Liberator

Liberator
Bab 65 - Hasil Pemeriksaan


__ADS_3

'KLAAAANGGG!'


Pintu baja dalam sel isolasi ini pun terbuka. Membebaskan Axel dari isolasi hanya dalam satu hari.


"Hah? Ku pikir masih ada dua hari lagi?" Tanya Axel dengan sikap yang masih begitu tenang.


Oracle hanya memandangi sosok Axel di hadapannya yang sedang sibuk melakukan push up.


"Berterimakasih lah pada gadis itu. Dia meminta untuk menemui mu." Balas Oracle yang segera membalikkan badannya.


Axel pun segera bangkit dari lantai dan mengenakan pakaiannya. Mengikuti langkah kaki dari Oracle itu ke dalam elevator.


Dan akhirnya, mereka tiba di lantai B20. Sebuah lantai paling bawah di fasilitas militer di benteng ini.


Tak ada satu orang pun di lantai ini. Wajar saja karena lantai ini hanya digunakan untuk menjalankan operasi peningkatan Flux saja. Dan bukan lah tempat untuk melaksanakan kegiatan pekerjaan sehari-hari.


Akan tetapi, Oracle justru berjalan ke arah yang berlawanan. Menuju ke sebuah dinding baja.


"Uuh, kemana kita? Kau takkan bilang kalau kita akan menembus tembok kan?" Tanya Axel kebingungan.


Oracle hanya terdiam. Ia terlihat meletakkan telapak tangannya pada bagian tertentu di dinding baja tersebut.


Dalam sekejap, dinding di hadapan mereka pun mulai turun ke bawah. Memperlihatkan sebuah tangga di baliknya.


"Rahasiakan apapun yang kau lihat di sini." Ucap Oracle singkat sambil segera berjalan memasuki anak tangga itu.


"Kau tahu, saking banyaknya rahasia, ku rasa akan lebih baik jika aku tak pernah mengatakan apapun pada orang lain." Balas Axel kesal.


Entah kenapa, Ia benar-benar harus menyimpan banyak sekali rahasia.


Hal ini membuatnya bertanya-tanya. Apakah masih ada rahasia besar yang lainnya? Selain ruangan rahasia ini?


Segera setelah Axel memasuki tangga itu, dinding besi tersebut kembali terangkat naik. Menyamarkan keberadaan ruangan ini dari publik.


Dan benar saja....


Apa yang ada di dalam ruangan ini, adalah sebuah rahasia yang sangat besar. Mungkin terlalu besar untuk diketahui siapapun. Terutama warga sipil.


"Apa-apaan ini?!" Teriak Axel terkejut.


Dalam lorong yang panjang dengan penerangan cahaya lampu putih ini, jalannya hanya selebar 5 meter. Dan di sisi samping kanan serta kiri dari lorong ini, terlihat sebuah dinding kaca yang sangat tebal.


Tak salah lagi bahwa dinding kaca itu terbuat dari bahan yang tahan terhadap peluru karena begitu tebal dan kokoh.

__ADS_1


Akan tetapi, yang mengejutkan Axel adalah apa yang ada di balik kaca itu.


"Grrooaaarr!!!"


Beberapa ekor Goblin nampak berusaha berlari menyerang Axel. Tapi serangannya digagalkan oleh kaca tebal itu.


'Braaakkkk!'


Goblin itu memukul kaca tebal itu beberapa kali. Hanya untuk mengetahui tindakannya tak merusak kaca itu sedikit pun.


Setiap 15 meter, terdapat tembok baja yang memisahkan antar ruangan monster yang berbeda. Di bagian atas dari ruangan itu, terdapat sebuah lubang kecil sebagai tempat untuk memberikan mereka makanan.


Baru beberapa detik Axel berjalan, Ia telah melihat berbagai jenis monster yang hidup di balik penjara kaca ini.


Goblin, Lizardmen, Orc, Werewolf dan lain sebagainya.


Semuanya terkumpul di ruangan berbeda, yang dikelompokkan berdasarkan ras mereka.


"Oracle.... Ini...."


"Apapun yang terjadi. Jangan pernah katakan apa yang kau lihat di sini pada orang lain." Balas Oracle yang terus berjalan ke depan itu. Tanpa sedikit pun melirik ke arah Axel.


"Tapi kenapa? Kenapa kau.... Tidak. Kenapa para Liberator mengumpulkan monster-monster ini? Dan.... Apakah mereka berkembang biak?" Tanya Axel kembali.


"Kau pikir bagaimana kami bisa tahu senjata seperti apa, dan bahan apa yang efektif untuk digunakan melawan mereka? Tentu saja dengan memanfaatkan bahan ujicoba ini." Balas Oracle dengan tatapan yang begitu tajam.


