
"Azzura." Tante Widia tersenyum manis menghampiri mejaku.
Aku menyambut Tante Wid tak kalah senangnya. Jujur aku kangen beberapa hari ini tidak bertemu dengannya. Kami pun berpelukan seperti seorang ibu terhadap anaknya. Aku mempersilahkan Tante Wid untuk duduk di kursi yang tersisa.
"Ini Alya, Tan. Yang waktu itu aku pernah ceritain ke Tante." aku memperkenalkan Alya kepada ibunda ratu keluarga Maheswara. Sudah lama temannku itu ingin sekali berkenalan dengan si Tante. Dia berharap dapat bertemu Reiki-Reiki yang lain, atau Maheswara-Maheswara yang lain.
Tante Wid mengangkat kedua alisnya. "Ah yaa ... teman baik kamu kan, Zura?!"
"Iyap."
Tante Wid dan Alya saling berjabat tangan.
"Saya Widia."
"Alya, Tante." dia cengengesan. "Raju nih, Tan. Dulu katanya mau ajak aku main ke rumah Tante, tapi sampai dia keluar dari rumah Tante tapi aku nggak pernah diajak juga main kesana."
Aku mendelik pada Alya. Dasar anak ini, bikin aku malu saja.
Tante Wid menatapku yang kubalas dengan cengiran. "Gak sempat, Tan. Trus lupa juga. Hehe ..."
"Ya sudah, lusa saja ke rumah Tante, kita makan-makan yuk! Kalau besok Tante sibuk, kalau hari ini Tante masih ada acara." kata tante Wid tak kalah semangatnya.
"Boleh, Tan, boleh!" sambut Alya antusias.
"Tante lagi shopping?" tanyaku penasaran.
"Tidak juga sih. Sedang tidak ada yang menarik di mata Tante." katanya sambil tersenyum kecil.
Tak banyak obrolan yang terjadi, karena Tante Wid segera pergi begitu ponselnya berbunyi. Dia bilang, dia sedang ada janji temu dengan sahabatnya. Sebelum benar-benar pergi, dia mengingatkan lagi tentang undangannya yang mengajak aku dan Alya pada lusa untuk berkunjung ke rumahnya. Ah ... rumah yang pernah menjadi tempat tinggalku.
Sepeninggal Tante Wid, aku dan Alya melanjutkan makan siang kami.
"Gile cakep bener deh nyokapnya Reiki. Masih muda. Kayak seumuran Reiki." ujar Alya takjub.
"Berarti Reiki tua, dong?" aku menyadari ada nada tidak suka dari pertanyaanku barusan.
Alya menahan tawa. "Jangan sensi gitu, Ra."
"Nggak sensi tuh!" tukasku langsung.
"Ngegas ae!"
Aku mencebik.
"Ya nyatanya begitu, Kareena Kapoor. Si tante Wid masih muda. Yaaa ... kayak kakaknya Reiki deh. Masa seumuran? Ntar lo tersinggung lagi."
"Gue nggak tersinggung!"
"Iya-iya ... gue paham. Hush! Diem! Lanjut makan!" Alya masih terkekeh pelan, dan aku mencubit gemas lengannya. "Ish, sakit, Ra."
"Bodo."
.
__ADS_1
.
Satu hal lagi yang terlalu klasik menurutku dalam drama kehidupan. Yakni, saat kita bertemu mantan di tempat yang tak kita duga. Padahal dunia ini luas. Namun pertemuan dengan mantan adalah sebuah takdir buruk yang harus dilalui dalam kehidupan setiap manusia.
"Hey!"
Tanpa basa-basi, tanpa awalan, tahu-tahu Montana sudah duduk menempati kursi yang tadi sempat di duduki Tante Widia.
Aku dan Alya serentak menoleh dan terkejut saat mendapati Montana sedang tersenyum tanpa dosa dan ... sok akrab.
"Hai-Hai!" sapanya sambil menoleh padaku dan Alya bergantian.
Kulirik Alya melotot tanpa berusaha ia tutupi keterkejutannya. "Lo?"
"Apa kabar, Al?" tanya cowok itu santai.
"Keliatannya?" sahut Alya sengit.
"Lo baik. Oke." kemudian Montana menoleh padaku yang sedang melihat ke wajah Alya. "Kamu apa kabar, Ra? Ah, kamu baik juga. Tentu saja. Dan aku senang bisa bertemu kamu di sini."
Aku mentapnya balik cowok yang dulu pernah kusayang itu. Benar kata Alya, aku tidak terlalu memperhatikan gaya rambut Montana yang sekarang terlihat nyaris botak. Tipis.
Dan aku tidak tahu harus menyahut apa.
"Gue jadi gak nafsu makan." ucap Alya sambil meminum sodanya.
