
Sekali lagi, Axel mulai memperoleh kembali kesadarannya. Tapi kali ini bukan di atas ranjang medis. Melainkan di dalam sebuah tabung yang penuh dengan cairan berwarna kehijauan.
"Mmmhhh!!" Teriak Axel berusaha berbicara. Tapi suaranya tak mampu terdengar karena mulut dan hidungnya tertutupi oleh alat bantu pernafasan.
Melihat pergerakan dari Axel, seorang wanita nampak berjalan mendekat ke arahnya.
Axel sendiri tak mampu melihatnya dengan begitu jelas karena banyaknya gelembung air dan warna pandangannya yang didominasi oleh warna kehijauan.
Tapi tak salah lagi, wanita yang berdiri di hadapannya itu nampak cukup bahagia dengan senyuman tipis di wajahnya.
"Selamat datang kembali, Axel. Pemulihan mu cukup cepat, hanya 12 hari saja. Dimana rata-rata pasukan divisi khusus membutuhkan sekitar 14 hingga 15 hari." Jelas wanita yang nampaknya berambut hitam itu.
Di bagian dada kirinya, nampak sebuah lencana dengan huruf [S] berwarna keemasan menempel di seragam abu-abunya.
"Mmmhhh?!" Tanya Axel kembali.
"Ya, aku tahu. Divisi pasukan khusus, seperti namanya, hanya terdiri atas pasukan paling elit. Di dalam benteng ini, hanya ada 15 orang, termasuk dirimu." Jelas wanita itu.
"Mmhh?"
Apa yang ada dalam pikiran Axel hanya satu.
'Bukankah mereka bilang harus bergabung ke militer agar bisa hidup nyaman di benteng ini? Kenapa hanya ada 15 orang jika aku melihat ratusan penduduk lebih di kota bawah tanah ini?'
"Sebelumnya, maaf. Mungkin kami terkesan berbohong, tapi dalam militer ada dua jenis prajurit. Seragam hitam adalah prajurit reguler, sedangkan seragam abu-abu adalah prajurit divisi khusus." Jelas wanita itu.
"Mmhhh?!" Teriak Axel.
"Ya. Keduanya memperoleh keuntungan kependudukan yang sama di benteng ini. Dengan pengecualian, hanya pasukan divisi khusus yang memperoleh perlakuan sangat istimewa."
Kini, Axel mulai menyadarinya.
Kemungkinan besar, dirinya telah ditipu agar mau bergabung ke dalam pasukan khusus ini. Sekalipun bergabung dengan pasukan biasa juga bisa memberikan tempat bagi adiknya untuk tinggal.
Hanya saja, Axel tak memahami alasannya kenapa Ia harus melalui neraka yang sangat menyakitkan itu sebelumnya.
'Tap!'
Saat Axel sedang memikirkan hal itu, wanita yang sedari tadi berbicara kepadanya menempelkan selembar kertas di kaca tabung tempat Axel berada.
"Jika kau penasaran kenapa kami menipu mu agar memasuki divisi khusus, ini jawabannya." Tegas wanita itu.
Secara perlahan, Axel mendekatkan wajahnya ke arah kertas itu. Membaca detail yang ada di dalamnya.
"Singkatnya, Eva melihat potensi mu. Kau harus tahu, tak semua manusia memperoleh evolusi yang kuat ketika kontak dengan Flux. Hanya sebagian kecil saja, contohnya kita berdua." Lanjut wanita itu.
Axel tak menjawabnya. Ia masih sibuk membaca informasi tingkat di kertas itu.
...[Code Name : Axel]...
...[Rating : S]...
...Hasil analisa menunjukkan afinitas elemen petir yang tinggi. Membuat kemampuan pergerakan Axel sangat cepat dan lincah. Magus Type...
__ADS_1
...[Strength : D]...
...[Vitality : D]...
...[Agility : S]...
...[Dexterity : A]...
"Seperti yang kau lihat, itu adalah kemampuanmu yang baru setelah mendapatkan Flux tambahan. Sederhananya, kau menjadi 10 kali lebih kuat daripada dirimu yang sebelumnya." Jelas wanita itu.
Ia kemudian menarik kertas itu dan membalikkan badannya. Meninggalkan Axel sendirian di dalam tabung penuh cairan kehijauan itu.
"Besok kau sudah bisa keluar. Untuk saat ini, beristirahat lah. Karena setelah itu, kau akan terus mendapatkan misi untuk bekerja tanpa banyak istirahat." Teriak wanita itu dari kejauhan.
Kini, Axel hanya sendirian.
Ia bisa melihat beberapa tabung lain yang serupa, tapi tak ada satu pun orang di dalamnya.
Dan dalam kesendirian ini, Axel berusaha untuk memantapkan hatinya. Tak ada lagi jalan kembali baginya setelah semua ini.
Axel hanya bisa memanfaatkan sisa masa hidupnya, untuk menolong sebanyak mungkin orang. Tidak....
Ia hanya ingin....
