
"Yang benar saja?! Frans! Dimana kau menemukannya?!" Teriak Oracle yang kini seakan melupakan seluruh pekerjaannya barusan.
"Citra satelit Orion. Seperti yang kau lihat, itu adalah gambar yang diambil di salah satu Gerbang Dimensi umat manusia di New York." Jelas Frans singkat.
'Braakk!'
Seketika, Oracle terjatuh ke lantai. Kedua tangannya bahkan tak mampu untuk memegang tablet tipis itu lagi. Melepaskannya hingga ikut jatuh ke lantai. Meremukkan sebagian dari layarnya.
"Ini tidak mungkin...." Pikir Oracle dengan tubuh yang lemas.
Seluruh kekuatannya seakan menghilang. Mengembalikannya seperti seorang anak kecil yang dikuasai oleh rasa takutnya sendiri.
Di puncak kejayaannya, umat manusia membangun 12 gerbang dimensi di seluruh penjuru dunia.
Amerika Serikat, New York.
China, Beijing.
Inggris, London.
Jerman, Berlin.
Rusia, Moscow.
Turki, Istanbul.
Jepang, Tokyo.
Filipina, Manila.
India, Mumbai.
Itali, Roma.
Brazil, Sao Paulo.
Afrika Selatan, Cape Town.
Keduabelas Kota besar di seluruh penjuru dunia itu membangun 12 gerbang dimensi. Sebuah gerbang yang menghubungkan umat manusia ke dalam sebuah alam semesta yang tak diketahui.
Akan tetapi, umat manusia sama sekali tak tertarik dengan alam semesta di dimensi yang berbeda itu.
Tidak sedikit pun. Atau setidaknya, tidak untuk saat itu.
Apa yang mereka cari hanyalah energi yang sangat melimpah dari celah dimensi tersebut. Sebuah energi yang hanya bisa diperoleh dengan mengebor dimensi.
Dan energi yang kini disebut sebagai Flux itu lah yang dianggap sebagai sebuah lompatan besar bagi umat manusia.
Akan tetapi, semenjak serangan balasan dari para monster yang berasal dari dimensi lain itu, seluruh gerbang dimensi telah ditinggalkan.
Tak ada satu pun pihak, bahkan Liberator sekalipun yang berhasil mempertahankannya.
Itu karena gerbang dimensi tersebut terus menerus mengirimkan monster tanpa henti.
Dan gerbang yang sama itu lah yang menjadi tempat kembalinya para monster setelah berhasil menghancurkan bumi ini.
Tapi kini....
Apa yang dilihat oleh Oracle di dalam gambar citra satelit tersebut....
Adalah sesuatu yang sama sekali tak pernah terbayangkan olehnya.
__ADS_1
Yaitu lahirnya pihak ketiga dalam pertempuran ini.
"Oracle, kau baik-baik saja?" Tanya Frans sambil mengulurkan tangan kanannya. Berusaha untuk membantu Oracle kembali berdiri.
Oracle pun menerima tangan kanan Frans dan segera berdiri.
Tapi tubuhnya masih merasa lemas. Ia masih merasa tak berdaya setelah melihat apa yang ada di dalam tablet tersebut.
"Apa yang sebaiknya kita katakan pada yang lainnya?" Tanya Frans.
"Rahasiakan terlebih dahulu." Balas Oracle singkat.
"Tapi...."
"Akan terlalu buruk jika orang-orang mengetahui hal ini. Yang perlu kita lakukan juga takkan berubah. Yaitu terus berjuang untuk bertahan hidup.
Sedangkan apa yang ada pada gambar itu, hanyalah sebuah keputusasaan yang akan menghapuskan seluruh harapan di dalam diri siapapun." Jelas Oracle.
Apa yang dikatakannya itu memang masuk akal. Frans juga bisa menerima penjelasan serta alasan dari Oracle itu sendiri.
Setelah terdiam beberapa saat tanpa adanya balasan, Oracle kembali meraih ke tablet itu dan memandangi gambar tersebut sekali lagi.
Pada layar tablet itu, terlihat dengan jelas foto tumpukan mayat para monster yang dimangsa oleh monster baru itu.
Dimana tubuh monster baru itu, sama seperti yang dihadapi oleh Axel saat ini, seakan merupakan gabungan dari beberapa hewan buas yang bermutasi. Kini menjadi berukuran raksasa.
Dan mereka, dengan lahapnya menghabiskan banyak cairan Flux yang bocor di sekitar portal tersebut.
"Tak hanya manusia, mereka juga berevolusi ya?" Ujar Oracle melihat kengerian itu.
"Ku rasa memang demikian. Tapi ini...."
