Liberator

Liberator
Bab 73 - Dua Sisi Koin


__ADS_3

Berkat jaringan informasi yang begitu mendetail, serta kerjasama para pasukan khusus dari pihak Rusia itu, mereka berhasil membawa Axel dan juga Lucy dengan selamat.


Melarikan diri dari Osaka yang sebentar lagi akan menjadi lautan api itu.


Dengan kesadarannya yang terus memudar, Axel dapat melihat sosok Lucy yang digotong di kejauhan itu.


Meski tak bisa melihat wajahnya secara langsung, Axel tahu bahwa itu adalah Lucy dengan ciri rambut pirangnya.


Tiga orang Pria nampak menggotong tubuh Lucy yang kini dipenuhi dengan luka dan darah itu.


'Maaf.... Padahal aku berjanji untuk menjaga dan melindungi mu....' Pikir Axel dalam hatinya.


'Daaarr! Daaarr! Daaarrr!'


Rentetan tembakan senapan mesin itu terdengar di segala arah.


Di lapangan yang cukup luas ini, ratusan prajurit Rusia nampak sedang dalam baku tembak dengan para prajurit dari Asia Timur.


Akan tetapi, mereka terpukul mundur dengan cepat segera setelah Liberator Asia Timur tiba ke medan pertempuran ini.


"Jangan pikirkan mengenai medan pertempuran ini! Apapun yang terjadi, amankan kedua target dan juga data penelitian itu. Lalu cepat naik ke helikopter!" Perintah dari kapten pasukan melalui jaringan komunikasi itu.


"Baik!" Balas para prajurit singkat.


Semuanya rela mempertaruhkan nyawa mereka hanya demi menyelamatkan Axel dan juga Lucy. Karena mereka tahu, kedua sosok ini merupakan salah satu kunci utama dalam tujuan mereka.


Dengan cepat, mereka membawa Axel dan Lucy menaiki helikopter tipe Chinook dengan dua baling-baling utama itu.


'Duk! Duk! Duk!'


Suara baling-baling helikopter itu begitu keras, membuat percakapan biasa hampir tak bisa dimungkinkan.


Axel di sisi lain, hanya bisa pasrah dan menerima apapun yang terjadi. Lagipula, umurnya mungkin tak lama lagi akan berakhir.


"Memulai penerbangan!" Teriak sang pilot helikopter itu sambil mulai menerbangkannya. Sedikit demi sedikit, helikopter itu mulai lepas landas dan segera menjauhi lapangan yang kini menjadi medan pertempuran itu.


Beberapa helikopter lain dengan tipe yang sama juga ikut terbang. Mereka menembakkan senapan mesin kaliber besar dan juga rudal pengincar panas yang mengunci ke arah para Liberator di berbagai arah.


Singkatnya....


Kota yang baru saja ditaklukkan ini, kini kembali hancur sekali lagi. Tapi di tangan manusia.


Ribuan orang terbunuh dalam operasi militer ini. Dan puluhan Liberator juga kehilangan nyawanya.


"Lapor! Subjek A-01 mulai mendekat! Kirimkan 2 helikopter untuk menahannya!" Teriak seseorang dari saluran komunikasi itu.


"Dengan segera!" Balas sang Pilot.


Di kejauhan, Axel bisa melihat. Ratusan prajurit Rusia yang terbantai oleh sistem keamanan dan juga para Liberator dari Asia Timur.

__ADS_1


Tapi helikopter ini pergi begitu saja. Menggunakan pengorbanan mereka demi mencapai tujuan utama Rusia.


"Sisa 6 menit lagi. Waktu tak banyak. Segera menuju ke kapal selam di pantai Tannowa." Ucap Co-Pilot itu.


"Mengerti." Balas Pilot singkat.


Di samping tempat Axel berada, sosok Lucy dapat terlihat dengan jelas. Tubuhnya dibalut selimut yang tebal serta diberi pertolongan pertama melalui selang yang terhubung dengan Tanki oksigen itu.


'Itu.... Lucy?' Tanya Axel kebingungan.


Wajar saja, karena yang dilihatnya bukan lagi sosok gadis kecil berambut pirang yang ceria. Melainkan seorang wanita dewasa yang seakan berada di umur 20an.


Postur tubuhnya menjelaskan semua itu. Dan tentu saja, Axel tak bisa menanyakannya karena pita suaranya yang telah dirusak.


Seakan memahami apa yang dibingungkan oleh Axel, salah seorang prajurit Rusia itu pun berbicara dengan menggunakan bahasa Inggris.


"Tenang saja, dia benar-benar Lucy." Ucap prajurit itu sambil menepuk pundak kiri Axel perlahan.


"Saat ini tak ada waktu untuk menjelaskannya. Tapi intinya, Lucy adalah salah satu keajaiban terbesar di dunia ini. Dan apapun yang terjadi, kami akan menyelamatkannya." Jelas prajurit yang lainnya.


