
Hari-H telah tiba.
Begitu pula dengan perjanjian antara Amerika Utara dengan Asia Timur.
"Seperti yang sudah kita sepakati, segera setelah Asia Timur membantu kalian mengambil alih kembali sebagian wilayah kalian, maka kami akan meminta beberapa anggota Liberator di sana untuk membantu kami menaklukkan Shanghai." Jelas sosok Pria tua di layar monitor yang besar itu.
Oracle yang berdiri di hadapan layar besar itu bersama dengan beberapa Liberator yang lainnya nampak menyimak dengan seksama.
"Tentu saja kami memahami hal itu. Jadi sesuai kesepakatan kami akan mengirimkan 10 anggota Liberator kami dan...."
"Tidak perlu." Ucap Jendral Matsumoto memotong perkataan Oracle.
"Maaf?"
"Kami hanya ingin meminta 4 Liberator saja. Kalian tahu, kekuatan kami di sini terus berkembang sejak kami membantu kalian membangun dinding itu." Balas Jendral Matsumoto.
Oracle nampak mengangguk, memahami apa yang dimaksudkan oleh Pria tua itu.
"Jadi begitu. Baiklah kalau begitu...."
"Tapi sebagai gantinya kami memiliki permintaan khusus. Kami menginginkan setidaknya 2 nama ini ikut serta." Lanjut Jendral Matsumoto yang memotong perkataan Oracle sekali lagi.
Hal itu tentunya sedikit membuat Oracle kesal. Tapi Ia tak bisa berbuat banyak tentang hal ini. Sudah kewajibannya untuk membalas bantuan dari Asia Timur ini dalam menaklukkan ulang Kota Los Angeles.
Dan karena itu juga, Oracle hanya bisa diam. Menerima apapun yang dikatakan oleh Jendral Matsumoto.
"Baiklah. Sebutkan nama mereka, akan ku pastikan mereka ikut." Balas Oracle.
Setelah menundukkan kepalanya sesaat sebagai rasa terimakasih, Jendral Matsumoto pun segera menjawab.
"Axel dan Eva. Ku dengar mereka adalah regu terbaik di sana. Jadi kami ingin mereka berdua ikut dalam misi penaklukkan ini.
Mendengar dua nama itu, Oracle sedikit menyipitkan kedua matanya.
Ia merasa ada sesuatu yang salah dengan permintaannya. Seakan-akan.... Asia Timur memang benar-benar mengincar mereka berdua.
"Baiklah. Aku akan memastikan keduanya ikut." Balas Oracle singkat.
"Terimakasih. Pesawat akan tiba 2 jam lagi. Permisi."
Dengan kalimat terakhir itu, Jendral Matsumoto segera memutuskan hubungan komunikasi melalui video itu.
Meninggalkan Oracle dengan wajah yang begitu gelap. Ia sama sekali tak bisa mengusir firasat buruk dalam hatinya mengenai hal ini.
"Axel, Eva." Panggil Oracle tanpa sedikit pun berpindah dari posisinya saat ini.
Keduanya pun berjalan ke samping tempat Oracle berdiri dalam posisi siap.
"Seperti yang kalian dengar, Asia Timur sangat menginginkan kalian berdua ikut ke sana. Aku harap tak ada keberatan dalam diri kalian. Mengerti?" Tanya Oracle.
"Dimengerti."
"Bagus. Segera persiapkan diri kalian ke bandara." Balas Oracle yang segera melangkah pergi, meninggalkan ruang rapat ini.
__ADS_1
"Bagaimana dengan dua yang lainnya?" Tanya Eva penasaran.
"Mereka akan menyusul."
Tak seperti biasanya, Oracle benar-benar menjaga sikapnya kali ini. Itu karena seluruh Liberator dan beberapa prajurit dari Asia Timur juga berada dalam ruang rapat ini.
Mencegah Oracle untuk memberikan peringatan apapun pada keduanya.
Tapi Axel yang terus menerus diperingatkan oleh Oracle sejak dulu telah memahaminya.
Bahwa kemungkinan besar....
Pihak Asia Timur akan melakukan sesuatu kepada para Liberator dari Amerika Utara. Meski begitu, tetap saja Axel tak mampu menebaknya.
Begitu pula dengan Oracle.
Jika mereka hanya ingin membunuh atau menjatuhkan pihak Amerika Utara, kenapa membantu Amerika Utara mendirikan dinding pertahanan ini?
Kenapa membantu Amerika Utara meletakkan ratusan senapan mesin semi-otomatis pada dinding pertahanan itu?
Dan jika memang hanya ingin menghancurkan Amerika Utara....
Akane memiliki kemampuan yang sempurna untuk menjalankan misi itu. Mengingat kemampuan api miliknya sangat lah kuat dan juga memiliki area serangan yang luas, menghancurkan benteng bawah tanah ini adalah sebuah perkara yang mudah.
Tapi kenapa tidak melakukannya?
Apakah ada maksud yang lain?
