakan daging monster itu karena terpaksa. Sekalipun rasa dagingnya begitu keras dan cukup masam.


Singkatnya, sama sekali tak enak.


Mereka tetap memakannya karena ingin bertahan hidup. Tapi gadis yang ada di hadapan mereka?


"Enak kan? Haha.... Benar kan apa kata ku?" Ucap wanita itu dengan penuh keraguan.


Ia sendiri tak bisa percaya akan ada seseorang yang bisa menikmati daging keras ini seperti itu.


Kini, mulut Lucy terbuka lebar menanti untuk suapan berikutnya. Untuk memastikan kebenarannya, wanita itu pun menyuapi gadis itu sekali lagi.


Dan reaksi yang sama benar-benar terulang.


"Mmm! Benar-benar enak! Dimana kalian mendapatkan daging sapi selembut ini?" Tanya Gadis itu.


Mereka mendengar dua hal yang sangat aneh.


Sapi? Lembut?


Bagian mananya dari daging tersebut yang lembut?


Merasa tak percaya, wanita itu pun mengunyah satu potong daging dari mangkuknya. Dan memang benar, daging itu benar-benar alot dan sulit untuk dimakan.


Tak enak sama sekali. Belum lagi ada aroma amis yang tersisa di dalam mulut setelah memakan daging itu.


"Ka-kau suka? Kalau begitu, ini. Akan ku tambahi. Makan sendiri ya?" Ucap wanita itu.


"Yey! Terimakasih! Aku akan ikut bekerja keras setelah ini!" Balas Gadis itu dengan gembira. Seakan kesedihannya barusan sama sekali tak pernah terjadi.


Di garis depan, beberapa pemburu nampak sedang bertarung melawan beberapa ekor serigala bulu putih yang menyerang.


Jumlah mereka sebanyak 4 ekor.


Tapi dengan pengalaman dan juga sedikit bantuan dari kekuatan evolusi mereka, para pemburu itu dapat menghabisi monster itu dengan mudah.


Tak menyisakan satu pun yang kabur.


Tak ada pula dari mereka yang terluka.


Sambil mengelap keringat di kening mereka, para pemburu itu pun bertanya-tanya.


"Gadis itu.... Apakah dia memiliki evolusi cacat yang membuat lidahnya mati rasa?" Tanya salah seorang pemburu.


"Mungkin saja. Kau ingat kan? Ada salah satu mantan pemburu yang berevolusi dengan Indra penciuman yang rusak? Selalu mengatakan bau sedap di segala arah. Hahaha, mengingatnya aku ingin tertawa." Balas Pemburu lainnya.


Akan tetapi....


Mereka sama sekali tak mengetahuinya.


Tak ada satu orang pun yang menyadarinya.


Bahwa evolusi dari gadis itu sedikit berbeda dari seluruh umat manusia yang lainnya. Dan memiliki potensi yang sangat besar untuk mempengaruhi masa depan umat manusia itu sendiri.


Tentu saja.


Itu jika mereka bisa menjaganya.

__ADS_1


__ADS_2