Axel hanya bisa menerima perkataan mereka itu. Lagipula, tak ada lagi sumber informasi lain yang bisa dipercaya.


Setelah beberapa saat, helikopter itu pun tiba di wilayah pantai. Mereka terbang sejauh beberapa kilometer lagi dari bibir pantai.


Dan setelah itu....


Beberapa prajurit yang lain nampak memasangkan alat bantu pernafasan pada Axel dan juga Lucy.


Segera, mereka pun melompat dari helikopter dan terjun ke lautan. Beberapa dari prajurit Rusia itu nampak memandu mereka berdua untuk menyelam ke dalam lautan itu.


Secara perlahan....


Mereka dapat melihat sebuah kapal selam di kedalaman lautan itu. Dengan cahaya lampu yang cukup redup.


'Bluuukk! Bluuukk!'


Setelah menyelam selama 3 menit, mereka akhirnya tiba di dalam kapal selam itu.


"Selamat datang di kapal selam Belgorodd. Tapi sayangnya, tak ada banyak waktu untuk menjamu kalian. Kita akan segera menjauh dari tempat ini." Ucap Pria yang tak lain adalah kapten dari kapal selam ini.


Ia memiliki perawakan tubuh yang besar dengan jenggot yang cukup tebal. Seragam berwarna putih dan biru itu terlihat begitu gagah.


Para prajurit khusus itu pun memandu Axel dan juga Lucy yang sedari tadi tak sadarkan diri menuju ke sebuah ruangan. Agar mereka bisa beristirahat.


Akan tetapi....


Axel menghentikan langkah kakinya. Wajahnya menunjukkan ekspresi yang penuh dengan tanda tanya.


"Hmm? Ada apa, Axel?" Tanya kapten kapal selam itu. Sementara itu, tangan kirinya mengisyaratkan agar para pekerja mulai menggerakkan kapal selam ini.

__ADS_1


Menyelam jauh lebih dalam di lautan ini.


"Nnnhhhh!" Ucap Axel.


Suaranya hanya bisa membuat suara siulan kecil dari mulutnya. Tak mampu untuk membuat kata-kata yang kompleks karena seluruh luka nya.


Seakan memahami apa yang dimaksudkan oleh Axel, kapten itu pun meletakkan tangan kanannya di pundak Axel sambil menjawab.


"Aku tahu, kau pasti punya banyak pertanyaan saat ini. Tapi tenang saja, satu hal yang bisa kami jamin adalah, Rusia berada di pihak umat manusia." Ucap kapten itu.


Perkataannya begitu meyakinkan dengan tatapan yang tajam itu.


Tak mungkin seseorang yang memberikan tatapan mata seperti itu akan berbohong.


"Nnhhh?!" Balas Axel.


"Hmm? Maaf. Kali ini aku tak tahu apa yang ingin kau tanyakan tapi...."


Sebelum kapten itu menyelesaikan perkataannya, salah satu operator di kapal selam ini menyela pembicaraannya.


"Kapten Asimov! Rudal nuklir akan mengenai Osaka 15 detik lagi!" Ucap Operator muda itu.


Senyuman yang lebar pun terlukis di wajah kapten berjenggot dan berkumis tebal dengan warna kecoklatan itu.


"Bagus! Tampilkan siaran dari satelit!" Balas Kapten Asimov.


Pada bagian depan kapal selam itu, sebuah layar yang besar menampilkan citra satelit secara tegak lurus. Menunjukkan wilayah Osaka yang telah dibangun sedemikian rupa sehingga dapat menampung banyak orang.


Dan sesaat kemudian....


Hanya dalam sekejap....


...'BOOOOOOOOOOOOOOOOOOOM!!!'...


Sebuah rudal mengenai tepat di bagian bandara Osaka. Sebuah ledakan yang begitu dahsyat pun timbul, dengan bola api yang besar dan awan berbentuk jamur itu tercipta.


Gelombang kejut dari ledakan itu cukup kuat hingga menghempaskan seluruh bangunan dalam radius 120 kilometer lebih.


Bahkan, kapal selam dimana Axel dan juga Lucy berada saat ini juga ikut menerima efeknya. Getaran mulai terasa di dalam kapal selam ini. Sedikit goncangannya bahkan membuat lampu dan listrik di kapal selam ini mati selama beberapa detik, beberapa kali.


"Hahahaha! Kerja bagus! Akhirnya mereka akan menerima sedikit balasan dari perbuatannya!" Teriak Kapten Asimov itu dengan senyuman yang sangat lebar.


Axel, yang melihat kondisi ini, mulai bertanya-tanya.


Apakah dirinya berhasil selamat dari cengkeraman Asia timur dan akhirnya bisa memperoleh kehidupan yang sedikit lebih baik?


Atau kah dirinya....


Justru memasuki jurang yang jauh lebih gelap lagi?

__ADS_1


__ADS_2