
Happy reading!
Mie instan ini sudah tak menarik lagi di mataku. Aku hanya mengaduknya tidak jelas dengan fikiran yang kacau balau serta air mata yang meleleh tanpa permisi. Jadi rupanya benar kalau aku hanyalah mainan untuk Reiki. Untung saja aku tidak baper waktu dia mengatakan kepadaku untuk menikah saja.
Lucu.
Semua ini hanya mainan buatnya. Aku semakin terlihat seperti simpanan. Grandma benar. Aku seharusnya menjaga kehormatanku, harga diriku, supaya tidak mau-maunya diperlakukan seperti simpanan oleh Reiki.
Aku jadi merasa jijik pada diriku sendiri. Ku pikir aku menjadi satu-satunya wanita yang ... ah begitulah. Tapi ternyata, dia juga memiliki banyak wanita lain di dalam hidupnya.
Tentu saja, Zura ... dia tampan dan kaya raya. Bukankah itu paket sempurna yang diinginkan oleh setiap wanita? Wanita mana yang akan menolaknya?
Mengapa aku terlalu bodoh dan polos dengan menurut saja kepadanya? Mengapa aku begitu menyesali semua perbuatanku? Terlebih lagi, aku amat menyesali atas perasaan yang kumiliki untuknya. Aku sangat sangat menyesal telah menamakan perasaanku sebagai cinta.
Bodoh.
Apalah aku bila dibandingkan wanita yang saat ini sedang bermesraan dengannya? Bahkan seujung kukupun aku tak pantas bila dibandingkan. Aku terlalu ... ah ... cukup menghina diri sendiri, Zura.
Ini semua sudah cukup.
Aku harus segera mencari tiket ke Jepang. Atau yang lebih cepatnya aku ikut saja Alya ke Bandung besok?
Entahlah. Kepalaku rasanya pusing. Ingin aku kembali ke kamar, tapi rasanya kakiku tak sanggup untuk berdiri saat ini.
Kugeser mangkuk mie dan kuletakkan kepalaku di meja beralaskan kedua tangan yang kulipat. Aku harus mengadu pada siapa? Aku harus bercerita pada siapa atas semua perasaan sakit ini?
Mama ...
Aku merindukanmu.
Ku buka ponselku dan segera ku pesan tiket ke Osaka. Aku butuh pelukan Mama. Aku ingin menceritakan kisah hidupku kepada Mama selama kami berjauhan. Aku harus mengakhiri ini semua. Harus.
...---...
__ADS_1
"Sayang."
"Ohβ aku harus menemui Alya sekarang ya, Mas. Alya butuh curhat kepadaku sekarang juga," sahutku sambil membawa mangkuk mie ku yang masih penuh itu ke tempat cuci piring. Setelah membuang isinya ke tempat sampah, aku mencuci mangkuknya buru-buru. Aku harus menjauh darinya paling tidak dimulai dari sekarang juga.
"Tidak, Sayang. Kamu tidak akan pergi kemana-mana."
"Ayolah, Mas. Aku sedang buru-buru. Nanti saja kita lanjutkan perdebatan kita."
Aku berjalan ke arah kamar. Rupanya si wanita sexy tadi sudah pergi. Semoga keberadaanku tidak mengganggu mereka.
Reiki mengekoriku yang berjalan ke dalam kamar. Dia mencekal tanganku saat aku sudah siap dengan tas dan jaketku lalu berjalan menuju pintu.
Aku tidak ingin menatap matanya. Fokusku saat ini adalah seolah aku sedang berkomunikasi dengan Alya lewat chat pada ponsel di tanganku. Padahal itu adalah chat asal yang ku kirim kepada Alya. Dan temanku itu membalas yang sama sekali tidak mengerti ketikan asalku.
"Kita akan pergi makan siang, Sayang. Tidak ada penolakan apapun."
Aku menghempaskan tangannya sekuat tenaga ... dan terlepas. Wow, itu sebuah keajaiban. Atau memang dia yang tak berniat menahanku seperti biasanya?
Aku berjalan lagi. "Plis, Mas, kali ini saja. Alya sedang membutuhkanku."
"Kamu lebih memilih temanmu dari pada aku?" dia terus saja menyusulku.
"Iya, tentu. Ada waktunya aku harus memilih sahabatku." aku memakai sepatuku dengan susah. Mengapa sekarang seolah aku bodoh dalam hal sepele?
"Kamu tetap memilih temanmu meskipun kamu tahu akan akibatnya? Akibatnya pada temanmu." perkataannya itu mengancam. Aku tahu, aku sadar. Dan aku lebih sadar lagi kalau Reiki tidak segan melakukan apapun demi dirinya sendiri.
Aku melempar sepatuku ke arah pintu dengan kesal. "MAS REI TUH MAU APA SIH? SELALU MAS REI YANG PUNYA KEMAUAN! SELALU AKU TIDAK BOLEH MELAKUKAN YANG AKU MAU!" jeritku marah. Air mataku tidak dapat tertolong lagi. Semua luruh dengan emosi yang meluap begitu saja.
Dia menatapku dengan tatapan yang aku tidak mengerti.
"SUDAH CUKUP INI SEMUA! AKU LELAH!"
"Sayang,"
__ADS_1
"AKU TIDAK SANGGUP BEGINI TERUS. RASANYA AKU INGIN MATI SAJA!" aku meraung sambil menutup wajahku dengan kedua telapak tanganku. Aku terduduk di lantai dengan putus asa. Entah dia anggap aku sebagai apa. Karena yang pasti aku masih sebagai pemilik diriku sendiri, bukan dia.
Reiki melangkah lebar dan menghampiriku. Dia berusaha menyentuhku, tapi aku malah bangkit dan berlari menuju pintu. Sebelah sepatu kuambil tanpa kugunakan. Dan aku berlari sekuat tenaga.
"Azzuraaaaa!" teriakannya kuabaikan.
Aku ingin bebas. Aku ingin pergi dari sini. Pergi sejauh mungkin.
Tapi aku tahu Reiki bahkan saat ini sudah mengejarku. Beruntung sebuah lift tertutup sesaat setelah aku memasukinya. Dengan terisak dan dada bergemuruh menahan emosi, aku memakai sepatuku selagi lift belum sampai di lantai dasar.
Aku benci hidupku!
Aku benci Reiki!
Arrrgghh!
Di lobby sudah berdiri Johan yang berdiri menghalangi jalan keluar. Aku tahu ini sangat sulit. Hanya air mata yang kupunya saat Johan melihatku.
"Aku mohon, Om ... lepaskan aku ... hiks ..." aku mengiba. Hanya itu yang mampu kulakukan. Semoga lelaki itu mengerti.
"Maaf, Nonaβ"
Aku terjepit sekarang. Semoga Reiki belum sampai kesini. Dan mataku akhirnya melihat sebuah pisau yang sedang dipakai oleh seseorang untuk mengupas buah, yang sedang duduk di kursi yang ada di lobby. Aku berlari menghampiri wanita yang sedang duduk di kursi itu. Kurampas pisaunya dan kubawa untuk menodongkannya pada Johan.
"Kalau Om Johan gak mau menyingkir, aku akan bunuh diriku di depan mata Om Johan sekarang juga," ancamku.
Rupanya itu berhasil. Johan menyingkirkan sedikit tubuhnya dari jalan menuju pintu. Perlahan dengan pisau yang sekarang aku letakkan di dekat leherku, kakiku melangkah keluar gedung. Ketika langkahku telah menjauh dari Johan, aku segera berlari dan mencari taksi.
...πππ...
Bersambung.
Ya ampun, hari ini up 3 novel.
__ADS_1