Axel sama sekali tak menyadari, bahwa ada rahasia seperti ini di balik kehidupan aman dan nyaman dalam benteng ini.


Sekalipun memang benar mereka adalah monster, dan tujuannya adalah untuk digunakan sebagai bahan riset. Tapi tetap saja....


Keberadaan mereka di sini....


Bisa jadi membahayakan para penduduk di dalam benteng ini. Jika mereka berhasil kabur dan melepaskan diri dari balik dinding kaca ini, mungkin yang terjadi adalah kehancuran benteng ini sendiri.


Mengingat jumlah mereka yang begitu banyak, bahkan mencapai ratusan lebih untuk setiap spesiesnya.


Dan setelah melihat ini, Axel pun tersadar.


"Jangan katakan, kau menganggap gadis itu juga bagian dari monster?" Tanya Axel sambil menyipitkan matanya.


Mendengar pertanyaan bodoh itu, Oracle nampak menghela nafasnya dan segera membalikkan badannya. Kembali berjalan melalui lorong panjang ini.


"Sadarkan dirimu, Axel. Apapun yang terjadi, gadis itu bukan lah manusia. Bahkan dia bukanlah gadis berumur 12 tahun, melainkan sosok menyerupai manusial yang berumur beberapa bulan." Jelas Oracle.

__ADS_1


Penjelasan itu tentu mengejutkannya. Bagaimana bisa gadis seperti itu adalah monster? Terlebih lagi, umurnya baru beberapa bulan?


"Bagaimana kau bisa yakin?" Tanya Axel.


"Manusia memiliki 23 pasang kromosom dalam sel mereka. Sementara itu, gadis itu memiliki 72 pasang kromosom dalam sel tubuhnya. Sekalipun dia berwujud manusia, secara ilmiah dia bukan lah manusia."


Axel terlihat sedikit kebingungan dengan penjelasan ilmiah itu. Oracle yang menyadarinya pun segera membuat penjelasan yang lebih sederhana.


"Singkatnya, dalam suatu pemicu tertentu, gadis itu bisa berubah menjadi setengah monster." Lanjut Oracle sambil melemparkan sebuah ponsel dengan video di dalamnya.


Video itu merupakan rekaman pada ruang perawatan dimana gadis itu berada.


Di dalamnya, terlihat sosok gadis dengan kode nama : Lucy itu sedikit demi sedikit mulai berubah wujud. Menjadi sesuatu yang bukan manusia.


"Ini...."


Axel kini tersadar. Bahwa gadis itu memang bukan lah manusia. Tapi.... Apakah Ia akan mengalami nasib yang sama seperti para monster di tempat ini? Sebagai bahan ujicoba?


"Tenang saja. Kami takkan pernah menyakitinya. Dia terlalu berharga sebagai sebuah subjek penelitian. Tapi demi keamanan, kami akan menjaganya di ruang bawah tanah ini." Ucap Oracle yang berhenti tepat di depan sebuah pintu baja.


Ia meletakkan telapak tangannya pada sisi samping pintu tersebut.


'Swuuusshhh!'


Pintu itu pun terbuka secara otomatis ke samping. Memperlihatkan ruang kendali di dalamnya. Dimana Frans dan Leona juga nampak sedang bekerja di sana.


Di bagian depan ruang kendali itu, beberapa layar monitor nampak memperlihatkan gambar dari berbagai sudut di fasilitas bawah tanah ini.


Termasuk tempat dimana gadis itu berada.


"Lihat, dia cukup bahagia bukan?" Tanya Oracle kepada Axel sambil menunjukkan salah satu layar monitor itu. Dimana Lucy sedang sibuk bermain dengan beberapa boneka.


"Jadi begitu ya...."


"Kabar baiknya, gadis bernama Lucy ini, mungkin adalah manusia yang berevolusi ke arah yang berbeda daripada kita. Atau lebih tepatnya, manusia yang lahir dalam keadaan yang kaya akan Flux.


Dimana bagi hampir 100% umat manusia yang selamat, adalah manusia yang berevolusi dengan beradaptasi terhadap energi Flux itu sendiri. Kemampuan regenerasi dan fisiknya melampaui Liberator. Bahkan tanpa operasi." Jelas Oracle panjang lebar.


Kali ini, Axel segera menangkap apa yang dimaksudkan oleh Oracle dalam pernyataannya.


"Jadi kau bilang.... Kita bisa saja meniru proses evolusinya dan memanfaatkan informasi itu untuk diri kita?" Tanya Axel.


"Kau benar. Mungkin dengan pengetahuan dari tubuhnya, kita bisa menghasilkan Liberator generasi kedua yang jauh lebih cepat, lebih kuat, dan memiliki umur yang jauh lebih panjang."

__ADS_1


__ADS_2