
'Cpyok! Cpyok!'
Suara cipratan air dapat terdengar pada setiap langkah kaki Axel, Eva dan juga James di dalam saluran pembuangan air ini.
Berbeda dengan hari sebelumnya, air di saluran ini cukup tinggi hingga mencapai mata kaki dari mereka bertiga. Semua itu dikarenakan hujan yang cukup deras dini hari tadi.
Dalam lingkungan yang gelap dan juga lembab ini, mereka bertiga terus berjalan secara perlahan. Mengikuti arah yang telah mereka petakan sebelumnya.
Pencahayaan dari lampu senter yang dikenakan di kepala mereka cukup untuk menerangi tempat ini.
Hanya saja....
"Sebaiknya kalian tak terlalu mengandalkan diriku.' Ucap James secara tiba-tiba.
"Hah? Apa maksudmu?" Tanya Axel bingung.
James menyalakan korek api dengan bahan logam itu. Api kecil yang muncul dari korek itu segera bergerak ke arah telapak tangan kiri James. Seakan tertarik ke arahnya.
Secara perlahan, api di tangan kirinya itu semakin membesar dan semakin terang. Setelah seukuran bola baseball, James menembakkannya kedepan.
'Swuuushhh!!'
Bola api itu nampak menerangi lorong yang gelap ini sebelum akhirnya meledak menjadi kobaran api ketika menabrak dinding.
Tapi tak lama, api itu segera padam.
"Seperti yang kau lihat, aku pengguna sihir api. Dan tempat ini adalah lingkungan terburuk bagiku." Jelas James kepada Axel.
Axel secara refleks memukul keningnya sendiri dengan telapak tangan kanannya sambil mengeluh ringan.
"Oracle.... Kenapa dia mengirimkanmu di tempat seperti ini?" Tanya Axel kesal.
"Entah lah. Aku hanya menerima tugas untuk menemuimu di pintu masuk markas militer." Balas James tanpa ada sedikitpun penyesalan di dalamnya.
"Sudah lah. Lagipula sudah cukup baik kita mendapat satu tambahan orang bukan?" Ucap Eva.
Tapi Axel hanya bisa diam. Kekecewaannya cukup besar setelah mendengar penjelasan dari James itu.
"Tapi tenang! Jika aku bisa berkonsentrasi cukup lama, aku bisa membuat api yang cukup besar untuk membakar ribuan Lizardmen sekaligus!" Ucap James.
"Seberapa lama?"
"Mungkin 15 hingga 20 menit? Tapi aku harus benar-benar berkonsentrasi, jadi selama itu aku takkan bisa membantu kalian." Balas James.
Kali ini, Axel kembali menyadari sesuatu. Yaitu pernyataan Eva saat dalam misi pertamanya. Dimana Eva melarang Axel untuk ikut membantunya karena hanya akan menjadi beban.
'Jadi ini yang dirasakan Eva saat itu? Akhirnya aku paham. Tapi.... Bukan berarti aku dan Eva juga bisa membantai ribuan dari mereka. Setidaknya....' Pikir Axel dalam hatinya.
Setelah memikirkannya sejenak, Axel akhirnya paham atas apa yang harus dilakukannya.
"Jadi selama aku dan Eva melindungi selama 20 menit, kau akan bisa menghabisi mereka semua bukan?" Tanya Axel.
"Sederhananya seperti itu. Kau benar." Balas James yang mulai menyalakan rokoknya.
Di sisi lain, Eva yang melihat perilaku dari Axel nampak tersenyum puas.
Mengetahui bahwa pria pengecut yang hanya paham untuk kabur, kini benar-benar memikirkan sesuatu untuk membasmi musuh demi menyelesaikan tugasnya.
__ADS_1
'Kau tumbuh dengan cepat, Axel. Aku turut bangga padamu.' Pikir Eva sambil terus tersenyum memandangi sosok Pria berambut kecoklatan itu.
......***......
Sekitar 1 jam perjalanan telah berlalu.
Kini, mereka bertiga telah tiba di tempat pemukiman para Lizardmen itu berada.
Cahaya api dari pemukiman Lizardmen itu nampak menerangi pintu masuk dalam lorong ini.
Tempat yang menjadi pemukiman dari para Lizardmen itu adalah salah satu pusat pembuangan sampah yang dialirkan melalui saluran ini.
Dimana lokasinya sekitar 10 meter lebih rendah dari lorong ini dan memiliki luas mencapai beberapa kali lapangan sepakbola. Dalam tempat ini, terdapat banyak fasilitas untuk membuka dan menutup saluran air.
Termasuk juga fasilitas untuk membakar sebagian besar sampah yang mencapai tempat ini.
Dan semua itu telah dimanfaatkan dengan baik oleh para Lizardmen itu. Menjadikannya sebagai tempat tinggal mereka.
"Kau sudah siap?" Tanya Eva kepada James.
"Segera setelah kalian mengalihkan perhatian mereka." Balas James.
Sementara itu, Axel menarik tombak di punggungnya. Menguncinya rapat-rapat agar tetap berada dalam posisi tombak.
Tas berisi anak panah di punggungnya itu juga masih tertutup agar tak terjatuh saat Axel bergerak terlalu cepat.
Sambil mengayunkan tombaknya beberapa kali untuk pemanasan, Axel juga turut berbicara.
