
Sesaat setelah Axel menyuntikkan Booster itu ke arah lehernya, Ia kehilangan kesadarannya.
Liberator yang melawannya barusan hanya melihat sosok Axel sambil tertawa. Apa yang terjadi di hadapannya benar-benar sesuai dengan perkiraannya.
"Hah, sudah ku duga kau akan mati." Ucap Liberator itu sambil membalikkan badannya. Bersiap untuk kembali bertempur melawan pasukan Rusia ini.
Tapi dalam sekejap, jantung Axel kembali berdetak. Bahkan lebih cepat daripada yang sebelumnya.
Ia merasakan kekuatan mulai mengalir kembali dalam tubuhnya. Kekuatan yang telah lama tak pernah Ia rasakan.
'Bzzztt! Bzzzttt!'
Sambaran kilat mulai mengalir di sekujur tubuhnya, memaksanya kembali sadarkan diri dan bangkit dari tanah. Kini, dengan keadaan yang jauh lebih sempurna dari yang sebelumnya.
"Aaah, jadi begitu. Aku paham." Ucap Axel pada dirinya sendiri sambil melihat aliran listrik di telapak tangan kanannya.
Axel mulai memahami inti dari operasi eksperimental yang dilakukan oleh Dmitri ini. Yaitu menyatukan kelebihan dari kedua organisme yang berbeda.
Manusia dan Chimera.
Dimana pada tubuh manusia sendiri, tepatnya Axel, telah memperoleh evolusi secara alami dalam mengendalikan elemen petir.
Sedangkan pada tubuh Chimera, terdapat kemampuan regenerasi yang melampaui batasan wajar. Serta satu poin lagi yang paling penting. Yaitu kemampuan Chimera untuk menyerap energi Flux secara langsung tanpa resiko kerusakan di tubuh mereka.
Dengan kata lain, saat ini Axel dapat disebut sebagai generasi paling mutakhir dari teknologi Liberator.
Menghapuskan kebutuhan perangkat mesin di punggungnya untuk mengolah energi Flux menjadi sedikit lebih ramah terhadap tubuh manusia.
Axel saat ini dapat mengkonsumsi Flux secara langsung layaknya Chimera buas di luar sana. Tapi tetap menjaga akal sehatnya sebagai umat manusia.
Dan dengan cepat....
'Tap! Sraaasashhh!'
Axel memperkuat pukulan dan kakinya dengan petir sebelum berlari ke arah Liberator sebelumnya. Menusukkan tangan kanannya tepat di dadanya.
"Kuuuggghh!"
Darah pun mulai mengalir dengan deras. Dimana Liberator itu kebingungan mengetahui Axel bisa bangkit lagi. Terlebih lagi....
"Si-sialan.... Kau menyembunyikan kekuatanmu?" Tanya Liberator itu.
Tanpa menjawab, Axel segera merebut pedang dari tangan Liberator itu dan menebas tubuhnya menjadi dua.
'Zraaasssshh!'
Setelah menyadari kemampuan barunya, Axel mulai memperhatikan kondisi sekelilingnya.
Pasukan dari Rusia terlihat tertekan dengan sangat kuat. Axel sebenarnya telah merasa curiga kenapa tak ada satu pun prajurit yang membantunya sebelumnya.
Tapi nampaknya, mereka semua telah dibantai habis oleh puluhan Liberator peringkat tinggi dan juga pasukan dari Asia Timur.
__ADS_1
Menyisakan hanya Axel sendirian di tengah garis depan pertempuran ini.
Ia menggenggam pedangnya dengan erat. Menargetkan Liberator Asia Timur yang lainnya untuk dilawannya.
Setelah memastikan lokasi mereka, Axel menggunakan seluruh kekuatannya saat ini untuk melesat dengan cepat.
'Zaaaapp!'
Dalam sekejap, bahkan tanpa lawannya menyadari apa yang sebenarnya terjadi, Axel telah memenggal kepala mereka.
Tak hanya itu, Axel juga merebut Flux Booster yang mereka bawa dan kembali menyuntikkannya di tubuhnya.
Berbeda dengan sebelumnya, Axel kali ini tak pingsan karena tubuhnya telah cukup beradaptasi dengan kemampuan barunya. Hasilnya? Kekuatan Axel hanya semakin meningkat.
'Zraaasshh! Zraaasshh! Zraaasshhh!'
Setiap hentakan kakinya mengantarkan Axel menuju ke arah lawannya. Dan setiap ayunan pedangnya berhasil menebas tubuh lawannya dengan mudah.
Bersamaan dengan itu, Axel terus menerus menyuntikkan kembali Flux Booster ke dalam tubuhnya.
