
4 Hari telah berlalu semenjak Oracle mengumumkan penemuan teknologi baru itu. Dan semenjak itu pula, bagian produksi dari benteng ini segera bekerja keras.
Siang dan malam mereka terus memproduksi cairan tersebut dan menyimpannya dalam sebuah tabung ukuran 1 liter lebih. Agar dapat digunakan oleh para Liberator di medan pertempuran.
Sementara itu, Liberator dari pihak Asia Timur mulai kebingungan.
Pasalnya teknologi yang ditemukan oleh Amerika Utara ini jauh berbeda dari apa yang mereka ketahui. Bahkan efeknya juga sedikit berbeda.
Dimana cairan pengalih perhatian mereka hanya membuat para monster itu kebingungan dan tertuju pada cairan itu, cairan milik Amerika Utara ini membuat para monster menjadi benar-benar gila. Sampai-sampai membunuh teman mereka sendiri.
"Apa yang sebaiknya kita lakukan?" Tanya Hao Yu kepada para Liberator lainnya dari Asia Timur.
"Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja membantu mereka bukan?"
"Dia benar. Kita harus memperoleh kepercayaan mereka terlebih dahulu sebelum menjalankan misi utama kita." Balas Liberator yang lainnya.
Mereka semua berbicara di salah satu ruangan khusus untuk para prajurit dan Liberator dari Asia Timur. Tak ada satu pun orang dari Amerika Utara yang berada di lantai ini.
Hal itu juga yang membuat mereka berani berbicara tanpa rasa takut sedikit pun. Tanpa perlu khawatir bahwa akan ada yang mendengarkan mereka.
"Tapi jika kita membiarkannya, bukan kah Amerika Utara akan menjadi terlalu kuat nantinya?" Balas Prajurit yang lain.
"Kau benar. Kita tak bisa membiarkan itu terjadi."
"Bagaimana dengan Uni Eropa? Lalu Timur tengah dan Asia Tenggara?" Tanya seorang wanita berseragam abu-abu itu.
Seorang Pria yang masih menghisap batang rokoknya itu membalas pertanyaannya dengan santai. Seragam abu-abu miliknya menunjukkan bahwa Ia juga merupakan seorang Liberator.
"Timur Tengah masih sibuk mengumpulkan kekayaan. Mereka menjarah dan terus menjarah di segala tempat di dekat mereka. Meski begitu, pertahanan mereka sangat kokoh. Ku dengar mereka juga bisa membunuh Phantom dengan mudah." Jelas Pria itu.
"Membunuh Phantom dengan mudah? Kau bercanda kan? Bahkan Akane sekalipun kesulitan sebelumnya." Balas wanita berseragam abu-abu itu.
"Itu karena kita belum tahu kelemahannya. Lagipula Phantom hampir tak pernah muncul di wilayah Asia Timur. Jadi itu bukan masalah besar bagi kita." Balas Pria itu.
Di sudut ruangan, sosok Akane nampak masih berbicara dengan seorang Pria tua melalui layar monitor komputernya.
Pria tua itu terlihat cukup kurus dengan rambut putih yang mulai rontok. Meski begitu, Ia mengenakan seragam militer dengan bintang lima di kedua bahunya.
"Ya. Kami mengerti, Jendral Matsumoto. Jangan khawatirkan mengenai hal itu." Balas Akane.
"Bagus jika kalian mengerti. Jangan lupakan tujuan utama kita." Balas Jendral Matsumoto itu sebelum mematikan panggilan video tersebut.
Meninggalkan Akane menatap layar hitam itu tanpa kesempatan untuk membalas perkataannya.
Dari belakangnya, beberapa prajurit nampak menanyakan apa yang sebenarnya baru saja terjadi antara Akane dan juga Jendral Matsumoto.
"Apakah ada perintah baru dari Jendral?" Tanya Hao Yu.
__ADS_1
"Ia hanya mengingatkan kita terhadap misi utama kita. Kalian semua! Jangan pernah tunjukkan sikap buruk kepada Amerika Utara. Dan setelah kita mendapatkan kepercayaan mereka, minta mereka untuk ikut kita ke Osaka.
Lalu setibanya di sana, target kita hanya satu. Yaitu Liberator peringkat S di tempat ini, Axel." Jelas Akane dengan tatapan yang terlihat begitu menyeramkan.
Hao Yu pun menanyakan apa yang ada di dalam pikiran semua orang di sekitarnya.
"Lalu, bagaimana dengan sisanya? Mereka akan mengirimkan setidaknya sepuluh orang bukan?"
Senyuman yang lebar mulai muncul di wajah Akane. Memperlihatkan seluruh niatan buruknya begitu saja.
"Sisanya? Terserah kalian. Jika ada seseorang yang kalian inginkan, aku akan membantu kalian mendapatkannya. Jika tak ada, aku akan membunuh sisanya. Cukup adil bukan?" Balas Akane sambil tersenyum lebar.
"Aaah, aku mengerti." Balas Hao Yu.
Seluruh prajurit lainnya pun nampak menganggukkan kepala mereka seakan menyetujui apa yang dikatakan oleh Akane.
