
Los Angeles, California, Amerika Utara.
Axel, dibantu oleh Akane, berhasil memanfaatkan salah satu kendaraan yang masih bisa menyala di jalanan ini.
Keduanya mengambil alih sebuah motor besar dan mengisinya dengan bahan bakar yang berada di sekitarnya. Atau lebih tepatnya, mengambil bahan bakar sisa di kendaraan lain di sekitar mereka.
"Kau benar-benar bisa mengutak-atik mesin?" Tanya Axel kagum melihat sosok Akane yang sedikit membongkar motor Harle D. Itu.
"Mudah saja. Aku bekerja pabrik mesin sebelum dunia terbalik seperti ini." Balas Akane dengan tenang.
'Klaaangg!'
Suara kunci mesin dan juga peralatan bengkel lainnya terdengar cukup keras ketika dilempar oleh Akane mengenai jalanan aspal ini.
Tentu saja, semua perlengkapan itu 'Di Pulihkan' oleh Akane dari bagasi mobil di sekitar.
Waktu terus berlalu....
Dan Axel hanya bisa memandang takjub atas kemampuan Akane dalam memperbaiki kendaraan bermotor itu.
Hingga akhirnya, setelah sekitar 1 jam dan juga 6 Tanki bahan bakar mobil yang mereka curi....
'Brooomm! Broooom!'
Suara mesin dari motor itu terdengar begitu keras. Memecahkan kesepian di tengah kota mati ini.
Akane terus menerus menarik gas di motor itu, memastikan mesinnya agar tak mati. Setelah beberapa saat, Akane segera menaikinya.
"Apa yang kau tunggu? Cepat naik." Ucap Akane dengan postur yang siap untuk mengendarai motor HD itu.
"Eh? Aku di belakang?" Tanya Axel kebingungan.
"Hah? Memangnya kenapa? Lagipula, aku yang membenahi motor ini, jadi ini milikku sekarang." Balas Akane yang tak mengenakan helm itu.
Setelah menelan rasa malunya untuk sesaat, Axel pun membonceng di belakang.
"Kau tahu, aku bisa saja berlari dan...."
"Hah? Kau tahu sektor D yang dimaksud oleh Oracle adalah San Fransico bukan? Kau pikir kau bisa berlari sejauh 620 kilometer tanpa berhenti?" Tanya Akane sekali lagi.
"Uugh.... Kalau soal itu...."
'BROOOOOMMM!'
Secara tiba-tiba, Akane segera menarik gas motor itu sekuat tenaga. Membuat motor itu melaju dengan sangat cepat seketika.
Axel yang terkejut atas hal itu segera berusaha untuk meraih pegangan.
Hanya saja....
"Singkirkan tanganmu dari perutku! Tak nyaman rasanya ketika orang asing menyentuhnya!" Teriak Akane dengan keras.
__ADS_1
Dalam sekejap, motor HD itu mulai melaju dengan kecepatan 120km per jam lebih. Membuat rambut merah Akane yang diikat ekor kuda itu terbang ke sana kemari, mengenai wajah Axel yang duduk di belakangnya.
"Kalau begitu belajar agar tak mengejutkan orang lain!" Balas Axel kesal. Ia dengan segera melepaskan pegangannya dari perut Akane.
Akan tetapi....
'BROOOOOOOMMM!!!'
Sekali lagi, Akane mempercepat laju kendaraannya secara tiba-tiba. Membuat Axel kembali terkejut dan hampir terjatuh dari motor itu.
"Sialan! Apa yang kau lakukan?!" Teriak Axel kesal.
"Buahahaha! Tak seperti yang ku bayangkan, orang Amerika ternyata tak begitu hebat juga ya?" Balas Akane sambil tertawa keras.
"Apa kau bilang?! Tu-tunggu! Kenapa kau mengerem mendadak! Sebentar! Jangan melaju secara tiba-tiba lagi!"
Perjalanan sejauh 620 kilometer itu pun terus berlanjut.
Dengan Axel yang selalu menderita atas candaan Akane yang menurutnya, sama sekali tak lucu.
......***......
San Fransico, California, Amerika Utara.
Setelah sekitar 5 jam perjalanan melewati jalan yang sebagian besar telah hancur itu, mereka berdua akhirnya tiba.
Di hadapan sebuah kompleks pembangkit listrik yang sangat besar.
Menyebutnya berada di hadapan mungkin kurang tepat, karena saat ini, mereka melihat kompleks pembangkit listrik itu dari atas salah satu bukit.
Tapi sayangnya, semuanya telah runtuh.
Dinding pertahanan, senapan mesin kaliber besar, serta pagar kawat bertenaga listrik itu telah runtuh. Menyisakan hanya fasilitas pembangkit listrik tenaga Flux itu sendiri.