Setibanya di sana, Axel melihat seluruh Liberator dan Pasukan reguler dari Asia Timur telah berbaris dengan rapi.
"Ah, benar juga. Mereka juga akan kembali ke sana ya?" Tanya Axel pada dirinya sendiri.
"Pertanyaan macam apa itu? Bukankah itu sudah jelas?" Balas Eva singkat.
Mereka berdua pun duduk di salah satu reruntuhan beton dengan tenang. Menanti pesawat itu mendarat di bandara ini.
Pada saat itu lah, dua anggota Liberator lain dari Amerika Utara tiba.
"Lama tak jumpa, Axel." Ucap seorang wanita dengan tubuh yang cukup tinggi itu. Ia tak lain adalah Sophie, rekan Axel ketika berada di bandara ini dulu.
Seorang Liberator tipe sihir dengan kemampuan elemen air atau es.
Di sebelahnya, terlihat sosok seorang wanita dengan tubuh yang sedikit pendek dan kecil. Tapi pada punggungnya terdapat sebuah senapan dengan ukuran yang besar. Melampaui tubuhnya sendiri.
"Yo, terimakasih sudah menghancurkan senjataku waktu itu." Ucap wanita itu yang tak lain adalah Emma.
"Uuh.... Jadi kalian yang akan ikut ke Shanghai?" Tanya Axel.
"Hah?! Kau tidak meminta maaf ata...."
"Kau benar Axel. Oracle meminta agar kami berdua menemani kalian ke Shanghai. Ku dengar kota itu telah menjadi sarang Monster?" Ucap Sophie yang memotong perkataan Emma.
Eva yang sedari tadi duduk segera berdiri. Mengulurkan tangan kanannya untuk berjabat tangan.
__ADS_1
"Ku serahkan punggung ku pada kalian berdua." Ucap Eva ramah.
"Serahkan saja pada kami."
Tak berselang lama, suara dari mesin jet pesawat itu mulai terdengar. Sedikit demi sedikit, badan pesawat itu pun mulai terlihat.
Berbeda dari sebelumnya, kali ini hanya ada satu pesawat. Tapi ukuran pesawat kali ini cukup besar untuk menampung seluruh personel yang akan berangkat ke Shanghai.
"Apakah mereka memang miliki banyak pesawat?" Tanya Eva penasaran.
"Mungkin saja. Ini pesawat yang berbeda dari sebelumnya." Balas Axel.
Dari kejauhan, Akane nampak berteriak kepada regu Liberator dari Amerika Utara ini.
"Ooooiii! Bersiaplah! Kita akan segera berangkat!" Teriak Akane dengan keras.
"Kami akan segera kesana!" Balas Axel juga dengan berteriak.
Mereka berempat pun mulai berjalan mendekat ke arah penjemputan yang berada tepat di samping lintasan landas ini.
Beberapa saat kemudian, pesawat itu pun mendarat dengan mulus. Para prajurit dan juga Liberator menaiki pesawat besar itu dengan tenang.
Tak ada monster yang menyerbu tempat ini. Itu karena tak ada lagi pemancar yang memanggil para monster itu sama seperti sebelumnya.
"Semuanya sudah siap? Kita akan segera berangkat." Ucap Pilot dari pesawat itu melalui speaker yang terhubung ke seluruh badan pesawat.
Pesawat itu memutar sejenak dalam lintasan landas ini sebelum akhirnya terbang kembali. Arah tujuannya? Shanghai.
Sebuah kota yang telah menjadi sarang bagi para monster.
Keempat Liberator dari Amerika Utara ini memang telah mempersiapkan diri mereka terhadap peluang terburuk di sana.
Tapi sayangnya....
Hal yang terburuk tidak akan terjadi di Shanghai. Melainkan di Los Angeles itu sendiri.
Beberapa saat setelah pesawat itu meninggalkan Los Angeles, sebuah pesawat lain dengan ukuran yang kecil terlihat terbang ke arah benteng Liberator di Kota Los Angeles ini.
Tanpa mendarat, dua sosok manusia terlihat terjun bebas dari pesawat itu. Dimana pesawat itu segera terbang menjauh dan meninggalkan mereka berdua di kota ini.
Perlengkapan mereka berdua jauh berbeda. Yaitu dengan seragam berwarna hitam gelap dan wajah yang tertutupi oleh masker.
Secara perlahan, seragam hitam itu mulai berubah. Mendistorsikan cahaya di sekitarnya dan membuat penggunanya menjadi hampir tak terlihat.
Sebuah teknologi yang serupa dengan apa yang digunakan oleh pasukan khusus dari Rusia.
'Swuuusshhh!'
Setelah cukup dekat dengan tanah, mereka membuka parasut di punggungnya.
Dan hanya dengan begitu, dua orang misterius itu pun telah tiba tepat di atas benteng bawah tanah di Los Angeles ini.
Tanpa satu orang pun yang menyadari keberadaan mereka.
__ADS_1