"Jujur saja aku tak begitu yakin dengan rencana ini tapi.... Ku serahkan nyawaku padamu, James."
Dengan kalimat itu, Axel dan juga Eva segera melompat ke bawah. Menuju ke pusat pemukiman ribuan Lizardmen itu dari depan.
'Ctiikk!'
Setelah menyalakan korek apinya, James mulai mengendalikan api yang dihasilkan. Dengan kekuatannya, Ia terus menerus memadatkan dan memperbesar api itu secara perlahan.
Sementara itu....
Axel dan Eva berjalan secara perlahan menuju ke pusat pemukiman itu. Mereka berdua bersikap seakan tak ada sama sekali yang salah dalam keadaan ini.
Dengan senjata masing-masing yang telah mereka genggam dengan erat, keduanya mulai mempercepat langkah kaki mereka.
Sedikit demi sedikit....
'Tap! Tap! Tap!'
Keduanya mulai berlari.
Beberapa Lizardmen yang telah menyadari keberadaan mereka berdua segera mempersenjatai diri mereka. Membuat barisan untuk menahan mereka berdua.
Berkat kemunculan Eva dan juga Axel yang sangat mencolok, keberadaan James di belakang tak begitu diperhatikan.
'Klaangg! Klaaangg! Klaaanggg!!'
Para Lizardmen itu dengan cepat berbaris. Mereka meletakkan perisai besi yang besar di tanah menghadap ke arah Axel dan juga Eva.
Melihat hal itu, Axel sedikit kagum atas kecerdasan para kadal itu dalam mengatur formasi.
__ADS_1
Tapi sayangnya....
"Eva!" Teriak Axel dengan keras.
Dengan segera, Eva melompat ke udara dengan cepat. Mengayunkan pedang besarnya secara vertikal ke arah barisan dinding perisai itu.
'Blaaaarrr! Spraasshhh!'
Tebasan kuat dari Eva tak hanya menghempaskan banyak air di tempat ini. Tapi juga 6 Lizardmen sekaligus yang segera terlontar ke belakang.
"Axel!" Teriak Eva sambil segera melompat mundur untuk memberikan jalan.
Tanpa ragu, Axel segera memperkuat tubuhnya dengan elemen petir miliknya. Termasuk menyelimuti ujung tombaknya dengan petir.
'Tap! Zraaassshhh!!!'
Dalam satu hentakan, Axel melesat bagaikan kilat secara horizontal. Menusuk puluhan Lizardmen dalam satu kedipan mata.
Serangannya terhenti hanya karena Axel tak lagi mampu mendorong tumpukan jasad Lizardmen di hadapannya itu.
Sepanjang lintasan Axel berlari, kilatan petir masih nampak menyambar ke berbagai arah dengan kekuatan yang telah menurun. Membuat tak banyak Lizardmen yang bisa mendekati Axel.
Tak lama setelah itu, Eva kembali melompat. Kini tepat di belakang posisi Axel berdiri.
'Blaaaarrr! Zraaassshh!'
Setelah memberikan tebasan secara vertikal, Eva segera mengayunkan pedang besarnya secara horizontal dengan cepat. Membelah tubuh beberapa Lizardmen dalam sekejap.
Tanpa sepatah kata pun, keduanya segera melanjutkan pertarungan untuk mengalihkan perhatian ini.
Di kejauhan, dimana tak ada satu pun Lizardmen yang terlihat, James nampak menganga melihat kinerja dari dua Liberator di hadapannya itu.
'Yang benar saja? Apa-apaan dengan gerakan itu? Nampaknya.... Peringkat S miliknya bukan lah pajangan semata. Hahaha....' Pikir James.
Setelah merasa mampu mempercayakan semuanya pada Axel dan juga Eva, James segera menutup kedua matanya.
Kedua telapak tangannya nampak fokus untuk memperkuat bola api itu. Sedikit demi sedikit, bola api itu menjadi semakin padat dan semakin terang.
'Bersabar lah, kalian berdua. Aku akan segera menyelesaikan semuanya.' Pikir James dalam hatinya.
Semua rencana ini nampak berjalan dengan sangat baik.
Akan tetapi, ketiganya nampak melupakan satu hal yang cukup penting.
Dalam setiap pemukiman, pasti terdapat seseorang yang mengatur seluruh penduduk yang ada agar kehidupan sosial dapat berlangsung dengan baik.
Bagi manusia, itu adalah mereka yang paling cerdas dan paling karismatik.
Sedangkan bagi monster kadal ini?
Tentu saja, dipimpin oleh Lizardmen yang paling kuat.
Jauh di bagian pusat pemukiman ini, sosok pemimpin itu masih duduk dalam singgasana yang terbuat dari rongsokan sampah di pembuangan ini.
Kedua tangan besarnya nampak memiliki cakar panjang yang sangat tajam.
Tubuhnya sendiri sekitar satu setengah kali lebih besar daripada Lizardmen yang lainnya. Ia memiliki sisik berwarna hijau tua yang jauh lebih tebal dan lebih keras.
__ADS_1
Dengan tatapan yang mengarah tepat pada sosok Axel dan juga Eva di kejauhan, pimpinan dari para Lizardmen itu mulai berdiri. Bersiap untuk menerkam mangsanya.