Lagipula, tujuan mereka hanya satu.
"Untuk kejayaan Asia Timur!" Teriak salah seorang Liberator sambil memukul dadanya dengan tangan kanannya.
"Untuk kejayaan Asia Timur!" Balas semua orang secara bersamaan.
......***......
'Swuusshh! Zraassh! Klaang!'
Dalam ruangan yang cukup besar lengkap dengan dinding besi itu, dua orang prajurit berseragam abu-abu nampak saling mengadu senjata mereka.
Di satu sisi, seorang pemuda berambut kecoklatan nampak membawa tombaknya.
Sedangkan di sisi lain, seorang wanita dengan rambut perak panjang nampak membawa sebuah pedang besar dengan kedua tangannya.
Mereka berdua tak lain adalah Axel dan juga Eva.
Dalam waktu senggang, keduanya selalu berlatih bersama untuk mengasah kemampuan mereka.
"Terlalu tinggi! Kau takkan mengenai apapun dengan itu!" Teriak Eva mengomentari serangan Axel barusan.
'Swwuuusshh! Klaaangg!!'
"Gerakanmu mudah sekali terbaca, Axel! Buat gerakan pengecoh untuk menipu musuhmu!"
Eva terus menerus memberikan saran dan masukan kepada Axel setiap kali mereka bertukar serangan.
Meski begitu, Axel dilarang menggunakan kemampuan sihirnya. Dan hanya diperbolehkan menggunakan kemampuan fisiknya.
Memang dirasa tak adil sama sekali, karena elemen petir itu sendiri sudah merupakan bagian utama dari kekuatan Axel.
__ADS_1
Akan tetapi, tujuan dari Eva adalah untuk membuat gerakan dan pola serangan Axel lebih baik. Sehingga jika digabungkan dengan kemampuan elemen petirnya, maka Axel takkan tertandingi.
'Klaangg! Klaaangg! Zraasshh!'
Setelah lebih dari dua jam pertarungan yang sengit, akhirnya Axel terjatuh. Ia kehabisan tenaga dan nafasnya.
Tak seperti Eva yang diberkati dengan evolusi kemampuan fisik yang tinggi, Axel sama sekali tak memperolehnya. Dan hanya memperoleh kemampuan elemen petir saja.
"Hah.... Hah.... Hah...."
Tombak kehijauannya tergeletak di tanah. Cukup jauh bagi Axel untuk mengambilnya dengan tangan kanannya.
Tapi sekali pun Axel bisa meraihnya, Ia tak lagi memiliki tenaga untuk mengayunkannya. Jadi Axel hanya memilih untuk diam.
Di saat Axel kehabisan nafasnya dan tergeletak di lantai besi itu, Eva segera berjalan mendekat dan mengulurkan tangan kanannya. Pedang besarnya telah diletakkan kembali di punggungnya.
Axel segera menjabat tangan itu dan berdiri.
"Kau benar-benar gila, baru saja sembuh 2 hari yang lalu, tapi segera kembali menghajar ku." Ujar Axel sambil tersenyum tipis.
Itu benar.
Axel sama sekali belum pernah menang melawan Eva jika tak menggunakan kemampuan elemen petirnya.
Tapi sebaliknya, Eva juga tak pernah menang melawan Axel jika Ia menggunakan kemampuan petirnya. Gerakan Axel terlalu cepat bagi Eva untuk melakukan apapun.
Sesaat setelah pertandingan dimulai, tombak milik Axel pasti telah berada tepat di samping lehernya. Bahkan sebelum Eva berkedip satu kali pun.
"Aku hanya ingin mengajarkan padamu apa yang ku ketahui." Balas Eva sambil mengelap wajah dan rambutnya dengan handuk itu.
Setelah meneguk air putih yang dingin itu, Eva kembali berbicara kepada Axel.
"Meski begitu, kau benar-benar telah meningkat. Terakhir kali hanya 50 menit bukan?" Ucap Eva.
"Jika diingat-ingat kembali, benar juga. Dan juga, kemampuan fisikku terus meningkat seiring dengan latihan ini. Yang mana merupakan hal bagus untukku." Balas Axel sambil tersenyum tipis.
Secara tiba-tiba, Eva segera merangkul Axel di lehernya. Memaksanya mendekat pada diri wanita itu.
"Bagus! Sebagai hadiah, aku akan mengundang mu minum-minum di rumahku!" Teriak Eva sambil mengangkat botol air putihnya ke udara.
"Eh? Tidak, aku tidak pernah minum dan...."
Eva sama sekali tak menjawab. Ia hanya meraih tombak Axel yang tergeletak di tanah dan membawakannya. Tanpa memberi kesempatan bagi Axel untuk menjelaskan apapun yang ada di dalam kepalanya.
"Tak masalah! Selalu ada pertama kali untuk semua hal! Cepat ikut denganku!" Balas Eva sambil terus merangkul tubuh Axel dengan sekuat tenaga. Menarik pemuda itu ke dalam elevator untuk meninggalkan markas militer ini.
Menuju ke kediamannya.
__ADS_1