Liberator

Liberator
Bab 51 - Serangan tak terduga


__ADS_3

'Klang! Klang! Klang!'


'Kreeeeekkk!!!'


"Terus! Terus! Terus!"


Beberapa Minggu telah berlalu semenjak misi pertama pembangunan benteng untuk Kota Los Angeles ini.


Meskipun tak mencakup keseluruhan kota ini, benteng ini setidaknya sudah cukup luas untuk menampung lebih banyak penyintas. Memberikan mereka lebih banyak peluang untuk bertahan hidup dan makanan yang jauh lebih melimpah.


Kini, Axel dan juga Liberator lainnya tak lagi menuangkan cairan khusus tersebut.


Bukan karena cairannya tak bekerja. Justru cairannya bekerja terlalu bagus. Akan tetapi, monster yang tersisa di Kota ini benar-benar telah habis.


Beberapa kali monster tingkat C seperti Dread Rider muncul. Akan tetapi dengan jumlah Liberator yang bertugas sebanyak ini, Dread Rider bukan lah ancaman sama sekali.


Dan dengan itu, umat manusia di Kota Los Angeles telah resmi membersihkan monster di sekitar wilayah mereka. Meskipun belum semuanya.


Tapi setidaknya....


Tak perlu lagi mengangkat senjata untuk bekerja.


"Perlahan! Perlahan!"


Teriakan para pekerja sipil itu terdengar nyaring. Padahal biasanya, suara tembakan dari para prajurit lah yang paling sering terdengar.


"Bukan kah ini bagus?" Tanya Eva yang duduk di salah satu atap bangunan itu.


"Tentu saja. Tapi entah kenapa.... Aku hanya merasa kurang nyaman." Balas Axel.


"Jadi kau lebih suka membantai para monster dibandingkan dengan kedamaian ini?" Balas Eva sambil tertawa puas.


"Mungkin...."


Tak banyak yang perlu dikerjakan oleh mereka berdua selain mengawasi lingkungan di sekitar pekerjaan.


Sesekali, satu atau dua ekor Goblin akan muncul dan menyerang. Tapi para Prajurit yang telah terlalu terbiasa berperang itu bahkan tak butuh bantuan Liberator.


Cukup dengan tembakan beberapa peluru, para Goblin itu pun telah terjatuh dan mati. Dimana beberapa prajurit lainnya akan mengangkut mayat mereka untuk dibakar di pusat pembakaran.


Sisi yang lain juga mengalami hal yang sama. Dimana pembangunan berjalan terlalu lancar. Dan kini, kerangka dasar dari tembok setinggi 10 meter dengan tebal 6 meter lebih itu telah selesai.


Hanya butuh melakukan pengecoran dan pelapisan baja saja di bagian luarnya. Termasuk memasang persenjataan di atas dinding tersebut.


"Oracle bilang akan selesai dalam 2 bulan lagi. Bukankah itu cukup cepat?" Tanya Axel.


"Syukur lah. Aku sudah cukup senang melihat umat manusia bisa sekali lagi hidup di bawah cahaya matahari yang hangat ini."


"Lalu, bagaimana dengan Asia Timur?" Tanya Axel sekali lagi.


Eva pun sedikit memiringkan kepalanya selama beberapa saat sebelum akhirnya teringat.


"Aah, benar juga. Kita masih harus membantu mereka menaklukkan Shanghai ya?"


"Kau lupa?"


Axel sendiri sedikit khawatir. Ia masih mengingat perkataan Oracle dengan jelas untuk selalu mewaspadai para Liberator dan Prajurit dari Asia Timur.

__ADS_1


Meski begitu, pekerjaan mereka berjalan dengan sangat baik di Kota ini.


Mereka bahkan mengirim setengah kekuatan mereka untuk membersihkan jauh di luar batas pembangunan dinding pertahanan ini. Menunjukkan bahwa mereka benar-benar memiliki niat yang baik untuk membantu Amerika Utara.


Beberapa pekerja sipil dan penduduk di benteng juga mulai mengidolakan mereka.


Terutama Akane.


Pencapaiannya dalam misi pembangunan dinding ini benar-benar luarbiasa karena Ia membakar habis banyak sekali monster. Termasuk sisa mayat mereka menjadi abu.


Saat Axel masih termenung dalam pikirannya sendiri, seseorang datang memanggilnya.


"Tuan Axel! Ada sesuatu yang besar datang!" Teriak seorang pekerja sipil itu dari bawah.


'Sreeettt!'


Axel dengan segera bangkit dan melompat turun dari atap bangunan itu. Eva juga turut mengikutinya dengan melompat ke bawah.


Setelah mengangkat senjata mereka masing-masing, Axel pun bertanya.


"Dimana?"


"Di sana!" Balas Pekerja itu sambil mengarahkan jari telunjuknya ke arah Utara.


Kedua mata Axel segera menangkap sosok monster jenis baru yang belum pernah dilihatnya sebelumnya.


Monster itu seperti seekor hewan buas dengan empat kaki. Ukurannya sendiri sebesar sebuah rumah dengan dua ekor yang memiliki warna berbeda.


