Liberator

Liberator
Bab 26 - Pertaruhan


__ADS_3

'Axel.... Ku mohon, bertahan lah sebentar lagi!'


Eva hanya bisa terus berharap sambil mempercepat langkah kakinya.


Ia terus berlari. Melewati berbagai lorong saluran air yang terbentuk seperti sebuah labirin ini.


Berharap, agar Ia bisa tiba di sana. Sebelum semuanya terlambat.


Akan tetapi....


Apa yang dilihat oleh Eva setelah kembali pada pusat pembuangan itu, adalah sebuah pemandangan yang sangat mengerikan.


Di kejauhan, sosok Lizardmen abnormal itu nampak berdiri dengan tegap. Menghadap ke arah sosok seorang manusia yang tergeletak tak berdaya.


Sosok itu tak lain adalah Axel. Dengan badan yang penuh luka, yang cukup sulit untuk dilihat karena tersamarkan oleh banyaknya bekas darah dari para Lizardmen yang dibantainya sebelumnya.


Sedangkan di samping badannya, tombak logam milik Axel nampak hanya tersisa setengahnya. Menandakan bahwa tombak itu telah patah selama pertarungan itu berlangsung.


"Tidak.... Ini tak mungkin terjadi bukan?" Ucap Eva dengan suara yang lirih.


Tubuhnya mulai gemetar. Pandangannya mulai buram. Eva tak lagi mampu untuk melihat hal itu lebih lanjut lagi.


Kini, apa yang ditakutkannya menjadi sebuah kenyataan.


Kenapa?


Kenapa Ia membawa James terlalu jauh?


Apakah agar James mendapatkan tempat yang aman untuk beristirahat?


Kenapa?


Kenapa Eva membiarkan Axel bertarung sendirian?


Apakah karena Eva terlalu mempercayai pemuda itu? Seorang pemuda yang baru saja mengangkat senjata, tapi sudah mampu untuk bertarung layaknya ahlinya?


Apakah karena itu?


Secara perlahan, seluruh emosi yang memenuhi diri Eva saat ini mulai berubah. Menjadi sebuah emosi yang sangat kuat dan mendominasi seluruh emosi yang lainnya.


Yaitu amarah.


'Sreeett! Klaaangg! Ttraaanggg!!'


Eva menarik pedang besar di punggungnya. Menyeretnya di tanah sembari terus berlari sekuat tenaga ke arah Lizardmen itu.


"Sialaaaaaaaan! Matilah kauuuuuu!!" Teriak Eva dengan keras sebelum melompat tepat ke arah Lizardmen itu. Mengayunkan pedangnya secara vertikal.


Akan tetapi....


'Klaaangg! Kreettaakk!'


Pedangnya nampak sedikit memantul dari sisik keras Lizardmen itu.


Serangannya yang penuh dengan kekuatan dan amarah itu, hanya bisa sedikit meretakkan sisik lawannya. Tak mampu untuk menembus pertahanannya.


Hanya saja....


'Bruuukk!'


Segera setelah menerima serangan dari Eva, Lizardmen itu jatuh tersungkur ke tanah. Tanpa adanya sedikit pun tanda-tanda untuk bergerak.


Melihat kejanggalan tersebut, Eva segera menendang Lizardmen itu dengan niatan untuk membalik tubuhnya.


Dan apa yang dilihat olehnya, adalah sosok Lizardmen yang terus mengeluarkan asap dari mulutnya. Tatapannya telah kosong. Ia juga nampak tak bernafas.


Setelah memperhatikan sedikit lebih lanjut, potongan dari ujung tombak milik Axel nampak menancap di dalam mulut Lizardmen itu.


Memahami bahwa Lizardmen itu bukan lagi sebuah ancaman, dan mungkin memang benar-benar telah mati, Eva segera mengalihkan perhatiannya kepada Axel yang terbaring tak berdaya.

__ADS_1


"Ku mohon, Axel.... Axel?!" Teriak Eva terkejut setelah melihat tubuh Axel yang masih bergerak.


"Kugghh...."


Axel tak lagi mampu berbicara. Lebih dari itu, kesadarannya mungkin telah lama menghilang.


