Liberator

Liberator
Bab 31 - Escort 1


__ADS_3

Suasana di bandara internasional Los Angeles saat ini begitu tenang.


Semua orang bersiaga dalam posisi mereka. Tapi bukan dalam keadaan yang santai. Melainkan dalam keadaan yang sangat gugup.


Jika misi ini gagal, akan ada banyak nyawa yang dipertaruhkan.


Tapi untuk mencapai keberhasilan itu sendiri, mereka tahu itu takkan mudah. Pasalnya, pihak markas utama telah memberitahu bahwa banyak monster yang mulai bergerak ke arah bandara itu.


"Hei.... Kita bisa selamat kan?" Tanya seorang Prajurit berseragam hitam yang memegang erat senapan mesin tipe Assault Rifle itu.


"Hah? Ke-kenapa kau bertanya seperti itu?" Tanya prajurit di sebelahnya.


"Bukan kah markas bilang, pertempuran kali ini sangat berat? Itu lah kenapa banyak dari kita dipaksa untuk keluar dari benteng bukan?" Balas prajurit yang lain.


"Te-tenang saja! Bukankah ada 10 Liberator di sini? Me-mereka pasti bisa mengatasinya bukan? Benar begitu bukan?" Tanya Prajurit berseragam hitam yang lainnya.


Tapi tak ada satu orang pun yang bisa menjawabnya.


Tak ada satu orang pun yang bisa memastikan bahwa semuanya akan bertahan hidup hingga akhir.


Hal yang sama juga dirasakan oleh para Liberator, atau prajurit khusus berseragam abu-abu itu.


"Eva, kau baik-baik saja?" Tanya Johann yang membawa senjata berupa perisai besar itu dan sebuah gada besar itu.


Perawakan Johann yang begitu besar dan kekar membuat seakan-akan kemampuan fisik Eva yang begitu luarbiasa menjadi terbayang-bayang.


Lagipula, Pria besar itu memiliki peringkat A yang sama dengan Eva. Dengan pengecualian, Johann memiliki kecepatan dan kelincahan yang lebih rendah daripada Eva. Sebagai gantinya, daya tahan dan kekuatan fisiknya yang lebih unggul.


"Ya, aku baik-baik saja." Balas Eva sambil terus memperhatikan kedua telapak tangannya.


Tentu saja, jawaban itu adalah sebuah kebohongan untuk membuat dirinya sendiri merasa baik-baik saja.


Pada kenyataannya, Eva masih dihantui oleh rasa takut.


Sebuah perasaan takut yang kuat jika dirinya tanpa sengaja akan membuat orang lain kembali terluka. Sama seperti yang terjadi pada Axel dan James.


Tapi saat Ia masih memikirkan hal itu....


'Tap!'


Seseorang nampak memukul pundak Eva dengan cukup keras. Pria itu tak lain adalah James, yang masih dengan santai menghisap sebuah batang rokok.


"Tenang saja, nyatanya aku masih hidup." Ucap James.


Eva tak bisa menjawabnya.


Itu karena kali ini, James memiliki banyak bekas luka di tubuhnya. Termasuk di wajah dan lehernya dengan bekas luka cakar tajam dari para Lizardmen yang kini telah mulai menutup.


"Jika kau memang masih merasa bersalah padaku, aku akan memberikan kesempatan bagimu untuk menebusnya." Lanjut James sambil menghembuskan asap rokoknya.


Senyuman di wajahnya yang begitu lebar membuat Eva semakin kebingungan. Apakah James benar-benar akan memaafkan dirinya sepenuhnya?


Tapi jika memang ada sesuatu yang bisa dilakukannya....


"Katakan, apa yang perlu ku lakukan agar kau memaafkan diriku sepenuhnya?" Balas Eva dengan tatapan yang dipenuhi kesedihan itu.


Kini, sambil memasang wajah yang penuh atas perasaan bahagia, James pun berkata.


"Tidur lah denganku setelah misi ini selesai." Ucap James dengan senyuman yang begitu lebar sambil menatap tepat ke arah kedua mata Eva.


Akan tetapi....

__ADS_1


Jawaban yang diberikan oleh Eva jauh diluar harapannya.


"Baiklah. Setelah misi ini selesai." Balas Eva sambil segera memalingkan wajahnya.


Tak banyak ekspresi yang terlihat di wajah wanita berambut perak itu. Selain ekspresi yang menunjukkan perasaan lega di hatinya, yang dapat sedikit meringankan beban pikirannya.


"Eh? Kau mau?" Tanya James kebingungan.


"Ada apa? Bukan kah kau yang memintanya?" Balas Eva.


"Ya-yaa.... Memang benar begitu tapi...."


"Tapi?"


James hanya diam sesaat. Senyuman lebarnya barusan segera menghilang dengan begitu cepat. Yang kini digantikan dengan ekspresi wajah rumit yang merupakan campuran antara kebingungan dan kekecewaan.


Pada kenyataannya, James hanya bermaksud untuk menggoda Eva agar membuatnya sedikit marah padanya. Sehingga sedikit meredakan rasa bersalah Eva atas dirinya.


Tapi mengetahui bahwa Eva justru menjawabnya seakan itu memang merupakan permintaan yang sebenarnya?


'Sialan.... Harus kah aku bahagia atau kecewa dalam situasi ini?' Tanya James dalam dirinya sendiri.


Secara tiba-tiba....


Pesan dari markas pusat tiba di earphone semua prajurit di lapangan ini.


"Semuanya bersiap! 4 buah pesawat besar dari Cabang Asia Timur telah tiba! Tapi ada berita buruk untuk kalian...." Ucap Oracle melalui jaringan komunikasi itu.


Semua orang menelan ludah mereka.