Di punggungnya terdapat sepasang sayap dengan tulang yang terlihat jelas. Sedangkan kepalanya sendiri menyerupai seekor singa dengan taring yang besar dan tajam.


"Hmm? Apa-apaan itu?" Tanya Axel setelah melihat monster itu berlari ke arahnya.


Jarak monster itu memang masih cukup jauh. Mungkin butuh beberapa menit sebelum monster itu sampai di tempat ini.


Meski begitu, Axel segera menyadari ada sesuatu yang aneh pada monster itu.


"Eva, bagaimana menurutmu? Apakah kau tahu monster itu?" Tanya Axel.


"Tidak. Aku belum pernah melihatnya di database. Mutasi?" Balas Eva yang juga kebingungan.


Axel pun segera membuka kunci di tombaknya. Mengubahnya menjadi busur untuk menyerang monster itu dari kejauhan.


Setelah mengambil sebuah anak panah dengan ujung kehijauan itu, Axel segera menarik busurnya dan membidik tepat ke arah kepala monster itu.


Sambaran kilat mulai muncul di sekitar anak panahnya. Dan setelah persiapan yang cukup, Axel pun melepaskan tembakan anak panah itu.


'Swuuuuusshhhh!!!'


Dalam sekejap mata, anak panah itu segera mengenai kepala monster tersebut.


Atau setidaknya....


Itu yang diharapkan oleh Axel.


'Klaaaanggg!!'


"Hah?"

__ADS_1


Axel seketika terkejut melihat pemandangan tersebut.


Sekalipun bukan ahlinya, Axel sangat yakin bahwa anak panahnya cukup cepat dan akurat untuk mengenai target tanpa adanya kesempatan menghindar.


Ya, Axel sangat yakin takkan ada yang bisa menghindari anak panahnya.


Tapi barusan, monster itu mengibaskan salah satu ekornya ke depan. Menahan serangan anak panah Axel dengan begitu mudahnya dan terus berlari.


"Tunggu dulu.... Apa-apaan itu? Axel, kau menggunakan panah dengan ujung hijau itu kan?" Ucap Eva yang juga terkejut melihat reaksi monster tersebut.


"Mungkin aku salah. Akan ku coba sekali lagi."


Kali ini Axel menarik kembali sebuah anak panah dan memastikan bahwa ujung anak panah tersebut berwarna hijau.


Itu karena anak panah dengan ujung hijau itu terbuat dari bahan sisik Lizardmen abnormal yang dulu pernah dikalahkannya. Dan sisik itu memiliki kekuatan yang luarbiasa, bahkan melebihi logam buatan manusia.


Setelah yakin, Axel kembali bersiap menembakkannya.


Kini Ia mengalirkan lebih banyak kekuatan dan benar-benar mengincar kepala monster itu. Tak mungkin tembakan ini akan meleset.


Akan tetapi, sesaat setelah Axel melepaskan anak panahnya itu....


'Klaaangg!'


Sekali lagi, monster itu dengan mudahnya mengibaskan ekor hitamnya yang panjang itu. Semakin dekat, Axel menyadari bahwa ekor itu terlihat begitu keras namun juga lentur.


"Yang benar saja?!" Teriak Eva terkejut.


"Ini buruk.... Ini benar-benar buruk. Eva, minta semua orang untuk kabur." Ucap Axel yang segera berlari ke barisan depan. Tepat dimana para prajurit seragam hitam itu sedang duduk dengan santai sambil bermain kartu.


Setelah berada tepat di depan mereka, para prajurit itu pun bertanya.


"Tuan Axel? Ada apa?" Tanya prajurit itu dengan senyuman yang lebar di wajahnya.


"Evakuasi. Dalam 2 menit, aku ingin semua orang di tempat ini telah pergi menjauh. Sejauh mungkin." Perintah Axel dengan wajah yang begitu serius.


Secara serempak, semua prajurit pun mulai memperoleh kembali rasa takut mereka yang telah lama hilang.


Jika Axel sendiri yang mengatakan bahwa situasi ini berbahaya seperti itu, tak ada alasan bagi mereka untuk ragu.


"Apa yang terjadi?"


Axel hanya diam dan menunjuk ke arah Utara. Tepat ke arah monster hewan buas itu berlari. Jaraknya masih cukup jauh dan sulit untuk dilihat dengan mata biasa.


Tapi setelah beberapa prajurit melihatnya dengan menggunakan teropong binokular, mereka segera sadar.


"Apa-apaan itu?! Semuanya! Cepat bersiap untuk kabur!" Teriak prajurit itu.


Dengan cepat, evakuasi pun dilakukan.


Beberapa pekerja sipil nampak mulai meninggalkan alat berat mereka demi menyelamatkan nyawa mereka.


Tak ada yang bertanya.


Semuanya hanya percaya pada Axel dan juga Eva.


Dan dengan perginya para penduduk sipil serta prajurit seragam hitam itu, kini Axel kembali bertanya pada dirinya sendiri.

__ADS_1


'Apakah kami berdua bisa mengalahkannya?'


__ADS_2