
Lanjutkan yuk ah!
"Lo nya aja yang payah, Rahul Khan! Kemana-mana diantar gratis pake mobil mewah plus sopir merangkap bodyguard, kok lo malah gak mau? Situ waras?" Alya menanggapi ceritaku dengan gemas. Saat ini kami sedang menikmati seblak yang berjualan keliling.
"Gue waras lah. Karena gue manusia bebas." sahutku.
"Yailah, udah deh, Ra ... Nikmatin aja apa yang tersaji di depan lo. Apapun yang Reiki kasih buat lo, anggap itu semua rezeki. Jangan ditolak, mubazir."
"Ya iya sih emang rezeki,"
"Nah kan ..."
"Tapi gue takut, Al ..." kataku pelan. Alya menoleh karena mendengar perubahan suaraku. "Gue takut kalau gue akan jadi terbiasa dengan semua itu. Lalu ketika suatu hari gue terbangun alias gue kembali pada kehidupan asli gue, maka gue bakal terpuruk. Gue jatuh. Gue tahu, kalau ini semua terasa mudah dan enak. Enak banget malah. Tapi jangan sampai gue lupa diri. Karena belum tentu dia itu jodoh gue kan,"
"Iya sih ..." Alya berhenti menyuap potongan bakso. "Gue ngerti, Ra. Tapi Cinderella itu gak selamanya cuma dongeng, banyak kok kisah nyatanya. Dan semoga aja, lo itu Cinderella dalam kisah nyata."
Aku mengendikkan bahu. "Yah, siapa yang tahu, Al!"
Setelah makan seblak pagi-pagi berdua Alya di kosan, kami lanjut dengan siap-siap buat nge-mall. Salah seorang anak asuh kami sedang berulang tahun hari ini. Dan usianya paling kecil diantara yang lainnya, yakni 4 tahun. Aku dan Alya akan mencari hadiah yang tepat untuk gadis kecil yatim piatu itu.
"Buruan mandi sana, Al!"
Alya sedang mengemil keripik pisang. Sedangkan aku makan nasi uduk yang tadi aku beli tak jauh dari kosan.
"Masih sejam lagi mall bukanya, yailah."
"Lo kan mandinya lama."
"Lo aja lagi makan nasi uduk dulu. Aneh, abis makan seblak malah beli nasi uduk. Untung tuh bude yang jual nasi uduk bukanya dari pagi sampe siang. Lagian, emangnya lo gak dikasih makan sama Reiki, apa? Kesian amat sih nasib lo, Jura!"
"Dia mah menunya yang sehat-sehat terus. Lah kita kan makan nasi kalau pagi."
"Dia itu tidak merakyat, ya."
"Betul! Udah sana mandi, nanti gue traktir deh lo ..."
Alya tersenyum lebar mendengar kata traktir. "Asyiaaapppp! Laksanakan, Komandan!"
__ADS_1
.
.
Alya sudah memilih boneka sebagai hadiah untuk Ella, yang sedang berulang tahun. Sedangkan aku bingung harus memilih apa. Kami sudah berjalan kesana kemari mencari sesuatu yang terlihat akan sangat membahagiakan saat Ella menerimanya nanti.
"Baju aja kali, Ra!" saran Alya.
"Gue gak ngerti ukuran, kali."
"Iya ya. Susah juga. Ntar kalo kekecilan bisa berabe, tapi kalo kegedan, gak bisa langsung dipake."
"Ya kan ..."
Karena sudah siang, maka kami lebih memilih untuk makan siang dulu, baru nanti aku akan lanjutkan mencari lagi. Dan aku memutuskan untuk mentraktir Alya di restoran cepat saji.
"Gue lagi jatuh cinta nih, Ra ..." oceh Alya sambil menatap ponselnya.
"Oya? Siapa? Siapa?" tanyaku penasaran. Alya tuh cantik di mataku sebagai perempuan. Pastinya di mata laki-laki lebih dari itu kan! Tapi entah kenapa dia betah sekali menjomblo. Seingatku dia punya pacar terakhir kali tuh hampir setahun yang lalu. Tepat dua bulan setelah aku putus dengan Montana. Namanya Alvaro, seangkatan dengan kami tapi beda kampus. Aku menjuluki mereka Al-Al couple. Hihi ... Tapi sayang, Varo selingkuh dengan junior di kampusnya. Sejak itu Alya tidak punya pacar hingga sekarang.
"Yang lagi hot sekarang di bumi Indonesia, Ra."
"El-three-on-five."
"Apaan tuh?"
"Lo pasti tau kan L3on5?" ulang Alya.
"Apa? Siapa?"
"SERIUS LO GAK TAU?"
"Nggak."
"WHAT?" Alya mentoyor kepalaku. "Lo sih dikekepin Reiki terus. Jadi di mata lo cuma ada tuh si Om doang."
Aku tidak setuju dengan ucapan Alya, tapi dia sudah menyela lagi. "Serius lo gak tau Kenneth L3on5?"
__ADS_1
"Nggak tau, dan gak mau tau!"
"Payah."
"Biarin."
"Salah satu kerugian dalam hidup lo, Ra,"
"Kenapa bisa rugi gitu?"
"Lo melewatkan cowok-cowok yang terkutuk menjadi ganteng dan ... muda."
"...."
"Ngomong dong!"
"Ngomong apa?"
"Siapa mereka, gitu,"
"Kan tadi lo bilang El ... El ... El ..."
"Mereka boyband." tukas Alya dengan gemas.
"Oh."
"Masa 'oh' doang?"
"Trus gue mesti salto?"
Akhirnya Alya menyerah. Dia menyandarkan punggungnya di kursi. "Ah ... lo emang selalu ketinggalan kalo soal artis ya, Ra. Dari jaman sekolah dulu udah begitu. Dari jaman Montana masih rambut belah samping, trus Montana punya jambul abstrak, sampai sekarang Montana nyaris botak, lo masih gak peduli sama yang namanya artis."
"Emang!"
Saat aku sedang asik mengobrol dengan Alya sambil menikmati makanan, seseorang dari arah belakang tiba-tiba menyebut namaku.
"Azzura!"
__ADS_1
...*****...