Sebuah pihak yang sama sekali tak mengenal apapun selain memangsa korbannya.
......***......
"Axel. Kau mendengarku?" Tanya Oracle dari saluran komunikasi itu.
Axel yang masih terus berlari dan memancing monster hewan buas itu pun menjawab.
"Ya, ada apa?"
"*Kami akan mengklasifikasikan monster itu dalam ID Chimera, tingkat A+. Hasil analisa menunjukkan monster itu memiliki ketahanan, kelincahan, dan kekuatan fisik yang tinggi. Tapi berbeda dengan monster yang lain.
Monster kali ini.... Memiliki Flux yang terpusat tepat di jantung mereka. Mungkin kau bisa mencoba untuk menyerangnya*?" Jelas Oracle panjang lebar.
'Blaaaarrr!'
Saat masih berbicara, monster hewan buas itu melompat tepat ke arah Axel berada dan menghancurkan tanah tempatnya mendarat.
Axel hampir saja terkena serangan itu karena kurang fokus dalam pertarungannya. Akan tetapi, kini Ia telah menjaga jarak yang cukup jauh.
"Jantung? Kau sudah gila? Monster ini seperti singa. Menyerang hewan berkaki empat tepat di bagian dadanya tak semudah yang kau pikirkan. Terlebih lagi jika hewan itu 3 kali lebih tinggi darimu." Balas Axel kesal.
Wajar saja karena memang menyerang Chimera itu terlalu sulit. Tak hanya cepat, serangannya juga mematikan. Bahkan dengan menggunakan Flux Booster sekalipun, Axel masih tak bisa menandinginya.
"Ya, aku mengerti. Tapi bagaimana lagi? Mau tak mau monster itu harus di singkirkan." Balas Oracle.
"Aku mengerti."
'Sreeetttt!'
__ADS_1
Axel tiba-tiba menghentikan langkah kakinya dan mulai berbalik arah. Kini berbalik menuju tepat ke arah Chimera itu.
Tanpa ragu, Axel berlari tepat di bawah tubuhnya dan bersiap untuk memberikan serangan tepat di jantungnya.
Akan tetapi....
"Dimana?"
Pertanyaan itu muncul sesaat setelah Axel menyadari betapa besarnya tubuh Chimera itu. Bahkan ketika melihatnya dari dekat, Axel sama sekali tak tahu bagian mana yang harus di serang.
Tak ingin membuang kesempatan yang dimiliki nya, Axel pun segera menghunuskan tombaknya tepat ke tubuh Chimera itu.
'Zraaasshhh! Jleebbb!'
"Grrooaaaaaarrr!!!"
Chimera itu segera bereaksi denhan melompat mundur. Bahkan dengan tubuh besarnya itu, Ia sangat lincah.
Sementara itu, Axel malah terlihat terdiam di tempat.
"Yang benar saja...." Ucap Axel sambil melihat tombak kehijauannya itu.
Tombaknya hanya menembus sedalam 10cm. Tak mampu untuk menembus lebih jauh karena begitu tebalnya daging dan otot dari monster itu.
Berbeda dengan para monster sebelumnya.
Chimera ini benar-benar kuat di segala bidang. Baik itu pertahanan, kekuatan, maupun kecepatan.
Dan kini, dari kejauhan....
"Groooooaaarrr!!!"
Auman dari Chimera itu sangat keras bahkan sampai menimbulkan gelombang kejut yang sangat kuat ke arah Axel.
Membuat tubuhnya terlempar sejauh puluhan meter ke belakang.
'Braakk! Sruuugg!'
"Sialan.... Ini buruk." Ucap Axel.
Di kejauhan, Chimera itu nampak membuat ancang-ancang dan bersiap menerkam Axel di kejauhan.
'Blaaaarrr!'
Dengan hentakan keempat kakinya yang kuat itu, Chimera itu pun melesat dengan sangat cepat ke arah Axel yang masih tergeletak di tanah.
Saat Axel merasa dirinya akan berakhir pada saat itu....
'Zraaaassshhh! Braaakkk!'
Sosok seorang wanita berambut perak yang diikat ekor kuda itu berdiri tepat di hadapannya. Mengayunkan pedang besarnya tepat ke arah wajah Chimera itu.
'Braaakkk! Srrruuggg!'
Serangan itu memberikan luka yang cukup kuat kepada Chimera dan melemparkannya sejauh beberapa meter.
Dengan cepat, wanita yang tak lain adalah Eva itu segera mengangkat tubuh Axel dan membawanya menjauh dari tempat ini.
"Kau tak apa?" Tanya Eva singkat.
"Ya.... Terimakasih."
__ADS_1