"Sorry, Al," Montana kembali menatap Alya. "Gue belum minta maaf sama lo atas perbuatan gue di masa lalu. Tapi gue udah jelasin semua ke Zura dan pastinya permohonan maaf gue yang amat sangat pada Zura."
Aku menunduk mempermainkan kentang goreng yang sedang kucelup dalam saus. Setelah pertemuan di toko buku waktu itu, aku tidak pernah sekalipun membalas pesan atau menerima telepon dari Montana. Sama sekali. Aku mengabaikannya tanpa lelah, begitupun dengan dirinya yang terus saja 'menggangguku' tanpa lelah.
"Sorry ..."
Aku malas sebenarnya membahas ini. Karena aku sudah menutup semua kisahku dengan Montana di masa lalu.
Ddrrrt ... Drrrtt ...
Ponselku bergetar tanpa dering. Sebuah panggilan dari tuan besar terlihat di layar kaca. Mataku melotot seketika. Ini pasti karena Johan sudah mengadu. Ya, aku yakin itu.
Lalu aku melihat Alya yang sedang menatapku seolah bertanya kenapa?
Aku menggeleng pelan sambil berbicara pada lewat sorot mataku. Semoga Alya mengerti dan membantuku mencari solusi. Dan aku masih mengabaikan telepon dari ... Reiki.
Montana memperhatikan Alya dan aku bergantian dengan kening berkerut.
"Mending lo pergi deh, Mon ..." usir Alya pelan. Dia sudah tahu arti tatapan mataku. Dan aku yakin Alya sama ngerinya dengan diriku sekarang.
"Kenapa? Gue bakal jelasin semua ke lo Al, kalo itu bisa bikin lo mau maafin gue. Atau kalo nggak, setidaknya, lo dengerin aja dulu cerita gue."
"Gak perlu, Mon."
Montana menyentuh punggung tanganku pelan sambil berucap, "Kasih tau Alya kalo kamu sudah maafin aku, Ra."
"Montana!" suara Alya lebih meninggi sedikit. "Jangan sentuh Raju!"
__ADS_1
Refleks aku menarik tanganku.
"Raju itu punya alergi, jadi mending lo jauh-jauh dari dia."
"Alergi?" Montana bingung. Aku tahu pasti kalau Montana pun mengetahui aku yang tidak punya riwayat alergi apa-apa.
"Penyakit kulit. Jangan sentuh Raju kalo lo gak mau ketularan."
Sialan.
Tadi alergi, sekarang penyakit kulit.
Alasan apa itu? Kenapa aku harus sakit kulit pula? Dasar Alya!
"Sakit kulit gimana? Aku gak masalah apapun penyakit kamu, Ra."
"Hp lo angkat dong, Ra!" seru Alya.
"Gue takut." jawabku pelan.
"Kenapa, Ra?" lagi-lagi Montana menyentuh lenganku. "Kamu takut kenapa?"
Refleks aku berdiri dan menjauh untuk menerima telepon, selain ingin lepas dari sentuhan tangan Montana. Masih kudengar Alya berkata gemas kepada Montana, "Udah gue bilang jangan sentuh Raju. Lo tuh bisa mati, tahu."
Aku keluar dari restoran untuk segera menjawab telepon dari malaikat sang pencabut nyawa.
"Halo."
"Kamu mengabaikanku, Sayang? Karena laki-laki tidak tahu diri itu?" suara tajam Reiki langsung menembus telinga dan menuju jantungku.
"Bukan begitu, Mas." haduh, aku harus mengatakan apa? Aku takut kalau Reiki bakalan membuat Montana lebih parah dari Radit. "Mas Rei punya cctv ya, kok bisa tahu–"
Aku bermaksud mengalihkan pembicaraan dengan sedikit lebih santai, tapi dia menyelaku lebih dulu.
"Pulang, Sayang!"
"Iya sebentar lagi aku pulang–"
"Sekarang!"
"Iya."
"Jangan mengujiku, Sayang. Atau aku akan kesana langsung?"
"Iya, Mas, iya. Aku akan pulang sekarang. Plis Mas Rei jangan berbuat apa-apa, aku janji akan menurut sama Mas Rei. Apapun. Apapun yang mas Rei mau, tapi kecuali something."
"Really?"
"Iyaaa ... tapi tolong jangan–"
"Baiklah."
Sambungan telepon diputusnya sepihak. Aku menghela nafas sedikit lega. Sedikit saja. Karena aku tahu kalau Reiki pasti marah atas kedatangan Montana.
__ADS_1
Bukan hanya dia, aku pun saat ini memendam amarah yang cukup besar pada Johan. Yup, aku tahu kalau pria mata-mata itulah pastinya alasan kenapa Reiki sampai bisa tahu kedatangan Montana.
...💮💮💮...