Mempersiapkan diri terhadap berita buruk apapun yang akan disampaikan oleh Oracle itu.


Akan tetapi....


Bagaimana tidak?


"40.... Tidak. 50 ekor Dread Rider mengikuti keempat pesawat itu! Seluruh prajurit bersiap lah untuk memberikan mereka dukungan!" Teriak Oracle dalam panggilan itu.


Di sisi lain, Axel yang mendengar informasi ini hanya bisa membelalakkan kedua matanya.


"Lima puluh.... Dread Rider?!" Teriak Axel.


Jangankan 50, Axel sendiri saja hampir kehilangan nyawanya ketika melawan 1 Dread Rider. Itu pun dengan bantuan Eva dan juga Flux Booster.


Tapi jika Ia menggunakan Flux Booster lagi....


"Bbzzzttt! Cabang Amerika Utara! Kalian mendengar kami?! Kami dari Cabang Asia Timur. Meminta bantuan segera untuk menembak jatuh para Dread Rider ini!" Teriak salah seorang kapten pesawat itu melalui jaringan komunikasi Amerika Utara.


Axel yang turut mendengarnya segera membuka kunci pada tombaknya, mengubahnya menjadi sebuah busur dengan warna kehijauan yang cukup gelap.


Secara perlahan, Axel melepaskan tas yang cukup besar di punggungnya. Sebuah tas yang berisi penuh dengan anak panah.


Sekitar 120 anak panah terbuat dari logam Plasteel yang kuat. Sedangkan sisanya yaitu sekitar 40 anak panah terbuat dari sisik Lizardmen abnormal yang dikalahkan oleh Axel sebelumnya.


'Klak! Sreeeettt!!'


Axel mengambil satu anak panah dengan bahan Plasteel itu. Menarik busurnya sekuat tenaga dan mengincar ke arah kejauhan.


Akan tetapi.... Ada satu hal yang membuat Axel bertanya-tanya.


'Aneh sekali.... Padahal jaraknya masih beberapa kilometer lagi. Tapi kenapa? Aku seakan bisa melihatnya?' Tanya Axel pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Entah kenapa, pandangannya akhir-akhir ini seakan meningkat. Menjadi lebih tajam. Dan kini, dapat melihat dalam jarak yang sangat jauh?


Setelah selesai membidik dan yakin atas arah tembakannya, Axel pun segera memperkuat panahnya dengan elemen petir miliknya.


Sambaran petir mulai mengalir dari tubuh Axel, secara perlahan menuju ke ujung dari anak panah itu. Beberapa saat kemudian, Axel pun melepaskan tembakan pertamanya.


...'ZRAAAAAAATTTT!!! BLAAAARRR!!!'...


Dari tembakannya, petir mulai mengalir ke sekitar tempat Axel berada.


Sedangkan dari sisi tangan kanannya yang melepaskan anak panah itu, tekanan angin yang sangat kuat, yang diiringi dengan sambaran petir meremukkan sebagian dari atap bangunan ini.


Tembakannya melesat dengan begitu cepat ke arah targetnya.


Merasa puas dengan tembakan pertamanya, Axel pun mengambil anak panah yang lain dan bersiap untuk memberikan tembakan kedua.


Sementara itu....


Di sisi lain....


...'NGIIIIIIING!!!'...


Suara mesin jet pesawat yang begitu keras memekikkan telinga siapapun yang ada di dekat mesin itu.


Yaitu puluhan Dread Rider yang mengendarai Wyvern itu....


Serta seorang wanita dengan rambut panjang berwarna kemerahan yang berdiri di atas salah satu pesawat itu.


Ia berdiri tepat di atas badan pesawat hanya dengan menggunakan beberapa pengait tali baja yang terikat di pinggangnya.


Pada tangan kanannya, sebuah bola api berwarna kemerahan nampak tercipta. Siap untuk ditembakkan oleh wanita itu.


Tapi sebelum wanita itu sempat menembakkan bola apinya....


...'ZRAAASSSSHHH!!!'...


Sebuah sambaran petir menembus tubuh salah satu wyvern yang ditunggangi oleh Dread Rider itu.


Begitu cepat dan kuat, Wyvern itu segera menderita luka parah dan tak mampu lagi untuk terbang.


Wyvern itu membawa Dread Rider yang menungganginya jatuh ribuan meter ke tanah. Yang pasti akan membunuhnya.


Melihat kejadian itu, wanita berambut merah tersebut segera menoleh ke arah asal sambaran petir tersebut.


Tak hanya melihat asal dari petir itu, tapi wanita itu juga melihat sambaran petir yang serupa untuk kedua kalinya.


...'ZRAAAAASSSSHHHH!!!'...


Sambaran petir kali ini mengenai tepat di dada Dread Rider itu. Tapi karena zirah Dread Rider yang terlalu tebal, sambaran petir itu tak mampu membunuhnya secara langsung.


Meskipun....


Sambaran telak itu membuat Dread Rider tersebut terjatuh dari Wyvern yang ditungganginya dan siap untuk terjun bebas setinggi ribuan meter. Kematian sudah pasti menemuinya.


Melihat kejadian itu terulang kembali, wanita berambut merah itu mulai bertanya-tanya.


'Siapa? Aku tak pernah mendengar ada Liberator seperti itu di Amerika Utara.' Pikir wanita itu dalam hatinya.


Tapi tangannya tak berhenti. Ia terus menerus melemparkan bola api ke berbagai arah yang segera melelehkan zirah tebal Dread Rider itu.


Kini, pertempuran untuk melindungi para penumpang dari Cabang Asia Timur benar-benar telah dimulai.

__ADS_1


Dengan awalan yang sedikit buruk.


__ADS_2