Setelah memeriksa kondisi vital dari tubuh Axel secara singkat, Eva bisa menyatakan bahwa Axel sendiri masih hidup. Akan tetapi, luka yang diterimanya terlalu besar.


Jantungnya bahkan hampir dikatakan tak lagi berdetak. Begitu pula dengan nafas yang sangat lirih terdengar.


Tanpa ragu, Eva segera menarik Flux Booster miliknya dari pinggang kanannya lalu membalikkan tubuh Axel dengan wajah yang menghadap ke tanah.


"Maaf, tapi tak ada cara lain lagi." Ucap Eva sambil bersiap untuk menyuntikkan Flux Booster itu pada punggung Axel.


'Jleebb! Bsssttt!'


Dengan cepat, cairan biru tua itu mulai mengalir ke dalam tubuh Axel melalui perangkat mesin berbentuk segienam di punggungnya itu.


Setelah menyuntikkan Flux Booster itu, Eva segera kembali membalikkan tubuh Axel. Kini dengan wajah yang menghadap ke langit-langit.


"Axel! Kau bisa mendengarku?!" Teriak Eva dengan keras.


Tak ada jawaban dari Axel.


Bahkan, luka yang ada di tubuhnya hanya pulih dengan begitu lambat.


"Kenapa?!" Teriak Eva kebingungan melihat pemulihan Axel yang begitu lambat itu.


Flux Booster memiliki 2 cara penggunaan. Yang pertama, adalah ketika digunakan saat dalam kondisi prima dimana efeknya akan meningkatkan kekuatan.


Kemudian kedua, digunakan saat dalam kondisi kritis dimana efeknya akan segera memulihkan semua luka yang di derita.


Seharusnya, luka Axel akan segera pulih dalam waktu yang singkat.


Tapi pada kenyataannya tidak demikian.


Saat Eva mulai membuka seragam pada Axel pada bagian dadanya, Eva melihatnya. Dimana setidaknya, seperempat dari dada Axel telah tercabik-cabik. Dengan paru-paru dan juga jantung yang telah hancur sebagian.


Darah terus menerus mengalir keluar dengan begitu cepatnya. Sedangkan efek penyembuhan dari Flux Booster yang mempercepat regenerasi tubuhnya itu, tak mampu untuk menyaingi pertumbuhan luka yang dialami oleh Axel.


"Tidak.... Jika seperti ini.... Axel! Bertahan lah! Axel! Bisakah kau mendengarku?!" Teriak Eva dengan histeris.


Air mata mulai mengalir di wajahnya.


Pikirannya pun mulai buyar. Ia tak lagi bisa memikirkan situasi ini dengan jernih karena dikuasai oleh panik dan rasa takut.


Rasa takut jika sekali lagi, akan kehilangan partnernya.


Di sisi lain, Axel memperoleh kembali sedikit kesadarannya. Fisiknya yang sedikit pulih, membuatnya mampu melakukan gerakan yang sederhana.


Akan tetapi, Ia sama sekali tak menyadari apa yang baru saja terjadi selama Ia tak sadarkan diri.


Axel berusaha dengan keras untuk berbicara. Tapi tak memiliki kekuatan yang cukup untuk melakukannya. Hal terbaik yang bisa dilakukannya saat ini, hanyalah sedikit menggerakkan bibirnya.


Berharap agar Eva menyadari hal itu.


Dan benar saja, Eva melihat Axel yang seakan berusaha untuk berbicara itu segera memperoleh kembali ketenangannya.


Ia tahu bahwa Flux Booster itu bekerja dan sedikit menyembuhkan Axel.


"Axel?! Ada apa! Perlahan saja! Katakan padaku, ada apa?!" Teriak Eva.


Tapi Axel tak mampu mengatakannya.


Ia hanya bisa berkomunikasi dengan tatapan matanya saja. Secara perlahan, Axel mengarahkan pandangannya ke kanan, lalu ke bawah. Menatap ke arah pinggang kanannya.


Tak hanya itu, tangan kanannya juga terlihat berusaha keras untuk bergerak. Tapi Axel hanya mampu untuk menggerakkan satu jari saja dalam kondisi ini.