Memberikan tempat hidup yang nyaman untuk adiknya. Itu saja.
......***......
Axel telah pulih sepenuhnya.
Dua orang nampak berjalan di sekitar tabung miliknya untuk melepaskan Axel. Kedua orang itu tak lain adalah Leona dan juga Frans, sosok yang melakukan operasi gila pada punggungnya itu.
"Kenakan ini." Ucap Leona sambil menyerahkan setelan seragam berwarna abu-abu lengkap dengan kaos, celana pendek dan juga pakaian dalam lainnya.
"Te-terimakasih." Balas Axel sambil berusaha untuk membelakangi pandangan Leona.
"Tenang saja. Aku sudah melihat banyak orang tanpa sehelai pakaian, melihatmu seperti itu juga bukan masalah besar bagiku. Lagipula, bukan berarti aku akan tertarik dengan barangmu." Balas Leona dengan tatapan yang terkesan begitu lelah.
Bahkan kantung matanya nampak begitu menghitam dengan wajah yang lesu.
Di sisi lain, Frans nampak memonitor kesehatan dari Axel. Mulai dari refleks, pandangan, dan lain sebagainya. Sedangkan hasilnya....
"Semuanya bagus. Kau bisa pergi. Aaah, Oracle telah menunggumu di lantai B19." Ucap Frans.
"Oracle?" Tanya Axel kebingungan.
"Wanita yang berbicara padamu kemarin. Dia adalah ketua dari divisi khusus di Amerika Utara ini." Balas Frans tanpa melihat ke arah Axel sedikit pun.
"Eh?"
......***......
Axel menaiki elevator untuk turun ke lantai B19. Dimana lantai ini merupakan ruang pertemuan utama untuk para pasukan divisi khusus melakukan rapat.
__ADS_1
Di dalamnya, beberapa anggota lain dari pasukan divisi khusus Liberator telah duduk di kursi mereka. Dan di bagian terdepan, bersebelahan dengan layar yang besar, wanita yang dilihat oleh Axel semalam sedang mengerjakan sesuatu pada komputernya.
"Jadi dia S rank yang baru?"
"Tak begitu meyakinkan. Tapi lebih baik daripada tak ada sama sekali."
"Semoga kali ini tak mati secepat anggota yang sebelumnya."
Berbagai ujaran mengenai dirinya dapat didengar oleh Axel dari berbagai anggota lainnya.
Totalnya, terdapat 9 orang di ruangan ini, termasuk Axel itu sendiri.
"Axel. Kemari lah." Ucap Eva sambil menepuk kursi besi di sebelahnya.
Sambil mengangguk, Axel pun segera berjalan ke arah tempat duduk di samping Eva.
"Kau sudah baikan?" Tanya Eva dengan senyuman yang ramah.
"Begitu lah. Ngomong-ngomong, adikku baik-baik saja kan?"
Itu adalah satu-satunya hal yang dipikirkan oleh Axel. Sekalipun dirinya harus menderita, tak masalah selama adiknya baik-baik saja. Tapi jika sebaliknya....
"Tenang saja. Dia tinggal di apartemen eksklusif untuk para kerabat divisi khusus. Lihat ini." Ucap Eva sambil mengeluarkan ponselnya.
Di sini, ada dua hal yang mengejutkan Axel.
Pertama, adalah kenyataan bahwa adiknya nampak begitu bahagia ketika sedang makan malam bersama kakek dan nenek yang tak dikenal Axel dalam foto tersebut.
Kemudian yang kedua....
"Ponsel?! Aaah, benar juga. Bukankah di sini ada listrik?! Tapi bagaimana dengan sinyalnya?" Ucap Axel terkejut.
"Hahaha. Kau terkejut soal itu? Tenang saja, aku nanti akan memintakan pada departemen komunikasi ponsel untukmu dan adikmu. Sedangkan sinyalnya, tentu saja berasal dari benteng ini." Jelas Eva.
Keduanya berbincang sesaat sebelum akhirnya wanita yang sedari tadi duduk di depan telah menyelesaikan pekerjaannya.
Ia adalah Oracle. Ketua dari divisi khusus ini.
Setelah berdiri, Oracle meredupkan lampu dalam ruangan ini dan memulai rapatnya.
"Perhatian, semuanya. Misi baru untuk kalian. Kami baru saja memperoleh sinyal radio yang meminta bantuan dari sektor 12. Satu tim akan bergerak ke sana.
Sedangkan sisanya, aku akan meminta 3 tim untuk menjelajahi reruntuhan generator listrik bertenaga Flux. Ambil sebanyak mungkin Flux dan bawa Kembali ke benteng ini.
Eva, kau bawa anak baru itu untuk menjawab panggilan sinyal radio itu. Semuanya mengerti?" Jelas Oracle dengan cukup panjang lebar.
"Dimengerti!" Balas semuanya dengan serempak, kecuali Axel.
"Eh? Kelompok? Apa yang...."
"Ikut denganku." Balas Eva sambil menarik Axel secepat mungkin.
"Eeeh?!"
__ADS_1