Liberator

Liberator
Bab 61 - Perbedaan Pandangan


__ADS_3

Tanpa memberikan kesempatan bagi kelima orang itu untuk bereaksi, Axel segera melesat ke depan. Mengayunkan tombaknya tepat ke arah leher salah satu dari mereka.


Akan tetapi, Axel menghentikannya sesaat sebelum mengenai lehernya.


"Aku akan sedikit berbaik hati. Jika kalian pergi, maka aku takkan membunuh kalian." Ucap Axel dengan tatapan yang begitu dingin itu.


Kelima orang itu terlihat begitu terkejut.


Dan secara refleks, hawa dingin mulai mengalir di sekujur tubuh mereka.


'Cepat sekali?! Orang ini....' Pikir salah satu dari mereka dalam hatinya.


Mereka belum pernah satu kali pun melihat kemampuan sekuat itu. Wajar saja, karena kemampuan Axel meningkat dengan sangat drastis setelah menjalani operasi itu.


Meski begitu, mereka berlima masih tak mau untuk mundur.


Segera setelah menelan ludahnya, salah satu dari mereka berlima pun berbicara.


"Kau tak tahu apa-apa. Gadis itu adalah seekor monster." Ucapnya dengan ketakutan.


Axel yang mendengarnya justru semakin menyipitkan kedua matanya. Ia melirik sesaat ke arah dimana gadis itu bersembunyi bersama dengan Eva.


Sosok gadis kecil yang menangis dengan tubuh yang penuh luka itu, tentu saja sama sekali tak membuat Axel percaya atas pernyataan pria barusan.


"Kau bilang, gadis yang menangis dengan luka sebanyak itu adalah seekor monster?"


Tentu saja.


Itu karena apa yang dilihat oleh Axel tak lain hanyalah sosok seorang gadis kecil yang menangis. Tak lebih, juga tak kurang.


"Dia baru saja membunuh dua orang dan memakannya setelah memancing mereka ke saluran air bawah tanah." Balas Pria yang lain.


Axel pun dengan segera bertanya.


"Oh, bawah tanah? Apakah tubuh mereka menerima luka sayatan yang besar? Karena di saluran air itu, adalah tempat bagi para Lizardmen. Kalian tahu itu kan?"


Mereka berlima pun menyadari, bahwa kemungkinan besar hal itu dapat terjadi.


Akan tetapi, saat pembicaraan hampir saja mengarah ke sesuatu yang lebih baik....


'DUAAAARRRR!!!'


Salah seorang pria dari kelompok itu mengarahkan senapan shotgun miliknya tepat ke tubuh Axel.


Menembakkan puluhan fragmen peluru yang menembus tubuhnya.


Atau seharusnya....


Itu yang terjadi.


Karena pada kenyataannya, hampir semua fragmen peluru kecil dari shotgun itu bahkan tak mampu menembus seragam militer milik Axel.


"Jadi begitu ya?"


Merasa tak ada lagi ruang untuk berbicara, Axel segera menghunuskan tombaknya tepat ke leher pria yang menembaknya barusan.


'Jlleebbb!'


"Krooaagghh!!!"


Darah mengucur dengan deras melalui lubang di lehernya. Begitu pula dari mulutnya yang menganga kesakitan.

__ADS_1


Melihat hal itu, Eva segera menutupi kedua mata gadis kecil itu. Dan membawanya lari sejauh mungkin dari tempat ini.


"Tenang saja, selama ada kakak di sini, kau akan selamat." Ucap Eva sambil terus menggendong dan menutupi kedua mata merah gadis itu.


Di sisi lain....


"Apa yang kau lakukan?!" Teriak salah seorang pemburu itu kepada Axel.


Axel hanya diam. Tak membalas sepatah kata pun. Tapi Ia memberikan tatapan yang tajam ke arah mereka berempat yang masih tersisa.


'Zraasshhh!'


Sambil mencabut tombak kehijauannya dari leher pria sebelumnya, Axel kini mulai mengalihkan pandangannya pada para pemburu yang tersisa.


"Masih ingin lanjut?" Tanya Axel.


Ia benar-benar tak ingin melakukan semua ini. Jujur saja, saat ini Axel merasa sangat jijik. Tangannya pun sedikit gemetar.


Karena ini adalah pertama kalinya bagi Axel untuk mengarahkan senjatanya kepada manusia yang lain. Bukannya kepada monster.


Meski begitu, Axel harus melakukannya.


Terdiam sejenak, keempat pemburu yang tersisa itu saling memandang satu sama lainnya.


Nampaknya, pilihan mereka telah sangat jelas.


'Swuuushhh!'


Salah seorang pemburu yang membawa tombak itu segera menghunuskan nya tepat ke wajah Axel.


Akurasi dari serangannya benar-benar luarbiasa. Tak salah lagi bahwa apa yang dihadapi Axel saat ini adalah seorang pemburu yang terlatih.


Akan tetapi....


Axel dapat dengan mudah menghindari tusukan tombak itu hanya dengan sedikit memiringkan kepalanya.


Sambil memberikan tatapan yang sama, Axel kembali bertanya.


"Kalian yakin? Aku benar-benar akan membiarkan kalian pergi. Sebagai gantinya, lepaskan gadis itu. Itu saja." Jelas Axel.