"Apakah tak ada batasannya?" Tanya Axel pada dirinya sendiri setelah menyuntikkan lebih dari 10 Booster dalam waktu yang singkat itu.
Tapi yang Axel rasakan hanyalah dirinya yang menjadi semakin kuat. Tubuhnya terasa begitu ringan saat ini.
Bahkan ketika dikepung oleh puluhan prajurit dari Asia Timur, Axel hanya membutuhkan 1 detik untuk menyelesaikannya.
'Sreeett! Zraaasssshhh!'
"Sia...."
'Zraaasshh!'
"Tolong kami butuh pasukan ta...."
'Sraaaasahh!'
"Medis! Ka...."
'Sraaaaaattt!'
Tak ada ampunan kepada pasukan dari Asia Timur sedikitpun. Axel masih teringat atas kekejaman mereka memperlakukan dirinya sebagai bahan penelitian.
Semuanya dibantai tanpa memandang bulu.
Akan tetapi, semua pembantaian itu akhirnya harus berhenti. Bukan karena Axel tak lagi ingin melawan musuh.
Tapi karena tak ada satu pun sosok seseorang yang masih hidup di sekitarnya.
Pada saat itu lah Axel mulai memikirkan apakah para penduduk sipil telah mengungsi dengan selamat. Axel pun segera berlari ke arah belakang untuk mengejar para penduduk sipil dan menjaganya.
"Benar juga.... Aku harus menemukan Chloe dan...."
__ADS_1
'Swuuoosshhh!'
Sebuah panah api terlihat menancap di tanah tepat di samping kanan Axel.
Bukan sebuah serangan yang dapat membahayakan tubuhnya. Tapi sebuah serangan yang mengingatkannya atas seseorang.
Saat Axel membalikkan tubuhnya, Ia melihat sosok yang tak lagi asing baginya.
"Yoo, Axel. Kau baik-baik saja?" Ucap wanita berambut kemerahan dengan seragam abu-abu Liberator itu.
Axel hanya bisa terdiam dan menganga. Ia tak bisa berkata apa-apa setelah melihat apa yang ada di hadapannya.
"Ba-bagaimana bisa.... Itu...."
Sebelumnya, pihak Rusia memang telah memberitahu bahwa Akane yang dikenalnya bukan lah sosok Akane yang sebenarnya. Melainkan salinan dari Akane yang asli.
Dimana mereka memiliki kode nomor 01 sampai 06. Tapi Axel sama sekali tak pernah menyangka, bahwa kata 'salinan' itu bukan lah sebuah kiasan belaka.
Di hadapannya, Axel melihat 3 sosok wanita berambut merah dengan penampilan yang hampir serupa.
Wanita yang berada di tengah merupakan Akane yang dikenalinya di Amerika Utara dengan sikap yang ceria dan penuh semangat. Di bagian dadanya, terlihat sebuah nomor 01.
Sedangkan wanita di sisi kiri terlihat memiliki potongan rambut pendek dengan poni yang menutupi salah satu matanya.
Ia terlihat sedikit lesu jika dibandingkan dengan Akane yang ada di tengah. Nomor 03 terukir di bagian dada seragam abu-abu nya itu.
Dan terakhir wanita yang ada di sisi kanan memiliki potongan rambut panjang yang diikat ekor kuda. Ia terlihat memiliki tatapan yang begitu serius dan tak mengucapkan sepatah kata pun.
Kedua tangannya nampak sedang membawa sebuah busur yang terbuat dari api. Sedangkan di seragamnya terlihat ukiran nomor 02.
"Terkejut?" Tanya Akane atau A-01 itu.
Di sampingnya, A-03 terlihat mengarahkan tangan kanannya ke depan. Panah api yang ada di samping Axel terlihat terserap ke arah tangan kanannya.
'Swwuuoosshh!'
"Apakah dia targetnya? Terlihat sedikit lemah." Ucap A-03 setelah menyerap api itu.
"Jangan lengah. Aku merasa ada sesuatu yang aneh pada dirinya." Ucap A-02 yang kembali mengangkat busur apinya. Kini secara perlahan warna busur api itu berubah menjadi kebiruan.
"Dengar, Axel. Aku tak ingin berbelit-belit tapi.... Bisakah kau ikut dengan kami sekali lagi?" Ucap A-01 atau Akane itu.
"Fuuuh...."
Axel nampak menghela nafasnya. Ia memikirkan langkah terbaik untuk situasi ini. Bukan untuk kabur.
Tapi langkah terbaik untuk membalaskan seluruh rasa sakit yang dirasakannya selama berada dalam laboratorium gila itu.
'Sreeettt!'
Setelah beberapa saat, Axel mulai memasang kuda-kuda sambil menggenggam erat pedang di tangan kanannya.
__ADS_1
Bersiap untuk mengakhiri semua ini.