Akane secara perlahan mulai menghentikan motornya lalu mematikan mesin motor itu.
Axel yang duduk di belakang sedari tadi kini segera turun. Begitu pula dengan Akane.
"Bukankah ironis?" Ucap Akane sambil memperhatikan pemandangan kompleks pembangkit listrik itu.
"Sebuah teknologi yang dianggap akan menyelamatkan umat manusia dari krisis energi, justru melenyapkan peradaban itu sendiri. Dan mengubah umat manusia, menjadi sesuatu yang bukan manusia." Lanjut Akane sambil mengeluarkan sedikit api dari tangan kanannya.
Axel yang mendengarkan pernyataan Akane itu juga sependapat.
Jika saja....
Umat manusia tak pernah menemukan energi yang kini disebut sebagai Flux itu, apakah kehidupan akan berbeda?
Dan sekalipun umat manusia tak pernah berhadapan dengan para monster dari dimensi lain ini....
Apakah dunia akan tetap damai?
__ADS_1
Tak ada yang tahu pasti.
Akan tetapi, ini lah kenyataannya. Sebuah dunia yang telah mati, dengan segala kecacatannya.
"Hei, Axel. Apakah kau tahu apa itu Flux?" Tanya Akane secara tiba-tiba sambil membalikkan badannya.
"Hmm? Energi yang sangat padat dan juga penghasil listrik yang kuat bukan?" Balas Axel kebingungan.
Ia belum pernah menanyakan hal itu sebelumnya.
Itu karena Axel tak perlu memikirkannya. Selama dirinya dan adiknya bisa menikmati listrik gratis dari Flux itu, tak ada untungnya menanyakan lebih lanjut lagi bukan?
Lagipula, buktinya sudah ada di depan mata bukan?
"Apakah kau tahu kenapa disebut dengan nama Flux?" Tanya Akane sekali lagi.
"Tidak.... Aku tak tahu." Balas Axel.
Akane kemudian mengangkat kapsul Flux Booster di pinggang kanannya. Ia mengarahkannya kepada Axel sambil membolak-balikkan kapsul itu dimana cairan kebiruan di dalamnya bergerak kesana kemari.
"Flux berarti aliran. Sebuah aliran dari dimensi lain. Mungkin yang menjaga agar dua dimensi itu sama sekali tak pernah bertemu, adalah Flux itu sendiri." Jelas Akane dengan tatapan yang meyakinkan.
Axel pun terdiam. Ia berusaha untuk memahami apa yang akan dimaksudkan oleh Akane itu sendiri.
"Dan umat manusia berpikir itu adalah ide yang bagus untuk merobek celah antar dimensi itu, dimana 'Aliran' energi itu mengalir dengan sangat deras setiap kali manusia merobeknya. Dan dari situlah terbentuk portal dan bor dimensi." Jelas Akane lebih lanjut.
"Tunggu, aku masih belum bisa mengikutinya dan...."
"Kau paham? Ini adalah darah yang ditimbulkan oleh alam semesta ketika umat manusia melangkah terlalu jauh, melampaui batasan mereka dengan menghancurkan batas dari dimensi itu sendiri." Lanjut Akane tanpa memberi kesempatan bagi Axel itu berbicara.
Tapi kini, dengan kalimat itu, Axel mulai sedikit paham apa yang dimaksudkan oleh Akane.
Ia mulai menyipitkan matanya sebelum membalas pernyataan wanita berambut merah panjang itu.
"Jadi kau bilang.... Ini memang hukuman kita? Hukuman bagi umat manusia?" Tanya Axel.
Tanpa di sangka, senyuman lebar terlukis di wajah Akane yang begitu cantik itu.
Akan tetapi, apa yang keluar dari mulutnya sama sekali tak bisa di sangka oleh Axel.
"Itu jika kau adalah seorang pesimis. Tapi bagiku, seorang yang cukup optimis...." Ucap Akane sambil mulai memainkan sihir api di tangan kanannya.
Axel hanya terus terdiam, menanti apa yang sebenarnya di maksudkan oleh Akane itu sendiri.
"Itu berarti umat manusia telah memperoleh alat untuk menundukkan alam semesta itu sendiri. Dan menggunakan 'darah' mereka sebagai bahan bagi umat manusia untuk terus berevolusi." Lanjut Akane sambil membalikkan badannya.
Melihat tepat ke arah mata Axel.
Pada saat itu, Axel sama sekali belum menyadarinya. Ia sama sekali tak mengetahui apapun atas kenyataan dari dunia ini.
Tapi musuh yang sebenarnya dari semua kejadian di dunia ini....
__ADS_1
Adalah umat manusia itu sendiri. Bersembunyi di balik topeng penyelamat mereka sambil memutarbalikkan kenyataan dunia ini.
Liberator.