Tapi mereka berempat tetap teguh dengan pilihannya.


Salah satu dari mereka bahkan segera berlari ke arah jasad rekan mereka. Mengambil senapan shotgun itu dan juga beberapa pelurunya.


Dengan cepat, Ia mulai berlari memutari tubuh Axel sambil mengisi peluru.


Di sisi lainnya, beberapa pemburu lain mulai menyerang Axel dari berbagai arah.


Dua orang menyerang Axel dengan senjata jarak dekat yaitu tombak dan pedang. Sedangkan satu lagi sisanya menembakkan pistol dari kejauhan.


'Duaarrr! Duaarrr!'


Berbeda dengan peluru shotgun yang kecil dan tak memiliki daya tembus yang kuat, peluru pistol jauh lebih tajam dan lebih cepat. Serta lebih akurat.


Dari dua tembakan itu, salah satu peluru berhasil mengenai pundak kiri Axel. Bersarang di dalamnya setelah menembus seragam militernya.


Sedangkan dari belakang tubuhnya, tembakan shotgun juga berhasil mengenai punggungnya.


'Duaaarrr!'


Sekalipun tak mampu menembus seragam militernya, tapi rasa sakit dari hantaman puluhan fragmen peluru itu tetap saja terasa.

__ADS_1


"Cih, merepotkan." Keluh Axel.


Ia dengan cepat bersiap untuk menghentikan pengguna pistol itu. Akan tetapi, dua orang pengguna senjata jarak dekat itu terus menghalanginya.


Menganggap bahwa mereka bisa menandingi seorang Liberator murni dengan kemampuan fisik mereka.


Tentu saja....


Hasilnya sangat jelas.


Axel menundukkan tubuhnya dengan cepat lalu berlari melewati tubuh mereka berdua. Melesat dengan cepat ke arah pemburu yang menggunakan pistol itu.


Akan tetapi, Axel tak menggunakan tombaknya. Ia bahkan menancapkan tombaknya ke tanah dan memukul tangan kanan pemburu itu. Melemparkan pistol itu cukup jauh darinya.


Setelah itu, Axel segera mengunci kedua lengan pemburu itu dan menjadikannya sebagai sandera.


"Dengar, aku benar-benar tak ingin membunuh kalian semua. Bagaimana dengan ini? Akan ku lepaskan dia, dan kalian juga bisa pergi. Tapi tinggalkan gadis itu." Ucap Axel sambil bersembunyi di balik tubuh pemburu itu.


Pemburu yang menggunakan shotgun itu mulai menurunkan senjatanya. Padahal Ia baru saja mengisi ulang pelurunya dan telah siap untuk menembak sekali lagi.


Sementara itu, kedua pemburu dengan senjata jarak dekat itu juga mulai menurunkan senjata mereka.


Dengan tubuh yang gemetar ketakutan, salah satu dari pemburu itu pun berbicara.


"Aku tak tahu siapa dan apa tujuanmu. Tapi gadis itu adalah seekor monster. Kau harus tahu itu."


"Dari tadi mengatakan omong kosong itu. Apa maksudmu dengan monster?"


Setelah menatap wajah kebingungan Axel cukup lama, Pria itu pun mulai menghela nafasnya. Seakan tak lagi bisa berkata-kata. Tak berselang lama, Pria itu pun melempar tombaknya ke tanah.


Dua orang yang lainnya pun mulai melempar senjata mereka. Menandakan bahwa mereka akhirnya mau menerima perdamaian yang diusulkan oleh Axel.


Akan tetapi, sesaat setelah Axel menurunkan kewaspadaannya....


'Tap! Sreetttt!'


Pria barusa segera berlari tepat ke arah tombak kehijauan milik Axel itu. Bermaksud untuk mengambilnya. Menggunakan senjata Axel itu sendiri untuk melawannya.


Hanya saja....


'Srreettt! Sreett!!'


Sekuat apapun Ia mencoba menariknya, tombak itu tak bisa tercabut dari jalanan beton ini. Seakan menancap terlalu kuat.


Atau lebih tepatnya, terlalu berat.


"Jadi itu pilihan kalian? Sangat disayangkan." Ucap Axel sambil melempar sanderanya jauh ke depan.


Ia hanya berdiam diri di tempatnya sebelumnya. Secara perlahan, Axel mengangkat tangan kanannya dan mengarahkan dua jarinya ke arah pria yang berusaha mengambil senjata ya itu.


Sedikit demi sedikit, aliran listrik mulai mengalir ke ujung jarinya.


Dan setelah terkumpul cukup banyak....


'Zaaaaaaaapppp!!!'


Sambaran listrik menembus tepat di kepalanya. Membunuhnya dengan seketika.


Axel meniru kemampuan ini dari Chimera yang sebelumnya dilawannya. Dan Ia berhasil menggunakan nya dengan baik.


'Braakkk!'

__ADS_1


Setelah tubuh pemburu itu terjatuh ke tanah, tiga pemburu yang lain tahu apa yang harus mereka lakukan.


Yaitu untuk melarikan diri secepat mungkin, dari salah satu Liberator tercepat di dunia ini.


__ADS_2