Meski hanya itu yang bisa dilakukan oleh Axel, Eva segera memahaminya.

__ADS_1


Bahwa Axel bermaksud untuk meminta Eva agar menyuntikkan Flux Booster padanya.


"Tidak.... Aku tak bisa melakukannya." Balas Eva dengan wajah yang nampak begitu menyesal.


Mendengar hal itu, Axel pun kebingungan.


Kenapa?


Kenapa Eva menolak untuk melakukan itu padanya? Apakah berbeda dari instruksi, bahwa Flux Booster sebenarnya tak bisa menyembuhkan luka kritis?


Akan tetapi, jawaban dari Eva berikutnya segera menyadarkan Axel.


"Aku baru saja menyuntikkan Booster milikku padamu. Jika aku melakukannya sekali lagi tanpa jeda.... Kau pasti akan mati karena syok terhadap Flux berlebihan...." Jelas Eva.


Mendengar jawaban itu, Axel nampak mulai kehilangan harapannya.


Bibirnya mulai berhenti bergerak. Begitu pula dengan jari telunjuknya.


Sedangkan kedua matanya, kini hanya bisa memberikan pandangan kosong ke arah langit-langit pusat pembuangan ini.


Secara perlahan, Axel mulai memejamkan kedua matanya.


Kesadarannya sekali lagi mulai menghilang. Dan kini, rasa kantuk yang begitu berat mulai menguasai dirinya. Seakan memaksanya untuk segera tertidur, mungkin untuk selamanya.


Sementara itu, Eva kini dihadapkan dalam situasi yang sangat kritis.


Di satu sisi, Eva tak tahu apakah Axel bisa bertahan dalam kondisi ini. Sekalipun memang bisa bertahan, seberapa lama?


Apakah cukup untuk membawa Axel kembali ke benteng?


Jika Eva bisa membawa Axel kembali ke benteng, maka Leona dan Frans pasti bisa menyembuhkan semua luka Axel ini dengan mudah.


Tapi itu terbatas pada asumsi jika tubuh Axel memang bisa bertahan selama itu. Jika tidak? Peluang besarnya Axel akan mati dalam perjalanan.


Di sisi lain....


Jika Eva menyuntikkan Flux Booster sekali lagi pada tubuh Axel, hampir 100% Axel akan mati pada saat itu juga.


Semua itu karena keberadaan cairan Flux yang berlebihan di tubuh Axel, yang akan merusak tubuh Axel hingga ke tingkat sel. Yang pada akhirnya, membunuhnya.


Satu gram dari Flux saja sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan listrik 1 kota untuk satu Minggu lebih.


Sedangkan dalam Flux Booster itu sendiri terdapat 440 gram cairan Flux murni. Yang akan disuntikkan ke dalam tubuh satu orang manusia.


Menyuntikkan satu kali saja sudah sangat merusak tubuh, tapi dua kali berturut-turut?


Tapi pada sisi koin yang lainnya, terdapat peluang yang sangat kecil bahwa Axel dapat bertahan dari suntikan kedua secara beruntun.


Dan mungkin, itu adalah satu-satunya harapan bagi Eva untuk menyelamatkannya.


Pada akhirnya, Eva mengambil peluang itu.


Ia mengambil Flux Booster yang ada di pinggang kanan Axel lalu kembali membalikkan tubuh pemuda itu.


Untuk sesaat, Eva memikirkan pilihan ini sekali lagi.


'Apakah ini sudah pilihan yang tepat?' Tanya Eva sekali lagi pada dirinya.


Eva sadar bahwa dalam kondisi ini, Axel bahkan takkan bertahan selama 5 menit. Berharap untuk membawa tubuh Axel melalui perjalanan sejauh 2 jam untuk kembali ke benteng?


Tentu saja itu tak mungkin terjadi.


Tapi ini?


Menyuntikkannya dengan Flux Booster sekali lagi?


'Ku mohon, Axel.... Bertahan lah.'


Dengan kalimat itu, Eva segera menyuntikkan kembali Flux Booster pada punggung Axel. Bertaruh pada sebuah peluang yang sangat kecil, bahwa Axel dapat bertahan hidup.

__ADS_1


__ADS_2