
Haloooo ... semuaaa! Maaf baru update lagi...
...🌻🌻🌻...
Manusia tidak pernah dapat memilih ingin dilahirkan sebagai apa, di mana, dan bersama siapa. Kehidupan yang akan dijalani pun tidak akan pernah kita tahu akan seperti apa, bagaimana, seberapa berat atau seberapa bahagia. Semuanya adalah rahasia Tuhan.
Takdirku yang seperti ini sudah seharusnya tak boleh aku banyak mengeluh. Seperti takdir daun yang gugur tertiup angin, tak pernah ia mengeluh atau menolak jalan kehidupannya.
Apakah aku boleh iri kepada daun-daun itu? Sebab rasanya gugurnya mereka tak sepelik untaian cerita nafasku. Semua terjadi dengan indahnya. Sedangkan aku ...
Zura, berhentilah mengeluh. Tuhan sudah menetapkan akan seperti apa masa depanmu. Akan bersama siapa dan akan bagaimana dirimu meraih bahagia. Tidak jarang apa yang baik menurut manusia itu belum tentu baik menurut Tuhan. Maka percayalah, semua sudah diatur sedemikian rupa supaya datangnya kebaikan di waktu yang tepat.
Sebuah gelas menghalangi pandanganku akan daun-daun yang berguguran di sana. Uap panas mengepul dari dalam gelas, lantas aku menoleh kepada seseorang yang menyodorkan gelas itu kepadaku. Di tangannya yang lain terdapat juga gelas miliknya.
"Hangatkan dirimu."
Segaris senyum aku berikan seiring tanganku menerima minuman itu.
"Hati-hati sedikit panas." lagi-lagi dia memperhatikanku.
"Terima kasih."
Segelas coklat hangat untuk udara yang dingin di pagi hari terasa amat pas, dan aku menyukainya. Aku coba untuk menyesapnya isinya sedikit dan ku letakkan segera gelas itu di meja yang ada di hadapanku.
"How do you feel?"
"Hm, better."
__ADS_1
Sungguh, aku juga tidak tahu mengapa hatiku terasa ringan saat ini. Nyaman yang kurasa melebihi hari-hari sebelumnya ketika aku bersama Kenneth. Bukan, bukan maksud aku membanding-bandingkan. Hanya saja, jujur aku merasakan ketenangan ini sejak kemarin sore ketika Reiki mengajakku menyendiri di luar kota. Menyendiri yang hanya ada aku dan dirinya saja.
Senyumnya nampak manis saat menatapku sekarang. Dan itu membuatku sedikit gugup lalu mengambil coklat hangatku untuk teguk lagi.
"Kamu cantik kalau bahagia."
Aku tidak mengerti ucapannya. Setelah semua yang terjadi dalam hidupku, pada bagian mananya yang nampak bahagia menurut dia?
"Now. Kamu tampak cantik, Sayang. Ketika hatimu tenang, kecantikanmu terpancar dengan indahnya."
Suara burung di kejauhan seperti nyanyian yang semakin membuat hatiku tenang. Lantas, bagaimana dia tahu kalau saat ini aku ...
"Kita akan pergi dari negara ini,"
Ucapan Reiki tak pelak membuatku terkejut. "Maksud Mas?"
Kali ini dia yang meneguk gelas miliknya dengan kerennya. Begitulah yang nampak di mataku sekarang. Dan semoga pria itu tidak menyadari seberapa besar hatiku mendambanya meski waktu telah berlalu tidaklah sebentar. Kusadari jika rasa ini rupanya tidak pernah padam. Dia pernah merekah, meredup lalu kini timbul lagi ke permukaan. Namun biarlah, biar saja begini adanya. Biarlah dia diam di sudut terdalam hatiku saja.
Apa katanya? Tunggu, ini terlalu mendadak. Bukannya aku lebih menyukai berada di mana dan di mana, aku hanya butuh waktu satu hal ... yakni bercerita kepada Alya juga Radit. Sungguh, hanya dua orang itu saja akan terus tinggal di hati dan pikiranku selamanya.
Aku sudah mati rasa. Pasrah lebih tepatnya. Aku menyukai pria ini. Terlepas segala runyamnya masalah di belakang dia, di belakang 'kami', tapi aku sudah tidak mampu memikirkan apa-apa lagi. Rasa-rasanya aku sudah tidak berdaya dan tak mau berharap apapun itu.
Sebenarnya dengan atau tidak adanya Reiki sekalipun aku sudah ikhlas. Tak ada hasrat apapun akan dunia yang indah, dunia penuh cinta dan semacamnya. Namun, ketika barusan Reiki memberikan sebuah keinginan seperti itu pun aku tak berniat untuk menolak. Bukan karena aku menginginkan Reiki tanpa seluruh keluarganya. Bukan itu. Mulai sekarang akan aku hadapi apa saja yang harus kuhadapi.
Reiki menginginkanku? Baiklah. Aku menerima jalan takdirku ini. Seperti daun yang berguguran dengan ikhlas, maka aku pun akan ikhlas menerima Reiki komplit dengan berjuta rintangannnya. Andaipun aku kalah, misalnya. Bila aku gagal dalam menerima takdir bersama Reiki, itu juga tidaklah mengapa. Sekali lagi, aku hanya mesti ikhlas atas segala takdirku.
"Hm ... ke mana?"
__ADS_1
"Kamu maunya ke mana?"
"Rencana Mas?"
"Madrid."
"Why?"
"Di sana aku nyaman. Dan akan aku buat kamu nyaman juga. Hanya kita berdua, bahagia. That's it."
Apakah akan semudah itu? Oh ayolah, Zura. Bukankah kau telah memutuskan untuk menerima segala macam baik buruknya takdirmu? Andai itu akan menjadi buruk lagi pun memangnya kenapa? Seperti tidak pernah merasakan derita saja ...
"Hm?" Reiki menunggu jawabanku.
Maka aku tersenyum simpul. "Terserah Mas aja."
"Tidak ada kata selain terserah?"
Kalimatnya membuatku terkekeh pelan. Selepas itu rupanya aku saat bersamanya. Aku tahu kalau aku kuat bila denganya, walau bayang-bayang masalah akan terus menghantui. Aku percaya Reiki mampu menjagaku.
"Aku mau ikut kemana pun Mas membawaku," ucapku tulus. Senyumku lebih tulus lagi bahkan. Tidak lagi ada yang mesti kututupi segala hal yang membuatku nyaman.
Lalu dunia nampak begitu indah ketika dia membalasku dengan senyum merekah juga. Senyum manis juga. Dan perasaan yang sama juga. Apa aku berlebihan? Tidak masalah, Zura.
"Aku minta maaf atas semua hal menyakitkan yang pernah terjadi kepadamu, Sayang. Aku akan membayar semua, aku akan menebus semua. Aku tidak akan pernah melepaskanmu lagi, sekalipun kamu berniat mati di dekatku. Jangan pernah berusaha apapun, Sayang. Sudah seharusnya kita bersatu, bersama selamanya."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Mau ending bentar lagi. Biar kelar yang ini, trus fokus deh ke Nana dan Ares, Nasywa dan Erlangga, Gea dan Andre. Yailah, PRnya banyak amat ya. 😂
Thank's for reading! ❤❤